"Hm.. akhirnya aku menemukanmu." ( Bukan lagu ya jadi jangan nyanyi ) Kata seorang lelaki yang berdiri di depan butik melihat seorang wanita yang tengah duduk dibalik meja kerjanya di lantai dua.
Si anak kecil yang dulu ia temui bertubuh gempal dan pendek kini bertransformasi menjadi seorang wanita yang begitu cantik. Selain fisiknya dia juga mempunyai kemampuan yang tak main-main di bidang fashion.
Karena keuletan dan kegigihan yang ia miliki mampu mengantarkan kakinya menuju kesuksesan.
Bukan hanya itu dia juga mempunyai sifat yang begitu ambisius mengenai sesuatu hal maka dalam kamusnya apapun itu harus tercapai dengan maksimal.
Tanpa lantaran sebenarnya semua karena rasa dendam dengan masa lalunya yang seperti butiran debu terabaikan begitu saja.
Ialah si Jeana orang yang dulu menjadi korban bullying oleh Jordan. Karena tubuhnya yang gempal dan pakaian yang tidak menutup tubuhnya sempurna, bukan untuk membuat orang terkesan. Namun karena keadaan ekonomi orangtuanya yang sulit membuatnya mengenakan pakaian seadanya.
"Ayo sayang! Mami kamu sudah ribut telepon terus minta foto fitting baju kita." Paparnya menyodorkan ponsel berisikan chatting dan telepon kepada sang kekasih.
Perkataan Michelle sukses membuyarkan kenangan masa lalu Jordan.
Jordan hanya mengangguk mengikuti kekasihnya menuju sebuah butik di hadapannya. Michelle beberapa kali kembali menoleh karena sang kekasih yang jalan begitu lambat.
Akhirnya ia menarik lengan sang kekasih agar segera masuk ke dalam butik tersebut.
NA Beauty ( Fit & Chick at Your Body )
Begitulah nama yang terpampang di depan ruko yang terletak di sebuah jalan pinggir Kota. Bangunan yang berada di paling ujung gang dengan design klasik berwarna putih tulang di dominasi oleh atribut kayu membuat kesan tersendiri.
Deretan lain terdapat cafe & restauran tak jarang juga terdapat butik tak kalah mewah.
Ruko tersebut terdiri dari dua lantai berukuran kurang lebih 3x2 meter persegi.
Lantai satu ia gunakan untuk ruang kerja dan ruang pribadi sedangkan lantai bawah ia gunakan sebagai Outlet.
Sampai di depan pintu ruko mereka di sambut oleh dua orang pegawai toko. Sang pegawai laki-laki lantas segera membukakan pintu disusul pegawai wanita berseragam rapi dari belakang memberi salam.
"Selamat Datang Tuan dan Nyonya di Na Beauty ada yang bisa kami bantu? Apakah sudah membuat reservasi sebelumnya?" Sapa sang pegawai wanita dengan sopan.
Pegawai wanita pun memberanikan salam seperti biasa karena saat pagi tidak ada briefing khusus yang sesuai dengan wajah Nyonya di hadapannya.
"Cih! Apa kalian tidak mengenalku kenapa aku masih repot menunjukkan identitas ku!" Teriaknya dengan bersedekap dada.
Dua orang pegawai tersebut tersentak kaget mendapati keluhan sang customer. Merekapun berusaha mengingat siapa kedua orang yang di hadapannya tersebut.
"Maafkan kami Nyonya dan Tuan." Tunduknya mengucap dengan terbata, karena merasa tidak profesional lupa dengan customer.
"Sudah jangan hiraukan." Suara lembut Jordan menengahi situasi. "Dia juga tidak begitu terkenal." Baiknya kembali yang akhirnya mendapatkan pelototan dari Michelle.
"Ah! Maaf aku bercanda. Tolong antarkan kami untuk meeting baju atas nama keluarga Malaka." Ucap Jordan
Kedua pegawai tersebut lantas mengangkat wajah menoleh ke arah Jordan kemudian mereka saling pandang. Sedetik kemudian mereka kembali meminta maaf.
"Maaf Nyonya Michelle dan Tuan Jordan kami tidak mengetahui, tadi pagi kami di beritahu namun yang akan datang adalah Nyonya Bonita. Mari kami antar ke ruangan fitting." Ucap Nina kemudian berjalan untuk menunjukkan arah ruangan yang di maksud.
Michelle melenggang begitu saja dengan angkuhnya, lalu segera melepaskan tangan yang melingkar di lengan sang kekasih.
Ia lalu dengan percaya dirinya masuk ke sebuah ruangannya dengan banyak koleksi gaun pengantin. Ada sekitar tiga gaun dengan design berbeda berjajar di beberapa manekin. Namun Michelle terus berjalan dan hanya menoleh sekilas pada kedua pegawai yang berdiri di antara manekin tersebut, mereka bermaksud menunjukkan koleksi pilihan Nyonya Bonita.
Hingga netranya berhenti di satu gaun pengantin yang begitu menarik hatinya.
"Wah itu cocok sekali denganku!" Ucapnya kegirangan.
Michelle segera mendekat tangannya menjulur untuk membuka pintu etalase di hadapannya. Beberapa kali ia mencoba tapi rautnya yang bahagia berubah masam.
Pintu tersebut di kunci tanpa bisa ia buka.
"Loh! Kenapa gak bisa ini? Sayang aku mau yang ini!" Rengeknya meminta pada Jordan yang tengah menunggu di sofa ruangan tersebut.
Jordan yang duduk lalu mengarah pandangannya ke pegawai sebagai kode untuk membukakan pintu etalase tersebut.
Nina tiba-tiba terkejut ia bingung takut juga kena omel lagi oleh Nyonya Michelle namun ia juga lebih takut kena omel sang Nona Jeana.
"Maaf Tuan namun gaun yang terdapat di etalase tersebut tidak di jual." Ucap Nina mencoba menjelaskan
"Saya akan membayar berapapun harganya." Tegas Jordan menatap Nina.
"Maafkan saya Tuan tapi itu pesan dari atasan kami." Jelas Nina kembali dengan wajah sedikit gugup
"Ah sayang aku mau ini gak mau yang lain!" Teriak Michelle yang kemudian mengubah wajahnya menjadi berkali-kali lipat kesal.
"Tolong panggilkan atasanmu aku mau bicara." Pinta Jordan mengakhiri.
Nina akhirnya keluar dari ruangan menuju lantai atas untuk menemui Nona Jeana. Setelah menjelaskan tentang keinginan customer untuk membeli gaun tersebut. Akhirnya Jeana mengikuti Nina untuk menemui sang Customer.
"Kenapa sih mami kamu milih butik jelek kayak gini, sekali bagus gak boleh di beli. Dasar aneh!" Gerutu Michelle menghampiri Jordan.
"Jangan gitu lah, jaga ucapanmu. Setahuku pilihan mami dari dulu selalu bagus." Bela Jordan menanggapi rengekan sang kekasih.
Sebenarnya Jordan sudah jengah untuk menghadapi sikap Michelle yang terkadang kelewatan dan manja meski dari segi fisik Michelle mendekati sempurna untuk seorang pendamping. Namun ia lebih jengah menghadapi tuntutan untuk menikah dari sang mama.
Tidak lama seorang wanita dengan penampilan santai namun terlihat elegan berjalan ke arah ruang fitting. Rambut yang diikat bak ekor kuda entah bagaimana bisa membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.
"Maaf Tuan Malaka, ada yang bisa kami bantu?" Tawaranya dengan sopan dan ramah.
Jordan yang semula duduk bermain gawai reflek berdiri saat mendengar suara Jeana. Ia terpaku menatap dari berbagai sudut namun pandangan tersebut tidak bisa di artikan maknanya.
"Nana?" Sapanya dengan lirih.
Jeana hanya menelan salivanya mencoba untuk bersikap profesional. Namun berbanding terbalik dengan fikirannya yang melayang kembali ke masa lalu. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali mencoba mengusir bayangan di otaknya.
"Hei! Kalian kenapa sih! Cepat buka etalase nya aku mau gaun itu sekarang!" Perintahnya dengan penuh penekanan kepada Jeana.
"Boleh saya membeli gaun tersebut, saya tidak masalah berapapun harganya." Imbuh Jordan saat tersadar dengan fikirannya yang traveling.
"Maaf Tuan seperti yang sudah di sampaikan oleh pegawai saya bahwa gaun tersebut tidak di jual. Hanya pria yang berkomitmen dan mau mengikat janji suci seumur hidup yang boleh membelinya. Karena itu gaun milik saya." Jelas Jeana yang akhirnya mengalihkan pandanganya pada etalase.
Butuh waktu lama untuk Jeana membuat gaun pengantin tersebut, dari sketsa sampai memasang pernik ia lakukan sendiri. Sebenarnya itu gaun yang mirip dengan milik almarhum sang mama. Ia berharap gaun tersebut ia gunakan saat bertemu dengan laki-laki yang tepat dan memberinya kasih sayang penuh.
"Wao! Maksud kamu?" Tanya Michelle meminta penjelasan lebih.
"Maksud saya itu tidak akan pernah saya jual dengan harga berapapun karena itu gaun yang saya rancang khusus untuk saya sendiri. Maaf bukan sengaja memajang barang yang tidak di jual tetapi karena lantai atas sedang dalam perbaikan jadi sementara etalase ini saya titipkan di outlet. Oiya Maaf sebelumnya Nyonya Michelle, namun saya mendapatkan mandat dari Nyonya Bonita bahwa anda harus mencoba beberapa gaun pilihan Beliau." Imbuh Jeana yang sudah sedikit enggan menanggapi rengekan Michelle
"Tapi sayang aku mau itu!" Rengek Michelle tetap teguh dengan pilihannya yang kini sudah bergelayut di lengan sang kekasih.
"Sudahlah ambil sesuai rekomendasi mami saja, atau kita batalkan saja pernikahan ini." Ancam Jordan yang sudah merasa sebal.
"Ih Awas Ya! Aku bilangin sama mami." Gertak Michelle lalu pergi begitu saja menuju ruangan ganti. Kemudian dua orang pegawai langsung mengikuti setelah mendapat kode dari Jeana.
Setelah kepergian Michelle tersisa Jeana dan Jordan sekarang berdiri di depan sebuah tirai hitam yang tertutup.
Entah Jordan maupun Jeana masih mereka masih berdiri mematung dengan fikiran masing-masing.
"Kamu belum menikah ternyata." Kata Jordan membuka percakapan.
"Belum Tuan, apa anda mengenal saya sebelumnya." Jawab Jeana balik bertanya.
Bukan menjawab namun Jordan malah mengambil dompet yang berada di sakunya. Ia langsung mengeluarkan sebuah kartu nama dan di sodorkan kepada wanita di hadapannya.
"Tolong hubungi aku di nomor ini, agar aku bisa menjawab pertanyaan mu." Ucapnya lalu tersenyum.
Jeana masih mematung menimbang apakah harus menerima atau tidak kartu nama tersebut. Namun di sisi lain dia terpana dengan senyum yang terukir di wajah Jordan.
"Tolong ambillah, saya tidak ingin ada penyesalan." Imbuhnya lalu menarik tangan Jeana untuk meletakkan kartu nama yang tak kunjung di ambil.
"Tapi-" ucapnya Jeana namun tertahan saat tirai hitam di hadapannya tiba-tiba terbuka lebar. Terlihat seorang wanita yang begitu anggun di balut gaun pengantin dan mahkota berdiri di hadapannya.
Kapan gilirnaku.
Batin Jeana merana memikirkan nasibnya, ia akan selalu begitu saat melihat para customer nya mencoba gaun hasil rancangannya.
"Gimana sayang?" Tanya Michelle antusias.
"Not Bad." Jawab Jordan singkat.
"Ih! Ganti!" Ucap Michelle yang langsung membuat kedua pegawai menutup tirainya.
Jeana hanya mengulum senyum dengan tingkah Michelle yang ia rasa seperti anak kecil. Kemudian ia berpamitan dengan Jordan untuk kembali ke ruangannya.
Jordan hanya mengangguk dengan pasrah, ia lalu mengamati Jeana yang hilang di balik tangga.
Sebulan telah berlalu namun Jordan masih gusar melihat layar ponselnya karena Jeana belum sekalipun menghubunginya.
Begitupun sama dengan keadaan Jeana sama gusarnya karena ia bingung untuk menghubungi Jordan apakah keputusan nya benar atau tidak. Kemudian Jeana mencoba mengingat dan mencari informasi tentang latar belakang Jordan. Berkali-kali ia mencapai namun tidak kunjung menemukan titik terang, di internet hanya muncul berita bahwa pewaris tunggal Malaka dua Minggu lagi akan segera melangsungkan pernikahan dengan anak pemilik Klinik kecantikan ternama.
Di bukanya satu foto milik Jordan yang sedang menggunakan baju basket, ia terlihat gagah menurutnya dengan satu tangan memegang bola. Entah kenapa hatinya berdenyut ada rasa yang aneh.
Namun imajinasinya harus berhenti ketika ponselnya tiba-tiba berdering menampilkan beberapa nomor. Tanpa berfikir panjang dia segera menggeser ikon berwarna hijau untuk mengetahui siapa pemilik nomor tersebut.
"Halo, dengan siapa ini?" Tanya Jeana setelah panggilan terhubung.
"Hai, Nana. Bisa kit bertemu sekarang di cafe sebelah butikmu saja." Kata laki-laki di seberang telepon.
"Baiklah." Jawab Jeana yang tiba-tiba lidahnya terasa kelu saat teringat suara tersebut.
Sebenarnya Jeana enggan namun lidahnya selalu berbanding terbalik seolah ada sihir yang menghipnotis nya.
Dia juga penasaran tentang siapa anak Nyonya Bonita ini sebenarnya.
Di tambah status Jordan yang sebentar lagi akan menikah membuatnya makin bingung.
Disini Jeana duduk di ujung cafe sebelah butiknya, kali ini topi hitam dan Hoodie menjadi atribut pelengkap yang membalut tubuhnya. Untung cafe ini menggunakan AC bayangkan jika tidak waktu siang seperti ini sangat terik membuat suhu tubuh ikut naik.
Jeana mengedarkan pandangan dengan hati-hati sudah seperti maling yang takut kepergok.
Jordan langsung berjalan ke arahnya saat mendapat kode lambaian tangan. Ia mengulum senyum saat melihat penampilan Jeana yang menutup tubuhnya rapat.
"Sudah lama?" Bisik Jordan tepat di samping telinga Jeana saat dia berhasil duduk di sampingnya.
"Eh! Harus ya duduk di sini? Saya gak mau ya di sangka selingkuh dengan Tuan kali ada yang lihat!" Tegas Jeana celingukan melihat ke seluruh ruangan, ia takut ada seseorang yang mengenal mereka.
Jordan masih terdiam di tempatnya, senyumnya tertahan melihat Jeana dari dekat entah kenapa membuat hatinya merasa begitu nyaman.
Tingkah polosnya juga menambah nilai tersendiri untuk seorang Jeana.
"Apa lihat-lihat? Langsung ke intinya saja saya banyak kerjaan. Iya tunggu kenapa bisa dapat nomor saya?" Tutur Jeana yang kemudian menyelidik.
"Jangan panggil aku Jordan kalo gitu aja gak bisa, bahkan dapetin kamu aja aku juga bisa." Goda Jordan langsung menyedot minuman di hadapannya hampir tandas lalu ia menyodorkan sebuah foto seukuran dompet kepada Jeana.
"Jangan aneh-aneh deh! Langsung ke intinya saja!" Protes Jeana yang merasa tersipu namun ia tahan.
"Apa hubungannya kamu dengan masa lalu ku, kenapa kamu bisa menyimpan foto ku?" Lirihnya mengusap sebuah foto yang mulai usang foto seorang anak kecil bertubuh gempal.
Akhirnya Jordan mulai menceritakan masa lalunya saat pertama kalu bertemu dengan Jeana. Bagaimana Jordan yang harus tinggal di tempat sang nenek di desa yang sama dengan Jeana. Saat itu Jordan begitu kesulitan mencari teman. Hanya Jeana yang mau berteman dengannya, namun teman satu kelas Jordan tiba-tiba mengajaknya berteman. Tapi dengan syarat Jordan harus mengejek Jeana si gadis kecil yang menjadi temannya.
Akhirnya Jeana sedih dan marah dengan perkataan Jordan lantas ia enggan lagi bertemu dengan Jordan.
Beberapa Minggu setelahnya orangtua Jordan memutuskan untuk mengirim Jordan ke luar negeri karena suatu hal.
Saat liburan Kuliah Jordan kembali namun naas teman yang satu mobil dengannya menabrak seorang laki-laki paruh baya. Sebelum ajal menjemput ia sempat memberikan foto dan berpesan untuk menjaga sang anak. Dan ternyata ia adalah ayah dari Jeana. Jordan tidak sempat untuk melayat karena orangtuanya langsung mengirimnya kembali ke Luar Negeri demi keamanan bisnis sang ayah.
"Dan satu lagi, aku telah membatalkan pernikahan ku dengan Michelle. Awalnya mama menentang namun setelah tau tabiat sang calon mantu kesayangannya itu dia maju paling depan untuk membatalkan pernikahan kami." Ucap Jordan mengakhiri ceritanya dengan sumringah.
Jadi ini maksud ayah, ternyata aku tidak menghayal dia benar datang ke mimpiku. Batin nya menilai lalu mengusap fotonya.
Jeana bingung mau mengekspresikan seperti apa setelah mendengar cerita Jordan. Ia bahagia namun juga malu menatap laki-laki di sebelahnya.
Dua bulan telah berlalu, sejak cerita Jordan di cafe waktu lalu mereka sekarang begitu dekat. Tidak jarang mereka menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan atau jalan. Belum dikatakan sebagai sepasang kekasih namun mereka begitu akrab sebagai teman.
Apalagi sang mama begitu mendukung karena ia juga dekat dengan Jeana. Namun Jordan menunggu situasi pasca pernikahan nya yang gagal mereda.
Ia enggan tergesa sebab usaha butik milik Jeana sedang berkembang pesat, ia juga takut jika Jeana jadi mangsa publik.