Siang ini matahari bersinar dengan teriknya. Jam kuiiah sudah berakhir satu jam yang lalu. Tampak Lucia dan kawan-kawannya bergerombol keluar dari kelasnya. Hari ini, ia nyaris dibuat jantungan karena dosen yang mengajar kelas tadi merupakan dosen killer.
Entah mimpi apa semalam, Lucia sang mahasiswa sastra tersebut terkena semprot hari ini.
“Makan yuk, guys!" ajak Lucia pada sahabat-sahabatnya.
“Caw, lah. Gue lagi pengen mendinginkan kepala gue nih, gara-gara Dosen tadi," jawab temannya.
“Gue pengen makan seblak malahan. Di warung baru itu, warung siapa namanya? Pak Rhoma, atau Rhomlah?" ucap Lucia sedikit lupa-lupa ingat.
“Pak Muzu, goblok! Mentang-mentang sering dengerin Rhoma Irama, lo seenaknya aja ganti nama orang," temannya mencibir.
“Bodoamat, lagian siapa suruh dengerin lagu Darah Muda melulu!" Lucia menanggapi temannya sambil bermain ponsel.
“Dan omong-omong yang lo sebut warung itu, kafe. K.A.F.E, gimana ceritanya lo sebut itu warung?!" jengah temannya, ingin rasanya ia menjitak kepala Lucia. Namun, sayang ia masih sayang masa depannya, jika ia berbuat kasar. Lucia tak akan mau memberikan contekan. Sungguh teman yang berakhlak mulia.
Tak butuh waktu lama, mereka bergegas menuju kafe. Panasnya udara yang membakar kulit terasa sangat menyengat dan Lucia tidak suka itu.
“Hujan .. hujan datanglah. Pergilah lain hari!" Lucia bersenandung tak jelas, membuat temannya mendengus.
Sesampainya di kafe, Lucia dan kawannya segera memesan seblak. Namun, sayang seribu sayang. Seblak tersebut hanya tinggal dua porsi. Awalnya Lucia tersenyum, sebelum segerombolan mahasiswa seperti dirinya datang dan menatap mereka dengan pandangan sinis.
“Bang, pesen seblak, ya!" ucap seorang wanita.
“Eh, apa-apaan lo? Nggak bisa, itu punya gue!" Lucia langsung menentang tak terima.
“Itu punya gue, gue yang pesen duluan, lu pesen yang lain aja sono!" Lucia bersikukuh dengan pendiriannya.
Sedangkan sang penjual sudah mengantar pesanan seblaknya, hanya terdiam dan sibuk menonton drama secara live.
“Asik nih, generasi micin ribut. Nonton, ah!" batin Muzu.
Melihat seblak dihadapannya, Lucia langsung meraih mangkuk seblak tersebut dan menyantapnya. Sementara wanita tadi, merasa tak terima langsung memukul Lucia dan membuat wanita tersebut tersedak.
Lucia yang merasa tak terima, bergegas menjambak balik rambut si mahasiswa itu, “Sialan lo, Shel! Maksud lo apa mukul gue? Cari ribut lo?!"
Shela hanya memandang remeh, “Emang itu, niat gue, karena lo udah ambil seblak gue!"
Tak hanya sampai disitu saja, Shela juga menarik rambut Lucia hingga membuat Lucia murka, kemudian ia membalas perbuatan Shela dengan hal serupa. Sang sahabat yang melihat sudah berusaha melerai.
“Lucy, udah. Kita cari menu lain aja!" bujuk sang sahabat sembari berusaha menarik tangan Lucia dari rambut Shela.
“Nggak! Gue belum puas lawan sama Medusa ini!" Lucia tetap bersikukuh.
“Ini seblak gue, Setan! Gue mau seblak!" Shela juga tak ingin mengalah.
Merasa kesal Lucia pun menyambar mangkuk seblak itu hingga terjatuh dari meja dan pecah seketika, dengan isi mangkuk yang bertebaran di mana-mana.
“Noh, kalau lo mau makan seblaknya! Makan tuh seblak!" ucap Lucia, “Bang, tagihan seblaknya kasih ke dia aja, nih!"
Sesudah mengatakan itu Lucia pergi dari kafe, disusul dengan sahabatnya dengan langkah yang terburu-buru.
Sementara Shela yang merasa malu hanya memandang Lucia penuh dengan kebencian.
“Lihat aja, gue bakal balas perbuatan , lo," Shela membatin.