“Kamu mau jadi pacarku?” katanya di layar ponsel sambil melihat kearah Mila yang sedang terkejut atas ucapannya.
Sarif mengulang ucapannya menyadarkan dia yang langsung mengangguk mengiyakan lalu mereka berbincang dengan sedikit gombalan sehingga salah tingkah. Mematikan sambungan telepon, melanjutkan di pesan WhatsApp selayaknya dunia milik berdua.
Saling mengucapkan janji tidak boleh ada yang selingkuh, berbuat salah apapun bisa dimaafkan kecuali perselingkuhan.
Hari demi hari mereka masih saling bertukar pesan ataupun Video Call setiap malam, rasa rindu tiba-tiba muncul dari salah satu mereka yang langsung diucapkan tetapi sang kekasih tidak merespon dengan baik. Hanya diam dan tidak mempermasalahkan.
Satu bulan kemudian…
Tiba-tiba Sarif tidak bisa dihubungi ataupun tidak ada kabar membuat Mila merasa heran dan kesal karena sifat laki-laki itu yang sangat cuek untuknya. Selalu saja, dia yang memulai pembicaraan. Sebenarnya Mila ingin sekali seperti cewek-cewek yang lain menjadi prioritas bukan tukang badut yang selalu menghibur.
Mila mencari informasi dari teman-teman Sarif tetapi mereka hanya membalas dengan singkat dan tidak ingin ikut campur dalam hubungannya.
“Kamu dimana? Kenapa tidak ada kabar.” setelah mengirim pesan di nomor Sarif tetapi beberapa menit Mila menghapus pesan dengan kesal saat melihat post story yang menampilkan Sarif bersama perempuan di minimarket memotret minuman kesukaannya membuat Mila Screenshoot foto itu lalu mengirimkan ke nomor sang kekasih.
Tes…
Tidak terasa buliran air mata menetes di pipi yang langsung dia hapus cepat sambil menunggu pesannya dibalas Mila merebahkan badan ke kasur miliknya menatap lurus keatas melamun.
Suara dering telepon membuat Mila tersadar segera mengambil ponsel di sebelahnya, terlihat jelas nama Sarif dilayar ponsel membuat dia hanya menatap saja tanpa menjawab telepon tersebut. Ponsel berdering berkali-kali membuat Mila mau tidak mau untuk menjawab panggilannya.
“Akhirnya kamu jawab, aku mau jelasin. Perempuan tadi itu sepupu aku yang baru datang dari luar kota.” jelasnya.
Mila hanya mengiyakan ucapan Sarif dan tidak meminta jawaban pertanyaan di pesannya yang sudah dirinya hapus padahal sudah terbaca oleh kekasihnya. Mereka melanjutkan perbincangan seperti sedia kala dan juga Sarif memberikan kata-kata manis didalamnya agar sang kekasih tidak kesal.
Berpacaran dari virtual dan LDR membuat Mila tersiksa merasakan rindu dan juga iri dengan beberapa temannya yang bisa jalan-jalan berdua sambil bermain senang, yang dirasakan Mila feeling lonely merasa kesepian selalu sendiri. Saat akan ingin bercerita membutuhkan seseorang disampingnya karena ada masalah ke sang kekasih, tetapi pria itu tiba-tiba menghilang entah kemana membuat Mila merasa kecewa.
Menghilang kabar lagi dari Sarif membuat Mila merasa muak dengan sang kekasih, padahal mereka menjalani pacaran LDR dan hanya bisa lewat komunikasi tetapi itu tidak penting bagi kekasihnya.
Sudah berbulan-bulan Sarif putus komunikasi dan Mila sudah terbiasa akan kesendiriannya seperti seorang jomblo sehingga banyak sekali yang berspekluasi kalau Mila tidak punya pacar.
Saat hari itu tiba, dunia Mila terasa runtuh akan tidak percayanya dengan kejadian yang menimpa dirinya. Tiba-tiba foto profil WhatsApp nomor Sarif seorang perempuan yang tidak dikenal dan Mila konfirmasi ke temannya menanyakan siapa perempuan tersebut.
“Aku sudah bilang sama kamu, hubungan LDR itu tidak bisa bertahan dan juga aku ingin sekali bilang kalau Sarif punya pacar disini.” ucap teman Mila yang satu kota dengan Sarif.
Tetesan demi tetesan air mata mengalir, rasa sesak menyeruak dan juga kenangan lewat virtual ponsel akan tidak percaya kalau Sarif selingkuh darinya karena mereka sudah kenal sejak kecil saat masih sekolah dasar di kota sama dan mereka bersahabat sangat dekat seperti lem yang tidak bisa dipisahkan. Mila sangat kecewa karena dengan mudahnya Sarif melakukan perselingkuhan.
Mila melihat isi roomchat dirinya dan Sarif lalu mengirimkan pesan PUTUS yang langsung dibaca dia, tidak mendapatkan balasan pesan Mila lalu mengirimkan pesan lagi ternyata nomor ponselnya sudah diblokir oleh Sarif. Dia makin meresakan kekecewaan dengan Sarif dan juga mulai ada persaan benci di dalam dirinya meskipun dia masih terbayang-bayang akan kenangan di dalam ponsel.
Hidup Mila makin memburuk dan hanya diisi dengan kegalauan darinya dan juga makin telat makan sambil memakan makanan yang pedas-pedas sehingga penyakit Asam lambung Mila kambuh sampai-sampai harus rawat di rumah sakit, pengalaman pertama kali ini Mila di infus. Ternyata penyakitnya bukan hanya Asam lambung tetapi Usus buntu yang harus di operasi membuat Mila makin down tidak percaya gara-gara galauin Sarif dia harus menderita seperti ini.
Setelah operasi Mila tidak bisa beraktivitas seperti biasa sehingga dia harus dirumah terus dan juga tidak bisa makan yang aneh-aneh seperti biasa. Mila sangat menyesal sekali betapa bodohnya dirinya menyakiti diri sendiri karena galau dengan pria yang selingkuh.
Perlahan tetapi pasti Mila sudah mencoba untuk memulai hidupnya yang beraktivitas seperti sedia kala dan mengganti nomor ponsel agar tidak ada jejak virtual dari mantan kekasihnya, dia sudah benar-benar melupakan kejadian tersebut tetapi masih membekas di dalam hatinya.
Sudah dua bulan kemudian hari-hari Mila berjalan dengan baik dan juga karir menulisnya makin berkembang sehingga dia menjadi makin sibuk dengan hal-hal dewasanya. Tidak ada waktu memikirkan lainnya.
Beberapa minggu tiba-tiba ada pesan dari media social Mila yang sangat dia kenali, melihat itu hanya menampilkan senyum tidak pedulinya saat membaca pesan yang dia terima lalu Mila tertawa seperti mengejek sambil menunjuk layar ponselnya.
“Mila, aku minta maaf. Aku bodoh sekali sudah selingkuh dari kamu, perempuan itu ternyata selingkuh setelah beberapa bulan kamu putusin aku. Aku menyesal sudah menyakiti kamu.” katanya.
Tidak ada niat untuk membalas pesan tersebut, Mila malah menghapus pesannya yang baginya sudah sangat tidak penting. Tidak peduli meskipun dulu mereka sangat dekat tetapi Sarif sudah berkhianat darinya dan Mila memblokir semua media social Sarif.
“Aku sudah move on!” gumam Mila bernada pelan kepada dirinya sendiri memantapkan tidak peduli dengan Sarif.
Setelah putus dari Sarif, Mila tidak lagi menjalin hubungan dengan siapapun karena rasa trauma dan kekecewaan masih terasa nyata sekali. Mila tidak peduli dengan kata pacaran ataupun dekat dengan beberapa pria tidak seperti dulu saat masih zaman SMA yang mempunyai banyak teman pria. Mila pasrah dengan pilihan orang tua yang menjodohkan dirinya, karena Mila beranggapan kalau dirinya mencari pasangan sendiri akan salah seperti di masa lalu.
Pernah juga Mila dijodohkan saat masih berpacaran dengan Sarif dan Mila menolak perjodohan itu hanya karena pria tersebut tetapi perjuangan Mila sia-sia belaka untuk mempertahankan pria penghianat dan juga malah mendapatkan amarah dari orang tua serta keluarga karena menolak.
Hancur hanya karena pria jahat dan penghianat hidup Mila berubah hancur berkeping-keping.