Udara panas bercampur debu kendaraan dan tanah kering, membuat siapapun yang ada di luar rumah menjadi begitu tersiksa oleh rasa haus, kulit terbakar dan tenggorokan kering.
"Eehh..mo kemana?" tanya Nisa saat tiba-tiba Lucia memutar arah motor yang mereka tumpangi ke arah berlawanan dengan arah rumah mereka.
Lucia tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, seulas senyum kecil tersungging di bibir tipisnya.
"Bejirr, si kodok kenape dah nangkring di mari!" umpat Lucia saat manik matanya beradu tatap dengan mata sinis Shela di parkiran Seblak Loves.
"Bangkeee! Tuh cebong napa juga kemari!" umpat Sheila terdengar jelas di telinga Lucia.
"Cabut aja yuk Cia," ajak Nisa mulai tak nyaman dengan kehadiran Shela dan 2 orang teman geng ladiesnya.
"No! Gue mau nyeblak!" tolak Lucia sambil melangkah meninggalkan Nisa masuk ke dalam kedai Seblak favorit mereka.
Belum sampai pintu depan, Shela dengan sengaja berjalan cepat menabrak pundak kiri Lucia.
"Aauu!" pekik Lucia reflek sambil mengusap pundaknya.
"APA!" bentak Shela melotot sampai biji matanya seperti mau loncat menerkam tatapan mata Lucia.
"Ka-kagak," jawab Lucia sambil berjalan menjauh.
"Sok jagoan, beraninya sama anak kalem kek gue. Cihh," gerutu Lucia kesal sambil menghempaskan tubuhnya di lantai ruang makan kedai.
"Udan sabar aja. Jan di bawa hati say, cukup di bawa mati hehe," ucap Nisa menghibur tapi lebih seperti ledekan buat Lucia.
"Pengen banget gue kerjain tuh kodok buluk!" ucap Lucia kesal dengan mata melirik tajam ke arah Shela.
"Apa Lo lihat-lihat! Mau gue colok tuh bola mata Lo!" hardik Shela membuat Lucia dan Nisa langsung menunduk.
Dalam diam Lucia memutar otaynya untuk membalas kekasaran Shela kepadanya.
"Ahayyy!" seru Lucia tiba-tiba dengan wajah sumringah.
Lucia langsung berdiri bangkit dari duduknya.
"Mo kemana Lu Cia?" tanya Nisa penasaran saat melihat sahabatnya berlalu ke arah belakang kedai Seblak.
Dengan telunjuknya Lucia member kode supaya Nisa tetap duduk manis di meja mereka.
Tak berapa lama dengan dendang lirih Lucia sudah kembali ke meja mereka.
"Lo habis ngapain Cia?" tanya Nisa tau persis kalo sahabatnya telah melakukan sesuatu.
"Liat aja nanti, bakal ada pertunjukan spektakuler buat si kodok buluk nyebelin," jawab Lucia dengan senyum sinis
Tak berapa lama pesanan Seblak mereka datang begitu juga dengan pesenan Seblak Shela dan geng ladiesnya.
"Bang! Ini bukan pesenam saya, Seblak saya gak pake telor!" protes Shela saat Seblaknya tidak sesuai pesanannya.
Pelayan kedai langsung melihat ke mangkok Seblak Shela dan langsung meminta maaf.
"Maaf Neng, tadi perasaan bener yang saya tata di nampan buat meja Neng," jawab pelayan itu bingung.
"Bang, ketukar sama punya saya, tapi maaf udah saya makan gimana dong," sahut Lucia dengan wajah di buat tak berdosa.
"Ganti! Dongok!" Ujar Shela melotot sambil menepis kasar mangkok Seblak di depannya.
"Sorry gue, gue kaga ada uang. Lagian kan gue kaga sengaja Shel." balas Lucia dengan wajah pura-pura menyesal.
"Gue gak mau tau!" bentak Shela.
Shela mendorong kursi duduknya dengan kasar, tangan kirinya meraih kasar mangkok keramik motif bunga dengan Seblak panas di dalamnya.
"Makan tuh!" hardik Shela sambil menyiramkan semangkuk Seblak panas ke arah Lucia.
"Aaaauuuuuwww...panas!" teriak Lucia sambil berlari ke toilet.
Mata dan mulut semua pengunjung di kedai itu membulat dengan mulut terbuka melihat kejadian itu
Tak berapa lama Lucia keluar dengan wajah basah dan baju basah dengan noda merah kuah Seblak.
"Thanks ya Shel, hari ini gue punya bukti ke-aroganan Lo, dan moga Lo jera dengan nginep beberapa hari di balik jeruji besi gegara semangkuk Seblak." ucap Lucia puas sambil menggoyangkan benda pipih di tangan nya di mana ada video kekerasan Shela kepadanya.
"Bangksattt!! Lo-lo," ucap Shela terbata.
Lucia menggamit lengan sahabatnya untuk pergi meninggalkan kedai Seblak Lovers.