Aneh? Mungkin. Sangat mungkin. Namun, ini adalah kisah yang dialami oleh seorang pemuda berwajah trapesium. Namanya Komaruddin Lautaro Ornamen, atau biasa dipanggil Kolor.
Dia adalah pemuda sederhana. Hidupnya pun benar-benar sederhana. Kecuali nafsu makannya. Yang ini, haram hukumnya jika dikatakan sederhana. Sebakul nasi untuk dia seorang saja. Gelojoh ataupun selak pajoh kata orang melayu Pontianak.
Kolor sehari-hari bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan milik temannya. Pria tak tampan satu ini sangat menyukai matematika. Bibirnya saja tajam, bak jarum jangka anak SD. Sangat matematika, bukan?
Sehari-hari, untuk pergi ke kantor, Kolor menggunakan sebuah motor matic keluaran tahun lalu, yang dia beli cash. Setelah menang judi bola online.
Seperti biasanya, hari itu pun Kolor sudah berangkat menuju kantor yang terletak agak jauh dari rumah sejak pukul enam pagi. Dengan berkecepatan sedang, Kolor menikmati kelenggangan jalan.
Di samping simpang empat, Kolor berhenti untuk sekadar mengisi kekosongan perut. Teh hangat yang manis dia pesan, setelah duduk di sebuah warung. Tangannya bergerak mengambil bakwan.
"Ini bakwan apa semen batako? Keras bener," ujar Kolor.
"Kau, kalo tak suka ... jangan dimakan. Kalo kau memaki makanan, hidup kau tak bakal senang," kata si pemilik warung, sembari menutup hidung.
"Mbak juga ngapain nutup hidung?"
"Napas kau bau bangkai."
"Hah? Masa?" Kolor mendekatkan telapak tangan ke mulut, menghembuskan napas, dan menciumnya.
"Kagak bau bangkai ... cuma, memang agak nyelekit sih," lanjut Kolor.
"Maaf, Mbak, Abang," potong seorang lelaki.
"Iya, Mas."
"Yang bau bangkai itu bukan napas Abang ini, tetapi ...."
"Tetapi apa, Mas?"
"Tetapi bau kentut saya, Mbak. Maaf."
"Bangke kau ya ... kentut sembarangan. Pantas lalat pada mati bertumbangan di dekat kau."
Merasa malas untuk terlibat terlalu jauh, Kolor pun memberi uang pada Mbak penjaga warung, lalu melanjutkan perjalanan.
Di jalan raya yang biasa dia lewati, terjadi perbaikan. Akhirnya Kolor memilih masuk gang keluar gang, mencari jalan pintas.
Hampir sejam Kolor mencoba mencari jalan yang bisa menghantarkannya sampai ke tujuan. Namun, tidak ketemu. Justru, kini dia tersesat. Kolor sekarang berhadapan dengan hamparan jalan tanah kuning, sedangkan pohon-pohon besar bersiri tegak di kanan-kiri.
"Ah, masa iya aku sesat ke hutan." Kolor bicara sendiri.
"Lanjutkan saja sampai depan, mana tau ada tanda."
"Di situasi begini, Map digital harusnya menjadi salah satu alternatif pertolongan. Sayangnya, Kolor tidak memiliki itu. Makhluk berbadan tambun itu terlalu pelit untuk sekadar membeli android.
Jalan tanah kuning, Kolor telusuri sampai ke ujungnya. Dia terperangah. Karena akhir dari penelusurannya adalah sebuah gua besar.
Kolor memarkirkan motor? Tidak, dia terus melaju sampai masuk ke dalam gua.
"Aigooo ...." Seseorang berteriak. Gua yang gelap, dan Kolor yang lupa menyalakan lampu depan, membuat wujud seseorang itu tak kelihatan.
"Maaf ... maaf ... saya pikir tidak ada orang." Kolor menyalakan lampu depan.
Cahaya terang menyinari keadaan di dalam gua. Ternyata, isinya sangat cantik.
"Menarik." batin Kolor.
"Kau siapa? Kenapa sampai ke sini?" tanya lelaki berjenggot panjang sampai ke tanah. Lelaki itu memasang sorban yang terlepas saat dia ditabrak tadi.
"Aku tersesat dan tak tahu jalan pulang, Pak Tua."
"Caca Handika!"
"Salah."
"Jaja Miharja!"
"Salah lagi."
"Eh, kenapa jadi teebak nama penyanyi. Kenalkan, namaku Damak."
"Bisakah Damak menunjukkan saya jalan pulang?"
"Bisa, tetapi itu jika kau berhasil menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan?"
"Iya."
"Apakah ada hadiahnya?"
"Sudah kukatakan. Kau bisa pulang. Itulah hadiahnya."
"Tak ada bonus?"
"Bangsat punya manusia! Baiklah ... aku akan memberimu bonus. Apa yang kau inginkan?"
"Apa yang Damak punya?"
"Apapun yang kau inginkan."
"Aku ingin jadi tampan."
"Maaf, itu berlebihan."
"Aku ingin kaya."
"Maaf, itu juga kelewatan."
"Aku ingin jadi presiden."
"Bisa ... tapi, mukamu nggak pantas."
"Aku ingin bisa terbang."
"Akal kau hilang ya?"
"Lalu aku bisa jadi apa? Katamu tadi, apapun yang kuinginkan."
"Iya. Tapi, mikir juga kali. Permintaan kau itu susah-susah."
"Kalo begitu, Damak yang tentukan."
"Kau sudah kawin?"
"Belum."
"Wajar. Tampangmu itu suka bikin kaget."
"Bangsat!"
"Sudah ... nanti, kau kuberi istri."
"Benarkah?"
"Benar. Asal kau bisa menjawab pertanyaanku."
"Silakan, Damak."
"Baik. Pertanyaan pertama, aku punya sebuah kayu yang panjangnya 30 cm. Bagaimana caraku untuk mengetahui, mana ujung, mana pangkal."
"Ah, itu mudah."
"Yakin?" Alis Damak naik. Heran.
"Iya. Damak masukkan kayu itu ke dalam sebuah baskom besar berisi air. Nanti ada bagian yang timbul dan tenggelam. Yang timbul itu ujung, yang tenggelam itu pangkal."
"Jelaskan."
"Setiap ujung, selalu lebih ringan dari yang pangkal."
"Betul!"
"Kaaan ...."
"Pertanyaan kedua. Satu, baaanyak ... dua, sedikit-sedikit ... tiga ... jarang-jarang... empat, kadang-kadang. Apakah yang aku maksud?"
"Kawin."
"Jelaskan."
"Satu, baaanyak ... artinya memang banyak orang yang kawin satu di dunia ini. Dua, sedikit-sedikit, artinya jumlah orang yang kawin dua lebih sedikit dari orang yang kawin satu. Tiga, jarang-jarang, artinya orang yang kawin tiga jarang-jarang kita dengar. Empat, kadang-kadang, artinya orang yang kawin empat, kadang-kadang baru kita dengar sekali.
"Betul lagi."
"Yes!"
"Dari mana kau bisa tahu jawabannya, Anak Muda?"
"Dari pilem Pak Belalang, Damak."
"Curang kau."
"Sudah. Beri aku istri, dan tunjukkan aku jalan pulang."
"Kalo mau pulang, kau keluar gua dan belok ke kiri, masuk hutan sedikit, setelahnya kau akan ketemu jalan besar."
"Lalu hadiah istri buatku?"
"Ini." Damak menyerahkan sekantong snack.
"Apaan ini?"
"Sabar. Setelah sampai ke rumah, plastik sanck ini kau buka."
"Kau gila ya, Damak?"
"Terserah! Sekarang cepat balik!"
Kolor mengambil snack yang dihulurkan Damak. Memasukkannya di dalam jok. Lalu, segera mencari jalan sesuai petunjuk yang dia dapat.
Hutan kecil Kolor masuki bersama sepeda motornya. Tak lama, dia tiba di ujung dan langsung berada di jalan raya. Seorang kakek tua yang sedang membenarkan aliran listrik dibuatnya terkejut.
"Dari mana kau, Anak Muda?"
"Aku tersesat, Kek."
"Kau tahu, hutan di belakangmu itu sangat angker. Bagaimana kau bisa ke sana?"
"Angker bagaimana. Bukannya besar hutan tuh. Kecil."
"Tak besar kata kau. Luasnya lebih dari dua ribu hektar."
"Ah, boong. Aku aja sebentar masuknya, lalu keluar."
"Apanya?"
"Hutannya!"
"Saya berpikirnya lain."
"Tobat lah, Pak Tua."
Kolor kembali melanjutkan perjalanan. Namun, dia heran, langit telah senja. Maghrib segera tiba. Tak mungkin dia pergi selama itu. Kolor ragu. Kemudian memutuskan untuk pulang.
Di rumahnya, Kolor yang merasa kelelahan, terlelap. Dia bermimpi bertemu lagi dengan Damak. Di dalam mimpinya, Damak meminta agar pemberiannya segera dibuka.
Kolor kemudian terbangun. Keringat mengucur membasahi baju. Celananya juga basah, tetapi oleh hal yang berbeda. Lelaki tunaasmara itu pun segera menuju motor yang diparkirnya di ruang tengah. Membuka jok, mengambil snack.
Asap pekat mengepul di sekitaran. Kolor menepis menggunakan tangan. Matanya sedikit perih. Beberapa saat kemudian, asap pun hilang, dan muncul sesosok gadis muda berambut panjang, berwajah cantik, berkulit kuning langsat. Gadis itu berdiri di depan Kolor tanpa memakai apapun. Kolor terdiam. Matanya tak berkedip. Hidungnya mulai berdarah.
"Saya siap melayani, Tuan."
Mendengar penuturan ambigu gadis tersebut, Kolor tak kuat. Dia mulai goyah, dan akhirnya jatuh merebah. Kolor pingsan setelah mendapatkan istri yang keluar dari ciki.