Pukul 11.
"HAAAAH! "
Ya Tuhan, aku bangung terlalu siang. Gedabak.....
Gedebuk....
beberapa kali aku terjatuh setelah turun dari ranjang menuju kamar mandi. Buru-buru mandi dan memakai seragam kemudian berlari keluar kamar.
Dengan terengah aku berjalan mengintip ke arah kamar Bos yang tertutup rapat. Kemudian....
"Belum bangun... " ucap Bu Sumi dari belakang ku.
Aku terjatuh karena terkejut, ku tatap wajah wanita paruh baya itu dengn senyum ku yang bodoh.
"Tuan Ali belum bangun, benarkah? " tanyaku.
"Habis sholat dhuha dia suka tidur lagi" jawabnya.
"Sholat dhuha! " aku tak percaya.
"Sudah sana, ke depan, bilang sama Markus kalau kamu baru bangun" ucap Bu Sumi.
Markus! Ahh, si tampan, tinggi dan jutek itu... Otak ku langsung mengingatnya.
Bu Sumi membantuku bangun dan aku pun berjalan ke ruang depan.
Mark dan Hans sedang bicara, terlihat serius.
"Maaf aku bangun kesiangan" ucap ku.
Mark mendelik sementara Hans tersenyum padaku.
"Tidak apa-apa nyonya, tidak ada hal yang penting selain kita pergi ke Mall sore nanti" ucap Hans.
Aku anggap panggilan Hans hanya untuk mengejek ku karena bangun siang.
"Oh ya, tuan Ali bilang begitu semalam" jawabku.
"Semalam? " Hans terkejut kemudian tersenyum.
Sementara si Mark menatap sinis.
"Ganti pakaian mu, sarapan satu roti saja. Nanti kau akan makan dengan tuan Ali di restoran" ucap Mark, cepat dan tegas.
Aku menganga, pikiran ku mengulang kembali ucapan Mark yang cepat.
"Oh ya, baju ganti nya nanti bu Sum yang antar" ucap Hans dengan gaya mempersilahkan nyonya padaku.
Aku mengerutkan dahi, tak paham dengan candaan mereka yang seolah mengistimewakan ku.
Tapi, terserahlah, aku tak peduli. Yang penting, aku sudah punya tugas dari tuan Ali.
Dengan langkah riang aku masuk kembali ke kamarku, tak mau sarapan, tak lapar. Aku duduk di sofa menunggu bu Sumi mengantarkan baju untukku.
Tak lama, ada yang mengetuk pintu kamarku. Pasti bu Sumi, ku bangun dan membuka dan langsung membuka pintu kemudian tersenyum padanya.
Tapi salah, bukan bu Sumi.
"Tuan! "
Ya, Tuan Ali yang berdiri diambang pintu.
Dia menyodorkan sebuah kotak padaku.
"Pakai dan cepat turun, aku sudah sangat lapar! " ucapnya kemudian pergi begitu saja.
Apa? Cepat!
Lapar katanya, bukankah dia sedang tidur tadi?
Aku menyadarkan diriku dari heran, kemudian mengganti pakaian. Tak sempat bercermin, aku hanya memakainya dan turun.
Tapi aku berpikir dalam langkah ku, kenapa tuan Ali memberikan sebuah dress untukku? Bukan pakaian biasa.
Saat aku turun, semua orang memandang ke arah ku. Bu Sumi tersenyum manis dan menunjukkan jempolnya.
"Cepat! " Tuan Ali berseru.
Aku berlari dan hampir terjatuh, Tuan Ali memegang lengan ku. Hampir saja.
Aku menopang pada lengan kekar Tuan Ali.
"Maaf Tuan! " ucap ku.
Tuan Ali menatap kemudian melepaskan ku.
"Hati-hati! " ucapnya, kali ini pelan.
Hans tersenyum padaku, tapi Mark mendelik. Kali ini aku balas mata tajamnya itu dengan cara mendelik ku. Dia tercengang, aku berjalan di depannya tepat di belakang Tuan Ali. Ku sombongkan diri ku dengan berjalan angkuh. Tapi tiba-tiba tuan Ali berhenti mendadak, sontak aku menabrak punggungnya, lagi lagi tuan Ali memegangi ku, kali ini pinggang ku.
Astaga, posisi ini seperti dalam film-film. Bahkan tuan Ali menatap dalam ke mata ku.
"KAU INI BISA HATI-HATI ATAU TIDAK! "
Tuan Ali berseru keras sekali, aku berdiri tegak dan merapikan dress ku.
"Maaf Tuan, tidak akan terjadi lagi Tuan! " ucap ku.
"Kalian tidak usah ikut" tunjuknya pada Mark dan Hans.
Aku bingung, kalau mereka tidak ikut berarti aku pergi bersama tuan Ali saja.
"Siap Bos, ini kunci mobilnya" ucap Hans menyodorkan ke tangan Bos.
Tuan Ali mengambilnya, dia langsung pergi. Sedangkan aku menatap Hans.
"Sudah sana pergi! " bisik Hans.
Aku menurut dan menyusul tuan Ali.
"Cepat masuk! " ucapnya.
Aku masuk dan duduk manis, tapi tuan Ali menatap ku dari kaca spion nya. Dia terlihat kesal.
"Kau pikir aku ini supir mu? " dia berbalik dan terlihat kesal.
"Hehe.. " aku hanya bisa tersenyum.
Buru-buru aku keluar dan duduk di kursi sampingnya.
Tiba-tiba tuan Ali mendekat dan meraih sabuk pengaman di sisi ku. Wajahnta dekat sekali, lehernya yang berurat tercium wangi yang khas. Aku sampai memejamkan mata karena wanginya.
"Saya bisa sendiri Tuan" ucapku tersadar.
"Ini agak rusak, jadi harus lebih ditarik seperti ini" ucap tuan Ali.
Kini nada suaranya pelan, tak terdengar kesal.
Perhatian ku beralih pada mobilnya, benar juga, dia memakai mobil lama, bukan matic yang biasa dia pakai, sesuai cerita Danu.
Hening, selama perjalanan. Aku tidak berani melirik apalagi bertanya kemana kira-kira kami akan makan.
Sudah beberapa restoran dilewati, tapi dia tak menepi.
Sialnya, perutku tak bisa di ajak kompromi. Dia bersuara, krubuk....
"Hmmm... ehmmm" aku menyamarkan suaranya.
Ku lihat dari sisi mataku, tuan Ali menoleh, aku malu sekali.
Tak lama kemudian dia menepi, aku pikir karena suara perutku dia buru-buru menepi. Aku turun dan siap sebelum dia turun.
Tuan Ali membuka tirai separuh restoran itu. Aku masuk dan mereka semua menyambutnya.
"Selamat siang Bos! "
Aku terkejut, ku kira dia random menepi karena suara perutku, taunya memang dia hendak ke sini.
Tuan Ali membuka pintu suatu ruangan, ku pikir itu ruang VIP, pasti, dia akan menemui seseorang di sini.
Aku berdiri di sampingnya setelah dia duduk. Kemudian dia menatap ku.
"Kau sedang apa? " tanya seolah lelah dengan sikap ku.
"Saya berdiri di samping tuan, saya asisten tuan kan! " jawab ku.
"Hmmmm, duduk di sana. Cepat! " Tuan Ali terlihat benar-benar kesal.
"Baik Tuan! " aku menunduk malu, meski tak tahu kesalahan dimana.
Beberapa orang datang, yang memakai pakaian chef dan beberapa seragam restoran itu, membawa beberapa menu.
Mereka menyiapkan semua di atas meja.
Aku menelan saliva ku, jelas sangat lapar. Aku bangun siang dan tak sempat makan apapun.
"Makanlah! " tuan Ali bicara lagi.
Aku tersenyum kemudian berdoa dan meraih sendok garpu ku. Tapi, aku menunggu tuan Ali menyendok untuk dirinya sendiri. Baru aku lanjutkan memilih mana yang ingin aku makan.
Suasana makan siang itu pun hening, suara sendok atau garpu yang terkena piring pun tak ada.
Setelah makan, aku melap bibir ku dengan serbet, baru ku sadari ruangan itu dominan dengan cermin.
Aku melihat diri ku duduk dan makan bersama tuan Ali, seperti layaknya pasangan.
Aku perhatikan warna pakaian kami sama, aku juga terlihat manis dengan dress ini. Aku sedikit malu, ku kaitkan rambut ke telinga ku.
"Biarkan terurai, jangan di ikat" ucap Tuan Ali.
Aku membulatkan mataku,
apa maksudnya?
"Kau sudah selesai makan? " tanyanya.
Menatap ku.
"Sudah Tuan" aku menunduk.
"Kita pergi sekarang" Tuan Ali berdiri.
Aku ikut berdiri dan mengikutinya dari belakang.
Semua pegawai berjejer dan mengantar kepergian kami hingga keluar.
Kami pergi lagi, aku ingin sekali bertanya kemana. Aku bahkan tak membawa tas atau buku untuk mencatat apapun yang penting jika kami bertemu orang penting, layaknya asisten. Aku ingat dia mengatakan akan membelikan ku koper, tapi aku tak berani untuk menanyakannya.
"Ada seseorang yang ingin, maksud ku harus kita temui"
Tiba-tiba tuan Ali memulai percakapan.
"Iya Tuan! " jawab ku.
Entah dia senang atau tidak dengan semua jawaban singkat ku, dia menoleh dan menatapku beberapa saat.
Sampai di suatu tempat, kami turun. Aku mendongak ke sebuah rumah yang cukup sederhana itu. Kemudian salah satu anak buahnya membuka pintu.
Rumah siapa ini?
Kenapa anak buahnya sudah ada di sini?
Ada suara seseorang bicara, tapi tak jelas apa yang mereka bicarakan.
Astaga!
Aku lihat pria itu di ikat, aku belum bisa melihat wajahnya, tapi kurasa dia sudah di pukuli oleh anak buah Tuan Ali.
Apa ini?
Apa dia salah satu musuh Tuan Ali?
Aku menelan saliva, aku harus siap dengan situasi seperti ini.
Aku sudah terbiasa dengan memukul dan dipukul orang, tapi, aku harus benar-benar siap dengan situasi ini. Aku memejamkan mata untuk menguatkan diriku.
"Melati"
Sebuah suara yang tak asing jelas terdengar menyebut namaku. Aku membuka mataku.
'bapak! '
Aku mengucapkan nama itu hanya dalam hati saja.
Tak terasa airmata ku mengalir. Ku alihkan tatapan ku pada tuan Ali yang berdiri di samping ku.
Tuan Ali menatap sebentar, tapi kemudian menghela.
"Ya, dia bapak mu" ucapnya.
'Kenapa? ' tanya hati ku.
"Dia mengambil banyak dari ku, tapi tak sanggup membayar. Jadi.... "
Tuan Ali duduk di kursi di hadapan bapak.
Masih tak ada suara yang keluar dari mulutku.
"Jadi dia menjual mu untuk ku nikahi" lanjutnya.
"Apa? " aku kesal.
Bertahun-tahun dia menghilang, saat bertemu dia menjual ku.
Bapak berlutut di hadapan ku.
"Maafkan bapak Mel, bapak mohon... "
"Punya hak apa kau menjual ku? Kau siapa? Berani-beraninya kau menyebut dirimu bapak pada gadis yang berdiri di hadapan mu ini. Kau mengenal ku? Aku tidak mengenal mu. Dengar tuan, aku bukan barang, aku juga tidak mengenali pria yang kau ikat ini. Apapun masalah antara kalian berdua, itu urusan kalian berdua. Aku tidak ada hubungannya"
Aku berbalik menuju pintu tadi.
"Ok, bunuh saja dia, kubur di pekarangannya" Tuan Ali bangkit dari kursinya.
Langkahku terhenti mendengar ucapannya. Aku terduduk lemas mendengar bapak akan di bunuh. Aku menangis, dadaku terasa sakit sekali. Sesaknya semakin parah hingga aku sulit menahan isak tangis ku.
Aku benci dia, terutama saat dia pergi meninggalkan ibu demi seorang wanita penghibur. Meninggalkan jejak hutang besar yang membuat kami harus membayar setiap bulannya, bukan hanya dengan uang, tapi dengan rasa takut setiap harinya karena teror.
Tapi....
Dia bapak ku.
Bapak menangis memohon padaku.
"Baiklah! " ucapku.
Perlahan aku berdiri dan meraih pintu, aku keluar dan berdiri di sisi mobil. Mengusap airmata ku berkali-kali tapi tetap mengalir saja.
Salah satu anak buahnya datang, memberikan sapu tangan.
"Penghulu sudah datang, nona harus masuk" ucapnya.
"Hmm, iya" jawab ku.
Aku mengaitkan rambutku ke telinga. Teringat ucapan tuan Ali yang mengatakan untuk membiarkannya terurai. Aku semakin kesal, aku menggulung rambutku dan mengikatnya.
Aku masuk, bapak sudah dilepaskan dari ikatannya.
Tuan Ali menatapku.
Aku duduk di sisinya, seseorang datang mengaitkan kain brukat putih ke kepala kami.
"Saya nikahkan engkau, Ali Ahmad Hayyan, dengan putri kandung ku... "
Mataku terpejam mendengar dia mengatakan bahwa aku putri kandungnya. Sungguh ironi bukan? Dia pergi lama, kini datang dan siap menjual putri kandungnya.
"Melati Melviana, dengan mas kawin sebuah cincin dan sebuah kalung berlian"
"Aku terima nikahnya Melati Melviana dengan mas kawin sebuah cincin dan sebuah kalung berlian, dibayar tunai" jawab Tuan Ali tegas dan lugas.
"Sah! " semua orang berkata begitu.
'Sah apanya, jelas aku dijual, bukan menikah atas keinginan ku. Menikah dengan kepala gangster? Sial benar hidupku' ucap hatiku.
===========>>
lanjut ga ya, ga pede 😅