"Nomor aku kamu blok?" Ridwan mengirimkan pesan lewat facebok
"Iya," balas Diana
"Kenapa?" - Ridwan
"Lagi banyak pikiran," -Diana
"Jangan terlalu banyak pikiran!" -Ridwan
"Ya," -Diana
"Ya udah mau ketemu ya hari minggu," -Ridwan
"Gak tahu, kayanya gak bisa." -Diana
"Kenapa, liburan biar gak banyak pikiran." -Ridwan
"Ya percuma kalo gak dapat jalan keluarnya," -Diana
"Kok percuma, kan belum pernah ketemu." -Ridwan
"Ya, gak tahu nanti dikabari lagi." -Diana
Ridwan adalah teman sekelas Diana sewaktu di SMA, sosoknya tinggi dengan kulit sawo matang. Bukan orang yang pandai di kelas, tapi sosok yang rajin membantu orang lain. Mereka menjalin hubungan komitmen, lebih tepatnya hubungan tanpa status.
Ini berawal dari Ridwan yang mengirim pesan setelah 2 tahun lulus, di saat mereka sama-sama sibuk bekerja di kota yang berbeda. Awal pendekatan Diana suka hanya sebatas becanda sebagai teman, namun beberapa bulan kemudian Ridwan menyatakan perasaannya.
Diana tahu dan sudah menduga itu akan terjadi, tak sedikit laki-laki yang dia balas malah mereka terbawa perasaan. Jujur Diana menerimanya tanpa berpikir lebih panjang, ia juga berpikir mungkin dengan ini ia bisa melupakan masa lalu.
Akan tetapi setelah menjalani waktu sebulan hubungan, Diana merasa mereka tidak ada pembicaraan selain hanya sekedar bertanya sedang apa, sudah makan atau belum. Lama-lama ia risih, ia tidak suka dengan laki-laki yang tidak punya inisiatif dan terus menanyakan hal yang itu-itu saja.
Setelah itu Diana memutuskan untuk tidak komunikasi lagi, dan ia juga bilang dengan baik-baik. Akan tetapi 2 bulan berlalu keduanya kembali terhubung, Diana pikir hubungan ini harus bertahan. Jikalau bisa sampai pernikahan, meskipun ia tidak mencintainya sama sekali.
Tak lama setelah terhubung kembali, Diana mencoba untuk lebih sering menghubungi, namun malah merasa jijik. Saat dirasa suntuk dengan suasana rumah, ia memberanikan diri mengajak Ridwan untuk bertemu. Ridwan setuju waktu itu, namun pada hari H ia malah mengabari tidak jadi untuk bertemu.
Flashback
"Ay, jalan kesini jam berapa?" -Diana
"Duh maaf, kayaknya gak jadi Ay." -Ridwan
"Loh kok, kenapa gak jadi?" -Diana
"Aku mendadak dapat panggilan dari pabrik, pagi ini suruh masuk lembur." -Ridwan
Off
Detik itu juga suasana hati Diana benar-benar hancur berantakan semuanya. Sejak itu ia selalu mengelak untuk bertemu, bahkan membalas pesan pun berjam-jam kemudian. Tak ayal juga beberapa kali dalam sebulan ia memblokir nomor Ridwan.
Diana rasa dunia tidak adil padanya, ia melihat hubungan orang lain ditanya semua isi hati pasangannya, suka diberi hadiah walaupun kecil-kecilan, suka tiba-tiba dikirimin makanan lewat online. Akan tetapi mana, kenapa dia tidak mendapatkannya? harus jungkir balik seperti apa lagi agar dia mendapatkan laki-laki seperti itu?
Sejujurnya Ridwan jauh dari kriteria laki-laki tipe Diana. Ia suka laki-laki yang tinggi, berkulit kuning langsat, pintar, wangi, loyal, punya penghasilan tinggi, lebih tua minimal 3 tahun darinya. Dan masa lalunya memiliki semua kriteria tersebut, sedangkan Ridwan sangat jauh dari kriterianya.
Sekarang sudah terhitung 1 minggu ia memblokir semua akses hubungan dengan Ridwan, ia benar-benar sudah merasa di ujung tanduk. Rasanya ia sangat jahat bila terus melakukan hubungan ini, karena ia tidak mampu membalasnya sedikitpun. Diana rasa mungkin memang tidak ada yang pantas untuknya, dan cintanya habis di orang lama.
Pesan Diana :
Bila belum selesai dengan masa lalu, jangan pernah kalian memulai suatu hubungan. Jika dia tidak memenuhi kriteria laki-laki tipe kamu, tolong jangan menerimanya, karena keduanya akan sama-sama terluka. Bila rasanya masih ada meskipun orang yang dicintai sudah dengan yang lain, biarlah waktu yang menghapusnya dan jangan malah jadi pelakor.