"Aku juga mencintai mu Safia..."
Deg
** Ya tuhan, apa dia mengigau?** Batin ku terkejut.
"Tuan bangun, saat nya anda harus mandi!" kataku sambil ku goyang kan tubuh tuan Mattew.
"Huuuaammm, jam berapa Sa?" Tanya nya sambil menguap.
"Sudah jam 7 tuan, anda harus mandi dan sarapan." Kata ku dan membuat nya terdiam masih dengan memegang tangan ku erat.
"Ada angin apa kau perhatian sekali pada saya!!" Kata nya yang membuat ku gugup.
"M_maaf t_tuan, sebagai pembantu saya harus selalu mengingat kan anda." Kata ku gugup. "Tuan bisa lepas kan tangan ku? Aku harus kembali bekerja." Kata ku sambil menunduk.
"Ah...maaf !!" Tangan ku pun lepas dari genggaman nya dan aku pun pamit undur diri.
-
Bulan pun berganti, tapi tuan muda Mattew terus saja seperti itu dan hari ini semua kelakuan ku dan Mattew ketahuan nyonya besar laura, dan beliau murka bukan kepalang.
Nyonya besar memindah kan ku kerja di kandang kuda yang lumayan jauh dari rumah utama. Ibu ku pun marah besar karena perbuatan ku.
"Safia, kenapa kau membuat ibu susah begini nak? Apa ibu salah mendidik mu nak hik hik hik?" Aku begitu sakit mendengar ibu ku sampai berkata begitu dan menangis.
"Maaf kan Sa ibu, Sa tidak bermaksud membuat ibu susah hik hik hik." Aku bersimpuh memohon maaf karena sudah membuat ibu ku malu akan kelakuan ku.
Aku tidak mungkin menjelaskan kan semua ini karena keinginan tuan muda Mattew. Pasti tetap semua kesalahan ku dan aku sudah pasrah menerima segala nya.
Tidak masalah aku di pindah kan bekerja di kandang kuda, tapi yang membuat ku sedih, aku tidak bisa menolong tuan muda dan tidak bisa melindungi nya lagi.
Air mata ku terus mengalir seiring langkahku meninggalkan rumah besar itu. Aku begitu bersedih akan semua nya. Tapi aku harus mengikuti aturan di keluarga besar nyonya Laura Sayersz.
Saat tiba di rumah khusus penjaga kandang kuda, aku bertemu satu keluarga. Ada pak Aldo dan ibu Elsa juga kedua anak mereka yang masih kecil Amira dan Alfin.
Mereka sangat ramah dan baik. Aku mendapat kan satu kamar yang lumayan nyaman untuk di tinggali. Dan ibu Elsa juga telah membersih kan nya dari pagi tadi.
"Apa tugas Sa di sini pak Aldo?" Tanya ku ramah.
"Nak Safia tolong ibu Elsa masak dan beres beres rumah saja, hm." Kata pak Aldo lemah lembut.
"Baik lah pak Aldo, Sa akan kerja apa saja di sini." Kata ku sopan.
Setelah makan malam bersama ke empat keluarga pak aldo, aku pamit keluar sebentar sekedar menghirup udara malam di dekat teras rumah.
Pak Aldo mengizinkan ku tapi tidak boleh lama lama di luar. Karena udara malam ini begitu dingin. Dengan memakai jaket Hoodie ku aku pun aku duduk di teras rumah.
Tidak tahu apa yang menggerak kan ku untuk berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju kolam ikan dekat kandang kuda.
Saat melihat ikan yang terus bergerak dalam kolam garis senyum ku terus melengkung. Tapi tiba tiba kesunyian ku berubah mencekam saat sebuah tangan menggeret ku ke arah kandang kuda.
"Ampunilah saya tuan, jangan culik saya. Saya hanya anak pembantu di sini. Ampun tuan !!" Aku begitu takut akan cekalan tangan nya yang kuat.
"Sssttt... diam, aku Mattew, kenapa kau bawel sekali?" Kata Mattew berbisik di telingaku.
"Kenapa tuan muda ke sini? Kalo nyonya besar tahu bukan anda yang menerima hukuman tapi saya tuan." Bisikku juga pelan.
"Makanya jangan sampai orang tahu."
"Kenapa tuan muda ke sini?" Tanya ku sedikit khawatir.
"Aku merindukan mu." Bisik nya santai
"Apa? Apa maksud tuan muda?" Tanya ku heran.
"Aku juga tidak tahu. Aku begitu ingin menemuimu." Katanya sambil terus berbisik.
Akupun mencoba mengusir nya karena aku akan kembali ke rumah. Aku takut pak Aldo akan mencariku.
"Tapi janji besok kita ketemu lagi, hm!" Pinta nya.
Akupun hanya mengangguk. Tiba tiba dia memelukku dan berucap.
"Tunggu aku besok, hm. Kita bertemu lagi besok di sini." Bisik nya lembut di telinga ku.
Kami pun berpisah yang dia terus menungguku hingga aku menjauh dari nya. Tangan nya terus melambai dengan terus tersenyum manis pada ku.
Setelah tiba di kamar aku begitu bahagia. Rasanya ingin memeluk tuan muda, tapi apalah daya ku. Kasta ku tak memperboleh kan nya.
-
Dua Minggu sudah kami sering bertemu dan selalu bercerita tentang pekerjaan masing masing.
Semenjak kami berpisah, tuan muda tidak pernah lagi mabuk, dan menjalani hari hari nya dengan baik.
Dia bilang semua karena aku. Tapi aku tidak merasa merubah nya. Aku hanya berusaha menjaga dan melindungi nya hingga saat kami berpisah.
Minggu ketiga aku mulai merasa bahwa tuan muda menghindari ku. Dia tidak pernah datang lagi menemui ku.
Aku begitu bersedih saat berita pernikahan tuan muda Mattew ku dengar dari pak Anton. Rasa sakit begitu membuat ku terpuruk hingga aku sakit.
Ibu ku sempat menangis saat menjenguk ku ke rumah pak Anton. Aku demam tinggi hingga tidak sadar kan diri.
Saat terbangun aku sudah ada di RS. Ibu ku terus saja menangis di samping ku. Terus menggenggam tangan ku erat.
"Sayang, maaf kan ibu ya nak...ibu sudah membiarkan kan mu seperti ini. Kalo kau sudah sembuh, kita akan pergi jauh dari kota ini. Ibu akan membuka usaha dengan tabungan ibu, hm." Kata ibu panjang lebar.
Aku terus menggelengkan kepalaku. Aku tak sanggup harus berjauhan dari tuan muda. Aku akan mati bila berada jauh dari jangkauan nya.
"Kenapa Sa...,apa kamu mencintai tuan muda nak? Tapi cinta mu itu akan mengancam keselamatan mu. Ibu tidak ingin kehilangan mu nak. Kamu satu satu nya punya ibu sekarang."
"Sa mohon Bu, jangan pisah kan Sa dari tuan muda. Sa tidak apa hanya bisa melihat nya dari jauh. Sa tidak mengapa tidak bersama dengan tuan muda. Tapi izin kan Sa terus berada di dekat nya Bu....Sa mohon Bu." Mohon ku dengan linangan air mata.
Ibu ku pun tak kuasa menolak permintaan ku. Dan berjanji tidak akan mengajakku pergi menjauh dari tuan muda Mattew.
-
Tiba saat tuan muda menikah. Semua karyawan di harap datang ke rumah utama untuk sekedar mengikuti kemeriahan acara pernikahan tuan muda.
Tuan muda begitu gagah mengenakan tuxedo warna hitam dengan menggandeng seorang wanita cantik yang akan menjadi mempelai wanita nya.
Di dalam senyum manis ku, hati ku begitu rapuh. Tapi aku bahagia melihat nya bahagia. Semoga tuan muda mendapat kan kebahagian bersama istri baru nya.
Perlahan ku tinggal kan pesta menuju ke rumah pak Anton. Saat ini aku hanya ingin sendiri. Saat aku sedang termenung melihat ikan ikan menari di dalam air sepasang tangan merengkuh tubuh ku dari belakang.
"Kenapa kau pergi menjauh? Apa kau tersakiti dengan pernikahan ku? Apa kau mencintai ku?" Pertanyaan itu begitu menyesak kan dada ku.
"Tidak tuan, aku hanya lelah. Aku masih dalam pemulihan pakansakit kemaren."
"Apa? Kau sakit? Tapi kenapa kau tak pernah bilang pada ku."
"Untuk apa tuan tahu aku sakit. Kita bukan siapa siapa bukan? Aku hanya pelayan mu tuan. Jadi jangan terlalu dekat dengan ku."
"Ada apa dengan mu? Apa kau marah pada ku? Tapi kenapa?"
"Cukup tuan muda, sebaik nya anda pergi dari sini. Semua orang akan mencari anda." Paksa ku.
"Tidak....aku tidak mau pergi. Aku ingin di sini bersama mu."
"Kalo tuan tidak pergi. Biarlah aku yang pergi. Selamat tinggal tuan muda."
"Safia... Sa... Safiaaaaa."
.
.
.
Bersambung