Alyssa duduk di kamar, menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin. Rambutnya yang cokelat jatuh rapi di bahunya, namun hari ini dia tak peduli. Mata yang biasanya cerah kini redup, penuh pikiran yang berkecamuk. Dia tak bisa mengabaikan lagi perasaan aneh yang selama ini terpendam jauh di bawah kesadarannya, sesuatu tentang ibunya, Livia.
Kecurigaan itu dimulai sejak Alyssa masih kecil. Dia ingat saat-saat di mana tatapan ibunya berubah dingin saat berbicara dengan pasien, atau bisikan-bisikan lirih di telepon larut malam. Tapi saat itu, Alyssa tak pernah berani bertanya. Ibu adalah segalanya baginya, sosok sempurna yang selalu menjadi panutan. Namun kini, perasaan itu semakin kuat, seperti bayangan yang perlahan keluar dari kegelapan, semakin nyata dan menakutkan.
Malam itu, ketika rumah sudah sunyi, Alyssa memutuskan untuk bertindak. Jantungnya berdebar kencang saat dia menyelinap menuju kamar ibunya. Tangannya gemetar saat menyentuh pegangan pintu, tapi dia meneguhkan hati. Ada sesuatu yang harus dia ketahui.
Rak buku di kamar ibunya penuh dengan buku-buku tebal tentang psikologi, biografi tokoh-tokoh besar, dan ilmu pengetahuan lainnya. Namun Alyssa tidak mencari buku-buku itu. Dia mencari sesuatu yang lebih pribadi, lebih tersembunyi. Tangannya menyusuri rak, merasakan setiap buku dengan teliti, hingga dia menemukan sebuah buku kecil dengan kulit usang di balik deretan buku lainnya.
Alyssa membawa buku itu ke kamarnya dan membuka halamannya di bawah cahaya lampu meja. Di halaman pertama, tulisan tangan ibunya yang rapi menyambutnya. Namun, semakin dalam dia membaca, semakin pudar ketenangannya. Jurnal itu penuh dengan catatan pasien-pasien ibunya, atau lebih tepatnya, korban-korbannya. Kematian demi kematian, yang tampaknya terjadi secara alami, ternyata memiliki hubungan erat dengan konsultasi yang dilakukan dengan Livia. Alyssa merasa mual. Dunia yang dia kenal tiba-tiba runtuh di hadapannya.
Namun dia tak bisa berhenti sekarang. Setiap malam, saat semua orang tertidur, dia akan menyelinap ke kamar ibunya lagi, mencari lebih banyak bukti. Dia menemukan berbagai barang kecil, sebuah kunci, foto-foto usang, dan kalung dengan liontin berbentuk aneh, yang semuanya mengarah pada satu hal: kebenaran tentang Livia yang selama ini disembunyikan. Hingga akhirnya, Alyssa menemukan sebuah pintu rahasia di balik lemari besar di ruang kerja ibunya.
Dengan tangan gemetar, dia membuka pintu itu. Ruangan kecil di dalamnya tampak seperti ruang kerja seorang dukun: patung-patung kecil dari berbagai belahan dunia, surat-surat tua yang sudah lapuk, dan alat-alat yang tampak menakutkan. Tapi yang paling mencengangkan Alyssa adalah surat-surat yang menumpuk di meja. Surat-surat itu mengungkapkan motif sebenarnya di balik tindakan ibunya. Livia telah lama menggunakan pekerjaannya sebagai psikolog untuk mengendalikan dan menghapus orang-orang yang dianggap sebagai ancaman. Alyssa terkejut, hatinya dipenuhi oleh kebingungan dan ketakutan.
Dia tahu dia harus bertindak, tapi dia juga sadar bahwa dia dalam bahaya. Dengan gugup, dia meraih ponselnya dan mencoba menelepon polisi, namun sebelum panggilannya selesai, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Alyssa berbalik dan melihat ibunya berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis.
"Alyssa, sayang," kata Livia, suaranya lembut, tapi ada nada ancaman yang terselubung. "Sudah saatnya kita bicara."
Alyssa menelan ludah, merasa tubuhnya menegang. "Kau… kau sudah tahu?"
Livia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. "Tentu saja, sayang. Aku tahu sejak awal kau menyelidiki. Kau pikir aku tidak memperhatikan gerak-gerikmu? Kau adalah anakku, Alyssa. Aku kenal kau lebih baik dari siapa pun."
Alyssa berusaha tetap tenang, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan. "Lalu kenapa kau biarkan aku terus melakukannya?"
Livia tersenyum tipis, mendekati Alyssa dengan langkah mantap. "Karena aku ingin kau mengerti, Alyssa. Kau adalah bagian dari ini, bagian dari diriku. Apa yang kulakukan adalah demi kita, demi keluarga kita."
Alyssa mundur selangkah, merasa dinding di belakangnya semakin dekat. "Kau membunuh orang-orang itu… Kau pikir aku bisa terima begitu saja?"
Livia menghela napas, seolah berbicara dengan seorang anak kecil yang tidak mengerti. "Dunia ini kejam, Alyssa. Hanya yang kuat yang bisa bertahan. Apa yang kulakukan adalah untuk melindungi kita. Dan kau harus mengerti itu."
Alyssa merasakan keberanian yang muncul entah dari mana. Dia meraih pisau kecil di atas meja, menodongkannya ke arah Livia. "Aku tidak akan membiarkanmu terus seperti ini."
Livia berhenti, menatap pisau di tangan Alyssa dengan pandangan tenang. "Pisau itu tidak akan menyelamatkanmu, Alyssa. Tapi jika kau mau, aku bisa mengajarimu, aku bisa menjadikanmu lebih kuat, sepertiku."
Tapi sebelum Livia bisa mendekat, pintu rumah terdengar dibuka dengan keras. Beberapa polisi bergegas masuk, senjata mereka terarah ke Livia. Alyssa menurunkan pisau dengan gemetar, tubuhnya terasa lemas saat melihat ibunya diborgol dan dibawa pergi. Air mata mengalir deras di pipinya, mencampur rasa lega dan kehilangan yang tak terlukiskan.
Livia, yang selalu tampak kuat dan tak terkalahkan, kini terlihat seperti seorang wanita yang hancur, meski matanya masih memancarkan tekad dingin. Saat polisi membawanya keluar, Livia berbalik, menatap Alyssa dengan senyuman terakhir. "Kau mungkin berpikir telah menang, tapi ingatlah, Alyssa, kau adalah bagian dari ini. Bagian dari kegelapan yang sama."
Alyssa berdiri di ambang pintu, menatap mobil polisi yang membawa ibunya pergi. Ada rasa lega yang aneh, tetapi juga sebuah pemahaman baru yang mengerikan. Saat malam semakin larut, Alyssa tak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, membayangkan semua yang terjadi.
Saat akhirnya dia berdiri di depan cermin lagi, dia menatap dirinya sendiri dengan intensitas yang baru. Dalam pantulan itu, Alyssa melihat sesuatu yang tak pernah dia lihat sebelumnya, seberkas bayangan ibunya, bukan hanya dalam fitur wajah, tetapi juga dalam pandangan mata yang dingin dan penuh tekad.
Sebuah senyum tipis mulai terbentuk di sudut bibirnya, senyum yang sangat mirip dengan Livia. Alyssa merasakan sesuatu yang asing, namun anehnya menguatkan, sesuatu yang perlahan mulai tumbuh di dalam dirinya. Mungkin Livia benar, pikir Alyssa dalam hati. Mungkin kekuatan itu memang diperlukan untuk bertahan di dunia yang kejam ini.
Dengan pikiran itu, Alyssa memalingkan wajah dari cermin dan menatap keluar jendela, ke kegelapan malam yang pekat. Dia tahu, di lubuk hatinya yang terdalam, bahwa pertempuran ini belum usai, dan kali ini, dia tidak akan lari.
Malam itu, Alyssa merasa tidak lagi seperti dirinya yang dulu. Kini, dia adalah cerminan dari bayangan ibunya, seorang yang siap melanjutkan apa yang telah dimulai Livia, meski dengan caranya sendiri.