Arman lagi-lagi pulang kerja dengan wajah lesu dan lelah. Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya, nggak ada yang menarik. Rutinitas kantor yang monoton bikin otaknya mati rasa, kayak robot yang diatur buat gerak sesuai program. Di tangannya, tas kerja udah mulai kusam, penuh dengan file-file yang entah kapan bakal dibaca lagi.
Dia sampai di depan apartemennya, apartemen kecil yang berlokasi di lantai lima. Tangga berderit di setiap langkah, menambah kesan suram hari itu. Arman menarik napas dalam-dalam sebelum ngeluarin kunci dari saku celana dan ngebuka pintu apartemennya. Saat pintu terbuka, aroma kayu tua dan buku-buku lama langsung menyambutnya. Ah, rumah, pikirnya, walaupun nggak lebih dari sekadar tempat buat tidur dan makan.
Baru aja dia mau nutup pintu, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang nggak biasa. Di depan pintunya, ada sebuah paket yang cukup besar, dibungkus rapi dengan kertas coklat tua, mirip bungkus barang antik. Nggak ada label pengirim, cuma ada nama dan alamatnya yang ditulis dengan tinta hitam. Tangannya otomatis mengambil paket itu, dan sejenak dia terdiam. Siapa yang ngirim ini?
Sambil penasaran, Arman bawa paket itu masuk ke dalam dan meletakkannya di meja makan. Dia duduk, memperhatikan paket itu dengan seksama. Perasaan aneh mulai merayapi dirinya. Paket ini berat, tapi nggak terlalu besar. Dia nggak ingat pernah mesen barang apa pun akhir-akhir ini. Dengan hati-hati, dia mulai ngebuka bungkusnya. Setiap lipatan kertas yang dia buka bikin rasa penasaran makin menggelitik.
Pas kertasnya terbuka sepenuhnya, di dalamnya ada sebuah buku tua yang kelihatan udah sangat lama. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat gelap, dengan tekstur kasar dan sedikit retak di beberapa bagian. Di tengah-tengah sampul, ada lambang aneh yang kayaknya dibuat dari emas, tapi udah agak pudar. Di samping buku itu, ada sebuah kotak kecil dari kayu, sama tuanya dengan bukunya. Dia beneran nggak ngerti apa ini semua. Kok ada buku tua dan kotak aneh yang dikirim ke dia?
"Apaan ini?" gumam Arman pelan, walaupun nggak ada yang denger. Matanya nggak lepas dari buku itu, tapi dia masih ragu buat ngebuka. Ada sesuatu yang bikin dia ngerasa nggak nyaman, tapi juga ada dorongan kuat buat ngelanjutin. Akhirnya, rasa penasarannya menang. Dia buka buku itu dengan pelan-pelan, takut halaman-halamannya bakal sobek.
Di halaman pertama, cuma ada satu kalimat yang ditulis dengan huruf-huruf miring dan terlihat tergesa-gesa: "Selamat datang di dunia di mana ketakutan adalah kekuatan."
Arman ngernyit, kebingungan dengan arti kata-kata itu. Tangannya gemetar dikit waktu dia ngebalik halaman selanjutnya. Di situ ada teks yang lebih panjang, kayak semacam pengantar, tapi ditulis dalam bahasa yang nggak dia kenal. Huruf-hurufnya aneh, mirip tulisan kuno yang mungkin cuma ada di buku-buku mitologi. Dia coba ngeraba-raba maknanya, tapi gagal total. Satu-satunya hal yang jelas dari buku ini adalah rasa dingin yang tiba-tiba menyelubungi ruangannya.
Dia narik napas panjang lagi, berusaha tenang. "Oke, mungkin ini cuma lelucon," katanya ke diri sendiri, walaupun dia tahu nggak ada yang bakalan ngirimin dia lelucon aneh kayak gini. Nggak ada satu orang pun di hidupnya yang kayaknya punya selera humor seburuk ini.
Arman akhirnya nyimpen bukunya ke samping dan ngelirik ke kotak kayu kecil itu. Hatinya bertanya-tanya lagi, ada apa di dalamnya? Dengan hati-hati, dia ngegeser tutup kotak itu. Di dalamnya, dia nemuin sebuah cincin yang terbuat dari logam hitam, dengan batu merah di tengahnya yang berkilau kayak darah segar. Cincin itu kelihatan antik, tapi ada sesuatu tentangnya yang bikin Arman merasa nggak nyaman. Batu merah itu kayak hidup, memancarkan cahaya lemah yang kelihatan semakin terang saat dia pegang cincinnya.
"Ini pasti cincin terkutuk," pikir Arman dengan setengah bercanda, tapi rasa takutnya nggak bisa sepenuhnya ditahan. Tapi, rasa penasarannya lebih kuat dari segalanya. Dia ngeluarin cincin itu dari kotaknya, memegangnya sebentar, ngerasain dinginnya logam hitam itu di antara jari-jarinya. Ada dorongan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya—keinginan untuk pakai cincin itu. Dia ragu sejenak, tapi akhirnya nggak tahan juga. Dengan perlahan, dia melingkarkan cincin itu di jari manisnya.
Begitu cincin itu terpasang di jarinya, seluruh tubuh Arman tersentak. Rasa dingin yang lebih parah dari sebelumnya menyebar dari jarinya ke seluruh tubuh, bikin bulu kuduknya berdiri. Matanya terbelalak saat dia ngeliat cahayanya makin terang, menyilaukan. Tiba-tiba, pandangannya jadi kabur, dan kepala mulai pusing.
Dunia di sekitar Arman berubah dengan cepat. Dinding-dinding apartemennya yang biasa udah hilang, digantikan oleh pemandangan yang jauh lebih mengerikan—sebuah hutan kelam yang nggak ada ujungnya, dengan pohon-pohon tinggi yang menyeramkan. Udara di sekitar berubah jadi dingin menusuk, dan aroma tanah basah bercampur dengan bau busuk tercium kuat.
"Di mana... gue?" bisik Arman, setengah bingung, setengah takut. Dia nggak lagi berada di apartemennya. Dia berdiri di tengah-tengah dunia yang asing, dunia yang penuh kegelapan dan kengerian.
Dan saat itulah dia sadar, cincin yang dipakainya bukanlah cincin biasa. Itu adalah kunci menuju dunia yang seharusnya nggak pernah dia masuki. Dunia di mana rasa takut adalah mata uang, dan keberanian adalah satu-satunya senjata yang bisa diandalkan.
Arman masih berdiri diam di tengah hutan yang nggak dikenal ini, nggak percaya sama apa yang baru aja terjadi. Detik sebelumnya, dia masih di apartemennya yang sempit, dan sekarang, dia terdampar di dunia aneh yang lebih mirip mimpi buruk daripada kenyataan. Jantungnya berdetak cepat, keringat dingin mulai ngucur dari keningnya.
"Gue harus tenang," bisik Arman ke diri sendiri, walaupun itu lebih mudah diomongin daripada dilakuin. Dia coba nginget-nginget apa yang baru aja terjadi. Paket misterius, buku tua, cincin aneh, dan sekarang... ini.
Dia ngeliat sekelilingnya lagi, berharap ada tanda-tanda kehidupan lain, tapi yang dia liat cuma pepohonan tinggi yang kelihatan udah tua banget, ranting-rantingnya menggantung rendah kayak tangan-tangan raksasa yang pengen ngegenggamnya. Akar-akar besar menjulur dari tanah, melilit-lilit kayak ular, bikin jalanan susah dilewatin. Cahaya bulan purnama yang lemah nyelinap lewat celah-celah dedaunan, cuma cukup buat nerangin sedikit sekitar.
Arman narik napas dalam-dalam, berusaha ngerasain udara di sekitarnya. Dingin dan lembab, campuran antara bau tanah basah dan sesuatu yang busuk. Hawa ini beda banget sama hawa kota yang penuh polusi. Ini... alami, tapi dengan cara yang ngeri.
Dia ngelangkah perlahan, nggak yakin ke mana harus pergi. Cuma satu hal yang jelas—dia harus cari tahu apa yang terjadi, dan mungkin... gimana caranya balik. Tapi pertanyaannya, balik ke mana? Ini bahkan bisa aja cuma mimpi buruk, pikirnya. Tapi semuanya terasa terlalu nyata buat disebut mimpi.
Arman inget sama buku tua yang dia dapet bareng cincin itu. Dia buru-buru nyari tas yang masih tersampir di pundaknya. Tangannya gemetaran waktu ngebuka tas dan ngerogoh ke dalamnya. Buku itu masih ada di sana, utuh, nggak berubah sedikit pun. Rasanya kayak harapan kecil yang muncul di tengah situasi yang nggak jelas ini.
Dia ngelepas tasnya, duduk di atas akar pohon besar yang agak datar. Dengan penerangan minim dari cahaya bulan, dia ngebuka buku itu lagi. Halaman pertamanya masih sama, dengan kalimat yang bikin bulu kuduknya merinding: "Selamat datang di dunia di mana ketakutan adalah kekuatan."
Arman ngebalik halaman berikutnya, berharap ada petunjuk. Halaman ini penuh dengan teks, ditulis dalam bahasa yang aneh tadi, tapi ada sesuatu yang beda kali ini—tulisannya kayak mulai jelas, huruf-hurufnya berubah jadi bahasa yang bisa dia baca, kayak semacam terjemahan otomatis yang terjadi di depan matanya.
"Kalau lo baca ini, berarti lo udah masuk ke dunia yang nggak seharusnya lo injak. Dunia ini penuh dengan kegelapan, tempat di mana makhluk-makhluk kengerian tinggal. Tapi lo nggak perlu takut, karena lo nggak sendiri. Lo punya sesuatu yang mereka nggak punya—Cheat System."
"Cheat System?" gumam Arman, bingung tapi juga penasaran. Ini kayak... game?
Dia lanjut baca, semakin tertarik dengan apa yang ditulis di sana. "Cheat System bakal ngasih lo kemampuan buat ngalahin ketakutan lo dan bertahan hidup di dunia ini. Setiap ketakutan yang lo hadapi dan kalahin, bakal nambahin kekuatan lo. Tapi hati-hati, setiap kali lo pake kekuatan ini, ada harga yang harus dibayar. Dunia ini bakal ngehisap keberanian lo, pelan-pelan."
Arman ngerasain darahnya dingin waktu ngebaca kalimat terakhir itu. "Ngehisap keberanian?" Apa maksudnya? Tapi nggak ada waktu buat mikir terlalu lama. Buku ini, gimana pun caranya, harus bisa bantu dia keluar dari sini.
Dia ngebalik halaman berikutnya dan ketemu sama sesuatu yang kayak peta, tapi bukan peta yang biasa. Ini lebih mirip diagram, dengan titik-titik yang terhubung oleh garis-garis aneh, kayak semacam jalur perjalanan. Ada beberapa simbol di sepanjang jalur itu, tapi nggak ada penjelasan jelas tentang apa artinya.
Arman nyoba ngerti peta itu, tapi nggak sukses. Itu kayak teka-teki yang rumit, dan dia nggak punya petunjuk buat mulai dari mana. Yang dia tahu cuma satu hal—jalur ini mungkin satu-satunya cara buat keluar dari tempat ini.
Dia berdiri, ngerasain semangat yang sedikit bangkit. Meskipun semuanya masih kabur, setidaknya dia punya arah. Buku ini mungkin bisa jadi panduannya. Tapi dia masih nggak tahu apa yang harus dilakuin selanjutnya.
Tiba-tiba, suara gemerisik dari semak-semak di belakangnya ngebuat Arman terlonjak. Dia langsung berbalik, matanya liar nyari sumber suara. Jantungnya mulai berdetak cepat lagi, adrenalinnya memuncak.
"Damn, apa lagi ini," desisnya pelan. Dia ngeliatin sekelilingnya, tapi nggak ada apa-apa yang terlihat, cuma semak-semak yang bergerak pelan, mungkin kena angin. Tapi masalahnya, nggak ada angin yang bertiup.
Arman mundur beberapa langkah, ngerasa nggak nyaman. Rasa takut mulai menyelinap lagi. Dia buru-buru ngerogoh tasnya, nyari sesuatu yang bisa dipake buat bela diri. Tapi yang ada cuma barang-barang kantor biasa, nggak ada yang berguna di situasi kayak gini.
"Gue butuh senjata... atau sesuatu," pikirnya. Dia balik ngelirik ke buku di tangannya. Apa buku ini punya jawaban?
Tanpa sadar, tangannya ngebuka halaman lain dari buku itu. Ada teks baru yang muncul, seakan-akan buku itu tahu apa yang dia butuhin: "Pertama, temukan senjatamu. Hanya dengan itu, lo bisa bertahan di sini."
Seolah menjawab kebingungannya, tiba-tiba sebuah cahaya merah muncul dari cincin yang dipakainya. Cahayanya kecil, tapi cukup terang buat menerangi sekelilingnya. Arman merasakan getaran aneh dari cincin itu, kayak ada energi yang mengalir ke tubuhnya. Dia nggak tahu gimana caranya, tapi dia merasa bahwa cincin ini lebih dari sekadar aksesori. Ini adalah... kunci.
"Cheat System," bisik Arman, sekarang mulai ngerti maksud dari buku itu. Cincin ini adalah bagian dari Cheat System, alat yang bakal ngebantu dia bertahan hidup di dunia ini. Tapi gimana cara pakainya?
Sebelum dia bisa mikir lebih jauh, suara gemerisik itu muncul lagi, kali ini lebih keras, dan lebih deket. Arman tahu dia nggak bisa diem di sini. Dengan cepat, dia melangkah mundur, matanya terus ngawas-ngawas. Cincin di jarinya mulai bersinar lebih terang, seolah-olah ngerespon ancaman yang mendekat.
"Siap atau nggak, gue harus nyoba sesuatu," katanya pelan sambil ngacungin tangannya yang ber-cincin ke arah semak-semak yang bergerak. Dia nggak tahu apa yang bakal terjadi, tapi dia berharap sistem ini nggak ngebuatnya mati konyol.
Dan tiba-tiba, dari cincin itu, muncul semburan cahaya merah yang meledak ke arah semak-semak. Cahaya itu kayak laser, menebas apa pun yang ada di jalurnya. Suara jeritan melengking terdengar dari dalam semak-semak, disusul oleh keheningan yang menegangkan.
Arman terdiam, matanya membelalak nggak percaya sama apa yang baru aja dilihatnya. "Apa... itu barusan gue yang ngelakuin?"
Tangannya gemetaran, tapi dia juga ngerasain sesuatu yang lain—rasa puas, seakan-akan dia baru aja ngalahin ketakutan pertamanya di dunia ini. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang lain juga... rasa dingin yang menyusup ke dalam dirinya, kayak ada yang ngambil sebagian kecil dari keberaniannya.
Arman menelan ludah. Dunia ini bener-bener nyata, dan dia tahu sekarang—ini bukan mimpi. Cheat System-nya aktif, tapi dia juga sadar, ada harga yang harus dibayar setiap kali dia pake kekuatannya.
Dia nggak tahu seberapa besar harga itu, tapi satu hal yang jelas—dia nggak punya pilihan selain maju. Dunia ini udah ngebawa dia ke sini, dan sekarang dia harus bertahan hidup di dalamnya, dengan atau tanpa bantuan Cheat System.
Arman masih nggak percaya sama apa yang baru aja dia lakukan. Cahaya merah yang keluar dari cincinnya tadi... itu nggak normal. Bener-bener kayak sesuatu yang keluar dari film fiksi atau game. Tapi ini bukan film, dan jelas bukan game. Ini dunia nyata—atau setidaknya, dunia yang kelihatan nyata tapi penuh hal-hal yang nggak masuk akal.
Jadi, apa yang barusan dia lakuin? Tiba-tiba bisa ngeluarin semacam laser merah dari cincin tua? Gimana bisa? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepalanya, tapi nggak ada jawaban yang jelas. Satu-satunya hal yang pasti adalah, cincin ini punya kekuatan yang aneh dan nggak terduga.
Dia ngeliat ke arah semak-semak yang tadi diserangnya. Semak-semak itu sekarang terbakar di beberapa bagian, dengan asap tipis yang mengepul ke udara. Nggak ada tanda-tanda kehidupan dari situ, apapun yang ada di balik semak-semak tadi mungkin udah lenyap atau kabur.
Arman duduk lagi, kali ini lebih pelan, mencoba ngeredain adrenalin yang masih menggelegak di dalam tubuhnya. Dia ngeliatin cincin di jarinya, cincinnya udah nggak bercahaya lagi, cuma batu merahnya yang masih berkilau samar-samar. Kelihatannya tenang, tapi Arman tahu lebih baik dari itu sekarang—cincin ini punya kehendak sendiri, kayaknya.
"Buku ini jelas nggak salah kasih nama," gumamnya sambil ngebuka buku tua itu lagi. Kata-kata tentang "Cheat System" tadi sekarang masuk akal, meskipun masih sulit diterima sepenuhnya. Dia ngerasain ada sesuatu yang ngeresap ke dalam dirinya setelah ngeluarin kekuatan dari cincinnya. Rasa dingin itu... seolah-olah ada sesuatu yang diambil dari dirinya setiap kali dia menggunakan kekuatan itu.
Buku tua itu ternyata lebih dari sekadar panduan. Ini semacam manual yang bakal nuntun dia bertahan di dunia ini. Masalahnya, Arman nggak tahu siapa yang bikin buku ini, dan kenapa ngirimnya ke dia. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini, dan dia harus cari tahu.
Sambil ngebolak-balik halaman buku, Arman nemuin beberapa gambar yang ngerinciin jenis-jenis makhluk yang ada di dunia ini. Bentuknya aneh-aneh, ada yang mirip manusia, ada yang kayak binatang buas, tapi semuanya punya satu kesamaan—mereka kelihatan haus darah dan siap ngebunuh siapa pun yang nggak waspada. Arman nggak bisa menahan desah napasnya waktu liat gambarnya, ngebayangin apa yang bakal dia hadapin nanti. Kalau tadi aja udah bikin dia hampir kencing di celana, gimana kalau harus ngelawan yang lebih ganas?
"Gue harus lebih hati-hati," pikirnya. Dia nggak tahu apa yang bakal dihadapin di depan, tapi sekarang dia punya sedikit gambaran tentang seberapa bahayanya dunia ini.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah belakang. Arman ngerasa darahnya dingin lagi. Dia buru-buru bangun, ngumpetin buku di balik bajunya, dan nyiapin diri buat apapun yang bakal datang. Dia berharap nggak perlu pake Cheat System-nya lagi, tapi kali ini, dia siap.
Langkah kaki itu makin deket, dan dari kegelapan, muncul sosok besar yang kelihatan kayak manusia, tapi lebih tinggi dan lebih kekar. Kulitnya kasar, hampir mirip sama kulit pohon, dan matanya merah menyala di kegelapan. Arman mundur beberapa langkah, ngerasain ketakutan mulai menyelinap lagi. "Apaan lagi ini?" pikirnya.
Sosok itu berhenti sekitar lima meter di depan Arman. Suara napasnya berat dan serak, hampir kayak suara geraman binatang buas. Arman bisa ngerasain hawa dingin yang semakin menyelimuti sekitarnya, rasa takut makin menguasai dirinya. Dia tahu kalau dia nggak ngelakuin sesuatu, makhluk ini bakal nyerangnya.
Cincin di jarinya mulai bersinar lagi, kali ini lebih terang. Arman ngerasain dorongan kuat buat ngeluarin kekuatannya lagi, tapi dia juga tahu ada harga yang harus dibayar. Apakah dia siap buat bayar harga itu?
"Lo nggak punya pilihan lain, Man," dia ngomong ke diri sendiri.
Dengan tangan gemetar, dia angkat cincinnya lagi, siap buat ngeluarin kekuatan yang sama kayak tadi. Tapi sebelum dia bisa bertindak, makhluk itu mulai bergerak maju dengan kecepatan yang nggak dia duga. Sosok besar itu melompat ke arahnya, dan Arman cuma bisa ngeluarin cahaya merah dari cincinnya secara refleks.
Cahaya merah itu menyambar makhluk itu di udara, tepat di dadanya. Jeritan keras keluar dari mulut makhluk itu, dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh dengan suara gedebuk yang menggelegar.
Arman masih ternganga, nggak percaya kalau dia barusan berhasil ngelumpuhin makhluk itu. Tapi sebelum dia bisa ngerasain lega, rasa dingin yang tadi cuma nyelinap pelan kini datang dengan kekuatan penuh. Dia ngerasa lemas, seolah-olah seluruh energinya tersedot keluar. Lututnya gemetaran, dan dia hampir jatuh ke tanah. Cincin itu sekarang berdenyut-denyut di jarinya, kayak jantung kedua yang menyerap kehidupan darinya.
"Apa ini efek sampingnya?" pikir Arman panik. Dia ngeliatin makhluk yang terkapar di depan, masih nggak bergerak, tapi dia nggak bisa ngerasa senang sama sekali. Rasa dingin itu makin parah, bikin tubuhnya menggigil.
Arman tahu kalau dia nggak bisa terus-terusan kayak gini. Setiap kali dia pake kekuatan cincinnya, sesuatu yang penting di dalam dirinya juga perlahan-lahan hilang. Keberanian, atau mungkin... nyawanya sendiri.
Dengan susah payah, dia mundur dari tempat itu, nyari tempat buat sembunyi dan ngumpulin kekuatannya lagi. Dia harus mikirin strategi lain buat bertahan hidup di dunia ini, sesuatu yang nggak ngerusak dirinya sendiri setiap kali dia beraksi.
Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa kayak jam, Arman nemuin sebuah gua kecil di balik bebatuan. Dia masuk ke dalamnya, ngos-ngosan, dan ngerasa lega karena akhirnya bisa ngelindungin diri dari bahaya sementara waktu.
Di dalam gua yang gelap, cuma ditemani suara napasnya sendiri yang berat, Arman kembali ngeliatin cincinnya. Cincin itu udah nggak bercahaya lagi, tapi sekarang dia tahu betul kalau cincin ini bukan cuma alat. Ini kutukan yang dibungkus dalam janji kekuatan. Setiap kali dia pakai, ada sesuatu yang diambil dari dirinya.
Arman ngerasa marah, tapi dia juga ngerasa putus asa. "Apa yang harus gue lakuin sekarang?" Dia nanya ke diri sendiri, meskipun nggak ada jawaban yang datang. Nggak ada pilihan lain selain maju terus dan cari cara buat mengakali sistem ini, atau dia bakal terjebak di dunia ini selamanya, atau lebih buruk, mati dengan tubuh dan jiwa yang terkuras habis.
Dengan berat, Arman menutup matanya, mencoba istirahat sebentar, berharap bisa dapet jawaban atau setidaknya keberanian buat ngelanjutin perjalanan ini. Dunia yang dihadapinya sekarang adalah dunia yang keras, dan dia nggak punya pilihan selain beradaptasi atau jadi korban. Tapi satu hal yang pasti—cincin ini adalah kunci, sekaligus beban. Dia harus belajar gimana cara memainkannya, atau semuanya bakal berakhir dengan cepat dan menyakitkan.
Jika kalian tertarik melihat kelanjutan dari cerita Arman kalian dapat melihatnya di novel Surat dari Dunia Lain.