Siang hari, cuaca terik. Panasnya hingga menyengat kepala seorang gadis yang menyusuri jalan tanpa topi.
Lucia, gadis itu bejalan sambil meletakkan sebelah telapak tangannya guna menutupi kepala. Walau tak tertutup sempurna, Setidaknya untuk mengurangi keganasan sang surya di atas sana. Dan menepis silau yang menerjang mata. Kerikil kecil di bawah sana yang tak tahu apa dosanya, tiba-tiba ikut jadi sasaran tendangan ujung sepatunya.
Menghentikan langkah ketika ayunan telapak kakinya melewati sebuah cafe.
"sepertinya mampir cari minum dingin dulu juga oke!" gumam Lucia, sehingga kemudian membelokkan arah kakinya ke dalam kafe tersebut
"Ada seblak gak kak?" tanya Lucia pada seorang gadis pelayan yang menghampirinya dengan membawa sebuah buku menu.
"Maaf, cafe ini tidak menyediakan menu tersebut kak!" sahut gadis pelayan itu sopan.
"Diadain aja deh, seadanya juga nggak papa. Cuma sayur sama telur pun boleh. Nggak pakai kerupuk direbus juga boleh biar nggak lama. Yang penting kan namanya seblak, he he. Sambelnya yang banyak. Terus jangan dikasih kencur ya!" Lucia tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya
Pelayan yang masih memegang buku menu di tangannya melongo mendengar pesanan Lucia. Bukannya apa, tapi seblak memang bukan salah satu menu yang ada di cafe tersebut. Tetapi sepertinya Lucia benar-benar menginginkan itu.
"Di dapur cuma ada sayur sawi saja. Nggak ada wortel dan tidak ada lainnya memangnya kakak mau. Apa tidak apa-apa kalau cuma sawi sama telur saja?" tanya pelayan ragu.
"Gak papa kak, buruan ya. Terus minumnya es jeruk, es batunya yang banyak!"
Wajah Lucia begitu berbinar membayangkan menu itu sebentar lagi akan ada di depan matanya. Cuaca panas memang cocok untuk makan pedas dan minum dingin.
***
Hanya butuh beberapa menit menunggu, Kini pesanan Lucia sudah ada di depan mata. Seolah melambai-lambai ingin segera dilahap.Tetapi baru saja akan menyuapkan satu sendok ke dalam mulut....
"Woi balikin nggak!" Teriak Lusia. Dia merasa geram ketika tiba-tiba mangkok yang ada di hadapannya melayang di serobot oleh seseorang.
"Sayangnya apa yang sudah ada di tanganku tidak akan bisa terlepas kembali!"
Sheila, seorang teman sekolah yang adalah musuh bebuyutannya sejak SD, ternyata dia lah yang menyambar mangkok seblaknya. Dan kini tengah berdiri dengan raut penuh ejekan seakan merasa menang karena berhasil menguasai seblaknya.
"Aku tidak menyangka kamu begitu miskin hingga membeli seblak sendiri pun tak mampu!" Lusia berdiri dari kursinya dan bersedekap, menatap sinis ke arah Sheila.
"Wah Dia baru saja merendahkan kamu Shei..!" Celetuk Rani sambil menepuk pundak Sheila. Rita mengangguk menyetujui ucapan Rani.
Kompor pun meleduk.
Dengan geram Sheila meletakkan mangkok seblak dengan kasar di atas meja hingga sebagian kuahnya muncrat ke wajahnya sendiri, membuatnya meringis Karena rasa panas dan pedih menimpa matanya. Tetapi dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Lucia.
"Coba ulangi! Kamu bilang apa? aku miskin?" Sheila berbicara dengan menahan gemeletuk giginya.
"Karena kalau kamu kaya, kamu tidak akan menyambar milik orang lain!" Ejek Lucia.
"Pelayan...!"
Pelayan yang tadi melayani Lusia mendekat ke arah Sheila mendengar teriakan gadis itu.
"Buatkan aku 200 mangkok seblak sekarang juga! Aku akan mentraktir semua yang datang ke cafe ini hari ini!" Pantang bagi Sheila untuk direndahkan. Apalagi oleh Lucia yang adalah musuh bebuyutannya sejak dulu.
Dahulunya mereka berteman, tetapi hanya gara-gara Lucia lebih menang lomba balap kelereng saat lomba 17-an, rasa iri yang bercokol di hati Sheila perlahan berubah menjadi dendam kesumat. Apalagi ketika dia sama sekali tak pernah berhasil untuk mengalahkan Lusia dalam hal apapun. Termasuk merebut hati cowok most wanted di sekolahnya. Membuat dendam itu kian membara.
Maka kali ini dia tak lagi boleh kalah. Apalagi hanya untuk urusan yang sangat sepele. SEBLAK.
"Maaf kak, tapi tidak ada lagi seblak di sini. Karena seblak tidak termasuk dalam daftar menu cafe kami!"
Jawaban pelayan membuat hati Sheila semakin panas. Bagaimanapun dia tidak boleh kalah dari Lucia.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkannya maka kamu pun tidak!" Ucap Sheila yang hampir saja meraih mangkuk itu untuk membuangnya.
Sayang. Tangan Lucia lebih cekatan. Dia berhasil mencekal tangan Sheila.
"Kamu pikir kamu ini siapa, hingga merasa berhak untuk menindas seseorang!"
Cekalan tangan Lucia membuat Sheila meringis. Tidak menyangka Lucia begitu kuat. Rani dan Rita, si kembar yang selalu mengikuti kemanapun Sheila melangkah menutup mulutnya tidak percaya.
Di lingkungan sekolah mereka, Lucia adalah seorang teman yang sangat pendiam. Tidak pernah banyak bicara dan tidak pernah bergaul sehingga dia bahkan tidak memiliki seorang teman. Lucia juga selalu diam meskipun Sheila sering kali membulynya. Tetapi kenapa saat ini mereka melihat penampakan Lusia yang berbeda dari biasanya.