Atara tidak menyangka, camping tahun ini akan menjadi petualangan panjang untuknya. Terbukti sejak bus yang ia tumpangi sampai di puncak. Ia mendengar teriakan-teriakan histeris yang berasal dari hutan di dekatnya.
Sejak Atara berumur 7 tahun, ia mengalami perubahan. Ia menjadi sering mendengar suara-suara yang entah dari mana asalnya. Mungkin memang berada dalam satu tempat, tetapi berbeda alam.
Di keluarganya, tidak hanya Atara yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk ghaib. Kedua sepupunya juga memiliki kemampuan itu.
Sudah menjadi hal yang wajar bagi keluarganya saat mendengar ketiga anak itu berbicara sendiri.
Atara mendengus. Baru saja ia turun dari bus, seseorang sudah memanggil namanya. Bukan orang, tepatnya adalah sosok yang selalu mengikuti Atara kemana pun gadis itu pergi.
"Atara..." bisikan itu kembali terdengar.
Atara mengabaikan. Ia ingin menikmati udara sejuk saat berada di puncak sebentar saja. Ia tidak ingin sosok itu mengganggunya dengan banyak pertanyaan yang Atara pikir, tidak begitu penting.
"Ra..."
Lagi.
Dan kali ini Atara memilih untuk berbalik dan menatap datar ke arah sosok itu.
"Kenapa Ae?" tanya Atara malas.
"Kau tahu, di balik pohon itu ada seorang bocah yang sedang mencari Mamanya, tidak ingin membantunya hem?" Aeden menunjuk sebuah pohon besar yang mungkin berusia ribuan tahun.
Atara kembali mendengus, lalu membalas perkataan Aeden.
"Ae, kau tahu, aku baru saja sampai, dan masih banyak hal yang akan aku lakukan bersama yang lainnya, jadi, lebih baik jika kau pergi sendiri saja"
♨♨♨
"Kelompok dua, Aldrich, Atara, Bryan, Calya, Deon, Edward, dan Frank, tugas kalian mencari kayu bakar di hutan sebelah kanan saya" ucap Miss Gisya.
Atara memperhatikan hutan itu lamat-lamat. Hei. Jika Atara bisa memilih, ia tidak ingin mencari kayu bakar di sana!
Sungguh, Atara tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat ia dan teman satu kelompoknya masuk ke dalam sana.
"Atara, aku takut" bisik Calya.
"Ada Aldrich, Bryan, Deon, Edward, sama Frank yang bakal jagain kita," Atara balas berbisik.
"Tapi gimana kalau mereka ninggalin kita di hutan sendirian?"
"...."
"Ra... aku takut"
Calya benar-benar merasa takut untuk masuk ke dalam hutan itu. Ia merasa ada hawa aneh di dalam hutannya. Calya memang bisa merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata, tapi kadang ia tidak bisa melihat wujud 'mereka'. Berbeda dengan Atara yang bahkan bisa berkomunikasi dengan 'mereka'.
Kelima cowok yang tadi di sebutkan oleh Miss Gisya berjalan mendekati Atara dan Calya.
"Berangkat sekarang aja, keburu malam" ucap Edward.
'Berangkat' itu maksudnya mereka berangkat mencari kayu bakar.
Sekarang memang sudah menjelang malam, karena mereka sampai di puncak sudah siang.
"Iya deh, sekarang aja" balas Atara setuju.
Atara yakin, kalau mereka menunda keberangkatan, mereka sampai di tengah hutan sudah malam. Dan itu buruk untuk mereka.
Setelah semua setuju, mereka segera mengambil senter kecil dari tenda masing-masing.
Kemudian mereka berjalan beriringan menuju hutan yang tadi di tunjuk oleh Miss Gisya.
"Atara..."
Sudah ketebak siapa yang berbisik memanggilnya. Aeden.
Cowok menyebalkan itu datang lagi.
"Hati-hati..." dan setelah itu Atara tidak melihat Aeden lagi. Mungkin hantu itu sedang berkeliling hutan mencari teman sebangsanya.
Atara berbohong jika bilang tidak mempedulikan keberadaan Aeden. Baginya, Aeden itu sahabatnya. Bukan hanya sosok yang bertugas menjaganya.
Aldrich tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Belum.
Mereka belum masuk ke dalam hutan. Dan di depan mereka saat ini adalah perbatasannya. Hanya ada jalan setapak yang mungkin bukan jalan setapak. Di samping kanan dan kirinya di tumbuhi pepohonan dan semak belukar yang sangat tinggi.
Kalau pendek, siapa yang memotong? Orang? Mereka merasa tidak seharusnya membersihkan tempat itu. Mereka tahu ada makhluk lain yang tinggal di dalam sana. Jadi, biarlah makhluk-makhluk itu yang mengurusnya.
Atara menatap ke arah dua pohon besar yang mengapit jalan setapak itu. Tepat di pohon sebelah kiri, Aeden tadi bilang, ada anak kecil yang mencari Mamanya. Tapi sekarang Atara tidak melihatnya, mungkin bocah itu sedang mencari di tempat lain.
"Atara" Frank menepuk pundak Atara pelan.
"Hah? Apa?" tanya Atara.
Ia sedikit terkejut saat Frank menepuk pundaknya tadi.
"Gimana Ra, aman gak?" tanya Aldrich dari depan sana.
Posisi mereka sekarang, Aldrich paling depan, kemudian Bryan, Calya, Deon, Atara, Frank dan Edward paling belakang.
"Umh, lumayan" lirih Atara.
Ia sendiri tidak yakin apakah hutan ini aman atau tidak.
Ya, mereka sudah tahu jika Atara bisa berkomunikasi dengan makhluk seperti itu.
Dengan mengumpulkan semua niat yang ada, mereka mulai menapaki jalan setapak itu.
Atara akan mengingat itu, kedua pohon besar tadi sebagai garis start dan garis finish. Sebelum menemukan pohon itu lagi, Atara tidak akan keluar dari hutan.
"Jalan Al"
♨♨♨
Kayu-kayu yang mereka jumpai di sepanjang jalan setapak sudah terkumpul banyak di dalam karung yang di bawa Deon dan Bryan.
"Istirahat dulu" ucap Aldrich memberi perintah.
Mereka segera mencari tempat untuk duduk. Atara duduk di salah satu akar pohon yang Atara tebak berusia ribuan tahun.
Atara menatap tajam ke arah semak-semak di belakang Calya.
Hey!
Bocah itu ingin mengerjai Calya dengan menarik rambut gadis itu. Bocah laki-laki itu tahu kalau Calya penakut. Tapi ia mengurungkan niatnya setelah mendapat pelototan tajam dari Atara.
Bocah itu mendekati Atara, lalu berbisik.
"Kakak baik, bantu Sam menemukan jasad Sam dan keluarga Sam," bisiknya.
Atara berfikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. Ia bisa memanfaatkan bocah bernama Samuel itu untuk menemaninya keluar dari hutan ini nanti dan memastikan jalan yang mereka lewati benar. Karena tebakan Atara, mereka sudah berjalan semakin dalam ke tengah hutan. Pusat dari makhluk-makhluk itu tinggal.
"Boleh, tapi beritahu aku tempatnya di mana,"
Saat mendengar Atara berbicara sendiri, teman-temannya bergidik ngeri, membayangkan sosok yang berbicara dengan Atara.
Padahal kenyataannya, wajah Sam tidak mengerikan. Hanya wajah pucat juga beberapa sayatan kecil yang meninggalkan darah kering dan—
Atara menemukan itu! Seperti bekas lilitan tali di leher Sam. Ada kemungkinan kasus meninggalnya Sam dan keluarganya adalah kasus pembunuhan.
Oh~
Atara tidak bisa membayangkan betapa kejamnya pembunuh itu. Tega sekali membunuh anak tak berdosa seperti Sam.
"Kakak ikutin Sam ya!"
Tadinya bocah itu hendak menggandeng tangan Atara, tapi diurungkan, karena ia tahu kalau tangannya akan menembus tangan Atara.
"Kalian ikut juga" ucap Atara pada teman-temannya.
Mereka menunjukkan raut enggannya. Bukan malas, lebih tepatnya takut jika terjadi sesuatu saat mereka mengikuti Atara.
Aldrich berdiri lebih dulu, lalu mengikuti Atara. Di susul Calya yang tidak ingin sendirian. Kemudian Bryan, Deon, Frank dan Edward yang tetap berada di belakang. Kayu yang mereka bawa di tinggal di tempat itu. Tadi Aldrich sudah memberi tanda beberapa jalur menuju tempat itu lagi.
♨♨♨
Atara menyalakan senter miliknya. Ia lalu menatap jam berwarna biru yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Jam itu sebenarnya bisa menyala saat di tempat gelap, tapi Atara sengaja tidak menyalakannya.
"HIHIHI..."
Suara tawa itu terdengar sangat keras di sekitarnya. Bahkan Deon yang sebelumnya tidak pernah mendengar suara-suara seperti itu pun mendengarnya.
"Kita semakin dekat" ucap Sam.
"Iya," kita semakin dekat dengan inti hutan ini, lanjut Atara dalam hati.
Atara takut?
Tidak. Atara hanya khawatir kalau-kalau bertemu roh jahat di dalam sana.
"Ada yang gak beres di sini" gumam Aldrich yang bisa didengar Atara karena gadis itu tepat berada di depan Aldrich.
"Apa?" tanya Atara.
Sebenarnya ia juga tahu, tapi ia tidak tahu apa yang dilihat oleh Aldrich.
Jangan heran kalau ketujuh anak itu bisa melihat, mendengar, dan merasakan keberadaan 'mereka'. Karena Miss Gisya sengaja memilih anak-anak itu agar mereka bisa menjaga diri di dalam hutan.
Deon memang jarang bahkan tidak pernah mendengar suara makhluk tak kasat mata itu, tapi biasanya ia bisa merasakan keberadaan 'mereka', sama seperti Calya.
"HUAAA!!!"
Mendengar teriakan Edward, mereka berhenti berjalan, dan berbalik menatap ke belakang.
Seharusnya Edward ada di situ, tapi kenapa mereka tidak menemukannya.
Atara menelan ludah susah payah.
Ia merasa keadaan semakin gawat.
"Satu..."
Aldrich mulai menghitung mundur, tandanya, sekarang mereka benar-benar harus pergi!
"Dua..."
srek srek srek... suara dedaunan kering yang diinjak semakin dekat....
"Tiga... LARI!!" tepat setalah Aldrich menyelesaikan hitungannya, sebuah tangan muncul dari balik semak-semak dan hendak menarik kaki Deon.
Atara tidak mempedulikan ke mana ia berlari, yang penting saat ini ia harus melarikan diri dari tangan itu.
Atara terengah, ia menghentiakn larinya lalu bersandar pada sebuah batang pohon. Ia menatap sekelilingnya. Sam masih berada di dekatnya, tetap dengan wajah pucatnya.
Atara mengernyit, ia menyadari ada yang kurang.
Atara menghitung, hanya ada lima orang. Seharusnya enam, karena yang ditarik hanya Edward.
"CALYA!" seru mereka kompak.
Ini mengejutkan. Atara tidak menyangka kalau Calya yang hilang. Padahal gadis itu berada di belakang Aldrich dan di depan Bryan. Kenapa Bryan, Deon dan Frank tidak tahu kalau Calya hilang?!
"Sekarang gimana?" tanya Atara.
"Kita bantu Sam dulu"
Sam berjalan memutari Atara dan yang lainnya.
"Seharusnya di sini" gumam Sam.
"Apanya?" tanya Atara bingung.
"Jasadku dan keluargaku" jawab Sam.
Atara mulai menatap sekitarnya, mungkin saja ada petunjuk.
Aldrich berjalan mendekati sebuah pohon. Ia lalu menatap ke atas, menatap ke arah salah satu rantingnya yang terlihat kokoh. Aldrich tidak menatap ranting itu, tapi ia menatap ke arah tali yang menggantung di ranting itu!
Tali itu sudah hampir putus, terlihat kotor karena sudah lama sekali menggantung di situ.
"Ini..." Atara menggantung ucapannya saat melihat Aldrich yang sedang mengamati sebuah tali.
"Tali itu!" seru Sam.
Bocah itu menatap penuh kebencian ke arah tali yang menggantung di ranting itu.
Atara mengerti. Tali itu adalah tali yang digunakan oleh pembunuh yang membunuh Sam dan keluarganya.
Mungkin memang benar jasad keluarga Sam ada di sekitar sini.
Saat Frank berjalan mundur, ia merasa kakinya menginjak sesuatu. Terasa sedikit kenyal menurutnya.
Frank berbalik, lalu menatap ke arah sesuatu yang diinjaknya.
"Cuma tangan toh," gumamnya pelan.
Seketika matanya terbelalak saat otaknya berhasil mencerna ucapannya barusan.
"Ra..." panggil Frank.
"Hem?" Atara hanya berdeham karena sibuk mengamati sekelilingnya.
"Ini..."
"Apa Franklyn?!" tanya Atara kemudian.
Sekarang Atara juga membelalakkan matanya saat melihat sebuah tangan yang tinggal tulang dan kulitnya.
Atara mendekat, mungkin saja itu salah satu jasad yang dicarinya.
Atara berjongkok lalu yang lain mengikuti.
Kemudian ia menyibak semak yang menutupi sebagian tangan itu.
"Oh Gosh!" pekik mereka bersamaan.
"Kak Tha..." lirih Sam.
Sam ingin menangis, tapi tidak bisa.
Aldrich dan Deon memindahkan jasad kakak Sam. Namanya Samantha.
Wajah yang mungkin sebelumnya cantik itu kini menjadi berkerut, mungkin karena jasad itu hanya meninggalkan tulang dan kulit yang bahkan dipenuhi luka.
Atara menutup hidungnya. Bau jasad Samantha terlalu menyengat, mmebuat hidungnya sakit.
"Kita harus cepat. Kita juga perlu mencari Edward dan Calya" ucap Atara lalu berdiri.
"Kalian kuburkan di sini juga tidak apa-apa" ucap Sam.
"Tapi kumpulkan kami di tempat yang sama" lanjutnya.
Atara mengangguk.
Ia akan memastikan semuanya baik-baik saja.
Aldrich dan Deon mencari di bagian selatan, sedangkan Atara, Bryan dan Frank mencari di bagian utara.
♨♨♨
Hari semakin malam, dan mereka masih belum menemukan jasad lainnya selain jasad Samantha dan jasad Samuel. Mereka masih harus mencari jasad kedua orangtua Sam beserta kakek dan neneknya.
"Ada makanan Ra?" tanya Deon.
Saat ini mereka kembali berkumpul di dekat tali di mana mereka menemukan jasad Samantha.
Atara mengeluarkan 5 bungkus roti yang tadi ia masukkan ke dalam tasnya.
"Kita istirahat dulu, besok pagi kita lanjut lagi" ucap Aldrich setelah menerima roti pemberian Atara.
Atara melepas sepatunya setelah itu ia membenarkan ikatan rambutnya.
"Bawa korek api?" tanya Frank.
"Nih," Atara menyerahkan korek api yang di bawanya pada Frank.
Beruntung, di sekitar mereka terdapat ranting-ranting dan dedaunan kering. Sehingga bisa digunakan untuk membuat api agar mereka tidak kedinginan di alam terbuka seperti ini.
"Apa yang lain akan mencari kita?" tanya Atara membuka pembicaraan.
Aldrich mengendikkan bahunya, ia tidak tahu. Sekarang yang Aldrich pikirkan adalah cepat-cepat keluar dari hutan mengerikan ini.
"Kak Atara, aku tahu di mana jasad Nenek ku, tapi aku tidak bisa membawanya ke sini" ucap Sam yang tiba-tiba muncul dari atas pohon.
"Di mana?" tanya Aldrich yang kebetulan mendengar suara Sam yang berada di dekatnya.
"Tidak jauh dari sini, tapi..." Sam menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Sedikit berbahaya" gumam Sam sangat pelan.
"Yang bahaya itu kalau kita tidak segera keluar dari hutan ini" Aldrich mendengus.
Ia sebenarnya sangat lelah, ingin segera sampai di tempat perkemahan dan tidur di tendanya.
"Jadi bagaimana? Lanjutkan pencarian, atau istirahat sejenak untuk malam ini?" tanya Deon.
"Istirahat lebih baik. Lagipula ini sudah malam, pencarian akan lebih sulit di malam hari" balas Atara yang sedang menggosok-gosokkan kedua tangannya agar hangat.
Untungnya, Atara tadi memakai sweaternya, jadi bandannya sedikit lebih hangat.
"Matiin!" pinta Aldrich.
Yang Aldrich maksud adalah mematikan senternya.
Bryan segera mematikan senter yang di bawanya. Sedari tadi mereka memang hanya menggunakan satu senter. Senter lainnya untuk berjaga-jaga jika senter yang sekarang dipakai sudah habis baterainya.
"Tidur Ra" ucap Aldrich kemudian.
"Belum ngantuk Al"
Kebiasaan buruk Atara adalah, ia sudah terbiasa tidur menjelang tengah malam. Biasanya, ia asik mengobrol dengan Aeden.
By the way, Atara tidak melihat Aeden sejak masuk ke dalam hutan ini.
Sepi juga ya, tidak ada Aeden di sampingnya.
Tidak.
Atara tidak sedang merindukan cowok menyebalkan itu kok.
Atara hanya merasa ada yang kurang. Itu saja, sungguh.
Atara menatap Deon dan Bryan yang sudah tertidur lebih dulu. Sesekali tangan keduanya menggaruk beberapa bagian yang digigit oleh nyamuk.
"Belum ngantuk Ra?" tanya Frank lalu duduk di samping Aldrich.
"Belum,"
"Belum atau gak bisa tidur?" tanya Aldrich menunjukkan smirknya.
Atara mendengus. Aldrich selalu menebak dengan tepat.
Atara melempar sebuah ranting ke arah Aldrich. Siapa suru cowok itu selalu tahu tentangnya.
"Tidur Ra," lagi, Aldrich meminta Atara untuk tidur.
"Belum ngantuk" dan jawaban yang sama terlontar dari mulut Atara.
"Tidur gak?!"
Oh Gosh, Aldrich kalau berbicara dengan nada mengancam itu sungguh mengerikan.
Atara mengangguk, ia lalu memposisikan badannya dengan benar agar tidurnya nyaman. Sedangkan Aldrich dan Frank kembali ke tempatnya tadi. Mulai berjaga beberapa jam ke depan hingga Deon dan Bryan bangun lalu menggantikan berjaga.
Atara sudah berusaha memejamkan matanya, tetapai suara-suara yang di dengarnya semakin sering dan bertambah keras.
Iya, sebenarnya sedari tadi Atara merasa ada banyak teriakan-teriakan yang bersahutan. Di susul jeritan-jeritan mengerikan seperti orang kesakitan yang akan meregang nyawa.
"Pergi dari sini!" seruan itu tiba-tiba membangunkannya.
Tadi Atara sudah hampir tertidur.
Saat Atara membuka matanya, dilihatnya Aldrich, Bryan, Frank dan Deon sudah berdiri.
"Atara cepat!"
Tanpa berpikir lagi Atara bangun dan mendekati keempat temannya.
"Jangan lihat ke belakang, lari aja ke depan terus, jangan pikirin ujungnya di mana, pikirin aja kalau kita bakal keluar dari sini" ucap Aldrich lalu menarik tangan Atara dan berlari ke arah utara secepat mungkin.
♨♨♨
Atara mulai bernapas lega saat ia bisa bersembunyi di balik semak yang tinggi. Beruntung di hutan ini banyak semak belukar, jadi mudah untuk bersembunyi.
"Deon ke mana?" tanya Bryan tiba-tiba.
"Hah?!"
Atara melihat sekelilingnya, mencari sosok Deon.
"Jangan bilang Deon tadi lihat ke belakang?!"
"Memang kenapa?" tanya Atara yang memang tidak tahu apa-apa sedari tadi.
Wajar saja, ia masih setengah sadar tadi.
"Ada roh jahat yang ingin mencelakai kita"
"Perempuan?" tanya Atara cepat.
"Iya, rambutnya panjang dengan gaun berwarna merah darah" jawab Aldrich.
"Aku sempat melihatnya saat mencari jasad Samantha" ucap Atara.
"Dia tidak berniat melukaimu?" tanya Frank.
"Aku tidak tahu, tapi saat itu dia seolah berkata sesuatu, sayangnya aku tidak mendengarnya dengan jelas"
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Atara kemudian.
Ia sudah sangat lelah. Ia bahkan tidak tertidur lebih dari 5 menit tadi.
"Kalau susah begini, kita lanjutkan saja pencariannya, agar bisa cepat mencari Ed, Calya dan Deon" jawab Bryan.
"Baiklah,"
"Atara..."
Suara ini, sudah berapa jam Atara tidak mendengarnya?
"Ae?" gumam Atara.
Ia tersenyum tipis. Sadar kalau ia tidak akan sendirian untuk menemukan jalan keluarnya.
"Ikuti kata Bryan, dia sepertinya tahu sesuatu," ucap Aeden lalu kembali menghilang.
Aeden tidak bisa berlama-lama di samping Atara, atau ia akan membahayakan keselamatan gadis itu.
"Bryan ya?" gumam Atara bertanya pada dirinya sendiri.
"Jadi, kita ke arah mana?" tanya Frank.
"Kompas!" pinta Aldrich.
Saat berlari tadi, mendadak mereka tidak tahu berlari ke arah mana.
Atara melempar kompas yang ada di saku celananya.
"Ke arah sana!" Aldrich menunjuk ke arah sebuah jalan setapak—tidak. Itu hanya menyerupai jalan setapak karena di samping kanan dan kirinya terdapat pohon dan semak belukar.
Seperti saat awal mereka masuk ke dalam hutan ini.
"Jangan lari...." seruan itu tiba-tiba menghentikan langkah kaki mereka.
Keempatnya serempak menengok ke belakang.
"HUAAAAA!!!"
Atara menjerit terkejut saat melihat di hadapannya terdapat sosok yang mereka hindari.
Perempuan bergaun merah itu!
Berdiri di hadapan mereka dengan tegap. Rambut yang sebelumnya menutupi wajahnya kini tidak lagi menutupinya. Sehingga, wajah menyeramkan itu dapat terlihat dengan jelas.
Bayangkan saja, seorang perempuan bergaun merah berdiri di hadapanmu. Wajahnya terlihat mengerikan dengan banyak lubang dan darah. Bahkan satu bola matanya menghilang entah kemana. Apa yang akan kamu lakukan?
Bryan menatap datar ke arah perempuan itu, dan tatapan itu diamati oleh Atara. Sepertinya benar kata Aeden kalau Bryan tahu sesuatu.
"Kita jangan lari, kalau kita lari, dia akan mengira kalau kita yang membunuhnya" ucapan Bryan membuat Atara, Aldrich dan Frank terkejut.
Hei! Mereka tidak mungkin membunuh perempuan itu! Mereka baru kemarin masuk ke dalam hutan ini.
"Bicaralah!" Bryan memberi perintah pada perempuan bergaun merah itu.
Perempuan itu masih terdiam, hanya memandangi wajah-wajah asing di depannya.
Tak lama kemudian ia berjongkok, lalu meraih ranting dan menuliskan sesuatu di tanah.
Atara, Aldrich, Bryan dan Frank hanya mengamati setiap gerakan perempuan bergaun merah itu.
Setelah selesai menulis, perempuan itu mengarahkan dagunya ke arah keempatnya lalu menunjuk tulisannya tadi.
"Dia meminta kita untuk membacanya" ucap Atara mengartikan maksud si perempuan bergaun merah itu.
Atara mendekat, lalu membaca tulisan yang berantakan itu.
"Bantu saya, saya tidak akan mencelakai kalian jika kalian membantu saya" Atara menjeda ucapannya.
"Kalian hanya perlu mengikuti saya setelah itu kalian akan menghadapi roh jahat yang sebenarnya" lanjut Atara.
Atara mendongak, menatap ketiga cowok di depannya. Ia bingung, mengiyakan atau menolak.
Di satu sisi ia takut tidak bisa keluar dari hutan ini, di sisi lain, ia waspada pada sosok roh jahat yang di maksud perempuan bergaun merah itu.
"Kau mau kami mengikuti mu?" tanya Aldrich kemudian.
Perempuan itu mengangguk singkat.
"Baiklah, kita akan mengikuti mu" lanjut Aldrich.
Sepertinya ini memang keputusan yang tepat untuk mereka.
♨♨♨
Perempuan itu ternyata membawa mereka ke inti hutan ini.
Gawat!
Para roh jahat itu sudah mendekat, bahkan mengepung mereka. Ini seolah jebakan yang sudah di siapkan hantu perempuan tadi.
"Sh*t" umpat Aldrich kesal.
Seharusnya ia tidak mengiyakan tadi.
"Lawan kita sebenarnya adalah mereka, yang tadi hanya perantara untuk menyampaikan pesan saja" ucap Bryan kemudian.
"Hahaha, kalian datang juga manusia!" seruan itu terdengar sangat keras.
Entah hantu mana yang bersuara kali ini.
"Kalian tahu, sedari awal kalian memasuki hutan ini, kalian sudah kami intai!"
"Mulai dari kalian bertemu Sam, kehilangan teman kalian, mencari jasad keluarga Sam, lalu bertemu gadis bergaun merah, dan terakhir, menuju ke sini"
Suara itu kembali tertawa seolah mengejek Atara dan yang lainnya.
"Apa mau mu?" tanya Aldrich.
"Kau bertanya apa mau ku?"
"...."
"Aku ingin membunuh kalian dan menjadikan santapan untuk malam ini!" seruan itu kembali terdengar kencang.
Atara bergidik mendengar itu. Tapi ia tidak takut setelah mendengar ucapan itu.
"Di mana teman kami?!" tanya Frank setengah berteriak.
"Hahaha, teman kalian akan kami lenyapkan jika kalian tidak berhasil menemukan benda-benda yang kami cari"
Atara mengernyit. Ia bingung pada para roh itu, sebenarnya maunya apa sih?
"Kalian ingin kami mencari apa?" tanya Atara.
"Mudah saja, kami ingin kalian mencari kristal berwarna merah yang ada di bagian timur hutan. Dan kristal biru di bagian barat, lalu kristal hijau di bagian utara"
"Serahkan itu pada perempuan bergaun merah saat kalian sampai di tempat awal kalian masuk hutan ini" lanjutnya.
Sekarang mereka ingat, kalau mereka masuk ke hutan ini dari arah utara. Tetapi sekarang mereka harus menyelamatkan Edward, Calya dan Deon terlebih dahulu.
"Baiklah, kami setuju" ucap Aldrich menyetujui.
"Waktu kalian hanya 24 jam, sebelum waktu habis, kalian harus sudah sampai di ujung hutan ini, dekat tempat kalian berkemah"
"Waktunya mulai dari sekarang!"
Mereka segera berlari ke arah timur, seperti petunjuk yang diberikan.
"Gila apa, kita disuruh mencari ketiga kristal itu dalam waktu 24 jam?!" gerutu Frank.
"Menurut ku, tiga kristal itu sama dengan ketiga nyawa Ed, Calya, dan Deon" ucap Atara sambil terus berlari menyusul Aldrich yang berada di depan.
"Maybe.." gumam Frank.
♨♨♨
"Atara, sebelah sini!" seru Aldrich lalu melambaikan tangannya.
Atara yang melihat itu bergegas menghampiri Aldrich.
"Kau menemukannya?" tanya Atara antusias.
"Iya!"
Kristal berwarna merah itu terlihat bersinar karena matahari yang mulai nampak di timur sana.
"Ambil gih!" pinta Frank.
Aldrich mengulurkan tangannya untuk mengambil kristal itu. Namun sayangnya, sebuah tangan dengan kuku tajam mencakar tangan Aldrich yang hendak mengambil kristal itu.
"Al!" seru Atara saat melihat darah yang mengucur deras dari pergelangan tangan Aldrich.
"Ambil dan lari Al!" perintah Bryan.
Sesuai perintah Bryan, Aldrich mengambil dan langsung berlari menyusul yang lainnya.
Mereka berhenti sebentar di dekat sungai dengan aliran air yang tidak deras.
"Sini aku obatin Al" Atara menepuk batu di sampingnya, menyuruh Aldrich duduk di sana.
"Hm,"
Atara mengambil alkohol dan obat merah dari tas yang di bawanya.
Atara membersihkan darah yang terus mengalir itu. Beruntung cakaran itu tidak mengenai pembuluh darahnya.
"Selesai" ucap Atara lalu tersenyum.
"Thanks Ra"
"Your welcome"
"Ekhem" Frank berdeham, menghentikan aksi tatap-menatap antara Atara dan Aldrich.
"Kita harus cepat, besok jam 03.00 am kita sudah harus berada di tempat awal kita masuk" ucap Bryan.
"Ayo!"
Mereka kembali berjalan menyusuri hutan yang luas ini.
...
Mereka sudah berjalan selama 3 jam, dan sekarang sudah jam 08.30 am.
"Minum dulu nih" Atara menyerahkan tiga botol air mineral pada Aldrich, Frank dan Bryan.
Mereka akhirnya kembali istirahat sambil memakan roti tawar dengan selai coklat.
Sebenarnya, kalau mereka tidak dikejar waktu, mereka masih ingin diam bersantai seperti ini. Tapi, sekarang ada yang lebih penting daripada hanya sekadar bersantai.
"Tunggu deh, itu apaan ya?" Frank menunjuk ke arah bebatuan dekat sungai.
Ternyata sungai tadi sangat panjang.
"Kristal biru!" seru mereka bersamaan.
"Tapi kali ini, apa lagi yang akan mengejutkan kita?" tanya Bryan.
"Apapun itu kita tetap harus mengambilnya"
Frank mendekat, lalu mengambil kristal itu dengan cepat sebelum ada makhluk lain yang muncul.
Saat Frank berbalik dan hendak berlari, tangannya tiba-tiba di tarik sehingga Frank tercebur ke dalam sungai. Tapi sebelum itu, Frank melempar kristal yang ada digenggamannya ke arah yang lainnya.
Tatapan mata Frank seolah berkata, "Aku baik-baik saja, kalian harus menyelesaikan ini, agar aku bisa kembali"
Atara yang terkejut hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar.
Bryan mengambil kristal biru itu, lalu memasukkannya ke dalam kantung bersama kristal merah yang tadi.
"Kita harus cepat, mereka akan baik-baik saja kalau kita menyelesaikan ini dengan tepat waktu" Bryan menarik tangan Atara menjauh dari sana.
...
Atara menyibak setiap semak-semak yang di temuinya. Lalu mendengus saat tak menemukan benda yang di carinya.
Oh iya, mereka sudah semakin dekat dengan dua pohon besar yang menjadi tanda pintu keluar hutan ini.
"Kita ambil kayunya sekalian" ucap Bryan yang melihat tumpukan karung berisi kayu yang kemarin mereka kumpulkan.
"Hei! Di sini!"
Atara menemukannya! Kristal hijau itu berada di salah satu ranting pohon sehingga sulit di temukan. Atara saja menemukannya karena petunjuk dari Aeden yang tiba-tiba muncul.
Atara memanjat pohon itu lalu mengambil kristalnya dan melompat turun sebelum akhirnya berlari.
"Lari secepat yang kalian bisa!" seru Atara.
Sebelumnya Aeden bilang, kalau makhluk yang ada di pohon ini lebih mengerikan dari dua makhluk sebelumnya. Ia akan terus mengejar hingga ke pintu keluar, tempat di mana perempuan bergaun merah itu menunggu.
Semakin dekat....
Dan...
Finally!
Atara tertawa pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya karena lelah. Begitu juga Aldrich dan Bryan.
"Mana kristal-kristal itu?" tanya perempuan bergaun merah yang berdiri mengambang tak jauh dari mereka.
Bryan menyerahkan kantung berisi ketiga kristal itu.
"Sekarang, kembalikan teman-teman kami!" seru Bryan.
Dalam sekejap, teman-teman mereka bermunculan dalam keadaan terikat.
Atara, Aldrich dan Bryan segera melepaskan talinya.
"Atara, aku takut..." lagi, Calya merengek lalu memeluk Atara erat.
Atara hanya tertawa pelan.
Sekarang, semuanya sudah berakhir, mereka bebas.
"Maaf, dan terimakasih," ucap perempuan bergaun merah itu sebelum akhirnya menghilang tanpa sisa.
"..."
"Kakak, Sam minta maaf udah bikin kalian dapet masalah, tapi Sam senang, kalian berhasil menemukan jasad kakak Sam. Sekali lagi, sam berterimakasih, dan maaf sudah menyulitkan kalian" ucap Sam yang tiba-tiba muncul bersama seorang gadis cantik di sampingnya.
Itu Samantha, kakak Samuel.
"Sama-sama" hanya kata itu yang bisa mereka ucapkan.
Dan mereka menghilang.
Ketujuh anak itu bergandengan tangan, lalu melangkah keluar dari hutan mengerikan itu. Hutan yang penuh teka-teki yang entah sampai kapan akan terpecahkan.
Mulai dari mana para pembunuh itu, hingga kenapa mereka dibunuh.
Miss Gisya tersenyum melihat anak didiknya sudah kembali.
"Kenapa lama sekali?" tanya Miss Gisya.
"Berapa lama?" tanya Bryan.
"5 jam"
"Hah?"
Mereka tidak percaya. Seharusnya mereka sudah berada di dalam hutan itu selama 2 malam. Sungguh, ini membingungkan.
"Sudahlah, miss tahu kalian sudah mengalami petualangan di dalam sana, istirahatlah, kalian pasti lelah" ucap Miss Gisya.
"Oh iya, kayunya taruh di sana saja" Miss Gisya menunjuk ke arah dekat tenda.
Atara menengok ke arah hutan itu lagi. Ia bisa melihat bocah yang dimaksud Aeden waktu itu. Ia masih mencari Mamanya sepertinya.
Lucu.
Kenapa Atara tidak bertemu bocah itu di dalam hutan?
Padahal Atara berniat membantunya.
"Ra..." suara Aeden memanggilnya bersamaan dengan Aldrich yang juga memanggilnya.
"Hm?"
"Ini sudah berakhir, tenang saja" ucap Aeden.
"Sini Ra!" seru Aldrich.
Ya, ini sudah berakhir.
Tapi tidak sepenuhnya berakhir. Sesuatu di depan sana menunggunya. Menunggu keberanian Atara untuk menyatakan sesuatu.
"Al," panggil Atara.
"Hm?"
"Aku suka.." Atara menggantung ucapannya.
"Suka?"
"Kamu" lanjut Atara.
"Udah tahu kok" Aldrich tertawa pelan.
"Hah?"
"Aku bisa baca pikiran kamu,"
♨♨♨
~End~
4180 kata.
Kesan pertama kalian waktu baca cerita ini gimana?
Seru nggak?
Komen ya~
Kalau sempat aku balas satu-satu komen kalian:)
salam manis dari yang nulis,
~Li