Jalan itu sepi dan senyap. Tak ada kendaraan berlalu lalang. Berbaris rumah-rumah besar dengan lampu-lampu yang nyalanya redup. Rumah-rumah itu tampak tua. Tua sekali. Atap-atap yang tinggi lebar ditopang tiang-tiang berlumut. Pintu gerbang berkarat yang dijalari pohon-pohon merambat. Semua! Semua rumah itu tampak sama.
Kulangkahkan kaki mencari atapku, namun tak kutemukan. Lampu dari rumah-rumah itu padam. Gelap. Menyeramkan. Aku merasa, ketakutan menyelimutiku. Bulu kudukku mulai berdiri.
Kususuri jalan itu dengan kegelapan di sekelilingku. Langkahku terhenti ketika seberkas cahaya jatuh tepat di depanku. Menyilaukan pandanganku. Aku menyipitkan mata. Aku semakin takut. Kuputuskan untuk membalik badan dan berlari sekencang-kencangnya. Dalam kegelapan, aku tetap berlari hingga kutemukan sebuah gubug tua yang di sampingnya ada pohon besar yang tampak menyeramkan. Aku pun masuk ke gubug itu dan bersembunyi di dalamnya. Aku terdiam dan berjongkok termangu dengan buliran keringat di sekujur tubuhku. Napasku menderu, terengah, memacu jantungku. Aku ketakutan. Sangat menakutkan. Kututup wajahku dengan kedua tanganku yang gemetar.
Aku ingin berteriak, berharap ada yang mendengar. Namun, lidahku kelu, tenggorokanku tercekat, tak mampu mengeluarkan kata-kata. Walau hanya satu kata. Tak ada suara apa pun. Kecuali suara deru napasku yang berhembus, seiring irama detak jam dinding tua di gubug itu.
Sejenak hening. Napasku pun mulai teratur. Kuberanikan untuk membuka mataku. Tiba-tiba cahaya yang kulihat di jalan tadi ada di hadapanku. Cahayanya hilang, meninggalkan benda berbentuk lingkaran berwarna hijau. Cahaya itu berwujud gelang.
Dengan keberanian yang ada, kupaksakan kakiku mendekatinya. Namun, baru beberapa langkah maju, gelang itu bercahaya kembali dan berubah menjadi seorang wanita. Wanita yang sangat cantik. Rambutnya putih memanjang dan terurai dengan mahkota siger di kepalanya. Selendang hijau menjuntai menutupi bahunya, dan kemben membalut perunya yang rata. Juga kain panjang ke bawah tergelar hingga lantai. Ia seperti putri, putri dari kerajaan lama. Ia terlihat anggun saat tersenyum padaku. Senyumnya sungguh manis. Senyuman yang dibarengi dengan pancaran cahaya dari parasnya yang ayu.
Sang putri menghampiriku. Aku memundurkan langkah darinya, namun ia mendekatiku. Rasa takut kian menguasaiku. Kucoba mengerakkan bibirku untuk berucap, namun lidahku kelu. Aku paksakan, namun ucapku tergagap, “Si-siapa k-kau? Ja-jangan ganggu aku. Bi-biarkan aku p-pergi.” Akhirnya susah payah aku berbicara memohon.
Dia hanya tersenyum, diam dan tak menjawabku. Ia semakin mendekat. Dipegangnya pundakku seraya memejamkan matanya. Kurasakan dingin terasa di bahuku. Tanpa aku percaya, kaki…. kakiku mengangkang, tak berpijak. Aku pun melayang. Melayang di udara. Seketika badanku terasa ringan dan aku tidak takut lagi. Kupejamkan mataku. Kurasakan dingin di sekujur tubuhku karena terpaan angin malam yang larut. Tak lama aku pun terlelap. Entah berapa lama aku tak tau. Saat terbangun barulah aku menyadari bahwa itu hanya mimpi, namun begitu nyata. Sekilas aku mengerjapkan mata.
Kokokan ayam dan nyanyian burung-burung yang merdu, memaksaku untuk beranjak dari tempat tidur karena hari sudah pagi. Kubuka jendela kamarku, sinar mentari pagi yang cerah menerpa wajahku. Kurasakan hangatnya seraya aku berucap syukur pada Tuhan.
Kunikmati pemandangan jalanan di luar gedung apartemenku, begitu ramai seperti biasanya. Kesibukan orang yang hilir mudik berjalan menuju tempat kerjanya, deretan kendaraan roda dua dan empat juga bis-bis tampak berbaris dengan teratur. Suara klakson dan dentuman mesinnya sungguh memekakan telinga. Sesaat kualihkan pandangan pada jam dinding yang laju detiknya sangat lambat. “Pukul 7 tepat,” gumanku. Seketika aku tercengang dan bergegas ke kamar mandi.
Setelah rapi aku segera keluar kamar apartemenku dan berlari meraih lift yang terbuka karena seseorang baru saja masuk. “Hei, tolong tahan liftnya!” teriakku ketika lift hampir tertutup.
“Terima kasih,”ucapku pada seorang perempuan yang ternyata tetanggaku di apartemen itu. Dia hanya tersenyum.
Kupastikan aku tidak terlambat. Tepat pukul tujuh lebih dua puluh lima menit, aku sudah berada di kantorku. Aku melewatkan sarapanku, karena aku tidak ingin terlambat. Seorang Rane tidak boleh terlambat. Aku adalah seorang perfeksionis dan tidak suka keterlambatan.
Semua mata memandangku heran, saat aku memasuki ruang kerjaku. ‘Apa aku terlambat?’ tanyaku pada diri sendiri. ‘Ah, tidak. Aku tiba lima menit sebelum jam kerja dimulai,” pikirku. ‘Atau ada yang aneh dari penampilanku? Tidak…tidak.’ Aku masih bicara pada diriku seraya memindai penampilanku sendiri.
“Ada apa? Apa ada yang aneh dariku? Apa aku terlambat? Mengapa kalian menatapku seperti itu?” Beberapa pertanyaan, kulontarkan pada mereka. Aku menatap mereka dengan sinis.
“Ada apa dengan kamu, Rane?” seseorang di depanku malah balik bertanya.
“Ada apa? Kenapa? Apa ada yang aneh dari penampilanku?” Kupindai lagi penampilanku.
“Sepertinya ada yang berbeda denganmu!” tukas temanku yang lainnya. Ia berjalan mengitariku dan menyelidik apa yang aneh di diriku.
“Gelang. Bagus kali gelang itu, Rane,” ucap Tigor dengan logat Bataknya seraya menunjuk ke pergelangan tanganku. “Kau beli dimana? Ukirannya sangat indah” tambahnya lagi.
Kuarahkan pandanganku ke pergelangan tanganku yang kurus dengan dahi mengernyit. “Gelang?” lirihku, sambil kuangkat tangan kiriku. Seingatku, aku memakai jam tangan.
Melingkar gelang yang sama seperti dalam mimpiku semalam. Indah dengan warna hijau lembut. Inikah yang sedari tadi membuat mereka menatapku heran. Sekujur tubuhku bergetar, mengingat mimpi itu. 'Putri itu' Aku pun berlari ke arah kamar mandi kantorku dan kututup pintunya dengan keras. Brakk!!!
“Gelang ini.” Suaraku tertahan, kemudian kulepas gelang itu, namun tak bisa. Seolah gelang itu mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Gelang itu menyala terang sekali di ruangan yang hanya ada aku di dalamnya. Pantulan dari cermin di depanku menyilaukan. Gemericik air keran washtafel tiba-tiba mengalir tanpa aku membukanya. Lampu di atas pelapon pun padam. Gelap kurasakan penglihatanku. Tak lama seberkas cahaya yang menyilaukan itu muncul sesosok tubuh yang sama, yang kulihat di mimpiku dengan tampilan yang sama. Selendang, siger, kain panjang. Mataku membelalak, sontak tanganku menutup mulutku yang menganga.
“K-kau?” ucapku terbata.
“Hhm.” Ia hanya bergumam dengan senyum mengembang di bibirnya yang kecil dan merah delima.
“S-siapa kau?” tanyaku berusaha berbicara jelas.
“Kaukah yang ada dalam mimpiku semalam? Apa aku sedang bermimpi?”
Aku memcoba mengumpulkan kesadaranku. Aku masih mengira ini adalah mimpi. Namun tidak, aku merasa sakit mencubit pipiku sendiri.
Kau tidak sedang bermimpi, Sukie,” ucapnya seraya mendekat ke arahku.
“Sukie??? Siapa Sukie?” tanyaku heran karena ia memanggilku dengan nama Sukie.
Ia memegang bahu lembut seraya berkata, “Baiklah, Sukie, aku akan memberi tahumu. Kau adalah Sukie.”
“Aku Sukie?” tanyaku tak percaya.
“Iya, kau Sukie adikku, dan aku Sugie.” Ia pun menceritakan tentang aku dan dia. Ternyata aku adalah Sukie di masa lalu, dan dia Sugie, kakakku. Kami adalah putri Kemayun dari Kerajaan Lama.
Terdengar gedoran pintu yang begitu kencang dan ada sesorang yang berusaha mendobraknya. “Rane…. Rane!!!” sesorang memanggilku dengan keras, yang dapat aku kenali suaranya.
“Aku akan menjagamu, adikku,” ucapnya. Sugie pun hilang berwujud gelang di pergelanganku, ketika mendengar Rey memanggil namaku. Semua kembali ke semula. Lampu pun menyala dan aliran keran pun tertutup.
Aku membuka pintu toilet. Rey berhambur memelukku. Aku termangu, tak membalas pelukannya. Tak lama, kuurai pelukannya dan kujauhkan tubuhku beberapa senti darinya.
“Kau tidak apa-apa, Rane? Apa yang terjadi padamu?” tanyanya khawatir.
Segurat rasa panik terlihat di parasnya yang tampan. Rey adalah pacarku.
“Aku sangat khawatir padamu.” Ray kembali memelukku erat.
“Aku baik-baik saja, Rey. Kamu tidak usah khawatir,” jawabku sambil mengurai pelukannya.
“Kamu begitu lama di toilet. Kamu bilang baik-baik saja. Kamu tau sekarang sudah jam berapa?” tanya Rey dengan nada kesal dan menunjuk-nunjuk jam di tangannya ke hadapanku.
“Sekarang sudah jam 12, Rane. Sudah masuk jam makan siang,” ucapnya lagi.
“Apa?!” Aku tersentak. “Aku… aku di toilet hanya sebentar. Aku berbicara sama dia tidak lama.”
“Dia? Dia siapa, Rane?” tanyanya heran. “Tidak ada orang lain di sini. Kamu sakit? Wajahmu pucat, Rane. Aku antar pulang, ya.” Rey menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
“Aku tidak apa-apa, Rey. Aku baik-baik saja. Ah, sudahlah, ayo kita makan siang,” ijarku sambil berlalu dari hadapannya. Rey mengejarku dan menyelaraskan langkahnya.
* * *
Saat makan siang, aku dan Rey bertengkar mulut. Padahal hal masalah sepele. Ketika pulang pun, kami bertengkar kembali. Entahlah, sejak saat itu, aku selalu merasa kesal pada Rey. Apalagi ketika ia menanyakan soal gelang yang aku pakai. Ia merasa aku berubah sejak memakai gelang itu.
Aku tidak memberi tahunya, apa yang terjadi padaku. Dan, aku pun bersikuku tak jujur padanya, darimana kudapatkan gelang itu. Aku mengatakan bahwa gelang itu aku dapat dari sepupuku yang bernama Roni. Saat mendengar nama Roni kusebut, ia marah dan membentakku. Padahal. Sejak kami berpacaran, saat aku bercerita tentang sepupuku itu, ia tidak pernah marah. Malah ia senang ketika kukenalkan Roni kepadanya, dan mereka tampak akrab.
Aku tidak mengerti, akhir-akhir ini masalah tak henti menghinggapi hubungan kami. Kurasakan ia sedikit berubah. Beberapa hari ini pun, kami tidak terlihat jalan bersama. Walau kami satu tempat kerja, ia memilih menghindariku. Aku sudah tidak tahan lagi dengan perubahannya. Hingga suatu hari aku malihatnya jalan bersama gadis lain.
Aku marah ketika itu. Tanganku mengerat kencang, hingga buku-buku jemariku pucat. Hampir saja aku menghampiri Rey yang tengah duduk bersama gadis yang tidak aku kenal. Sugie keluar dari gelang yang aku pakai.
“Tenanglah, Sukie!” ucapnya.
Aku pun menurutinya. Setelah tenang, aku menceritakan perubahan yang terjadi Rey terhadapku pada Sugie, ia begitu mengerti aku. Layaknya seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Aku berpikir mengapa aku tidak dilahirkan sebagai putri kemayun lagi? Karena menurutnya, kehidupanku yang dulu begitu bahagia, tenang, tak ada seorang pun yang berani mengganggu atau menyakitiku. Semua orang menyayangiku, tak terkecuali seorang putra mahkota kerajaan seberang yang mencintaiku dan bermaksud menyuntingku. Namun tragedi melanda. Seorang putri kerajaan lain tak suka melihat aku bersama pangeran itu, ia pun membuat siasat hingga akhirnya melenyapkanku.
Sugie mengatakan tentang hubungan aku dengan Rey, mengapa merenggang. Itu karena pengaruh dari gelang yang aku pakai. “Ikatan aku dan kau lebih kuat Sukie, daripada hubunganmu dengan Rey. Kamu tahu, Rey sudah tidak menyayangimu lagi. Maka hubungan kita tak kan terputus. Kecuali…” Sugie menahan kalimatnya.
“Kecuali apa, Sugie? Katakanlah!” desakku.
“Kecuali antara kau dan dia masih saling mencintai. Oleh karenanya, aku tidak menginginkan itu.”
Aku tidak mengerti ucapannya. Tapi aku tidak peduli pada Rey. Lebih baik aku sendiri. Lagi pula ada Sugie, kakakku yang menemani. Rey pun sekarang sudah tidak peduli lagi padaku. Pikirku.
* * *
“Sukie, kau ingin bertemu ayah dan ibu, bukan?” tanyanya ketika aku sedang merapikan berkas pekerjaanku. Rambut putihnya yang panjang terurai, tertiup angin yang masuk lewat jendela. Semilirnya membawa rasa dingin di tengkukku. Rembulan membulat sempurna menerangi malam.
Aku hanya mengangguk. Kuarahkan pandangan pada Sugie yang berdiri dekat jendela. Seringainya tampak tak bersahabat. Aku mengernyitkan dahi, heran. Tak lama ponselku berdering sangat nyaring. Derikan kursi terdengar saat aku berdiri dan menggesernya ke belakang. Aku berjalan mendekati nakas kecil yang di atasnya tergolek ponselku.
“Hallo!” sapaku.
“Hallo, Rane. Ini aku Roni,” jawabnya dengan suara panik. “Cepat ke rumah sakit! Rey kecelakaan!”
“Apa?!” pekikku. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas mengambil slimbag dan kunci mobilku di nakas. Namun saat aku mencapai pintu, Sugie menghalauku. Aku terperanjat.
“Sugie, tolong, biarkan aku pergi menemuinya. Rey kecelakaan, dan aku harus tau kondisinya.”
“Kau tidak boleh pergi, Sukie! Kita harus segera menemui ayah dan ibu!” ucapnya parau seraya mencengkram pundakku.
Aku berontak, berusaha melepas cengkramannya. Setelah terlepas, aku keluar menuruni apartement melalui lift. Namun belum sampai lift, Sugie melayang lewatiku. Untuk kemudian ia pun memperbanyak dirinya dengan bergumam membaca mantera-mantera. Aku terjebak di antara Sugie. Koridor apartement tampak sepi. Hanya ada aku dan Sugie.
"Sugie, kumohon biarkan aku menemuinya!” Pintaku memohon dengan kedua tanganku menangkup di dada. Ia tidak menggubrisku. Aku berusaha menerobos keluar namun gerakan Sugie dan duplikatnya lebih cepat.
“Kumohon Sugie, aku harus ke sana. Jujur aku masih sangat mencintainya. Aku sadar, aku yang salah. Dan aku harus minta maaf padanya.” Aku masih terus memohon. Derai air mataku tak tertahan saat aku berkata jujur. Selama ini aku menahan perasaanku dan membohongi diri bahwa aku tidak peduli pada Rey, namun nyatanya mendengarnya kecelakaan, duniaku goyah.
Sugie tampak marah sekali mendengar apa yang kukatakan. Wajahnya tak seramah saat pertama kali bertemu denganku.
“Kumohon, biarkan aku menemui Rey!”
“Rey??? Mengapa kau masih memikirkannya? Bukankah dia sudah menyakitimu, Sukie? Sekarang lebih baik kau ikut denganku.” Sugie mendekatiku.
“Tidak!!” bentakku. “Aku tidak mau ikut denganmu. Aku tidak percaya kamu dan aku bukan Sukie. Aku Rane. Rane. Rane.” Kataku menggema.
“Kau adalah Sukie dan kau harus mati!” Sugie mencekik leherku, membuatku terangkat tak menapak.
Aku tercekat dan berusaha memberontak. “S-Su-kie, le-pas-kan…..a-ku…” ucapku terputus-putus. Sugie menurunkanku perlahan dan melepaskan cengkramannya. Aku pun terbatuk-batuk.
“Kau tahu, Sukie, saat ini Rey sedang sekarat di sana. Sekarang kau harus ikut denganku!” Sugie menyeringai licik. Selendangnya membalut tubuhku. Aku tak bisa bergerak.
“Tidak. Aku tidak ingin ikut denganmu. Kau bukan kakakku dan aku bukan Sukie, aku Rane. Rane!” Teriakku. “Rey pasti datang menolongku.” tambahku lagi.
“Dia tidak akan datang, dan mungkin saat ini dia sudah mati,” ucapnya menyunggingkan senyum sinis.
“Tidak!! Rey tidak mungkin mati. Rey pasti datang menolongku. Rey… tolong aku….!!!” teriakku di kegelapan malam sambil berusaha melepas cengkraman selendang hijau Sugie yang membawaku melayang mengikutinya. Seketika tubuhku lemah. Pandanganku mengabur, tapi telingaku masih mendengar. Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Sayup-sayup kudengar hingga jelas ia memanggilku.
Rane!” panggil seseorang yang kuhapal suaranya. Ya, aku dengar dia. Aku dengar Rey memanggilku. Aku yakin, ia datang menolongku.
“Rey.” sahutku saat kesadaranku pulih. Sugie menarikku yang masih melayang di udara. Kulihat saat ini aku bukan berada di apartemenku. Saat ini kami seperti berada di tengah hutan yang sangat sepi di bawah cahaya bulan purnama.
“Kalau kau tidak mau ikut denganku, lebih baik kau mati, Sukie.” Sugie melesatkan sebilah tombak kecil ke tubuhku. Namun, gerakannya berhenti saat kakiku disentuh seorang lelaki yang begitu hangat. Tombak pun jatuh. Rey menarik kakiku hingga aku turun perlahan dan kembali ke bumi.
“Rane, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan napas terengah. Kulihat kepalanya berbalut perban. Rey melepaskan balutan selendang yang masih menyelimutiku dan menarikku dalam pelukannya. Hangat kurasakan. “Aku mencintaimu, Rane. Aku tidak mau kehilanganmu,” ucapnya sambil memeluk erat.
“Tidak...! Kau tidak boleh bersatu lagi dengan pangeran. Aku akan memisahkan kalian kembali. Kau harus mati, agar pangeran bisa bersamaku. Bila aku tidak bisa bersama pangeran di kehidupan lalu, kau pun tidak bisa bersama pangeran di kehidupan ini, atau kehidupan selanjutnya. Selama ini aku yang selalu terasing. Tidak ada yang mencintaiku. Ayah bunda pun lebih sayang padamu, Sukie. Hingga akhirnya aku membunuhmu. Haa…haha,” terangnya diiringi yang tawa menggema.
“Apa?! Kau membunuh Sukie. Bukankah kau bilang putri kerajaan yang lain yang membunuhku karena kecemburuannya?”
“Kau polos sekali, Sukie. Mudah aku bodohi. Dan kau pangeran, akhirnya kau pun masuk perangkapku. Sampai akhirnya kau mencintaiku.”
“Kau? Kau adalah gadis itu?” Rey membelalak tak percaya. Ternyata gadis yang bersama Rey tempo hari adalah Sugie. Rey di kehidupan lalu adalah seorang pangeran yang juga kekasihku dan kami sekarang kembali bersatu.
“Minggirlah Pangeran, biar aku membunuhnya!” tukas Sugie, sambil melesatkan kembali cahaya tajam berbentuk tombak ke arahku.
“Tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi, Sugie. Kau yang akan kalah karena aku mencintainya.” Rey menarik tubuhku ke belakang tubuhnya. Ia menjadikan tubuhnya untuk menghalau lesatan tombak itu. Hingga akhirnya tombak itu pun menusuk dada Rey. Ia terjatuh di pelukku.
“Tidak… Rey….!!!” teriakku. Aku menangkap badannya yang tergolek lemah. Aku mengoyah-goyahkan tubuhnya dalam pangkuanku. Matanya terpejam. Sambil terus memanggil namanya dan menyatakan perasaanku yang mendalam. Aku teringat kata-kata Sugie. Bila aku dan Rey saling mencintai, maka ia pun akan hilang. Aku yakin, aku masih mencintainya.
“Bangun, Rey! Bangunlah, sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Bukalah matamu,” ucapku dengan nangis pilu sambil memeluknya erat.
“Tidak…!!! Tidak, Sukie, jangan lakukan itu. Tidak…!!! Aku tidak tahan mendengarnya. Mengapa harus berakhir begini? Ti…dak….!!!” teriakan Sugie begitu nyaring di udara seiring menghilangnya wujud Sugie.
Gelang itu terlepas dari pergelangan tanganku dan terbelah dua. Tidak ada lagi Sugie. Tiba-tiba semua berubah. Kami sudah berada di belakang apartement yang terdapat satu pohon besar yang terlihat menyeramkan. Aku memindai ke sekelilingnya. Aku ingat, aku pernah ke sini. Ya di dalam mimpi, saat aku bertemu dengan Sugie.
Rey mulai tersadar dan membuka matanya. Sontak aku mendekapnya yang masih terbaring dalam pangkuanku dengan erat. Senyumku terkembang, walau buliran bening dari mataku mengalir deras.
“Rey, syukurlah!” ucapku dengan tangis bahagia, aku pun memeluknya lagi. “Aku tahu kau pasti datang menyelamatkanku. Maafkan aku telah mengabaikanmu. Maafkan aku, Rey.”
Rey mengurai pelukanku seraya berkata, “Sudahlah, Sayang, yang penting kamu selamat, dan jangan pernah tinggalkan aku lagi!” Rey mengusap pipiku yang basah dengan tangan kirinya. Aku membantunya berdiri.
Tak lama Roni datang dengan beberapa orangnya. Ia membantuku memapah Rey yang kesakitan ke masuk ke mobilnya dan membawa kami ke rumah sakit.
Aku sadar semua ini terjadi karena salahku. Aku yang tidak percaya akan ketulusan cinta yang diberikan Rey, lelaki yang mau mengorbankan segala jiwa dan raganya untukku, hingga ia hampir mati karena menyelamatkanku dari pengaruh Sugie. Sejak saat itu, aku pun berjanji untuk percaya dan mencintainya sepenuh hati. Ternyata kekuatan cinta kami dapat membunuh amarah dari makhluk yang selama ini menguasaiku.
Jangan pernah mengabaikan orang yang berada di dekatmu, dia yang selalu ada untukmu, orang yang akan selalu menjagamu, yang mampu berkorban demi yang dikasihinya. Tetaplah percaya bahwa dia mampu membawamu pada kebahagiaan yang abadi (Rane).
TAMAT