Kalista Ananda Putri, seorang pegawai kasir disalah satu Pusat perbelanjaan dikota Bandung. Menjadi anak rantau jauh dari orang tua membuatnya harus bertahan di kota Besar ini.
Dia memiliki seorang kekasih namanya Harun, Harun adalah seorang yang sangat pandai dalam agama. Orang tua nya mengajarkan nya agama sejak dia masih berumur 2 tahun. Harun memiliki orang tua yang sudah berpisah, tapi tidak menjadikan sebagai broken home.. Harun ikut kepada Ibu, sedangkan adik kembarnya tidak ikut kepada siapa pun memilih untuk tinggal bersama paman dan bibinya.. sedangkan ibunya sudah menikah lagi, memiliki anak tiri dari Suaminya sekarang dengan istri pertamanya.
"Kamu kerja pagi kan? Kita Kerumah ya. Aku kenalin ke mama." Kata Harun
"Iya, Aku kerja dulu." Kata Kalista
Sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahun Harun dan Adik kembarnya, Kalista sudah mempersiapkan hadiah kecil untuk Harun.
Sepulang kerja, Kalista dijemput Harun dengan sepedah motornya.
"Bawa apa itu?" Kata Harun
"Kue sama kado." Kata Kalista
"Repot repot deh." Kata Harun yang menyalakan motor dan pergi kerumah orang tua Harun.
Dijalan Kalista sangat antusias bertemu dengan kedua orang tua Harun, membayangkan orang tuanya yang baik hati karena baik dalam agamanya. Kalista sangat antusias.
Mereka pun sampai dirumah Harun.
"Kamu tunggu disini, aku parkir motor dulu ya." Kata Harun
Kalista hanya menganggukan kepalanya.
"Kalista?" Kata seorang perempuan yang memakai kerudung menutupi dadanya
Kalista hanya menganggukan kepalanya, Mungkin dia bingung harus menjawab apa. Tapi kalista tau bahwa orang yang tadi memanggilnya adalah Kaka perempuan Tiri Harun.
"Masuk" Kata Harun yang berjalan mendekati Kalista
"Assalamm'ualaikum..." Kata Kalista sampai pada Pintu masuk rumah mewah milik keluarga Harun.
"Waalaikumsalam.. Kalista ya?" Kata Mama Harun
"Iya Bu." Kata Kalista
"Masuk masuk, kebetulan mau makan." Kata Mama Harun
"Eh.. ehh iya bu." Kata Kalista yang canggung karena baru pertama kali menghadapi mertua.
Kalista memasuki ruang makan yang begitu mewah tidak pernah disangkanya akan mendapatkan seseorang seperti Harun yang sangat baik.
--------------------
Seorang laki laki tegap, tegas dan berkharisma datang menatap wajah kalista.
Kalista hanya menganggukan kepalanya..
"Duduk." Kata Ayah Tiri Harun
Kalista duduk di kursi nya kembali
"Makan." Kata Ayah Tiri Harun
Kalista makan dengan sangat hati hati, Baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Makan bersama Keluarga dari pacarnya.
Setelah makan semua kembali ke aktifitasnya masing masing, Kalista dan Harun pergi keruang tamu untuk mengobrol mengulur waktu untuk pulang..
Hingga Kalista pulang ke kostan nya...
"Seneng?" Kata Harun
"Emm.. Iya gitu deh." Kata Kalista
"Aku langsung pulang ya, Udah malem. Good Night." Kata Harun yang menyalakan motor dan kemudian pergi
Kalista menatap langit di atasnya.. Begitu indah bintang disana, bersinar terang dimalam ini.. Tapi tidak dengan hatinya, entah bagaimana Dia merasa kaka perempuan Harun terus menatapnya dari atas hingga ujung kaki, seperti sedang meneliti seseorang.. Begitupun Ibu dari Harun.
"Huftttt.. semoga hanya perasaan ku saja." Kata Kalista yang melangkah masuk ke dalam kostan nya saat ini.
Hubungannya dengan harus masih berjalan dengan baik.. sampai pada saat selama 3 bulan Harun tidak memberinya kabar.
Harun adalah mahasiswa semester 7 di kampus ternama di kota Bandung. Dia dan Kalista bertemu saat Harun membeli beberapa barang yang dibutuhkannya ditempat Kalista bekerja, Beberapa kali berbelanja menjadikan Harun tertarik hingga mendekati Kalista.
Kalista berulang kali menghubungi Harun, tapi tidak ada balasan atau Harun yang mengangkat teleponnya.
Hingga saat Kalista akan pergi untuk bekerja, Dia mendapatkan pesan singkat dari nomber Harun.
"Kalista?"
"Ini Ibu dari Harun, Tolong ya. Dari saat ini kamu dan Harun tidak memiliki hubungan apapun. Tolong kedepannya jangan hubungi Harun kembali.. Terima kasih."
Degggg... Degggg.. Deggggg
Seketika dada Kalista terasa sesak, beberapa kali dia membaca pesan memastikan apa yang dibaca itu salah.
Tidak ada yang salah dari kalimat yang dia baca lebih dari 3x itu, Dia menahan tangis di matanya. Matanya berbinar, menahan air mata yang keluar. Jika bukan dia akan pergi bekerja, Dia sudah membalikan badan dan kembali ke kamarnya saat itu juga.
Diperjalanan menggunakan angkot, Walau bisa saja dia berjalan melewati jalan pintas ke tempat kerjanya. Tapi kali ini dia merasa tubuhnya sangat lemas, merasakan ketidak berdayaan. Air matanya sesekali jatuh membasahi pipi yang langsung di lap oleh tissue yang baru saja dibelinya ketika hendak menaiki angkot..
"Kiri Mang." Kata Kalista suara yang pelan tapi terdengar
Kalista membayar angkot segera masuk untuk bekerja..
"Kalista?" Kata Tara
"Eh Tara." Kata Kalista yang melihat Tara sebentar lalu memasukan Tasnya ke Loker.
"Kenapa? Ko Keliatannya abis nangis." Kata Tara
"Gak apa apa. Aku cuci muka dulu ya. Terus make up an lagi." Kata Kalista yang meninggalkan Tara diruang loker sendirian
Biasanya Kalista bermake up dari kostan, Tapi karena kejadian hari ini dia terpaksa menghapus make upnya dan mengulang kembali.
Kalista kembali melayani pembeli di meja kasirnya, sambil sesekali menarik nafas panjang untuk menahan emosi karena beberapa pelanggan yang komplen tentang produk kepadanya. Biasanya Kalista tetap tenang, tapi entah kali ini dia merasa perasaan ingin memarahi seseorang. Kalista berusaha untuk menjawabnya dengan tenang seperti biasa. Kalista bersikap propresional kali ini.
Jam Istirahat pun dia dapatkan, Kalista sangat bersyukur. Entah lah hari ini dia merasa ingin ber istirahat pulang ke kostan tapi belum waktunya.. Istirahat ini juga bisa meng istirahatkan kepalanya yang merasa sangat sakit karena menahan tangis di matanya.
"Kalis, Hayu." Kata Tara yang selalu menemani nya saat ber istirahat
Kalista hanya menganggukan kepalanya berjalan ke loker dan mengambil dompetnya.
Kalista dan Tara sedang berminat untuk makan bakso favoritenya..
"Kalis, Aku tau hari ini kamu gak kaya biasanya tapi ada apa?" Kata Tara
"Nanti aja ya pas pulang, jangan bahas sekarang. Aku rasa laper banget." Kata Kalista yang melahap bakso dengan rakus.
Emang ya kalau galau tuh suka ada aja yang makannya melebihi kapasitas makan sebelumnya, bener gak? Kalau aku sendiri sih yess!
Tara hanya menganggukan kepalanya, Jelas sekali dia tau jika sahabatnya sedang ada masalah. Tapi dia juga tau bahwa sahabatnya tidak mau membahas karena takut mengganggu pekerjaannya, apa lagi mereka harus terus melayani para pelanggan dengan penuh suka cita yang mendalam..
Tara dan Kalista akhirnya selesai makan.. kembali melanjutkan pekerjaan mereka hingga pukul 15.30 WIB waktunya mereka untuk pulang..
Kalista mengajak Tara untuk pergi kostan nya untuk menceritakan apa yang dia alami sampai ada seseorang yang memanggil kalista.
"Kalista." Kata Harun memanggilnya
Kalista tidak mendengarkan hanya berjalan bersama Tara.
"Kalista." Kata Harun yang berlari menghampiri Kalista
"Kalista." Kata Harun menarik tangan Kalista
Kalista menatap mata harun dengan tanda bahwa dia sedang tidak ingin bertemu Harun.
Kalista memalingkan muka ke arah Tara.
"Kamu duluan aja, ini kuncinya. Gak apa apa kan?" Kata Kalista memberikan Kunci kamar ny kepada Tara
"Gak apa apa. Tenang aja. Duluan ya." Kata Tara yang melangkah pergi
Kalista kembali menatap mata Harun dengan penuh kekecewaan.
"Kaa..Kalista" Kata Harun
"Apaa?" Kata Kalista dengan nada tinggi
"Aku minta maaf." Kata Harun dengan nada rendah
"Gak usah." Kata Kalista yang melangkah maju untuk pulang
"Kalista, dengerin dulu." Kata Harun yang berjalan disampingnya
"Apa? Apa lagi?" Kata Kalista yang menahan air matanya
"Kita bicara ditempat lain ya. Jangan disini." Kata Harun yang mengajaknya ke sebuah taman tidak jauh dari tempat Kalista bekerja
Dengan malas kalista menuruti permintaan Harun. Sesampainya di taman Kalista duduk dibangku taman dengan menjatuhkan diri karena kesal.
"Terus kenapa Ibu ngomong kaya gitu? Hp kamu mana?" Kata Kalista tanpa basi
"Dirumah." Kata Harun
"Rumah?." Kata Kalista yang tersadar bahwa orang yang sedang berada disampingnya terlihat kacau seperti orang yang sudah melarikan diri dari rumah.
"Kamu pergi?" Kata Kalista
"Cuma ke kosan Hari.." Kata Harun
(Hari, Kembaran Harun)
"Kenapa?" Kata Kalista
"Ya gitu, Aku gak betah. Si kaka ngomong nya macam macam. Aku kesal. Aku bentak dia, Dia ngaduk ke mama. Mama marah sama aku. Aku pergi." Kata Harun
Ya memang, Harun adalah orang yang cuek bila berada di hadapan keluarganya. Mungkin dia merasa bahwa dia hanya melindungi ibu dari pernikahan nya saat ini. Tapi tidak bisa menerima bahwa akan tinggal dan menetap bersama dengan seseorang yang saat ini mereka anggap sebagai keluarga.
"Ohhh.. Yaudah pulang. Minta maaf sama ibu atau kaka. Aku cape mau pulang, Kasian Tara nungguin aku di kostan." Kata Kalista yang luluh dengar penjelasan dari pacarnya itu.
Kalista kembali ke kostan nya karena Tara yang sudah menunggunya.
Kalista juga malah merasa khawatir dan kasian dengan keadaan Harun.
Setelah kejadian itu, Hubungan Kalista dan Harun membaik. Harun kembali mengirim pesan kepada Kalista Walau tidak terlalu intens.
Saat mereka baik baik saja.. Kaka Harun mengiriminya pesan.
"Kalista... Apa kabar?" Kata Resty
Kalista tau itu kaka perempuan Harun,
"Alhamdulillah Baik, Ada apa ya ka." Kata Kalista
"Gak ko, gak apa apa, gimana hubungan kamu sama Harun? Masih?" Kata Resty
Tumben tiba tiba nanyain tentang hubungan Kalista dan Harus.
"Masih Ka." Kata Kalista
"Oh syukur deh, Kalau aku gak boleh pacaran sama papa." Kata Resty
"Loh emangnya kenapa ka?" Kata Kalista
"Papa bilang, Calon suami aku itu selain baik, Harus pintar dalam agama, dan hafal minimal 2 juz." Kata Resty
Perkataan Resty menurut Kalista adalah tamparan keras memojokan dirinya untuk lebih sadar diri.
Karena Kalista tau, Dia merasa bahwa dirinya tidak pandai dalam ber agama. Hanya tau beberapa dan semendalam itu. Dia merasa bahwa Resty memperingatkannya lewat pesan itu.
"Oh begitu ya." Kata Kalista singkat
Hati nya merasakan sakit yang sama ketika mendapatkan pesan dari ibu Harun.
Walau hubungan Kalista dan Harun baik baik saja. Tapi sudah kurang dari sebulan Harun tidak pernah memberi kabar pada Kalista. Memang sejak kejadian Harun kabur dari rumah, dan Kalista mendapatkan pesan dari Ibu Harun. Harun menjadi lebih sering menghilang tanpa kabar kepada Kalista.
Sampai Kalista merasa dirinya tidak sepenting seperti dulu dimata atau dihati Harun, Kalista sekarang lebih terbiasa tanpa Harun yang selama ini selalu ada disisinya.
---------------------------
Jam Istirahat.
kringgg... Kringgg... kringgg
Telepon Kalista berdering.
"Hallo, Assalamm'ualaikum.." Kata Kalista, Kalista tau bahwa yang menelponnya adalah Resty
"Waallaikumsalam, Kalista. Kamu sekarang lagi sama Harun gak ya?" Kata Resty
"Maaf ya ka, Sudah satu bulan saya dan Harun tidak berkomunikasi." Kata Kalista menahan rasa kesal karena mengapa harus melibatkan dirinya dalam permasalahan keluarga Harun.
Kalista juga mendengar Resty berbicara pada orang tuanya.
"Pa, Ma gak sama Kalista." Kata Resty kepada orang tuanya.
"Oh yaudah kalau gitu. Makasih ya... Wassalamm'ualaikum." Kata Resty
"Waalaikumsalam." Kata Kaslista yang menutup teleponnya
Kalista masih kesal karena Resty yang menelponnya. Kalita menganggap Bahwa mereka menuduh Kalista tentang Harun yang tidak ada dirumah.
"Kenapa Kalista?" Kata Tara
"Bingung deh Ta, Keluarga nya tuh seolah aku biang dari segala masalah dalam keluarga nya. Nanyain si Harun lagi." Kata Kalista
"Emang kamu gak komunikasi sama Harun?" Kata Tara
"Sebulan beb, aku gak komunikasi lagi sama dia." Kata Kalista
"Udah biasa dong.. Hahaha.." Kata Tara dengan nada menyindir
Kalista hanya menganggukan kepalanya sambil ter senyum sindir.
Hari hari kalista berjalan seperti biasa, Tanpa kabar Harun. Dan tanpa hubungan yang tidak pasti.
---------------------------
Beberapa Hari kemudian, adalah hari libur Kalista. Kalista berencana untuk ke toko buku, membeli beberapa novel.
Ditoko buku, Kalista mencari beberapa novel romantis untuk dijadikan teman membacanya dikostan Kalista.
"Permisi." Kata Seorang laki laki yang tampan tetapi terlihat lebih tua dari Kalista
"Ya? Ada apa ya Ka?" Kata Kalista
"Ini dompetnya bukan? tadi saya nemu dirak sebelah sana." Kata Laki laki itu
"Oh iya ini dompet saya, lupa mungkin tadi cari novel disana. Terima kasih Ka." Kata Kalista Ramah
"Sama sama... Fajar.." Kata Fajar mempernalkan dirinya mengulurkan tangan
"Kalista." Kata Kalista
"Oh, Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Fajar
"Ya baik, terima kasih." Kata Kalista
Fajar hanya menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan Kalista.
Setelah Kalista mendapatkan novelnya, Kalista mengunjungi tempat makan favoritenya. Ternyata ada Fajar yang sedang makan disana.
"Kalista." Kata Fajar menyapa Kalista
"Hai, Ka Fajar. Makan disini juga?" Kata Kalista
"Ya, Kamu mau makan juga? Sekalian aja yuk." Kata Fajar
Kalista yang enggan tapi tidak bisa menolak permintaan Fajar. Anggap saja sebagai balas budi kejadian hari ini.
Hari hari berlalu, Kalista dan Fajar menjadi lebih dekat. Fajar bekerja sebagai desain grafis disalah satu perusahaan di kota Bandung. Berbeda 3 tahun dari umur kalista.
-------------
Ditempat kerja.
"Kalista, tadi Harun nyariin." Kata Tara
"Terus?" Kata Kalista
"Aku bilang aja kamu belum sampe." Kata Tara
"Ya emang bener kan aku belum sampai." Kata Kalista
"Kamu bukannya punya pacar lagi?" Kata Tara
"Enggak, Gak pacaran. Cuma temenan." Kata Kalista
"Mending kalian omongin lagi deh. kamu juga masih sayang kan sama Harun." Kata Tara
"Ya, Nanti pulang nya aku kerumah Harun deh." Kata Kalista
-----------------
Pergi kerumah Harun.
Kalista sudah sampai didepan rumah Harun, Dia mengetuk pintu.. Tapi tidak ada yang menjawab, tapi ada suara keributan didalam rumah tersebut.
"Harun, dengerin mama." Kata Mama Harun.
Kalista menjadi mendengarkannya dengan seksama.
"Apa ma? Apa yang harus didengerin? Mama sama Dia sama aja. Selalu bandingin Kalista sama cewek lain." Kata Harun dengan nada Tinggi
"Apa yang salah sih Harun, Mama bener. Banyak diluar sana yang lebih baik dari Kalista." Kata Resty
"Denger Ya Ka Resty, segimana pun orang diluar sana yang lebih baik dari Kalista Aku tetep milih Kalista." Kata Harun
Kalista yang mendengarkannya merasakan sakit teramat sangat. Benar saja apa yang selama ini dia fikirkan tentang keluarga Harun kepada dirinya menjadi kenyataan. Benar Kalista menjadi penyebab keretak dalam rumah Harun saat ini. Benar kata Resty ada banyak orang yang lebih baik dibanding Kalista. Kalista sudah lelah dengan Hidupnya yang selalu menjadi permasalah keluarga Harun. Kalista sudah menyerah pada keadaan ini.
Kalista menangis di depan pintu rumah Harun, Menutup Wajahnya dengan tangan. Dan menyapu Matanya dengan krudung yang di pakainya.
"Kamu bilang Kalista baik? Kamu berubah semenjak sama dia. Dia bawa dampak buruk untuk kamu Harun!." Kata Papa Tiri Harun
"Aku berubah bukan karena Kalista, Tapi Mama yang lebih membela orang lain. Dibanding aku. Mama Mau anak perempuan? Urus dia jangan urus aku. Percuma aku pulang kalau yang aku dapatkan selalu seperti ini." Kata Harun , terdengar seperti suara itu semakin mendekat ke arah pintu.
Kalista yang lemah, berlutut dan terus menangis karena tidak bisa melakukan apa apa.
Benar saja, Harun membuka kan pintu dan melihat kalista sedang berlutut menutup kedua wajahnya dengan tanganya.
"Kaa... Kaalista." Kata Harun bibir nya bergetar karena terkejut
Orang tua dan Resty yang berada disana juga sudah ada di dekat Harun melihat Kalista.
"Emmm..." Kata Kalista Berdiri menatap Harun.
"Kalistaa." Kata Harun yang hendak menghapus air mata Kalista
Kalista menahan Tangan Harun.
"Harun, Mulai saat ini. Aku Mau kita udahan." Kata Kalista dengan mata nya yang basah dan bibir yang bergetar
"Kalistaaa." Kata Harun Terpotongg
"Jangan ganggu aku lagi." Kata Kalista yang berjalan pergi berlari meninggalkan Rumah Harun
Di depan Orang tuanya Harun menitihkan air mata..
"Puas? Puas Ma? Pa? Ka? udah kan, ini yang kalian mau. Aku pergi." Kata Harun yang pergi meninggalkan rumah
-Tamat-
Akhirnya ya Kalista sama Fajar deh. Karena Kalista merasa Fajar lebih baik dan keluarga menerima nya..
Jadi intinya menurut Kalista, Restu itu penting! Apa lagi kalau keluarga sudah menyakitinya berulang kali. Pasti bakal jadi pertimbangan untuk Kalista...
Seandainya Kalian ada dalam posisi ini, Apakah kalian akan berjuang? atau sama seperti Kalista? Menyerah pada keadaan...
Komen dibawah ya...
Terima Kasih...