“Kiara!!” Sapa anak lelaki manis berumur 8 tahun itu. Kiara yang tak mengerti hanya terdiam.
Kringggg!!! Bunyi alarm yang cukup nyaring itu langsung membangunkan Kiara, ”Ughh” Kiara langsung mematikan alarmnya. Kiara masih menggeliat di atas kasurnya kemudian terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan semua tingkat kesadarannya.
Kiara langsung teringat dengan mimpinya semalam, mimpi sesosok anak laki-laki yang tak ia kenal, mimpi anak lelaki itu untuk yang kelima kalinya. Aneh, karena Kiara terhitung sangat jarang bermimpi.
‘Aneh banget deh gue mimpi ini, apa ini karena gue suka sama anak kecil?’ batin Kiara.
“Kiara sayang, bangun nak udah pagi, nanti kamu bisa telat lohh!” teriak bunda Kiara seketika membuyarkan lamunan Kiara.
“Iya bun, ini Kiara udah bangun kok!” Sahut Kiara dan langsung beranjak dari kasurnya untuk bersiap-siap ke sekolah.
Sesampainya di kelas 11 IPA 1, Kiara langsung menarik kursinya dan menghempaskan badannya dengan wajah tak semangatnya.
“Kenapa lo dateng-dateng masang tampang cemberut gitu?” tanya Anya.
“Huhh, lo tau gak, akhir-akhir ini gue mimpiin anak bocah mulu,” jawab Kiara seadanya.
“Hahaha, kebelet nikah lo? udah pengen punya anak aja hahaha,” ejek Anya.
Kiara memukul pelan Anya,”ishh mulut lo ya!! ngasal banget kalo ngomong.”
“Hahaha, sorry lagian aneh sih mimpi lo, yaudah lanjutin ceritanya, jangan cuma sepotong doang.”
“Nya, lo tau kan kalo gue ini tipe orang yang jarang mimpi, nah udah lima harian ini gue mimpi anak cowok umur sekitar 8 tahunan gitu lah pokoknya terus tuh bocah nyapa gue mana gak pake embel-embel kak atau mba gitu padahal gue kan lebih tua gitu,” ujar Kiara.
“Mungkin karena lo suka anak kecil jadi itu cuma sekedar mimpi, maybe,” tebak Anya.
“Tau ah bingung gue.”
------------
Kiara melajukan motornya dengan lebih cepat untuk sampai kerumahnya, rumah besar bercat putih itu nampak sepi. Kiara membuka pagar rumahnya lalu menepikan motornya di garasi rumahnya,
kriett..
Kiara membuka pintu rumahnya pelan-pelan. “Ini sebenarnya rumah apa kuburan sih? sepi banget, pasti bunda lagi arisan nih sama temen-temennya,” eluh Kiara.
Kiara langsung meleparkan tasnya ke sofa lalu menghempaskan badannya sambil bermain-main dengan ponselnya.
tringg..
Sebuah notifikasi muncul yang menampilkan sebuah artikel ‘Arti mimpi,sebuah pertanda atau hanya sekedar mimpi?’, Kiara iseng membuka artikel itu dan membacanya. Setelah selesai membacanya Kiara langsung melempar handphone-nya ke sofa kemudian terdiam sesaat.
Apa gue ngelupain sesuatu ya? sebelum terjadi kecelakaan waktu itu? tanya Kiara dalam benaknya hingga Kiara terdiam lagi, Kiara langsung berlari ke gudang yang sudah lama tidak ia masukinya, ‘Gue takut gak sanggup nginget kejadian itu lagi, tapi gue penasaran. Apa gue telpon Anya aja ya?’ batin Kiara sambil mengambil handphone-nya.
tut…tutt.. ‘Ayolah Nya angkat telfonnya’, gerutu Kiara.
“Halo Ra, kenapa nelpon?” Terdengar sayup-sayup suara dari Handphone Kiara
“Nya, cepet kesini bantuin gue!” titah Kiara
“Ngapain?” jawab Anya.
“Temenin gue ke gudang sekarang!”
“What??pleasee, lo gak ada kerjaan sampe segitunya.”
“Udah buruan cepet kesini, ntar lo juga tau.”
“Iya-iya” Anya langsung menutup telponnya.
Setelah beberapa menit kemudian, ting..nong.. terdengar suara bel rumah Kiara berbunyi, ”Kiara, Assalamualaikum!” panggil Anya.
“Waalaikum salam, ayo cepetan masuk,” jawab Kiara sambil membukakan pintu
“Ya Allah, sabar napa baru nyampe nih, ambilin minum kek seenggaknya,” eluh Anya.
Kiara menghela napas pasrah, “iya deh gue ambilin, mau apa?”
“Es teh ya, pake gula tapi jangan banyak-banyak plus gak pake lama ya bi” jawab Anya dengan lagak seperti majikan.
“Astagfirullah, sabar saya punya temen laknat kek kamu” Kiara menggeleng pelan lalu membalikkan badannya menuju dapur.
“ Nih!” Kiara menyodorkan satu gelas es teh.
“ Satu gelas doang? kenapa gak setermos aja?” protes Anya.
Kiara mendecak, “banyak maunya lo kek emak-emak yang lagi nawar di pasar, udah cepetan minum terus bantuin gue,” titah Kiara. Kiara dan Anya langsung menuju gudang.
“Ayo masuk!”
cklek..pintu gudang terbuka.
“Sumpah suasananya gak enak banget, udah berapa tahun gak pernah dibersihin sih?” eluh Anya mencium aroma debu.
“Yaelah, namanya juga gudang dibersihin sampe 1000 kali pun tetep bakal kotor lagi,” jawab Kiara menoleh pelan.
“Nih pake maskernya.”
“btw, kita mau nyari apaan?” Anya terdiam sejenak.
“Nyari something yang penting.”
“Contohnya?”
Kiara tampak menimang-nimang, “kayak diary book atau foto? atau something yang berharga. Lo inget kan? dulu gue pernah cerita tentang kecelakaan yang pernah gua alamin waktu kecil,” Kiara kembali teringat dengan kenangan buruk itu yang telah merenggut nyawa kakak dan mama kandungnya.
“Ya, dan karena itu lo ngalamin amnesia sebagian kan?”
“Yups, dan mau nyari barang-barang berharga buat gue yang gak gue inget sama sekali karena amnesia itu.” Kiara menatap lurus kardus-kardus barang di depannya.
“Oke.”
---------
Tak terasa sudah satu jam mereka sibuk mencari, “Ah cape, daritadi gak nemu sesuatu yang wah.” Anya menyeka keringatnya.
Kiara menyerah, “Yaudah, lanjut besok lagi deh, sejujurnya gue masih penasaran tapi yaudah lah gak usah dipaksa.”
“I agree with u my dear” Anya mengacungkan jempolnya
----------
Keesokkan harinya sepulang sekolah Anya dan Kiara berencana ke kafe tak jauh dari sekolahnya, ”Yakin nih ke kafe ini? gak ke kafe biasanya aja? tanya Kiara berusaha meyakinkan.
“Gue kemaren direkomendasiin ke sini sama Mike, ayolah gak ada salahnya nyoba kan?” tolak Anya sambil mendorong pintu masuk.
“Silahkan!” pelayan itu menyodorkan buku menu di tempat pemesanan.
Kiara terbengong melihat pelayan laki-laki yang sebaya dengannya, “Ra, lo mau pesen apa?” tanya Anya.
Kiara masih terdiam, ”Woy Ra! malah bengong lo! lo mau pesen apa?” sikut Anya.
“Eh i-ya,” Kiara langsung mengambil buku menu yang Anya pegang “gue pesen nasi goreng satu sama strawberry milkshake.” Kiara mengembalikan buku menu itu ke pelayan.
“Ra, lo kenapa deh bengong ngeliatin pelayan tadi? naksir ya? hahaha iya gue akuin itu cowok emang cakep,” cecar Anya setelah pelayan tadi pergi.
“Nya, pokoknya kelar makan lo harus ikut gue kerumah!”
“ Jangan bilang bantuin lo nyari-nyari lagi di gudang.”
“Iyapss, that’s true. Nya sumpah tuh cowok mirip banget sama anak kecil yang dimimpi gue, rasanya itu cowok versi gedenya.” Kiara menatap Anya serius.
“Seriusan? oke kalo gitu gak usah pake lama lagi, kelar makan langsung otw.”
-------
“So, kardus mana lagi yang belom kita bongkar?” tanya Anya setelah berada di gudang.
“Kardus itu,” tunjuk Kiara ke arah kardus di atas lemari usang.
“Oke, gue yang ambilin. Lo pegang kursinya yang bener!” Anya menyeret kursi yang ada di gudang dengan dibantu KIara memegang kursinya.
Bruk.. Anya menaruh kardus itu dengan cepat, “berat banget sih, apa sih isinya? langsung buka ya?” tanya Anya meyakinkan. Kiara mengangguk dengan pasti.
Terlihat sebuah bingkai foto dua anak kecil berada di paling atas kardus, “Ra, ini foto lo waktu masih kecil kan?” Anya langsung menunjukkan foto itu.
“Iy-” Kiara terlonjak kaget “Nya ini anak cowok yang ada dimimpi gue!” histeris Kiara.
“Sumpah?” Anya langsung merebut foto itu, mencoba mengeluarkan foto itu dari tempatnya dan membalikknya “Ra, ada tulisannya dibelakang, sahabat sejati Kiara Zevanya-Sena Nathaniel.”
Kiara langsung berlari keluar dengan membawa foto itu disusul Anya yang mengejarnya. ”RA, LO MAU KEMANA?!” teriak Anya.
“Gue mau nemuin orang tadi!” Kiara menyalakan motornya.
“Hah!lo serius? kalo lo salah orang gimana?”
“Gue yakin! feeling gue gak pernah salah!” Kiara mencoba memundurkan motornya
“Yaudah gue ikut!”
Kiara berlari sekuat tenaga setelah memarkirkan motornya, “RA, TUNGGU!!”
Terlihat pelayan laki-laki tadi sedang mengelap meja, tak perlu pikir panjang Kiara langsung menghampirinya.
“Maaf, nama lo Sena Nathaniel?” tanya Kiara sambil menyodorkan foto itu.
Pelayan laki-laki itu terdiam sejenak kemudian melihat foto yang Kiara pegang “bukan”, dia terdiam sejenak “tapi dia adik kembar gue.” Kiara terlonjak kaget, sedangkan laki-laki itu menatap Kiara serius.
“Lo Kiara Zevanya ya?” tanya laki-laki itu.
“E-eh kok lo bisa tau?”
Laki-laki itu melirik jam tangannya, “lima menit lagi shif gue selesai, lo tunggu di sini ya. Gue mau ganti pakaian dulu,” titah laki-laki itu.
“Ayo ikut gue ke rooftop, gue bakal ceritain semua hal menjadi pertanyaan lo.”
“Jadi, dimana Sena?” tanya Kiara setelah berada di rooftop.
“Sebelum gue ceritain semuanya, gue mau memperkenalkan diri dulu. Nama gue Sean Nathaniel, panggil aja Sean” Sean menghela napas sejenak, “Sena, dia udah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia mengalami depresi berat dan ngelakuin suicide karena kedua orang tua kita bercerai, dan… sahabat dia satu-satunya yang dia punya justru malah gak inget dia sama sekali, padahal di waktu itu dia butuh banget sahabatnya itu, tapi yang ada malah pergi ninggalin dia gitu aja,” jelas Sean.
“Dan sahabat satu-satunya itu adalah gue?”
“Iya,” singkat Sean. Sean menyodorkan sebuah foto dan buku diary milik Sena kemudian pergi meninggalkan Kiara sendirian yang terjatuh bertekuk lutut dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.
*TAMAT*