Pagi mendung, cuaca di pagi ini cukup gelap. Rasanya malas untuk aku melangkahkan kaki pergi ke sekolah, tapi mau bagaimana lagi, hari ini aku ada ulangan harian di sekolah. Terlebih... guru yang mengajar adalah guru yang aku sukai, aku tidak ingin terlihat buruk di depan guruku itu.
Namaku Aisyah Humaira, yap, sama seperti nama istri Rasulullah Saw. Aku juga sangat mengagumi ibu umat Islam itu, tak hanya cerdas dan rupawan, beliau juga adalah istri yang sangat disayangi oleh Rasulullah setelah wafatnya Khadijah. Masya Allah.
Sampai di kelas, tak banyak teman-temanku yang datang, sepertinya karena cuaca yang tidak mendukung ini. Aku langsung duduk di kursiku, menunggu bel kelas berbunyi, 2 menit lagi.
"Aisyah," panggil salah seorang temanku, namanya Greyna. Dia bule, non muslim. Tapi dia teman baikku.
"Ya Grey?" tanyaku balik.
"Apa kamu sudah belajar?" tanya Greyna antusias.
Aku mengangguk pelan. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya mau memastikan hahaha. Ya sudah Aisyah, bel mau bunyi, aku keluar dulu! Dah!"
Aku tersenyum tipis, melambaikan tangan pada Greyna. Hari ini adalah ulangan harian agama Islam, tiap jam mata pelajaran agama Islam, Greyna selalu keluar kelas. Sebenarnya guru agama kami-- guru yang aku sukai, ibuk Khadijah tidak mempermasalahkan Greyna tetap di kelas, menyimak pelajaran. Hanya saja Greyna merasa tidak enak, dia memutuskan untuk keluar saja dari kelas saat jam pelajaran agama Islam.
Setelah Bu Khadijah masuk, lembar soal ulangan langsung dibagikan. Aku menjawab soal dengan hati-hati, agar tidak ada yang terlewatkan.
10 soal, 1 jam waktu yang diberikan Bu Khadijah untuk menjawab. 40 menit yang lalu aku sudah duluan mengumpulkan jawaban, pastinya setelah aku baca ulang.
Bu Khadijah tersenyum tipis saat menerima lembar jawabanku. "Kamu duluan lagi Aisyah, bagus."
Aku sangat senang saat dipuji Bu Khadijah.
Waktu ulangan habis, Bu Khadijah membuka materi baru, tentang perempuan.
"Anak-anak ibuk sekalian, kalian tau apa fitnah terbesar di dunia ini?" tanya Bu Khadijah.
Teman-teman saling tatap, menggeleng.
Bu Khadijah tersenyum tipis, menoleh padaku. "Kamu tau Aisyah?"
Aku mengangguk pelan. "Perempuan, Bu."
"Ada yang tau kenapa perempuan?" tanya Bu Khadijah pada teman-teman di kelasku.
Teman-temanku saling tatap kembali, ada yang menggeleng, ada yang berbisik-bisik. Kemudian salah seorang mengangkat tangan.
"Bu, saya pernah baca, kalau satu langkah perempuan keluar dari rumah tanpa mengenakan hijab, maka satu langkah pula ayahnya akan mendekat ke neraka, apa itu benar Bu?"
Bu Khadijah tersenyum tipis. "Benar atau tidaknya, hanya Allah SWT yang tau. Menurutmu bagaimana?" tanya Bu Khadijah kembali pada temanku itu. Temanku terdiam, menggeleng.
"Jangankan setiap keluar rumah, di rumah pun, perempuan bisa tetap berdosa. Jangankan tanpa memakai hijab, sudah memakai hijab pun, perempuan tetap bisa berdosa. Anak-anak ibuk sekalian tau kenapa?"
Teman-teman kembali saling tatap, menggeleng.
Tok tok tok
"Permisi... Maaf Bu, saya mau mengambil botol minum." Greyna melangkah masuk setelah diangguki oleh Bu Khadijah.
"Greyna, kalau mau... kamu tetap di kelas saja Nak setiap jam pelajaran ibuk," ucap Bu Khadijah.
"Tapi Bu--"
Greyna menghentikan kalimatnya setelah melihat Bu Khadijah tersenyum padanya.
"Baik Bu," Greyna mengangguk, duduk di kursinya kini, menyeruput minumannya dulu setelah minta izin.
"Di zaman sekarang ini, banyak perempuan-perempuan yang memposting foto-foto mereka di internet, tanpa mempedulikan aurat mereka yang terbuka, foto-foto itu tersebar sampai ke seluruh dunia. Bayangkan... setiap orang yang melihat foto itu, maka perempuan itu akan mendapatkan dosa, apalagi jika orang-orang yang melihatnya membayangkan hal yang tidak-tidak, nafsu dengan perempuan itu. Bertambah lagi dosa si perempuan. Bagaimana jika perempuan itu meninggal sedangkan foto-fotonya masih tersebar di akun sosial medianya? Maka foto itu akan jadi dosa jahiriyah-nya. Tak terbayang bukan? Sudah di dalam kubur, tapi dosanya masih terus mengalir."
"Apa anak-anak ibu mau seperti itu?"
Semua teman-temanku langsung menggeleng. Tidak ada yang mau.
"Anak-anak ibu semuanya... sayang bukan sama kedua orangtua kalian?"
Teman-temanku kini mengangguk.
"Jadilah anak-anak yang sholehah Nak, tutupi diri kalian dengan sebaik mungkin. Jangan ada lagi yang berpakaian tapi seperti telanjang. Kalian memang memakai pakaian yang panjang, tapi apa gunanya jika pakaian itu menampakkan lekuk tubuh kalian? Kalian memakai hijab, tapi tidak sampai menutupi dada. Anak-anak sekalian, tutup aurat kalian demi diri kalian sendiri, demi orangtua kalian, lakukan semua itu karena Allah."
Bu Khadijah kembali tersenyum melihat teman-temanku yang kini antusias mendengarkan. "Anak-anak ibuk sekalian, mulai dari sekarang, pikirkan... kalian berhijab untuk apa? Niatkan semuanya karena Allah. Jika kalian sudah meniatkan semuanya karena Allah, pikirkan... kenapa kalian masih memposting foto-foto kalian di sosial media? Agar orang-orang melihat? Bukankah kalian sudah menutupi aurat kalian karena Allah? Jadi apa faedahnya kalian publikasikan foto-foto kalian itu?"
"Karena itulah, perempuan menjadi fitnah terbesar di dunia. Tak ada laki-laki yang mampu menahan godaannya kepada perempuan. Jika laki-laki sudah tertarik pada seorang perempuan sampai membayangkan hal yang tidak-tidak pada perempuan itu, yang dapat dosa siapa? Si perempuan Nak."
Teman-temanku sibuk berbisik, cemas. Ada yang sudah memainkan ponselnya, sibuk menekan-nekan layar ponsel dengan cepat, entah apa yang dia buka, Bu Khadijah tidak mempermasalahkannya.
Greyna hanya diam, duduk di kursinya dengan tenang, tetap mendengarkan Bu Khadijah.
Inilah yang membuatku suka dengan Bu Khadijah, beliau selalu memberi ilmu yang bermanfaat untuk aku dan teman-temanku.
"... karena Islam adalah agama yang memuliakan perempuan."
Selesai jam pelajaran Bu Khadijah, Greyna langsung menghampiri Bu Khadijah. Berbisik pelan pada Bu Khadijah, kebetulan aku mendengar apa yang dibisikkan Greyna.
"Bu... bisa ajarkan aku Islam?"
Bu Khadijah terkejut, untuk kemudian tersenyum senang. "Tentu Nak."