MENGANDUNG KALSIUM GORE, HARAP BIJAK📌
ig: @Rantikaaldebaran.
Fantasi area!
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Selamat menikmati setiap detik kengerian yang gue rasakan. HAHAHA
_Dion Xavierlando.
🍭🍭🍭
Tangannya bergetar hebat seperti terkena sengatan listrik 70 volt, mata sayunya terus melotot kaget tatkala semua lembaran kertas miliknya terbang dengan sayap-sayap angin tembus pandang melayang di langit-langit atap rumahnya.
Hembusan angin pun datang entah dari mana. Tubuhnya mulai menghilang dari permukaan dan leyap begitu saja.
Ini dimana?
Pertanyaan itu yang selalu berputar-putar dikepalanya. Bukankah ia berada di kamarnya, kok bisa ada diruangan yang sumpek begini. Apakah ia berhalusinasi lagi?.
Sebuah kepakan sayap datang dengan hembusannya yang menerbangkan barang-barang disekitar.
Ketakutan. Ia berusaha keluar dari ruangan ini tapi nihil, pintu itu seakan sengaja terkunci di luar. Ahh ini menyeramkan. Dihadapannya ada makhkluk jadi-jadian dengan sayap hitam yang terbentang lebar-lebar.
Tunggu dulu.
Kenapa terasa familiar saat melihat sosok dihapannya itu. Dan hey! Wajahnya mirip banget sama gue!.
"HAHAHA...,Kau ketakutan ya?". Sosok hitam itu menatap tajam bagai sang pemangsa yang siap melahap habis makanannya. Ia melipat kedua tangannya didada dengan angkuh.
Smirk jahat langsung terbit saat tangan kokohnya terbang mencekik leher Dion dengan erat.
"Lepas, lepaskan uhuk uhuk.. !". Rasanya leher Dion akan terputus dari tempatnya karena cekikkan ini. Ia terbatuk-batuk sesak hingga menyemburkan darah dari mulutnya yang begitu banyak. Ia akui, makhluk hitam dihadapannya benar-benar iblis yang gila.
"Ternyata, manusia yang lemah". ujarnya semakin menatap Dion tajam.
"ARGHHH!". Teriak Dion kesakitan saat sebuah belati menembus perutnya dalam-dalam. Belum sampai disitu penderitaannya, perutnya terus diaduk-aduk hingga menciptakan lautan darah yang terus merembas keluar.
Makhluk itu, Lucifer. Tertawa terbahak-bahak dengan air mata kesenangan yang tiada habisnya.
Dion meringkuk kuat dengan kesakitan yang sungguh diluar akal sehatnya. Ia sekarat. Dengan keringat yang terus mengalir deras dipelipisnya, ia tidak bisa melawan makhluk ini sekalipun karena tubuhnya kaku tidak bisa bergerak akibat sihir yang makhluk itu lakukan kepada tubuhnya. Tubuhnya benar-benar lemas tidak berdaya. Ia tidak sudi mati ditangan makhluk yang ia ciptakan sendiri dicerita miliknya, meski terbilang cacat sekalipun. Ada sedikit penyesalan dilubuk hatinya karena telah menciptakan cerita yang tragis untuk para tokohnya hingga saat dimana tokoh-tokoh yang ia ciptakan hidup dan membalaskan dendam.
"Apa kau suka belatiku, tuan?" Tanyanya tersenyum lebar sambil mencabut benda itu dari perut Dion perlahan.
"ARGHHH!." Teriak Dion melenguh kuat sampai ruangan ini menggema dengan begitu nyaring.
"HAHAHA...!" Tawa Lucifer itu terbahak-bahak senang. Ia lalu mendorong tubuh Dion kuat-kuat hingga menabrak tembok dengan keras. Retak. Tulang-tulang punggungnya berbunyi sangat keras, dipastikan patah akibat dorongan tidak berperasaan ini.
"UHUK UHUK UHUK..." batuk Dion bersamaan dengan darah yang keluar dari hidungnya. "Ku, kumohon lepaskan Aku". Pinta Dion dengan matanya yang mulai memburam.
Lucifer itu mendesis jijik mendengar permohonan Dion. Ia lalu berjongkok, menekan kuat rahang Dion dengan tampangnya yang tanpa ekspresi.
"ARGHHH!."
"Kau pikir Aku akan melepaskannya begitu saja saat Aku tahu kalau kau adalah biang masalah hidupku? HAHAHA lucu sekali tuan, kau membuat hidupku seperti membuat adonan tepung yang penuh hina bagaikan hidup di neraka dan menyiksa batinku dengan alur bodohmu itu. Aku senang melihat kedatanganmu di dunia yang kau ciptakan sendiri, HAHAHA tadinya aku putus asa karena tidak bisa membawamu ke dunia ceritamu berada eh ternyata keberuntungan berpihak padaku ya. Ah ya, Aku ingat bahwa akhir cerita ini aku mati dipancungkan? Kenapa tidak kau saja tuan yang dipancung ditengah kota kekaisaran antasius ini, pasti menyenangkan bukan!."
"Gila, Gila bagaimana bisa psikopat ini akan memancung gue. Dasar anak durjana!". Tentu saja Dion mengatakan ini didalam batinnya. Pita suaranya saja sakit untuk mengatakan hal begitu.
Dion ingin pulang!. Ia sangat ketakutan setengah mati karena melihat mata lucifer yang mengilat mengeluarkan bau kematian.
Dion tidak akan menulis cerita yang tidak masuk akal lagi kedepannya, tidak akan pernah!. Tapi ia mohon kembalikan ia ketempat asalnya.
Berikan kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki kesalahannya. Ia tidak benar-benar ingin mati di dunia yang bahkan ia anggap ia sedang berhalusinasi nyata.
Dion hanyalah penulis yang terkucilkan ditengah masyarakat yang tidak tahu aturan, penuh kenaifan dan minimnya akan pengetahuan sastra. Ia hanya iseng membuat cerita ini agar kepenulisan di negerinya tidak simpang siur dengan cerita yang terus menye-menye tentang cinta. Ia muak karena cerita yang laku dipasaran pasti semuanya tentang cinta, cinta dan cinta. Apakah minat pembaca pada cerita fantasi yang penuh dengan makna perjuangan hidup dan mati dengan mudahnya tertimbun dengan cerita cinta yang alurnya saja mudah ditebak. Meski begitu, ia terlalu kejam pada tokohnya dengan sifat yang benar-benar cacat dan membuat alur yang sedikit tragis dan penuh dengan kalsium gore.
"Ma,maafkan Aku."Ucap Dion lirih dengan tubuhnya yang sudah tidak ada tenaga, ia sungguh tulus mengatakan maaf ini.
Lucifer menatap Dion dengan kilat amarah. Cekalan pada rahang Dion semakin ia tekan dengan urat-urat leher Lucifer yang mulai muncul. Ia benar-benar marah karena dengan gampangnya manusia dihadapannya meminta maaf tanpa rasa tanggung jawab karena sudah memperboneka kehidupannya.
"HAHAHA..., lucu sekali. Cih!". Lucifer meludah sembarangan. Ia menatap wajah Dion muak. Tangannya sudah gatal ingin membunuh Dion dengan sekali tebas.
"MATI SAJA KAU!."Teriaknya lalu memelintirkan kepala Dion dengan sekali putar. Patah. benar benar patah hingga suaranya menggema disudut-sudut ruangan.
Napas Dion tersedat-sedat. Saraf-saraf lehernya putus dengan sekali pelintiran itu ditambah oleh pedang yang dikeluarkan lucifer dengan gabungan sihir gelapnya menembus perut hingga punggung miliknya.
Sakit. lebih dari itu rasanya sangat amat sakit dibunuh oleh tokoh yang ia ciptakan. Meski moral tokoh yang ia ciptakan selalu cacat tapi Dion menyadari sesuatu sekarang, bahwa hidup itu tarik ulur.
Kalau tahu begini, ia ingin merombak isi cerita cacat yang ia ciptakan ini dengan sedikit alur yang bahagia. Ia ingin Lucifer si iblis yang dihadapannya merasakan sedikit kisah bahagia didalamnya. Ia menyadari bahwa ia terlalu kejam karena membuat Lucifer ini merasakan kepahitan akan pengkhianatan dan akhirnya ia akan mati dengan rasa dendam disudut hatinya yang hampir menghitam itu sejak awal ia muncul di alur ceritanya.
Dion tersenyum untuk terakhir kalinya saat ia akan benar-benar mati, sebelum itu ia menatap Makhluk itu menunduk penuh dengan kabut kegelapan yang amat lekat.
Dion berniat mengusap kepala makhluk itu, dengan tangan yang gemeteran itu akhirnya tangannya menempel di pucuk kepala Lucifer yang rambutnya bersinar keperakan. Dion mengusapnya pelan hingga makhluk yang membunuhnya itu melotot kaget.
"Hoss hoss hoss... Selamat tinggal anak durjana!." Ditarikan napas terakhirnya pun ia berharap ini adalah mimpi yang tidak akan ia lupakan. Ia akan mengingatnya dengan kenangan yang disimpan sebagai pengalaman. Awalnya semua terlihat mengerikan tapi ia bisa memaklumi itu karena jika ia ada diposisi makhluk itu, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.
"Gue akan mengingatnya! Lucifer sang iblis keji anak durjana!."setelah mengatakan itu tubuh Dion yang awalnya penuh dengan darah dan luka tusuk berangsur dengan hamburan bunga tulip putih.
Note:
Tidak ada seseorang yang ingin dituliskan nasib begitu buruk ditangan sang penulis. setidaknya seantagonis apapun dan sebenci apapun tokoh yang kamu ciptakan dia pantas untuk dihargai, tanpanya sebuah alur akan datar dan monoton. Jadi, Masih begitu bencikah dengan antagonis? Dia hanya boneka yang dipaksa bergerak menjadi jahat. So see you next time! muachh.