Jatuh cinta adalah dua kata yang selalu membuat Rani berhasil mengingat satu nama. Askar. Sejak berada di kelas X nama tersebut selalu berhasil membuat jantungnya berdebar. Bahkan ketika mereka tidak sengaja berpapasan Rani selalu dibuat salah tingkah karena lelaki itu. Sensasinya selalu berhasil membuat perut Rani merasa tergelitik. Lelaki itu sukses memberikan rasa panik sekaligus senang disaat bersamaan bagi Rani.
Semua orang selalu bilang padanya, utarakan perasaanmu agar bisa berbalas. Tapi Rani takut melakukannya. Sosok yang disukainya sungguh mempesona dan pastinya disukai banyak orang. Rani merasa dia bukanlah apa apa dibanding semua perempuan yang menyukai lelaki itu.
Saat ini Rani sedang duduk di bangku kantin yang langsung menghadap lapangan belakang sekolah. Sedari tadi matanya tak berhenti menatap ke arah lapangan. Tepatnya ke satu orang laki-laki yang sedang asik bermain bola. Mata Rani selalu mengikuti pergerakannya. Hingga akhirnya Cece yang berada disamping kiri gadis itu menjadi penasaran. "Lagi liatin siapa sih, Ran?" Tanya gadis berambut sebahu itu.
Merasa tidak ada jawaban, Cece menoleh ke arah gadis itu lagi. Baru disadarinya jika tatapan Rani tidak pernah beralih dari salah seorang lelaki disana. Entah siapa. "Rani!" Gemas Cece sambil memegang wajah gadis agar menoleh padanya.
Sontak saja Rani terkejut dan wajah mereka hampir tabrakan jika Cece tidak buru buru menjauh. Cece pun jadi kaget luar biasa dengan gadis itu. Begitupun Rani yang seketika merasa linglung sambil menatap Cece dengan kesal.
Rani mendelik pada gadis itu."Ce! Ngapain sih?" Tegur Rani sambil menjauhkan badannya. Beruntung dia tidak sedang mengunyah. Tidak. Rani sedari tadi memang mengabaikan makanannya karena terlena dengan keberadaan Askar.
Cece menyengir pelan. "Ya kamu yang ngapain? Ditanyain malah diem aja. Lagi liatin siapa sih? Sampe serius banget." Tanyanya sambil menaikkan alis. Menggoda Rani yang seketika wajahnya memerah. "Apaan? Aku enggak liat siapa siapa," elak Rani. Kali ini ia memegang secangkir es teh dan langsung meminumnya. Terlihat panik.
Cece hanya tertawa. "Cie, Rani akhirnya suka sama cowok. Yang mana sih, Ran? Kasih tau dong!" Kata gadis itu semangat
"Ce! Enggak ya! Gak usah ngomong sembarangan!" Berbanding terbalik dengan ekspresinya yang terlihat kesal wajah Rani justru memerah. Jantungnya bahkan sudah berdebar membuat Cece tidak bisa menahan ekspresi gelinya.
Melihat Rani yang masih terus mengelak, Cece jadi semakin ingin menggodanya. "Reno?" Kata Cece asal yang membuat Rani langsung menatapnya dengan horor.
"Bukan ya!" Bantahnya tanpa sadar. "Oh, Askar?" Tanya Cece lagi. Kali ini tepat sasaran. Nama yang disebutkannya barusan seketika membuat Rani melotot dengan eskpresi kaget. Wajahnya benar-benar terlihat konyol saat menatap Cece.
"Ce---," panggil Rani dengan suara pelan. "Kamu?" Rani sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa hingga hanya bisa memanggil nama Cece. Tapi tatapannya sudah menjelaskan rasa takut sekaligus penasaran disaat bersamaan. Rani takut Cece menyebarkannya. Dan merasa bingung darimana gadis itu mengetahuinya.
Sedangkan Cece terlihat santai santai saja sambil menikmati bakso bakarnya. Dia melirik Rani sekilas dengan senyum geli. Membiarkan Rani terus menatapnya tanpa berniat membalas.
"Cece," panggil Rani lagi. Dia mendekat dan mengecilkan suaranya. "Kamu tau darimana?"
"Kamu suka Askar?" Tanya Cece santai yang sukses membuat Rani kelabakan dan langsung menutup mulut gadis itu. Dia menatap sekitarnya yang masih terlihat tenteram. "Ce?" Peringatnya dengan kesal sedangkan Cece hanya tertawa tawa. Dia melepaskan tangan Rani.
"Kamu tuh lucu banget sih Ran?" Kata Cece.
"Kamu gak sadar ya kalo selama ini kamu sering banget perhatiin Askar? Kita memang baru berteman selama beberapa bulan ini Rani, aku mungkin gak terlalu mengenal kamu. Tapi sikap kamu ini kebaca banget tau gak?" Kata Cece yang semakin membuat Rani kebingungan sekaligus panik.
Tubuh Rani menegang. Eskpresinya terlihat sangat panik. "Apa sejelas itu?" Lirih Rani pelan. Padahal selama ini yang Rani lakukan hanyalah menatap sosok pujaannya dari jauh. Pun ketika mereka tidak sengaja berpapasan Rani lebih banyak menunduk karena Askar selalu membuat jantungnya berulah. Dia salting dan mendadak jadi bingung sendiri.
"Bagi orang lain mungkin enggak," kata Cece yang membuat Rani bisa menghela nafas lega. Tapi perkataan dari Cece selanjutnya membuat Rani kian terkejut. "Tapi bagi aku yang langsung berinteraksi dan mengenal kalian berdua tentu aja langsung paham," Rani tentu tidak paham dan memasang eskpresi bodohnya.
"Askar itu tetanggaku, Rani. Kita udah saling mengenal sejak kecil," satu fakta yang keluar dari bibir Cece membuat Rani menganga. "Aku tau sejak awal kalo Askar itu suka sama kamu. Dia memang gak nanyain kamu langsung ke aku, tapi tatapannya ke kamu gak bisa bohong. Aku tau itu karena aku juga sering liat kamu yang perhatiin Askar seintens itu," kata Cece yang benar-benar tidak bisa diterima oleh Rani.
Dia menatap Rani sambil menggeleng pelan. "Aku gak mau bahas lagi,"
"Sayangnya gak bisa. Kamu sadar gak kalo ada Askar di belakang kita?"
Jantung Rani seketika ingin melompat saat mendengarnya. Perlahan Rani menoleh. Dan bener, ada Askar yang sedang berdiri dibelakang mereka. Lelaki itu bersama teman temannya. Tatapan Askar tertuju ke arah Rani yang seketika menegang dengan jantung bergemuruh. Rani bisa melihat ada senyum dengan satu lesung pipi dari lelaki itu yang ditujukan padanya. Dan teman teman Askar hanya tergelak sambil menggoda mereka.
"Hallo, Rani," sapa teman laki-laki itu yang selama ini setia menjadi pemantau keberadaan Rani untuk Askar.
******
Satu Minggu telah berlalu setelah hari itu. Rani benar benar kepalang malu. Dia tidak berani menunjukkan dirinya lagi didepan umum. Apalagi kalau melihat keberadaan Askar dan teman temannya, Rani langsung kabur menjauh. Paksaan Cece yang selalu mengajaknya ke kantin dan menemani gadis itu pun Rani abaikan.
Rani mencoret-coret kertas selembar yang tadi diambilnya dari bawah meja. Di kelasnya hanya tersisa beberapa orang yang memang tidak ingin pergi kemana mana. Dan diantara mereka Rani hanya duduk diam dibangkunya sambil mencoret coret kertas.
Tanpa sadar tangannya bergerak sendiri menuliskan nama lengkap cinta pertamanya.
Askar Abimana Surya
Rani ingat satu momen dimana Askar menegurnya lebih dulu ketika melihat Rani berjalan sendirian hendak menyusul Cece ke kantin. Saat itu Rani tidak bisa berpikir jernih karena salting dan hanya membalas sapaan Askar dengan sangat singkat.
Bodoh sekali memang! Tapi dia tidak bisa menenangkan jantungnya yang berulah saat itu.
"Rani," panggil seseorang dengan suara familiar yang membuat Rani menoleh.
Matanya membulat dan tubuhnya tersentak saat melihat keberadaan Askar yang berdiri disampingnya. "Askar?" Suara Rani tercekat
"Hai," Sapa lelaki itu dengan senyum yang manis membuat Rani langsung terpana.
Askar tampak berdiri gagah disampingnya. Dia sama sekali tidak malu dengan teman teman sekelas Rani yang kini menatapnya. "Aku udah nungguin kamu di kantin. Kenapa gak mau keluar?" Tanyanya santai seolah mereka memang sering berbincang bersama.
"Aku---," Rani kebingungan ingin menjawab apa. "Aku gak laper," akhirnya kata itu meluncur di bibirnya dengan kepala tertunduk.
Askar menatap Rani dengan lekat. "Rani," panggil Askar dengan suara lembut. "Tatap aku," kata Askar
Rani tidak bisa menjawab. Tapi tetap memandang kebawah dengan jantung yang berdebar. Askar menyapanya! Askar menghampirinya!
Tangan Askar bergerak menyentuh dagu gadis itu. Membawa tatapan Rani agar menatapnya. "Aku suka sama kamu, Ran. Mau jadi pacarku?" ujar Askar tanpa basa basi sedang Rani hanya bisa mematung. "Kamu suka sama aku kan?" Kata Askar yang sudah tau jawabannya.
"Aku juga, Rani. Aku udah suka kamu dari lama. Jadi kamu gak perlu malu untuk kejadian Minggu lalu." kata Askar mengungkit kejadian Minggu kemarin yang seketika membuat wajah Rani memerah. "Aku sering perhatiin kamu. Aku pernah nyapa kamu. Tapi aku pikir kamu gak suka sama aku karena terakhir kali kamu keliatan gak nyaman sama aku,"
Rasa rasanya Rani ingin segera membantahnya. Dia bukan tidak nyaman. Tapi karena kehadiran dan tingkah Askar waktu itu sudah membuat Rani benar-benar salah tingkah duluan.
Askar mengusap pipi gadis itu pelan. "Dan ya, ungkapan kamu kemarin akhirnya membuat aku kembali percaya diri untuk mengejar kamu lagi. Rani, kamu mau jadi pacarku?" Tanya Askar lagi dan kali ini Rani menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Askar!" Teriaknya kencang membuat Askar lantas kebingungan. "Ada apa Ran? Kamu kenapa?"
"Aku suka sama kamu Askar! Aku mau jadi pacar kamu!" Dan balasan Rani sontak membuat Askar menahan senyum karena merasa malu.
Tingkah keduanya kini mendapat sorotan dan seruan dari teman teman mereka. Inilah akhir dari kisah malu malu Rani yang menyukai Askar dalam diam. Akhirnya dia berhasil mengungkapkan perasaannya.
Gadis itu menoleh untuk menatap Cece yang tersenyum lebar sambil menatapnya. Cece menjadi orang yang sangat berpengaruh bagi Rani untuk mendapatkan lelaki yang disukainya. Thanks to Cece! Dan Rani sangat beruntung memiliki gadis itu sebagai temannya.
Dan ya. Rani akan selalu mengingat hari ini dimana kisah cintanya mulai berjalan.
Note!
Untuk yang punya perasaan terhadap lawan jenis, sebaiknya ungkapin aja ya teman teman. Daripada kalian sendiri nanti yang pusing ngatasinnya. Karena gak semua orang seberuntung Rani yang menyukai orang yang juga suka sama dia. Walaupun begitu, gak ada salahnya kamu ngutarain perasaan ke orang lain. Asal kamu gak maksa mereka buat suka sama kamu balik.