“Sakit hati yang begitu dalam hingga mungkin tidak pernah bisa dimaafkan adalah ketika kamu menduakan cinta pasanganmu."
Nama aku Karina, aku tinggal di Bali Indonesia, umurku sudah 25 tahun, aku mempunyai Restoran Pribadi dan aku mempunyai kekasih bernama Dyon. Aku sudah 5 tahun pacaran dengannya, namun hari ini tepat tanggal 30 Desember, dia ingin putus denganku. Padahal besok adalah hari jadiku bersama dia dan besok sudah genap 6 tahun aku berpacaran dengannya.
Sayangnya karena selama ini, ada perempuan lain yang dia suka selain aku. Namanya adalah Aerin, dia sahabat lamaku dan juga dia kekasih pacar aku. Itulah penyebabnya.
Entah kenapa, bisa-bisanya mereka bersama diam-diam tanpa sepengetahuanku. Bukankah itu adalah perselingkuhan? Penghianatan? Sia-sia? Tidak nyaman atau sudah muak denganku? Entah kenapa, bisa bisanya mereka pacaran. Aku harus bagaimana? Aku bingung.
"Aku masih mencintaimu Dyon."
Dyon menggenggam kedua tanganku lalu memeluk aku, "Aku janji akan menikahi kamu, karena kita sudah 3 tahun bersama. Aku janji, kita akan bersama selamanya, meskipun hidup kita sederhana. Aku tak akan melepas tangan ini." Itulah perkataan atau janjinya 2 tahun yang lalu. Itulah perkataan Dyon kepadaku saat malam tahun baru sambil memeluk aku dibawah kembang api yang begitu terlihat indah. Setelah dia mengatakan janjinya kepadaku, dia meminta kembali kalung berlian yang dia berikan kepadaku saat aku dan dia sudah 1 tahun pacaran dengannya.
"Kenapa kamu memintanya kembali?" aku terkejut.
"Aku akan menukarnya dengan cincin. Atau bisa dibilang...Saat kita sudah 5 tahun pacaran. Aku janji akan melamarmu sayang." jawabnya membuatku senang tapi aku tidak ingin memberikan kalung itu kepadanya.
"Itu mengejutkan aku. Tapi aku tidak bisa memberikan kamu kalung ini. Ayo lah, masa sih kamu ingin tukar ini." ujarku lalu memalingkan wajahku darinya.
"Baiklah. Jangan cuek ini hari jadi kita."
"Tentu saja. Happy Anniversary ke 2 tahun baby! Semoga kedepanya kita benar-benar menikah."
"Iyaa."
"Kok iya sih!" kata Dyon lirih.
"Karina...Aku mencintaimu sampai mati." teriak Dyon ke arah langit dan membuat semua orang memperhatikan aku dan Dyon.
"Hush! Kamu bikin malu aja." wajahku tersipu malu begitu juga aku mencubit pipinya.
Sekarang aku sedang berada di tempat Museum Antounio Blanco Gianyar bersama Dyon dimana itulah tempat jadian kami. Dyon sedang duduk mematung dan gugup didepanku sambil menatap iphone miliknya yang sedang berdering. Sepertinya itu adalah Aerin, sahabat lamaku.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telefonmu?"
"Angkatlah!" tanyaku sambil menatap indah wajahnya lalu tersenyum. Padahal hati dan perasaanku tidak enak karena berpura-pura tidak melihat nama Aerin di iphone nya.
"Baik, aku akan mengangkat sekarang. Kalau begitu, ijinkan aku keluar dari museum, sebentar aja!" Jawabnya lalu mengambil iphone miliknya.
"Nggak usah jauh-jauh menelpon. Angkat saja, dan bicaralah dengan dia didepanku." Kataku lalu dia mengangkat paksa teleponnya dari Aerin.
Kulihat Dyon yang sedang menelfon Aerin begitu bahagia. Aku melihat senyuman Dyon begitu berarti dan tulus baginya. Apakah cintaku akan benar-benar berakhir disini? Apakah aku masih bisa mempunyai kesempatan untuk berpacaran dengannya meskipun 1 Hari saja karena besok adalah hari jadiku bersama Dyon.
Dyon: Halo, kenapa kamu menelfonku?
Aerin: Karena, aku rindu!
Dyon: Aku juga. Bagaimana menurutmu? Tentang hal itu?
Aerin: Aku ingin kamu dan Karina putus hari ini.
Dyon: Baiklah, akan ku usahakan agar dia memutuskannya. Aku tutup bye!
"Bukankah itu Aerin? Suaranya sangat jelas sampai ke telingaku. Benar?" tanyaku.
"Benar! Sejujurnya. Aku Mencintai Aerin, jadi hari ini...Aku ingin kita putus." jawab Dyon begitu tiba-tiba.
"Tanpa berpikir, bukankah keputusanmu begitu tepat? Kamu menghancurkan janjimu dan memilih Aerin sahabatku. Aku sudah tahu, bahwa kamu dan Aerin sudah 1 tahun bersama, Aerin yang mengatakan itu kepadaku kemarin sambil memarahi aku." Air mataku mulai menetes dan hatiku mulai semakin sakit dan juga diriku tidak lagi hangat berada didepanya.
"Maaf, kita harus putus hari ini. Permisi,tolong lupakan kenangan ini." Dyon berdiri lalu membelakangiku kemudian berjalan kearah pintunya museum itu. Padahal ada kata yang masih kubutuhkan dengannya.
"Tunggu! Dyon..." Aku meneriaki dan melangkah mendekatinya.
"Mulai besok, bisakah kamu beri aku waktu, 1 Hari saja untuk menjadi pacar mu! Ku mohon aku ingin menghabiskan malam tahun baru kita mulai besok, karena bagiku...Itulah yang bisa menghapus kenangan yang kamu inginkan." Aku memohon kepadanya sambil menangis.
"Baiklah, besok pagi aku akan ke rumah kamu."
Ke esokan harinya pagi begitu cerah dan matahari mulai terik, padahal semalam hujan begitu deras sampai tengah malam. Aku memakai gaun putih pemberian hadiah ulangtahun dari Dyon dengan wajahku begitu muram. Setelah itu, aku keluar menemui Dyon yang sedang menunggu didepan rumahku sambil menelfon. Sepertinya itu Aerin, karena kulihat wajah Dyon begitu senang seperti kemarin.
"Siapa?" Tanyaku sambil tersenyum, wajah bahagia meskipun hati kacau.
"Bukan siapa-siapa! Ayo naik." Jawab Dyon kepadaku lalu memberiku helm. Dyon benar-benar berubah, tidak seperti dulu lagi. Dulu saat dia datang menjemputku, dia selalu masang helm itu di kepalaku sambil mencubit pipiku dan sekarang dia bersikap dingin didepanku.
"Apakah kamu menangis?" Tanya Dyon kepadaku.
"Tidak. Ayo kita museum aja setelah itu kita ke pantai!" Kataku sambil menghapus air mataku kemudian memeluknya dari belakang.
Aku sedang belajar melukis batik di kain dengannya sambil bercanda meskipun dia sedikit dingin. Tidak apalah! Kuharap dia akan bahagia setelah aku tiada di bumi ini. Setelah itu, aku merasakan malam tahun baru bersamanya di pantai Bali sambil menikmati kembang api warna warni yang sedang menghiasi langit malam. Aku menggenggam tangannya lalu menatap wajahnya begitu tulus. Kemudian, memeluknya sama seperti dulu.
"Terima kasih! Akhirnya kita sudah genap 6 tahun pacaran. Aku senang malam ini. Dan aku mencintaimu." Ucapanku lalu mengecup pipinya sambil menangis.
"Maaf!" Ucapannya.
"Kuharap hubunganmu dengan Aerin lebih baik lagi dari pada aku. Bagiku Aerin adalah sahabat baik aku, dan pada akhirnya dia menjadi bodoh..."
Aku melihat jam tanganku, "Sepertinya...ini sudah melewati jam 12 malam. Ayo kita pulang!"
"Baik." Kata Dyon kepadaku lalu memberiku buket bunga kemudian mencium dahiku.
Setelah beberapa jam aku dan Dyon sudah berada didepan rumahku. Aku menangis begitu hampir histeris karena hatiku seperti tertusuk duri. Sakit tapi tak berdarah! Itulah akhir cinta karena ada perempuan lain.
"Terima kasih! Jangan lupa kabari aku, jika kamu sudah sampai dirumahmu. Karena besok...kita sudah putus." Ucapan aku lalu berjalan pelan menuju masuk ke rumahku sambil menangis. Tiba-tiba Aerin yang sedang melintasi jalanan lalu meneriaki Dyon.
"Dyon..." Teriak Aerin ke Dyon lalu terhenti ditengah jalan dan tiba-tiba mobil datang dengan kecepatan tinggi.
"Aerin awas..." Aku meneriaki Aerin lalu berlari ke arahnya kemudian aku mendorongnya ke pinggir jalan. Aku tertabrak oleh mobil itu, kurasakan lukaku sangat parah dan membuat nafasku semakin lemah.
"Tu- tuhan, hidupku sudah diambang kesedihan. Tolong jaga dia!" batinku sambil melihat Dyon yang sedang berlari ke arahku.
"Karina...ma- maaf. ini sebabnya karena aku kan, seharusnya aku tidak jatuh cinta sama dia." ucap Aerin kepadaku sambil menangis dan panik.
"Sudah terlambat, ak- aku memaafkanmu. Tolong jaga Dyon."
Kulihat Dyon sedang berlari lalu memelukku sambil menangis dan juga membelai rambutku lalu mencium dahiku.
"Karina... ma-maafkan aku. Aerin ayo bawa dia ke rumah sakit!" Dyon begitu panik sambil memeluk aku berulang-ulang.
"Ayo! angkatlah dia ke mobil aku."
"Kalian tidak usah bawa aku kerumah sakit. Aku tahu, malam ini hidupku akan berakhir. Jadi...kalian jangan putus, tetaplah bersama. Yah." Kataku sambil menggeggami tangan Dyon dan Aerin.
"Dyon Ja-jangan menangis didepanku. Bahagialah, tolong jaga Aerin, karena dia juga sahabatku,"
"Akhirnya aku benar-benar berhasil menghapus kenangan lama kita salam 6 tahun ini."
"Tolong, jangan pergi..."
Sepertinya hidupku akan berakhir di pelukan Dyon dan perkataanku kepadanya semakin bertele-tele, penglihatanku mulai tidak normal begitu juga pikiranku dan pergerakan tubuhku mulai semakin lemas yak berdaya karena darah di mulut dan kepalaku mulai keluar banyak.
"Selamat tinggal Ddy-Dyon..." Aku menghembuskan nafas ku dipelukannya.
"Karina..." Teriak Dyon sambil menangis histeris.
#Hati dan perasaan perempuan begitu mudah sakit dan lemah tapi tidak dengan fisiknya yang begitu selalu tampak bahagia dan senang didepan pasangannya apalagi suaranya yang begitu pandai berkata bahwa ia baik-baik saja namun ternyata tidak. Dan kadang ketika ia sudah tak tahan lagi, pasti air matanya akan menjadi bukti. @uci101218