Kehilangan...Sedih...itu yang di rasakan Ersya saat ini. Ia merasa harus bagaimana hidupnya sekarang. Ya... adalah kematian ayahnya yang tragis karena ia menjadi korban kecelakaan bis.
"Ayah... hiks..kenapa engkau pergi secepat ini? Hiks.. Engkau menginginkan kelulusanku kan? Besok lusa Ersya ujian yah, setelah itu Ersya lulus, ayah menginginkan itu kan? Hiks...bangun ayah bangun hiks..." Ersya terus menangis didepan jasad ayahnya sampai matanya terlihat bengkak.
Setelah selesai mengantgar ayahnya keperistirahatan terakhirnya, Ersya dan keluarganya kembali kerumahnya. Semua sudah iklas dengan peristiwa ini.
"Ma, besok Ersya kerja aja ya? Nggak usah lanjutin sekolah, Ersya nggak apa apa kok" Sebenarnya Ersya ini anak yang sangat cerdas, ia ingin meluluskan pendidikannya untuk membanggakan orangtuanya.
"Nggak usah dek, abang aja yang kerja! Kamu ttp harus sekolah, besok lusa kamu ujian kan?" Tanya Vano-abangnya Ersya.
Ersya mengangguk, "Kakak nggak apa apa?" Ersya balik tanya.
"Iya, ini sudah menjadi tanggung jawab kakak sekarang" ucapnya sambil tersenyum yang memperlihatkan gigi putihnya. Ia harus terlihat tegar dan kuat didepan mamanya dan adiknya.
"Makasih sayang, kalian memang anak yang berbakti" ucap Rita-mamanya, Rita memeluk kedua anaknya itu lalu mengecup kening mereka satu persatu, perasaan yang terharu, bangga, sedih bercampur jadi satu.
"Mama jangan sedih ya, kita harus kuat dan kita harus saling bersatu agar kita selalu bahagia, dan semoga ayah disana tenang dan senang melihat kita tetap bersatu seperti ini" ucap Ersya menenangkan mamanya. Rita dan Vano mengangguk lalu kembali berpelukan.
☆♡☆
Satu minggu berlalu...
Pagi yang cerah mewarnai senyum Ersya yang indah, Ia berjalan ditaman yang dipenuhi bunga bunga dan disana juga ramai orang, ada yang bersama pasangannya dan ada yang sendiri. Namun Ersya tetap berjalan dengan senangnya dengan senyuman indahnya tanpa menghiraukan siapa siapa.
"Mama sama bang Vano pasti seneng deh liat nilai aku ini" ucap Ersya sambil melihat nilai diraportnya, ia sangat senang karena mendapat nilai yang memuaskan. Namun tiba tiba seseorang menabraknya dari arah berlawanan.
Ersya kehilangan keseimbangan dan akhirnya ia terjatuh, kertas yang tadi digenggamnya juga jatuh. Ersya mencoba berdiri lalu mengambil kertas raportnya. Namun seseorang itu juga akan mengambilnya sehingga tangan mereka bersatu. Tatapan keduanya bertemu, Ersya merasa gugup dan salah tingkah.
"Makasih" ucap Ersya karena seseorang itu telah mengambilkan raportnya.
Seseorang itu mengangguk, "Sorry"
"Nggak apa apa, ini salahku" Seseorang itu tersenyum melihat paras Ersya yang cantik dan terlihat anggun.
"Mau minum?" Tawar seseorang itu.
"Boleh" jawab Ersya. Lalu seseorang itu pergi untuk membeli minuman.
"Nih" seseorang itu menyodorkan minumannya kearah Ersya, dan Ersya menerimanya. "Makasih".
"Nama kamu siapa?" Tanya seseorang itu tiba tiba.
"Ersya" jawabnya tanpa menoleh seseorang itu.
"Namanya cantik kayak orangnya" Ersya tersipu malu karena ucapan seseorang itu.
"Makasih, nama kamu?" Tanya Ersya dengan menghadap kearahnya.
"Brayen" jawabnya. "Itu kertas apa?" Lanjutnya.
"Oh ini raport aku, kemarin baru ujian dan ini hasilnya"
"Boleh aku lihat?" Ersya langsung menyerahkan raportnya ke Brayen. Brayen memandangi nilainya. "Nilai yang bagus"
Ersya tersenyum menanggapinya. "Makasih, oh iya kamu habis dari mana?"
"Dari kampus langsung kesini pengen jalan-jalan kesini aja" jawab Brayen.
"Ohh"
"Bosen disini, jalan yuk kemana gitu" ajak Brayen.
"Aku harus langsung pulang, maaf" tolak Ersya secara halus.
"Sebentar aja ya, temenin aku" Ersya tampak berfikir. "Gimana?"
"Yaudah deh"
Mereka berdua beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju parkiran. Brayen membelah jalanan dengan motor sportnya, Ersya merasa senang dan gugup karena ini pertama kalinya ia membonceng seorang pria selain abangnya.
Brayen menghentikan motornya ketika sampai direstoran. "Kenapa kesini? Katanya mau jalan?" Tanya Ersya heran dan langsung turun dari motor Brayen.
"Kita makan dulu, aku laper dan kamu juga pasti belum makan"
"Yaudah iya"
Brayen dan Ersya terlihat seperti sepasang kekasih dipandangan orang orang disana, karena paras Ersya yang cantik cocok untuk pria tampan seperti Brayen.
Mereka duduk dimeja yang kosong, lalu melihat lihat menunya. "Mau pesen apa?" Tanya Brayen.
"Emm...sup buntut sama es jeruk aja" jawab Ersya.
"Mbak, saya pesen sup buntutnya 2 sama es jeruknya 2" pesan Brayen.
"Baik mas, silahkan ditunggu"
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka sudah datang dan mereka berdua langsung menyantapnya.
Setelah selesai, Brayen langsung menuju kasir untuk membayar makanannya, lalu mereka kembali menaiki motornya menuju Disneyland. Mereka berjalan melihat lihat yang ada dan sesekali mereka mencoba permainan yang ada disitu. Tawa bahagia menghiasi kebersamaan mereka.
"Hahaha....kamu cocok jadi badut aja" ucap Ersya sambil tertawa mengejek Brayen yang sedang berfoto bersama badut disampingnya.
"Ini kayak kamu tau, haha" balas Brayen mengejek.
"Enak aja, kamu yang pantes ko jadi kayak badut" ucap Ersya yang tak mau kalah.
"Iya deh aku yang pantes jadi badut" ucap Brayen mengalah. Ersya tertawa senang karena Brayen mau menerima ejekannya.
Tak terasa awan sudah mulai gelap, jam tangan Ersya sudah menunjukkan pukul 07.00. "Udah malem nih, aku mau pulang" ucap Ersya yang langsung memakai helmnya.
"Yaudah yuk!"
Brayen melajukan motornya menuju rumah Ersya. Namun ditengah perjalanan, ponsel Brayen berbunyi menandakan Ada telfon yang masuk. Brayen menepikan motornya lalu mengangkat telfonnya.
"Hallo sayang, kamu dimana?" Tanya seseorang dari sebrang sana. Ersya yang mendengar kata 'sayang' langsung kaget, jantungnya seketika seperti berhenti. Karena perlakuan Brayen yang perhatian kepada Ersya membuat Ersya merasa nyaman walau baru tadi ia bertemu dan rasa itu tiba tiba muncul.
"Aku lagi dijalan, kenapa?" Tanya Brayen.
"Jemput aku dong yang dirumah, aku pengen nonton bioskop sama kamu"
"Yaudah tunggu, aku kesana" ucap Brayen lalu memutuskan sambungannya.
Brayen kembali melajukan motornya, hati Ersya seperti kayu yang rapuh, bahagianya seperti baju yang luntur, tak terasa air matanya mengalir dipipinya. Karena ia penasaran, Ersya bertanya kepada Brayen.
"Siapa yang nelfon?" Tanya Ersya.
"Seseorang yang jadi prioritas" jawaban Brayen membuat hati Ersya semakin rapuh mendengarnya. Air matanya kembali mengalir sambil sesenggukkan. Rasa yang baru tumbuh kini harus kandas karena ternyata Brayen sudah memiliki seorang kekasih. Brayen yang mendengar isakan Ersya langsung menghentikan motornya. Lalu ia menghadap kearah Ersya.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Brayen yang langsung mengusap air mata Ersya.
"Ah nggak tadi kelilipan" jawabnya bohong sambil mengusap air matanya, namun Brayen tak percaya itu.
"Jawab aku jujur, Er?" Tanya Brayen lagi.
"Kamu jangan marah ya sama aku, sebenarnya aku nyaman sama kamu, kamu pria pertama yang aku sukai dan kamu pria pertama setelah abang aku yang sudah perhatian sama aku, rasa bahagiaku jadi lengkap setelah mendapat nilai yang memuaskan dan aku bertemu denganmu itu juga menjadi kebahagiaanku tersendiri. Tapi sekarang aku tak bisa merasa bahagia seperti tadi karena ternyata kamu sudah punya kekasih yang akan menjadi masa depanmu. Hiks..hiks" jelas Ersya panjang lebar dengan terus menangis sesenggukan.
Brayen kembali mengusap air mata Ersya. "Maaf, tapi kamu akan bertemu orang yang lebih dariku. Percayalah" Brayen memeluk Ersya untuk menenangkannya.
"Yaudah, jangan nangis lagi ya" Ersya mengangguk. Lalu Brayen kembali melaju menuju rumah Ersya.
Didepan rumah Ersya, terdapat seorang wanita yang sedang duduk diteras depan rumah Ersya.
"Siapa?" Tanya Brayen.
"Mungkin temen aku" jawab Ersya sambil turun dari motor Brayen.
Seorang wanita itu mendekati Ersya dan Brayen. Ia merasa heran dan terkejut.
"Sayang? Ersya?" Tanya wanita itu.
"Sinta? Kamu kenal sama Brayen?" Tanya Ersya ke Sinta. Yaa wanita itu adalah Sinta teman Ersya sejak kecil dan ternyata Sinta adalah kekasih Brayen.
"Kalian berdua kenal?" Tanya Ersya lagi.
"Dia kekasihku" jawab Brayen. Ersya tambah terkejut karena ternyata kekasih Brayen adalah sahabatnya sendiri. Ia ingin menangis, tapi ia harus kuat dan harus menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kalian habis dari mana? Kok bisa bareng gitu?" Tanya Sinta mengintrogasi. Namun tak dijawab oleh mereka berdua karena mereka tak tau harus menjelaskan bagaimana kepada Sinta.
Brayen mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kamu disini, sayang? Katanya mau dijemput dirumah?".
"Tadinya aku mau nonton bioskop bareng sama Ersya juga makannya aku kesini! tapi kata mamanya dia belum pulang dari tadi siang jadi aku tunggu dan ternyata Ersya sama kamu" ujar Sinta kesal.
"Maafin aku, Sin. Aku nggak ada maksud apa apa sama Brayen. Dan aku baru tau, ternyata selama ini orang yang kamu ceritakan itu Brayen, maafin aku, Sin" ucap Ersya memohon agar Sinta tak marah kepadanya.
"Hah? Aku nggak habis pikir, Er? Ternyata lo nusuk aku dari belakang!" Ujar Sinta yang mulai meninggikan suaranya.
"Nggak gitu, Sin. Ini semua nggak kayak yang kamu pikirkan" ucapnya yang mulai meneteskan air matanya. "Sejujurnya aku memang suka sama Brayen, walau baru bertemu tadi. Aku nggak tau kalau kekasih kamu yang selalu kamu ceritakan kepadaku itu Brayen, Sin. Dan setelah aku tau kalau Brayen adalah kekasihmu, aku akan membuang rasa ini jauh jauh agar tak kembali lagi. Dan aku nggak mau merusak persahabatan kita dari kecil hanya karna seorang pria! Jadi tolong mengertilah" Terang Ersya yang membuat Sinta luluh dan meneteskan air matanya.
Sinta langsung memeluk Ersya dengan eratnya. "Maafin aku, Sin" ucap Ersya yang ikut meneteskan Air matanya. Sinta melepaskan pelukannya lalu tersenyum. "Nggak apa apa, Er. Maafin aku tadi udah kesal sama kamu" ucap Sinta lalu mereka berdua kembali berpelukan.
♡♡♡
~THE END~