Ini adalah hari ke tujuh tahun kedua sejak aku masuk ke tempat ini. Kakak yang mengirimku. Sejak saat itu, ketika kakak berkata, "Kau akan dirawat di RSJ Mutiara, lekas-lekaslah keluar", aku tak pernah habis pikir. RSJ? Rumah Sakit Jiwa? Kakak mengirimku ke rumah sakit jiwa dengan alasan apa?
Ketika kutanyakan hal itu, kakak dan suaminya bilang kadang sikapku membuat mereka takut. Aku tanya mengapa demikian. Mereka hanya menampakkan ekspresi sedih dan prihatin. Apalagi kakakku, ia terdengar menangis di kamarnya sehari sebelum keberangkatanku ke RSJ.
Seorang perawat yang paling sering bertemu dan bersosialisasi denganku, Ratna, menyatakan keheranannya. Dia bersikeras aku ini orang waras dan mungkin saja kakak serta suaminya yang sedikit sinting. Ratna sampai terlibat perdebatan sengit dengan pak Joko, salah satu dokter psikolog di rumah sakit ini. Hasilnya, mereka memberi waktu satu minggu untuk melihat perkembanganku.
Seminggu berlalu dan sikap Ratna berubah. Dia sependapat dengan pak Joko dan kakakku. Tak ada lagi perdebatan siapa waras siapa sinting. Baik Ratna maupun pak Joko selalu memandangku dengan kasihan mulai hari itu. Apa-apaan ini?
“Kau datang lagi?” aku celingukan ke sana-sini sebelum melihat jam yang melilit tangan kiriku. Ratna bilang benda itu sudah wafat. Aku heran, jam itu benda mati, benda mati bisa wafat?
“Iya.”
Aku memajukan bibir. “Si Amat itu ... selalu saja bisa membedakan barang bagus. Sekalinya bukan kamu, pasti akan dipersulit.”
Asih tersenyum. Bibir merah mudanya hari ini tidak diolesi lipstik. Sama seperti hari-hari kemarin. Juga kantung mata yang sedikit hitam. Bagi beberapa orang, mungkin Asih sama sekali tidak ada manis-manisnya. Ia amat jarang untuk berdandan. Bahkan kalau diingat, aku belum pernah melihatnya berdandan.
Dia duduk di sebelahku. “Pak Amat hanya ikut peraturan saja. Dia kan satpam, wajar dong, namanya juga petugas keamanan.”
Aku menghela napas.
Asih ini adalah orang yang selalu datang kapan pun aku butuh. Semenjak zaman SMA dulu dia selalu begitu. Ketika aku dimarahi guru, dia yang membela bahkan dia pula yang mengaku salah padahal sama sekali tidak ada hubungannya. Ketika aku dibully, dia yang maju duluan. Lalu ketika tes matematika di hari ketiga ujian kenaikan kelas, dia yang rela memegalkan otot rahang demi membisikiku jawaban dari nomor satu sampai akhir.
Dia sahabatku. Entah kenapa aku tak menjadikannya sebagai istri saja. Aku yakin dulu sempat terpikirkan akan hal ini, tetapi aku lupa alasan tentang mengapa tak kuajukan lamaran kepadanya.
Sama seperti ketika istriku meninggal. Dia memang tak datang melayat. Namun, setelah satu minggu berlalu, setiap tiga hari sekali ia datang ke rumah hanya untuk menyapa. Untung ketika kakak mengirimku kemari, dia masih mau mampir.
“Kau tak bosan terus-terusan datang ke sini?”
Asih tertawa kecil.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Jangan-jangan kau sendiri yang bosan karena selalu kudatangi terus-terusan. Bahkan sekarang hampir setiap hari aku datang,” jawabnya tanpa menghentikan tawa kecilnya.
Aku tak bisa menahan senyumku. “Jujur saja, di sini aku tak punya teman,” keluhku dengan pundak merosot. “Memang keadaan mereka memprihatinkan. Tidak waras tapi masih merasa waras. Aku amat kagum dengan para dokter dan perawat di sini. Tapi satu hal yang amat mengganjal pikiranku, kenapa sebagian besar perawat yang kukenal selalu menatap iba padaku? Tatapan iba yang jauh lebih iba dari kebanyakan orang di sini.”
“Mereka tahu masa lalumu? Alasanmu datang ke tempat ini?”
“Tentu saja. Bahkan salah satu perawat ada yang membelaku mati-matian dan mengatakan aku ini orang waras.” Aku berhenti sejenak, menghela napas panjang. “Tapi tak lama setelah itu, sikapnya berubah. Dia tak ada bedanya dengan perawat-perawat lain.”
Asih tersenyum. Hanya tersenyum.
Lalu seperti biasa, ia pergi menjauh beberapa saat sebelum Ratna datang membawa sarapan. Ketika sampai tikungan, sekali lagi Asih tersenyum.
Sejak kami masih duduk di bangku SMA, itu adalah satu kebiasaannya yang tak pernah dapat kupahami.
***
Setelah Ratna mengantarku ke kamar sesudah melakukan jalan-jalan sore, ia berpesan agar lekas tidur supaya kondisiku cepat membaik.
Sekarang sedang musim pancaroba, hal yang terlalu wajar jika seseorang mudah terjangkit penyakit.
Kemarin siang, Asih mendatangiku lagi dan mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan Ratna. Ia bilang, mungkin sebaiknya aku harus lebih memperhatikan pola makanku.
Hari ini, Ratna terkejut karena tak ada keributan ketika jam makan siang tiba.
“Oh, kau mengagetkanku.”
Asih hanya tersenyum. Entah dari mana dia masuk, seperti kucing saja. Tak terdengar langkah kaki bahkan pintu dibuka.
“Bagus, aku datang untuk bicara padamu mengenai beberapa hal. Boleh?”
Aku menutup buku novel pinjaman Ratna yang katanya masih best seller bulan ini. “Ya, bicara apa?”
Sejenak, Ratna mengamati buku yang ada di pangkuanku, kemudian beralih ke bulan purnama yang kebetulan terlihat jelas dari jendela kamar. Jari-jemarinya saling remas, kakinya dirapatkan. Kondisi seperti itu biasanya terjadi ketika Asih sedang gelisah.
“Ada apa?” Aku semakin penasaran saja.
Asih tak langsung menjawab. Masih terus menatap bulan purnama sambil sesekali melirik ke arahku. Kelopak mata hitamnya entah kenapa malam ini jadi lebih hitam.
Karena terjebak dalam situasi canggung, aku mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengomentari garis hitam di matanya.
“Kau memakai celak?”
Asih terperanjat. Tak lama kemudian seutas senyum kikuk tercipta.
“Kau baru menyadarinya?”
Kini giliran aku yang terperanjat. “Kau selalu memakainya?” tanyaku heran. “Sejak kapan?”
“Sejak dulu ketika kita masih SMA.”
Aku benar-benar kaget sekarang.
Buku novel best seller itu kuletakkan di atas meja. Kopi buatan Ratna yang kadang terlalu manis atau bahkan asin—sungguhan, asin—kini sudah dingin. Aku menyesapnya perlahan, menjaga wajahku agar tidak kehilangan wibawa. Kini rasanya terlalu pahit, entah kenapa.
“Aku akan pergi. Maksudku ... ya, begitu.”
Tanganku yang hendak meletakkan cangkir kopi ke tempat semula berhenti seketika. Tak hanya tanganku, bahkan sejenak, napasku pun ikut berhenti.
“Kenapa?”
“Sudah waktunya,” katanya sedih.
Tapi hanya untuk waktu yang terlalu singkat. Sebelum dapat kusadari, dia sudah tersenyum lebar seperti biasa. “Kau jangan khawatir, aku akan tetap mampir ke sini, walau tidak setiap hari.”
Aku menghembuskan napas lega. Itu satu hal yang sangat menghibur. “Hahaha, kau menakutiku. Kau sama sekali tidak pergi.” Aku kembali menyesap kopi itu. Kini aku tersedak. Sungguh, pahit sekali. “Eh, jangan bilang aku mengganggu kepergianmu itu?”
Aku bangkit berdiri, memegang kedua tangannya. “Asih, dengar, aku amat sedih bila kau harus pergi. Akan tetapi, jika itu memang penting, aku bahkan sudah senang sekali kau mau datang untuk berpamitan. Jangan jadikan aku sebagai hambatan. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu.”
Asih tersenyum, lalu mengangguk.
Malam itu kami mengobrolkan banyak hal. Mengingat-ingat masa lalu tentang kenangan zaman SMA ketika kami dihukum hormat depan tiang bendera karena datang terlambat, atau ketika aku lupa membawa PR lalu Asih ikut menemaniku membersihkan kamar mandi sebagai hukuman, padahal dia sama sekali tidak salah bahkan jawabannya benar semua.
Momen-momen istimewa saat kami bermain-main dengan kucing di taman belakang rumah, satu bulan sebelum kakak menganggapku gila. Bahkan malam hari itu, dia sudah menatapku dengan pandangan aneh.
Pipiku sampai pegal karena mengobrol dengan Asih. Ia selalu bisa membuatku tertawa. Wanita ini periang, hanya saja sedikit aneh. Setiap kali kutanya ke mana ia pergi setelah SMA, jawabannya selalu sama.
“Ya, begitulah.” Kemudian dia tersenyum.
Jadi, walau aku sudah mengenal Asih sejak masa SMA, tetapi aku sama sekali tidak tahu ke mana perginya dia setelah itu. Ketika kami lulus, pertemuan terakhir kami adalah saat foto bersama di warung makan sederhana bersama anak-anak sekelas.
Lalu pertemuan berikutnya adalah saat istriku meninggal. Entah bagaimana Asih tahu tempatku tinggal dan seolah dia tahu aku sedang dilanda kesedihan.
Aku sedang memandang bintang-gemintang ketika Asih bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan kamar. Saat itu juga, terdengar suara pintu dibuka, Ratna dan pak Joko masuk kamar. Aku buru-buru mengklarifikasi.
“Aku hanya mengobrol dengannya, sumpah!”
Pak Joko dan Ratna sama sekali tidak merespon.
***
Sama seperti perkatannya, hari-hari berikutnya tak setiap hari Asih datang mengunjungiku. Sehari setelah pertemuanku dengan Asih, wanita itu datang lusa kemudian. Lalu pada lusa berikutnya, dan hari berikutnya lagi.
Ratna tersenyum sumringah ketika mengetahui hasil pemeriksaan pak Joko. Aku bahkan sampai tertawa.
“Haha, akhirnya aku bisa cepat keluar.”
“Tak akan ada lagi yang menemaniku main catur,” pak Joko terkekeh.
Ratna menyusul. “Tak ada lagi yang membantuku membersihkan taman.”
Aku membusungkan dada dengan bangga. “Aku ikhlas untuk itu. Seharusnya kalian sadar jika catur dan membersihkan taman itu adalah pertanda kalau aku memang waras.”
“Kau hanya pernah menang tiga kali dariku,” cetus pak Joko.
“Apa hubungannya dengan kewarasan?” jawabku sewot. “Ayo tanding ulang.”
“Siapa takut,” pak Joko mengambil papan permainan dan membantingnya di meja. “Aku hitam kau putih.”
“Aku yang hitam kau yang putih, jangan mengasihaniku.”
“Terserah.”
Sejak saat itu, Asih datang mengunjungiku setiap satu minggu sekali sampai tiga bulan ke depan. Itu sering membuatku duduk termenung di kursi taman depan rumah sakit untuk menunggu kedatangannya. Pada fase itu, Ratna—atas perintah pak Joko—selalu menemaniku walau hanya sekadar main tebak-tebakan tak bermutu. Tapi itu cukup membantu.
Enam bulan sejak pertemuan terakhirku dengan Asih, dia tak pernah datang mengunjungiku lagi. Sudah sekitar lima belas hari ini Asih tak pernah menjenguk. Terakhir kali kulihat, ia hanya berdiri di depan gerbang rumah sakit sambil melambaikan tangan ke arahku. Melalui jendela kamar, aku bisa melihatnya.
Waktu itu, aku tak berpikir apa-apa dan balas melambaikan tangan, toh besok-besok bisa ketemu lagi, pikirku.
Namun, sampai siang ini ketika Ratna memintaku minum obat orang gila—aku menyebutnya begitu—Asih tak kunjung datang.
“Kabar baik,” kata Ratna setelah aku meminum obat tersebut.
“Klub bola andalanmu tak jadi turun ke liga dua?” jawabku asal.
Ratna menampar pundakku. “Bukan,” sergahnya. “Ini kabar baik untukmu.”
“Untukku?”
Ratna mengangguk mantap. Matanya berbinar senang dan mulutnya tersenyum. “Kata pak Joko, kau boleh pulang besok.”
Seharusnya aku senang sampai melonjak-lonjak kegirangan. Tapi entah kenapa, rasa senang itu tak kunjung tiba. Akhir-akhir ini, justru aku ingin tetap tinggal di sini. Jika aku pergi, bagaimana kalau Asih mencariku?
“Kau tak senang?” Ratna bertanya bingung.
Aku menghela napas beberapa kali. “Entahlah.”
“Maksudmu soal Asih?” ia menebak dan aku mengangguk. “Kau khawatir jika dia mencarimu di sini?” Aku mengangguk lagi. Ratna terkekeh. “Kami sudah memikirkannya.”
Aku menoleh secepat kilat. Inilah kabar baiknya, pikirku. “Benarkah?”
Ratna mengangguk. “Temui pak Joko sekarang, cepat.”
“Oke!” Aku segera berlari tanpa disuruh dua kali.
Ruangan pak Joko berada tak jauh dari taman depan rumah sakit. Tinggal masuk beberapa langkah lalu belok ke kanan dan ada sebuah pintu berwarna putih, di situlah letak ruangannya.
Aku mengetuk pintu, terdengar jawaban dari dalam. Begitu aku masuk, terlihat dari sikap Pak Joko yang jelas sedang menunggu seseorang.
“Ratna bilang aku sudah boleh pulang.” Bahkan sebelum lelaki itu bisa mengatakan apapun, aku sudah duduk dan bicara. “Benarkah?”
Untuk sejenak, Pak Joko melongo. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum penuh arti. Sesuai sikapnya yang halus dan lemah lembut, ia mengangguk pelan. “Ya, besok kau bisa pulang.”
Aku belum mengatakan apapun ketika Pak Joko sudah melanjutkan. “Tapi, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Akan kudengarkan.”
Pak Joko mengangguk-angguk. Ia menyingkirkan dokumen dan kertas berserakan ke pinggir meja, membiarkan meja di antara aku dan dirinya benar-benar bersih. Setelah semua selesai, Pak Joko berkata. “Ini soal penyakitmu. Kau itu memang sakit, hanya saja kau yang tak sadar. Dan penyakitmu itu tak terlalu nampak dari luar kalau sedang tidak kumat.”
Aku mengerutkan kening dengan bingung. Masih mendengarkan.
“Penyakitmu itu ... bagaimana ya bilangnya ... ah, begini saja, bagaimana jika kukatakan ingatanmu itu sedikit berubah?”
“Sedikit berubah?”
Pak Joko mengangguk. “Iya, bukan berubah sebenarnya, tetapi lebih tepat tertutupi. Ada beberapa ingatanmu yang tertutup dan itu disebabkan oleh kesedihanmu karena kehilangan seorang istri.” Pak Joko mengambil satu halaman koran dari dalam laci, lalu memberikannya kepadaku. “Kini kunyatakan kau sudah sehat, dan apa kau masih ingat dengan berita itu?”
Aku membaca judul dan melihat gambarnya. Seketika kepalaku sakit, bersamaan dengan itu, tanganku menggigil. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat, juga dengan isi kepalaku sendiri.
Entah kenapa, judul itu terasa begitu familier di dalam kepalaku.
Kasus Tabrak Lari, Pelaku Tak Bertanggung Jawab, Seorang Gadis Remaja Tewas di Tempat.
Sekarang aku ingat, aku benar-benar ingat.
Inilah satu-satunya alasan mengapa Asih tak pernah mengunjungiku lagi sejak lima belas hari lalu. Sejak saat itu, sebenarnya aku sudah sembuh total.