Aku selalu bersemangat melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan menuju ke sekolah yang aku cintai.
Tidak pernah semangat ku luntur saat akan menjalankan kegiatan setiap hari untuk menuju ke sekolah.
Aku memang seorang siswi yang termasuk pintar di kelasku, Tetapi ada satu hal yang membuatku bertambah semangat untuk ke sekolah, yaitu untuk menatap seseorang dari jauh.
Dia adalah kakak kelasku di sekolah tersebut, Dia seorang lelaki yang tingginya sekitar 180 cm, berkulit putih dan senyumannya sangat manis.
Namun aku tidak pernah berani menatapnya dan mendekatinya secara dekat, aku hanya mampu melihatnya dari jauh, dan mengikuti segala kegiatannya di luar kelas tentu saja juga dari jauh.
Ketika suatu hari entah angin apa yang membawanya sosok pria yang selama ini aku kagumi mendekat ke kelasku dan yang lebih mengejutkan lagi dia menemuiku di sana, itu suatu hal yang tak pernah aku bayangkan jika seseorang yang aku kagumi itu menemuiku di dalam kelasku sendiri.
Entah bagaimana aku melambangkan kebahagiaan saat itu, seseorang yang satu tahun lebih aku kagumi, tiba-tiba menemui.
Entah mimpi apa aku semalam, sehingga pagi ini aku mendapatkan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan.
" Hai..."
Apanya kepadaku saat dia datang.
Dengan polosnya kujawab dengan hai juga.
Ini adalah pertemuan pertama kami secara langsung, bisa dibayangkan betapa groginya diriku bisa ditemui oleh pujaan hatiku selama ini.
Setelah berkenalan secara langsung, sambil ngobrol biasa saja, namun sejujurnya aku sungguh susah untuk mengendalikan rasa bahagia di hatiku agar tidak ketara olehnya.
Seorang gadis yang belum pernah mengenal cinta sebelumnya ataupun pacaran, tentu saja banyak rasa takut, bahagia dan salah tingkah yang harus aku sembunyikan agar tidak bisa dilihat begitu jelas oleh lawan bicaraku.
Satu minggu setelah pertemuan itu, kami bertemu lagi di sebuah wisata pemandian, di saat itu akhir pekan ke kelasku mengadakan liburan bersama dan ternyata kelasnya juga ikut dalam liburan tersebut karena pada hari Sabtu kebetulan kami pulang cepat.
Untuk mengisi waktu luang, kami semua pergi ke pemandian sebelum nanti sore kembali ke rumah masing-masing.
Di sana aku dan Adi (nama sosok yang aku kagumi) terlihat begitu akrab.
Kami main air bersama antara kelasku dan kelasnya bergabung, kami berdak baur begitu saja tanpa ada yang memulainya.
Rasanya hari itu kami begitu akrab...
Beban yang selama ini aku pendam rasanya lepas begitu saja saat kami tertawa bersama, bermain bersama.
" Ayo lompat" ajak Adi kepadaku, dengan takut-takut aku mengikuti ajakannya itu, meski sebenarnya aku masih ragu untuk mengikuti ajakannya itu, tetapi aku tetap menyanggupinya.
" Akhirnya..." Gumamku setelah berhasil melompat di kolam yang lumayan dalam.
Meski sempat menelan air, tetapi aku masih bisa melewatinya, satu hal yang tidak juga aku sangka-sangka, ternyata Adi menungguku di dalam kolam tersebut, Iya segera menarikku ke pinggir kolam karena dia tidak tega melihatku yang batuk-batuk setelah menelan air.
Sedangkan diriku pasrah saja saat dia menarikku ke pinggir kolam tersebut.
Hari itu sampai sore kami lewati bersama, tentu saja tidak hanya berdua tetapi dua kelas yang berbaur menjadi satu.
Setelah hari itu berlalu, Iya tidak pernah lagi berkunjung ke kelasku dan aku pun tidak pernah mendekatinya Karena sejujurnya aku tidak pernah berani.
Seperti sebelumnya, aku selalu menatapnya dari jauh sebagai pengobat rindu yang ada di dalam hatiku, itu terus berlalu untuk setahun kemudian sehingga ia menamatkan sekolah di sekolah tersebut dan aku pun tidak pernah melihatnya lagi.
Namun dengan dilanya rasa itu masih tetap ada di dalam hatiku meski rasa yang tak pernah IA ketahui yang selama ini aku miliki,
Untuk mengikuti kegiatannya, aku selalu memantau sosial medianya untuk mengobati rindu Yang terpendam di dalam hatiku.
Itu berlalu hingga lebih dari 4 tahun dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mengingatnya, mungkin dia bukan jodohku sehingga kami tidak memiliki waktu untuk bersama.
Entah memang dia tidak mempunyai ketertarikan terhadap diriku atau mungkin aku yang tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan kepadanya.
Biarlah ini menjadi rasaku meski bukan rasanya, terima kasih telah hadir di dalam hatiku, meski rasa Ini,, RASA YANG TAK KAU KETAHUI....
AND...