“Alhamdulillah ya, Neng. Anugerah neng Nadira dapat suami baik, sholeh, tampan seperti ustad Wawan. Ibu juga mau jodohin sama anak ibu kalau ustad Wawan punya kembaran. Tapi yang sifatnya sama lho kayak ustad Wawan jangan yang perangainya buruk” Puji Bu Warti, tetangga depan rumah.
Nadira hanya tersenyum mendengar ocehan bu Warti dan beberapa ibu – ibu yang lain. Sedari tadi, ibu – ibu ini suka sekali menggoda Nadira yang baru setahun resmi menjadi istri Wawan. Wawan adalah ustad sekaligus imam masjid di kampung itu.
Pujian demi pujian terus saja terlontar dari mulut ibu – ibu yang berkumpul di bawah pohon jambu bu Warti. Mereka selalu berkumpul di sana mengadakan agenda rutin mereka setiap siang atau sore harinya. Ya, apalagi kalau bukan menggunjing orang. Nadira awalnya enggan berkumpul dengan ibu - ibu ini. Bukan karena ia merasa sok suci atau merasa tak punya dosa. Hanya saja, aktifitas mereka itu, bisa semakin menambah dosa Nadira.
Belum lagi sindiran mereka yang mengatakan jika Nadira tak bisa bersosialilasi padahal istri ustad. Istri ustad harusnya menunjukkan keramahan - tamahan, memberi contoh yang baik untuk masyarakat di sini. ‘Kan Nadira istri ustad terbaik di kampung ini.’ Begitu celetuk salah satu ibu – ibu yang saat ini duduk di samping Nadira.
“Nggak apa atuh, Neng walaupun jadi yang kedua. Yang penting ‘kan, Ustad Wawan berlaku adil sama neng Nadira dan ustadzah Maryam.” Ujar bu Sumiyah.
“Iya, ‘kan enak jadi istri muda. Selalu disayang, dapat duitnya juga pasti lebih banyak dari istri pertama ya, ‘kan neng,” timpal bu Ros, ibu – ibu yang duduk di samping Nadira.
Nadira menarik nafasnya. Ia tak ingin meladeni ucapan bu Ros. Entah kenapa, wanita itu selalu melontarkan pujian yang berbalut iri dengki pada Nadira. Masih jadi pertanyaan dalam diri Nadira hingga kini, apa bu Ros masih menginginkan anak perempuannya yang menjadi istri kedua Wawan? Nadira masih ingat perkataan bu Ros yang menyindirnya saat pertama kali Nadira menginjakkan kakinya di kampung ini.
‘Anak saya itu lebih sepadan sama ustad Wawan. ‘Kan sama - sama S1. Di kampung ini, kami termasuk keluarga terpandang. Ya, harusnya anak saya yang jadi istri ustad Wawan. Sekufu kalau anak saya bilang.”
“Assalamu’alaikum, Zaujati.”
Suara ustad Wawan membuat Nadira terkesiap. Lelaki yang setiap harinya memakai baju koko dan bersarung itu, melangkah mendekati Nadira. Semua ibu - ibu langsung terkesima mendengar suara ustad Wawan. Bahkan sangking terkesimanya, ada salah satu ibu - ibu yang menyuapi bumbu rujak buah kepada teman yang duduk di sebelahnya. Dan anehnya ibu yang disuapi bumbu rujak buah itu, juga membuka mulutnya. Nadira yang melihat hal itu, menahan diri agar tak tertawa.
“Wa’alaikumssalam, Aa’.” Nadira jawab salam suaminya.
“Sebentar lagi magrib. Nggak baik waktu senja begini lama - lama di luar. Kita pulang, yuk.” Ajak ustad Wawan dengan suara lemah lembut.
“Iya, Aa’.” Sahut Nadira. “Ibu – ibu, nuhun rujak buahnya, ya. Saya permisi pulang dulu,” pamit Nadira pada semua ibu – ibu yang ada di sana.
“Sami – sami, Neng.” Mereka menyahut kompak.
“Besok siang kemari lagi, yah. Kita ngerujak buah bareng lagi,” ucap bu Warti.
“Insha Allah, Bu.”
“Permisi ibu - ibu,” pamit Wawan.
“Iya, Ustad.” Sahut para ibu - ibu kompak.
***
Sudah dua hari ini Nadira tak berkumpul dengan para ibu - ibu tukang gosip di bawah pohon jambu bu Warti. Di pengajian suaminya pun tak terlihat. Biasanya Nadira selalu mendampingi Wawan menyampaikan dakwah di masjid yang tak jauh dari rumahnya. Para ibu – ibu itu pun bertanya kemana perginya Nadira selama 2 hari ini. Namun tak ada satupun dari mereka yang tahu dimana keberadaan istri sang ustad.
“Cukup! Nggak usah paksa aku, ya. Aku bilang nggak mau, ya nggak mau!” Teriak Nadira dari dalam kamar.
“Kau ini keras kepala sekali. Inilah yang membuatku ingin menceraikanmu. Kau ini istri yang tak bisa diatur. Berbeda sekali dengan Maryam!”
“Cih. Ceraikan saja jika kau mau. Dari sejak awal pernikahan kita, aku sudah menunggu kata cerai itu dari mulutmu.” Tukas Nadira. Ia luapkan semua emosinya.
“Aku bukan teteh Maryam yang mau menuruti semua keinginanmu. Jadi, jangan kau bandingkan aku dengan teteh Maryam. Karena kami tak sama!”
Prang.
Serpihan kaca vas bunga dan cermin rias berhamburan. Keduanya menyatu di atas lantai. Melihat tingkah kekanakan suaminya, bukannya takut tapi Nadira menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ia sama sekali tak terkejut. Netranya bahkan tak berkedip sedikitpun saat vas bunda itu melayang. Tubuhnya tetap berdiri kokoh di sana. Memandangi punggung suaminya yang meninggalkan suara dentuman pintu.
Inilah salah satu sifat buruk suaminya yang tak diketahui oleh orang banyak. Jika di luar Wawan terlihat sebagai orang yang alim, suami yang lemah lembut dan ketakwaannya tinggi. Orang – orang itu salah! Nadira tahu semua keburukan suaminya. Wawan adalah suami patriarki, kasar, red flag juga kekanakan. Dan yang lebih parahnya lagi, Nadira kerap pergoki Wawan menikahi tangannya sendiri. Bahkan handphonenya penuh dengan video – video vulgar.
Pencitraan yang dilakukan Wawan dan keluarganya, sukses membuat masyarakat percaya bahwa mereka memang keluarga yang agamis. Sudah lama Nadira menahan hati dengan suami dan keluarga suaminya yang toxic. Sudah lama juga Nadira ingin bercerai dari Wawan tapi suaminya yang red flag itu hanya bibirnya saja yang selalu mengucapkan kata cerai tapi ia tak pernah melafazkannya. Nadira tak tahu apa alasannya. Sudah selama satu tahun ini Nadira berjuang mengumpulkan bukti keburukan suaminya yang akan diserahkan ke pengadilan agama. Semua berkas pengajuan gugat - cerai pun sudah Nadira persiapkan.
“Bunda, maafin Nadira, ya. Nadira nggak bisa bertahan dengan menantu pilihan Bunda. Nadira udah nggak sanggup lagi hidup dalam kemunafikan.”
“Iya, nggak apa sayang. Bunda dukung keputusan kamu untuk bercerai. Bunda minta maaf karena udah menjodohkan kalian. Bunda nggak tahu kalau mereka ternyata..”
“Udah, Bund. Nggak usah diterusin. Sekarang Nadira cuma mau fokus menata masa depan lagi. Nadira akan melanjutkan kembali karir Nadira.”
“Apapun keputusan kamu, Bunda akan dukung, Nak.” Ucap bu Nining.
***
Proses sidang perceraian selesai dalam berapa bulan meski dilalui dengan sedikit drama. Wawan tetap tak ingin bercerai dari Nadira meski hakim sudah ketuk palu. Nadira tetap pada pendirianya meskipun Wawan berjanji akan berubah.
Keluar dari ruang sidang persidangan, Nadira menghembuskan nafas lega. Semua beban hati yang selama ini dia pendam, seakan lepas. Sekarang Nadira ingin fokus mengembangkan karirnya di bidang fashion designer. Sebelum sidang perceraian digelar, Nadira sudah membuka butik pakaian muslimah. Baru satu bulan berjalan dan alhamdulillah, beberapa baju hasil desainnya disukai oleh beberapa customer yang sering belanja di butiknya.
Kehidupannya semakin membaik dari hari ke hari. Nadira benar – benar fokus menata masa depannya.
Menikah lagi?
Ah. Nadira tak memikirkannya sama sekali. Ia belum berkeinginan menikah kembali meskipun ada seorang lelaki yang selalu berusaha mendekatinya.
Nadira hanya ingin fokus pada karir, pada hubungannya dengan Allah yang sempat renggang, sewaktu Nadira masih berstatus istri Wawan.