Sejak kejadian mengerikan di Desa Fams sebulan silam, Fukano kini berjalan santui di desa itu lagi hanya untuk melihat - lihat apakah sudah aman?Desa itu masih terasa sunyi, namun tak lagi dibayangi ketakutan. Fukano berjalan-jalan, menikmati udara segar pagi yang menusuk kulitnya.
Tiba-tiba, beberapa warga yang dikenalnya menyapa. Fukano tersenyum, merasa mereka masih mengenalnya.
Fukano mengangguk, lalu melanjutkan perjalanannya. Tak lama kemudian, seorang bocah kecil berlari menghampiri Fukano. Wajahnya datar, matanya menatap Fukano dengan intens.
"Anak siapa ini?" tanya Fukano pelan, bingung.
Bocah itu langsung memeluk erat kaki Fukano. "Aku anakmu!" jawabnya dengan suara polos.
Fukano menatap anak itu dengan datar. "Anak siapa sih kamu?" tanyanya, mengulang pertanyaan yang terlontar dari bibirnya.
"Aku cucumu," jawab anak itu polos, sambil memeluk Fukano erat.
Fukano terkejut. Dia buru-buru melepaskan pelukan anak itu. "Anak aja gak punya, malah udah punya cucu. Gila ni anak," gumamnya.
Anak itu hanya menatap Fukano dengan wajah datar.
Fukano juga menatapnya dengan datar. "Ini rumah sakit jiwa ada di mana sih, ada pasien kabur sepertinya," gumamnya lagi, sambil melirik anak ingusan itu.
Anak itu tetap diam, hanya menatap Fukano.
"Dek kamu ini dari mana ya?" tanya Fukano dengan pelan.
Anak itu tetap diam. Dia menoleh ke belakang, seperti mencari seseorang di sana.
Fukano bingung. Anak ingusan itu menoleh ke belakang tanpa menjawab, lalu kembali menatapnya.
"Kenapa gak jawab aku tanya?" tanya Fukano.
"Oh aku..." Anak itu baru sadar kalau dia ditanya.
Fukano sedikit kesal. "Baru sadar lo ditanyain?"
Hening 10 detik ......
"Gak jelas ah," kata anak itu lalu pergi tanpa beban, berjalan dengan santai dan wajah datar.
"Ini yang gak jelas dia apa gw ya?" Fukano bingung bertanya dalam hati, sambil menatap anak itu pergi dengan ekspresi datar.
Fukano melanjutkan langkahnya, menjelajahi jalannya yang dipenuhi dengan keheningan. Di tengah perjalanan, dia melihat seekor kambing yang terikat di dekat pohon. Awalnya, niatnya hanya untuk melihat, namun kambing itu seolah-olah menatapnya dengan penuh penasaran hingga akhirnya kambing itu bertanya, "Apakah kau ingin menemui ku, wahai manusia?"
Fukano menjawab dengan datar, "Aku hanya ingin melihatmu, wahai kambing," lalu melanjutkan perjalanannya tanpa banyak kata.
Namun, tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil dari dekat Fukano. Pria itu mendekati Fukano dengan senyuman ramah di wajahnya. "Kau adalah orang yang menolong kami, bukan?" tanya pria itu sambil mengangguk pelan, mencoba mengonfirmasi identitas Fukano.
"YEAH ! akulah pahlawan kalian," kata Fukano dengan bangga, senyum terukir di wajahnya. Orang itu tersenyum lebar sebagai tanda penghargaan, lalu menjulurkan tangannya
Namun, sebelum Fukano bisa mengajukan pertanyaan, pria itu memotong dengan permintaan, "Minta kotak dong."
Fukano terdiam sejenak, kemudian bertanya dengan rasa ingin tahu, "Kotak untuk apa?"
Pria itu menjawab dengan tegas, "Untuk poin lah, mana kotakmu?"
Fukano merasa kebingungan, "Tidak ada rasa berterima kasih setelah aku menolong kalian, sekarang malah ingin memaksa aku," gumamnya dengan kekecewaan.
"Kotak mana?" tegas pria itu sekali lagi.
Fukano merangkul kepala pria itu dengan paksa, "Eh, gagang sapu, kalau gak ada gw, elu dah jadi bubur dari dulu."
"Yang punya poin banyak akan kami palak," ujar orang itu dengan nada ancaman.
Fukano mendekatkan mulutnya di telinga orang itu dengan keterpaksaan, "Eh, sini, gw kasih tau lo sesuatu yang penting."
"Gak mau ah," orang itu menulak dengan tegas, sembari pergi menjauh.
Baru saja kembali menghampiri desa itu, Fukano sudah dikejutkan dengan kelakuan aneh yang tidak dia mengerti.
Seorang gadis muda berjalan di depannya, sengaja tersandung batu tepat di hadapannya. Tubuhnya terjatuh, dan secara naluriah, Fukano mengulurkan tangan untuk menangkapnya.
"Kau tidak apa-apa, nona?" tanyanya lembut, matanya terpejam, seakan tak ingin melihat wajah wanita yang dia tangkap.
"Enggak kok, ini cuma pinggang encok dikit," jawab wanita itu. Fukano membuka matanya, dan terkejut mendapati bahwa yang dia tangkap bukanlah tubuh wanita itu, melainkan tasnya. Wanita itu terbaring di tanah, menatapnya dengan sedikit sedih.
"Biar aku bantu," kata Fukano, segera mengulurkan tangan untuk membantu wanita itu berdiri. Gerakannya lembut, namun tatapannya sedikit bingung. "Biar aku bantu," wanita itu mengulang kata-kata Fukano, nada suaranya sarat dengan sindiran.
"Nona, saat aku menyelamatkan desa ini, aku tidak pernah melihat dirimu. Hampir semua orang di desa ini kuhafal wajahnya," tanya Fukano, merasa heran dengan kehadiran wanita asing ini.
"Kamu pura-pura lupa apa gimana sih?" Wanita itu menyeringai, matanya berbinar-binar.
"Lupa?" Fukano mengerutkan kening, mencoba mengingat wajah wanita di hadapannya.
Lama terdiam, wanita itu akhirnya membuka suara kembali, "Kau gak ingat ya? Aku ini orang yang kau lawan, si Penyihir."
Fukano tersentak, baru menyadari siapa wanita itu. "Kamu penyihir itu? Kenapa kamu kelihatan beda ya?" tanyanya, mengamati penampilan wanita itu yang tak lagi menyeramkan seperti dulu.
"Iya nih, sekarang aku pindah profesi jadi sales keliling," jawab wanita itu, nada suaranya terdengar sedikit getir.
Fukano merasa sedikit tersentuh. Sepertinya penyihir itu sudah bertobat dan memilih jalan yang benar, meskipun menjadi seorang sales.
"Aku ada pantun nih buat kamu yang udah tobat," kata Fukano, "Ikan hiu makan sayur."
"Cakep," timpal bocah ingusan yang tiba-tiba muncul di samping mereka.
Fukano menoleh, mengerutkan kening. "Ngapain kemari?" tanyanya.
"Om minta kotak dong," kata bocah itu, matanya berbinar-binar.
Fukano tersenyum, "Oh ada ini buat kamu," katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Bocah itu dengan senang hati menerimanya. Namun, saat diberikan, bukan kotak yang dia terima, melainkan seonggok 💩. "Om apa ini?" tanya bocah itu, menunjukkan 💩 di tangannya dengan ekspresi heran.
"Itu T*i." Jawab Fukano
Anak ingusan itu pergi begitu saja setelah diberi hadiah 💩, membuat si penyihir merasa kasihan. Dengan belas kasih, si penyihir memanggil bocah itu kembali dan memberikannya sebatang permen lolipop yang berkilauan, membuat senyum bahagia merekah di wajah bocah ingusan itu.
"Kamu ternyata baik ya," ucap Fukano dengan senyuman, membuat si penyihir tersipu malu.
Dengan lembut, Fukano melanjutkan, "Mending kamu balik jadi jahat lagi."
Tetapi, mendengar saran itu, si penyihir justru tersinggung dan bertanya, "Kenapa?"
Fukano menjelaskan, "Jahatmu membuatku terluka, tapi tidak sejahat yang aku kira. Malah, membuatku ketagihan padamu."
"Ih, gombal," si penyihir membalas dengan senyuman.
Fukano melanjutkan, "Waktu kita bertarung, seranganmu tidak terasa."
"Masa sih?" tanya penyihir dengan rasa penasaran.
Fukano menjawab dengan tulus, "Soalnya, kamu mukulnya pake cinta."
😃😃 Eaaaaa
Selesai.....
Demikian cerita cerpen saya dan terima kasih sudah membaca.☺️🙏
Cerpen ini saya buat untuk mengikuti event gombalan maut di GC Fams. 🥳🥳