Jennie adalah seorang anak yang mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan, dari kecil dia sudah memiliki kemampuan ini hanya saja dia tidak tau apa yang dia lihat dan dia hanya membiarkan itu berlalu, orang tua dan kakaknya juga tidak mengetahui hal tersebut.
Setelah Jennie mulai berusia 7 tahun, dia mulai merasa risih dengan semua yang ada dipikirannya, dia belum tau kalau itu adalah masa depan. Dia selalu melihat apa yang akan terjadi, seperti kematian, kebahagiaan, dan semua yang akan terjadi terhadap orang-orang di daerah tempat tinggalnya.
Saat berusia 8 tahun, Jennie mulai memberanikan diri untuk membicarakan apa yang dia lihat kepada orang tua nya, dia merasa takut karena sering melihat masalah-masalah disekitarnya, dia juga menyadari apa yang dia lihat selama ini ada beberapa yang sudah terjadi. Saat mengetahui itu, orang tua dan kakak Jennie terkejut dengan kemampuan Jennie. Setelah mengetahui itu, keluarga Jennie merahasiakan kemampuan itu dari semua orang karena mereka takut kalau orang lain akan memanfaatkan kemampuan itu.
Setelah Jennie lulus Sekolah Dasar, dia mulai masuk ke Sekolah Menengah Pertama dimana kakaknya juga sekolah disana, mereka hanya berjarak 1 tahun tetapi masuk ditahun yang sama. Sejak itu, firasat Jennie sudah tidak enak tentang kakaknya, dia seperti melihat kakaknya akan meninggal dalam waktu dekat, tetapi dia tidak tau kapan dan kenapa. Jennie merasa aneh, dia heran kenapa dia bisa melihat secara detail tentang kejadian masa depan hidup orang lain tetapi tidak dengan keluarganya.
Jennie yang mulai cemas menceritakan itu kepada kakaknya dan juga orang tuanya. Mereka menyuruh kakak Jennie untuk lebih berhati-hati, karena sampai sekarang apa yang dilihat Jennie akan menjadi kenyataan. Karena khawatir, ayah Jennie ingin menjaga anaknya itu, dia takut kalau anak laki-lakinya itu benar-benar akan mengalami kecelakaan.
Setiap saat dia selalu menemani anaknya pergi sekolah, les, dan ketempat mana pun yang akan dikunjungi anaknya. Jennie ingin sekali melihat bagaimana kakaknya bisa kecelakaan, tetapi sekuat apapun dia berusaha dia tidak pernah bisa melihatnya, dia hanya melihat kecelakaan itu satu kali dan itu juga tidak jelas, Jennie semakin khawatir begitupun dengan orang tuanya.
Tetapi, setelah Jennie dan kakaknya lulus, kecelakaan itu belum terjadi, akan tetapi ayah Jennie masih khawatir dengan itu, dia tetap selalu ada disamping anak laki-lakinya itu. Kakak Jennie yang sekarang sudah merasa risih selalu diikuti ayahnya melarang ayahnya itu untuk mengikutinya, karena dia pikir itu tidak berlaku untuk dirinya.
"Ayah, sudahlah, jangan lakukan ini lagi, aku udah besar, aku nggak mau lagi diikutin seperti dulu, aku malu yah diikutin terus, aku malu sama teman-teman, mereka tidak akan mau berteman denganku kalau tau ayah selalu mengikutiku" ujar Kakak Jennie
"Tapi tetap saja nak, ayah masih khawatir karena selama ini apa yang dilihat adikmu selalu benar dan selalu terjadi, ayah hanya tidak mau kalau kamu kecelakaan, ayah belum bisa kehilangan anak ayah seperti ini, ayah harus tetap menjaga kamu nak" ujar ayah Jennie sambil pengelus pundak anaknya itu
"Ayah kamu benar nak, kamu tetap harus dijaga sama ayah, ayah akan menjaga kamu dari jauh, kami janji tidak akan terlalu mencampuri urusanmu, tapi kami mohon tetap izinkan ayahmu untuk selalu menjagamu, ibu sebenarnya juga khawatir" sambung ibunya Jennie
"Aku juga setuju kak, walaupun sampai sekarang kakak baik-baik saja, setidaknya kakak tetap harus dijaga sama ayah" ujar Jennie
"Baiklah, tapi janji jangan mengikutiku terlalu dekat, karena aku akan malu dengan teman-teman" ujar Kakak Jennie
"Baiklah, ayah janji" kata ayah Jennie
Saat Jennie dan kakaknya pergi kesekolah, ayah mereka masih tetap ikut, tetapi dia hanya mengantar sampai digerbang sekolah, dia hanya bisa mengawasi anak-anaknya dari luar gerbang. Perasaan khawatir ayah Jennie semakin kuat dan takut melepaskan anaknya sendirian kesekolah, tetapi dia sudah berjanji kepada anaknya untuk tidak terlalu dekat saat mengikutinya.
Dipikiran Jennie kembali terlintas sebuah kecelakaan, tetapi dia tidak tahu pasti seperti apa itu dan siapa itu, dia hanya tau kalau akan ada yang kecelakaan. Setelah itu Jennie cepat-cepat melihat kakaknya, dia takut kakaknya kenapa-kenapa, Jennie pergi ke kelas kakaknya.
"Kak, aku melihat kecelakaan itu lagi, tetapi aku tidak tau siapa, dimana dan kapan kejadian itu, aku sangat takut dan khawatir kak, makanya aku kesini untuk melihat kakak" kata Jennie pada kakaknya
"Sudahlah, itu nggak akan terjadi, sudah 3 tahun tetapi itu juga nggak pernah terjadi pada kakak, jadi kamu nggak usah khawatir, seharusnya kamu lebih khawatir sama diri sendiri karena kemampuan itu, kemampuan itu hanya bikin kita pusing dan khawatir aja, mulai sekarang kakak nggak bakal mikirin itu lagi, selagi kakak hati-hati itu nggak akan terjadi" ujar kakak Jennie
"Tapi kak, ini terasa nyata" balas Jennie
"Sudahlah, pergilah kekelasmu, nanti kamu ketinggalan pelajaran loh, sana" kata kakak Jennie sambil menyuruhnya kekelas, dan Jennie mengikuti yang dikatakan kakaknya
Saat jam sekolah selesai, Jennie dan kakaknya pergi ke parkiran untuk menemui ayah mereka yang sudah menunggu, setelah itu mereka segera berangkat pulang. Disaat jalan pulang, mereka mendapat telfon dari ibu mereka, ibu menanyakan kapan mereka akan sampai dirumah.
Setelah itu, tiba-tiba Jennie melihat lagi kecelakaan itu, sekarang dia sudah melihat dengan jelas siapa yang kecelakaan.
"Ayah, kakak, aku takut, aku sangat takut, apa yang harus kita lakukan,? Aku melihat ayah dan kakak tergeletak dijalan dengan darah yang sangat banyak, aku takut" kata Jennie sambil menangis keras
"Sudahlah Jen, kamu jangan bilang seperti itu lagi, hentikan dan berhenti lah menangis" ujar kakaknya
"Tapi aku takut kak, ini terasa nyata, aku takut, aku nggak mau kehilangan ayah sama kakak, aku sayang ayah sama kakak, ayah ayo kita naik taxi saja, ayah tidak boleh nyetir, karena itu terjadi saat ayah nyetir, aku mohon ayo kita berhenti dan naik kendaraan lain" ujar Jennie yang masih menangis sambil memegang lengan baju ayahnya
"Baiklah kita akan berhenti" kata ayah Jennie sambil menenangkan Jennie
Ayah Jennie mulai mengarahkan mobilnya ke tepi jalan, mereka berhenti disana sambil menunggu taxi datang. Mereka juga menelfon ibu Jennie untuk memastikan keadaannya.
"Kenapa tiba-tiba kalian seperti ini,? Dan kenapa Jennie menangis?" Kata ibu Jennie saat ditelfon
"Tidak, kami hanya khawatir padamu, karena Jennie melihat hal aneh, tapi kami akan segera pulang, kami menunggu taxi dulu" ujar ayah Jennie
"Apa yang dilihat Jennie dan kenapa kalian naik taxi" tanya ibu Jennie
"Jennie melihat ayah sama kakaknya kecelakaan saat ayah mengendarai mobil, jadi dia menyuruh ayah untuk berhenti dan kami akan pulang dengan naik taxi" ujar ayah Jennie
"Kalau begitu aku saja yang menyetir, aku akan kesana dan nggak usah naik taxi, bukankah kecelakaan itu saat ayah yang nyetir,? Jadi aku akan menyetir untuk kalian supaya hal itu tidak akan terjadi" ujar ibu
"Iya, aku setuju sama ibu, selagi ayah tidak menyetir aku pikir ayah dan kakak akan baik-baik saja" balas Jennie
"Baiklah, kami akan menunggu" ujar ayah sambil mematikan telfon dan mengirimkan alamat dimana mereka berhenti
Tidak beberapa kemudian, ibu Jennie datang. Ibu pergi ke kursi supir dan menunggu suaminya keluar untuk bergantian menyetir. Tapi tiba-tiba ada truk dari sisi lain kehilangan kendali dan mengarah kepada mereka. Belum sempat menghindar, mobil mereka terbawa oleh truk itu, ibu Jennie terlempar ke seberang jalan, ayah Jennie dan Jennie serta kakaknya terseret jauh bersama truk itu, dan berhenti disebuah pohon karena mobil sudah terpental kesana. Mobil mereka penyet dan ayah Jennie jatuh dari kursi pengemudi dengan darah yang melumuri wajahnya, ayah Jennie sudah tidak bisa bernafas lagi karena benturan yang sangat kuat dikepalanya. Jennie dan kakaknya dikursi belakang juga mendapatkan banyak darah dikepala, kepala kakak Jennie keluar dari pintu kaca mobil itu dengan darah yang menetes karena benturan dan tertusuk kaca pintu. Sedangkan ibu Jennie yang dari tadi terlempar jauh akibat ketabrak pun juga berdarah, ibu Jennie meninggal di tempat akibat tabrakan yang kuat. Kepala Jennie tersangkut diantara kursinya dan kakaknya.
Mayat orang tua Jennie dan kakaknya di bawa kerumah sakit dan akan segera dimakamkan, Jennie juga dibawa ke rumah sakit yang sama. Jennie dirawat dan dioperasi karena takutnya akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Orang tua dan kakak Jennie dimakamkan di sekitar tempat tinggal mereka sedangkan Jennie masih terbaring koma dan belum sadarkan diri.
Setelah koma selama 2 hari, akhirnya Jennie sadar. Dia bertanya kepada dokter dimana orang tua dan kakaknya, dan dokter menceritakan semuanya kepada Jennie. Jennie kembali menangis keras dan merasa bersalah, dia mengira semua kejadian ini adalah kesalahannya. Karena kemampuan itu, dia membuat semua orang yang dia sayangi meninggalkannya. Andai saja dia tidak mempunyai kemampuan itu, tidak akan ada yang dikhawatirkan, ayahnya tidak akan mengantar jemput mereka setiap hari, dan ibunya juga tidak akan keluar untuk menjemput mereka.
Jennie sangat terpukul akan kejadiaan itu, dia sangat ingin menjadi seperti orang lain yang hidup tanpa ketakutan. Dia sangat ingin kemampuan itu hilang, tetapi itu tidak mungkin. Sekarang dia tidak akan bercerita tentang apa yang dia lihat dimasa depan kepada siapapun, karena dia takut hal yang sama sepertinya akan terjadi kepada orang lain, jadi dia bertekad hanya akan menyimpannya sendiri. Karena kemampuan yang tidak dia inginkan, dia kehilangan semuanya.
Setelah dia sembuh dan keluar dari rumah sakit, dia masih melihat masa depan orang lain, tetapi tidak dengan masa depannya. Dia hanya diam dan melalui semua yang sudah dia lihat.
"Mulai sekarang aku akan hidup sesuai dengan alur yang sudah ada tanpa mengubah apapun, karena kalau aku mengubahnya, semuanya tidak akan terlihat sama lagi, bisa melihat masa depan bukan berarti aku bisa merubah takdir".
Sekarang dia melalui hidupnya dengan kemampuan yang tidak pernah dia inginkan itu, melaluinya seperti orang lain walaupun dia sangat risih dengan itu.