'Datanglah padaku...tidak ada gunanya kau hidup dengan penuh penderitaan....akhiri segalanya, ambilah pisau itu, dan akhiri penderitaan mu...' suara bisikan itu selalu terdengar di telinga Diana.
Diana Andini gadis yang baru berusia 17 tahun, dia selalu suka menyendiri, sulit bergaul dan suka memendam masalah yang di alaminya sendiri, sebelumnya Diana adalah gadis yang ceria namun, karena kejadian memilukan yang di alaminya membuatnya menjadi wanita pemurung dan suka menyendiri.
"Diana, sebenarnya apa yang terjadi padamu nak? katakan pada ibu, agar ibu bisa membantumu," ucap Ibu sambil menyisir rambut panjang Diana, bukannya menjawab Diana malah menangis, dia tak sanggup mengatakan apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Nak, katakan pada bapak, bapak janji apapun yang kau lakukan bapak tidak akan marah padamu." Bapak menambahakan. Diana tetap saja membisu, sudah satu bulan lamanya, dia diam menyendiri diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, tubunya mulai kurus, bahkan matanyapun terlihat cekung, di matanya tidak ada kehidupan, dunia Diana telah hancur seiring hilangnya kehormatan akibat pelecehan seksual yang di lakukan oleh orang tidak di kenal.
Ibu dan bapak menyerah, mereka kembali keluar dengan perasaan sedih, setiap hari mereka mencoba membuat Diana bicara namun, semua sia-sia.
'Dengarkan aku....ambilah pisau itu....Akhiri penderitaan mu....' suara bisikan itu kembali menggema di telinga Diana.
"PERGI....!JANGAN MENGGANGGU KU....!" teriak Diana. Diana melirik pisau yang tergeletak di atas piring bersama dua buah apel yang ibunya bawa untuk nya.
'Untuk apa kau hidup....Dunia ini sungguh kejam...kau hanya akan membuat orangtua mu malu, lebih baik akhiri penderitaan mu.' bisiknya kembali.
"Tidak, tidak, aku tidak ingin orangtua ku menanggung malu." Diana menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Kalau begitu dengarkan aku....ambil pisau itu dan akhiri penderitaanmu.'
"Siapa dirimu?" ucap Diana.
'Aku adalah teman mu, nasib ku tidak jauh berbeda denganmu.'
"Benarkah? aku tidak percaya, sebelum aku melihat dirimu." ujar Diana.
'Kau ingin melihat ku?' bisiknya suaranya mengeliling Diana, entah mengapa Diana tidak merasa takut padanya justru Diana sangat penasaran akan sosok yang suaranya selalu terdengar di telinganya beberapa hari ini.
'Baiklah, aku akan menunjukan diriku padamu,' sesosok wanita berbaju putih dengan rambut menjuntai, terlihat di ujung ruangan, matanya yang merah menyala lidah menjulur dan wajah hancur tak berbentuk melayang menghampiri Diana, bau amis yang keluar dari tubuh wanita itu begitu tajam di indra penciuman Diana.
'Apa kau takut melihat ku?' ucap wanita itu.
"Tidak, aku tidak takut padamu." Diana menggeleng.
'Kau mau menjadi teman ku?'
"Tentu, aku mau menjadi teman mu."
'Kalau begitu dengarkan aku, ambilah pisau itu dan akhiri penderitaan yang kau alami, jadilah teman ku untuk selamanya.' ucapnya dengan nada menyeramkan jika orang lain yang mendengarnya, tapi, entah mengapa bagi Diana semua itu terasa biasa saja.
"Tapi, bagaimana dengan orangtua ku?"
'Mereka akan sangat bahagia, mereka tidak perlu menanggung malu pada apa yang telah terjadi padamu.'
Diana terdiam sejenak memikirkan semua yang di ucapkan wanita itu, lantas dia mengambil pisau dan mengamatinya, "Apa dengan pisau ini, penderitaan ku akan hilang?" tanya Diana.
'Tentu saja, percayalah pada ku,' ujarnya.
Diana sudah akan menancapkan pisau itu ke pergelangan tangannya namun, kaka perempuannya datang dan secepat kilat merampas pisau itu dari tangan Diana.
"Diana, apa yang ingin kau lakukan?" teriak Silvi kaka perempuan Diana, "Bu, pak...!" teriak Silvi sambil gemetaran.
"Ada apa Silvi?" ucap Ibu dan bapak bersamaan setelah mereka sampai di kamar Diana.
"Bu, pak, Diana mau bunuh diri pak," Silvi menangis, tubuhnya masih saja gemetar ketakutan, "jika aku tidak datang kesini mungkin.." Silvi tak sanggup berkata-kata lagi.
"Diana apa yang kau lakukan nak? kau ingin meninggalkan kami, kau tidak sayang pada kami?" ujar ibu.
"Diana sayang ibu, Diana sayang bapak, Diana juga sayang kaka, tapi, Diana sudah membuat kalian malu, Diana tidak ingin menyusahkan kalian, ka Silvi berikan pisau itu, teman ku bilang pisau itu akan membebaskan ku dari penderitaan dan rasa malu," ucap Diana.
"Teman? teman siapa, aku tidak melihat siapapun di kamar ini?" ucapa Silvi mengerutkan kening.
"Dia ada disini ka, dia selalu bersama ku." ucap Diana.
"Pak...!" ucap ibu ketakutan, sepertinya dia mengerti apa yang di maksud Diana.
"Diana, ayo iku bapak ya nak."
"Kemana pak?" tanya Diana penasaran.
"Ikut saja, ya," ucap bapak, mereka membawa Diana pada seorang Ustadz yang sering melakukan Rukiyah.
"Kenapa kita kesini pak?" Diana ketakutan.
'Diana, ayo kita pergi dari sini.' bisikan itu kembali terdengar, Diana mengangguk.
"Pak, aku tidak ingin disini pak, aku ingin pulang." Diana merengek.
"Tidak nak, kamu harus melakukan Rukiyah, sepertinya ada sesuatu yang lain pada dirimu," ujar bapak.
"Tidak....AKU, TIDAK MAU...AKU INGIN PULANG....!" teriak Diana, 'lawan dia Diana, larilah dari sini Diana.' suara itu terus mempropokasi Diana.
Diana terus meronta-ronta sambil mengucap kan banyak kata-kata kasar dan sumpah serapah yang keluar dari mulut tanpa di sadarinya, ustadz itu terus melantunkan do'a-do'a membuat tubuh Diana merasa kesakitan, Diana menjerit dan menutup telinganya namun, semua itu tidak membantu, sesuatu dalam dirinya terus mendorong Diana untuk menyerang ustadz itu tapi tubunya tak mampu bergerak jauh, Diana hanya menggeliat dan berguling-guling di lantai, menjerit dan mengerang kesakitan, hingga beberapa saat kemudian dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
***
Sebuah cahaya menyilaukan mata Diana, Diana mengerjap-ngerjapkan matanya, Dia mendapati dirinya berada di ruangan yang sangat asing. "Dimana aku?" Diana memegang kepalanya yang terasa berputar, lalu dia beranjak duduk, dia menatap ke sekeliling dia melihat Ibu, bapak, serta Silvi kakanya tersenyum padanya.
"Kau sudah sadar nak," Ibu mengusap kepala Diana dengan lembut, Diana mengangguk, lalu air matanya meleleh.
"Ada apa nak, katakan pada ibu dan bapak, jangan memendam penderitaan mu sendiri, kita adalah keluarga, masalah apapun yang kita hadapi, kita akan menghadapi semua bersama-sama," ujar bapak, setelah mendapat ucapan yang melegakan hati Diana pun mulai menceritakan apa yang terjadi padanya, ibu dan bapak pun tidak marah mereka malah menangis dan brjanji akan mencari orang itu dan memenjarakannya.
Diana mulai pengobatannya bersama pesikiater dan mencoba hidup normal kembali.
Tamat.