I MISS HER, kata itu tertulis dengan jelas di benteng belakang sekolah bagian dalam, dekat tempat parkir. Sungguh mencolok. Sangat menantang. Setiap murid dan guru yang memarkirkan kendaraan mereka langsung tertuju pada tulisan tersebut. Mereka melongok-longok, entah karena takjub; heran; terkesima; atau berpikir siapa orang yang cukup gila melakukan hal ini. Orang gila tersebut adalah aku! Itu suatu maha karya keberanian Daniel Adrizel.
Hah, bangga sekali diriku!
"Celaka kamu, Niel."
"Berisik, wedang jahe!" umpatku pada Dayyan, temanku, satu-satunya.
Ya, satu-satunya. Terdengar miris? Tapi kenyataannya begitu. Siapa sih yang mau dekat-dekat dengan cowok rusuh, tukang nge-gas, dan suka buat onar? Bahkan cewek saja illfeel sama aku--mungkin. Ah, masa bodoh sama cewek, aku berbuat seperti ini bukan untuk mencari perhatian mereka. Bukan untuk dikenal atau menjadi populer.
I miss her, orang awam yang membaca tulisan itu pasti berpikir: mungkin hal tersebut adalah suatu ungkapan cinta, dari seorang cowok yang cukup frontal ke cewek nan cantik se-SMA. Perbuatan nekat menyatakan suatu bukti keseriusan.
Klise! Kebanyakan nonton cerita remaja tengah hari. Aku, Daniel, bersumpah enggak akan pacaran di masa SMA. Aku serius dalam sekolah. Untuk masalah satu ini ....
"Niel, kamu akan dihukum, tahu? Lebih parah lagi, dipanggil orang tuanya atau dapat surat pengantar."
"Dipanggil orang tuanya atau dapat surat pengantar sama saja, bajigur. Sama-sama menyuruh orang tua ke sekolah. Lagian, itu tujuanku."
Dayyan terkekeh. Cukup lama sampai akhirnya dia lanjut berkata, "Terserah, deh! Tidak kapok-kapok kamu, Niel."
"Aku enggak akan berhenti ... sampai tujuanku tercapai!"
Temanku ini hanya tersenyum, tak balas berkata. Mengangguk sebentar, lalu mengelus rambut cokelatku. Apa sih?! Spontan aku menepis lengannya. "Aku bukan anak kecil, Yan!"
"Iya, tapi jauh di sini, kamu masih anak-anak," ucapnya lembut sambil menunjuk dada kiriku, "masih butuh kasih sayang."
"Bodoh amat, bandrek!" Dan Dayyan pun tertawa terbahak-bahak.
Menyebalkan! Tapi ... lega juga melihat Yayan begini. Entah kenapa, rasanya senang membuat orang yang peduli sama kamu bisa tersenyum. Plong. Seandainya aku juga bisa melakukan hal ini pada "mereka", pasti aku enggak akan jadi anak badung seperti sekarang.
"Niel, sampai kapan kamu terus melihat ke luar jendela? Masih memperhatikan itu? Memang sih, kita di lantai dua mudah melihat tulisan I miss her kamu."
"Iya. Memang. Makannya sengaja aku tulis di benteng situ. Sampai ada orang yang bertindak."
"Maksudnya?"
"Ya, aku akan perhatiin sampai ada orang yang panggil aku ke ruang BK. Apa lagi? Hal begini saja mereka enggak gerak. Capek-capek aku buat tulisan itu, tahu! Siapa lagi coba, yang berani berbuat seperti ini."
"Tidak bisa mereka langsung memanggilmu, Niel."
"Hah? Orang tinggal panggil saja, kok!"
"Mereka butuh bukti."
Bukti? Masuk akal juga ucapan Dayyan ini. Ah, memang ranking satu jurusan IPA kelas sebelas ini enggak bisa dianggap remeh. Polisi saja kalau tidak ada bukti, tak bisa menangkap penjahat. Halo, Daniel, kikuk banget sih?! Hal seperti ini saja enggak terpikirkan!
"Eh, mau ke mana, Niel?"
"Jalan-jalan. Penat aku. Sampai mau masuk pelajaran ke dua, enggak ada hasil. Tak ada guru pun."
"Mereka sibuk rapat, Niel. Perbuatan kamu satu ini cukup nekat, sudah terhitung merusak properti sekolah."
Aku menyunggingkan senyum setengah bibir. "Kalau begitu cepat tangkap aku," ucapku sembari terus berlalu meninggalkan kelas.
Samar-samar tapi pasti, aku dapat mendengar ucapan Dayyan, "Hati-hati, Niel. Good Luck!"
Ah, bangga juga punya teman yang mengerti masalah kamu. Partner in crime? Enggak juga. Dayyan itu, sifatnya berbeda seratus delapan puluh derajat sama aku. Pintar; tenang; kalem, bahkan suka menasihati aku dan memberi peringatan kalau aku berbuat onar--walau enggak mempan.
Di kelas sepuluh dulu, kita selalu belajar kelompok bersama. Dia sabar menjelaskan pelajaran-pelajaran yang aku enggak mengerti, bahkan ... sampai aku masuk ranking sepuluh besar. Dayyan tetap ranking satu. Tak ada yang bisa menggeser posisi bertahan Dayyan. Sampai sekarang, hal tersebut masih berlanjut. Yang berbeda adalah, aku jadi anak tukang onar. Baru saja tiga bulan. Yah, dan hanya Dayyan yang mengerti kenapa begini.
Dia selalu memikirkan jalan keluar terbaik, tetapi ini masalahku. Dayyan menyerah dan menghargai keputusan ini--aku menjadi anak badung. Namun, temanku itu masih rela berada di sisiku. Menemani aku yang terpuruk. Mengharukan banget rasanya. Kayak mimpi. Dia tahu kejelekan kamu tapi masih rela mendampingi. Kapan-kapan, Dayyan mau aku---
"Woi!"
Kunyit asem! Aku terkejut, hampir lompat malahan. Apa-apaan itu, enggak sopan! Eh, tak pantas aku bilang enggak sopan karena aku sendiri anak enggak sopan.
Lorong dekat tangga turun lantai dua ini sepi, sehingga suara teriakan laki-laki itu terasa keras sekali menusuk telinga. Aku menengok dan---ah, wedang secang! Itu Si Mr. Perfect, ketua OSIS yang sok kegantengan. Halaaah, malas banget. Aku memutar bola mata cokelatku, terus berjalan dan memunggungi dia.
"O ... Oi! Kenapa kamu tidak tetap di kelas? Aku tahu, pasti ini perbuatan kamu, Daniel Adrizel!"
Menghentikan derap, aku mendongak. Sedikit melihat dia dengan tersenyum. Head-tilt. Ih, keren banget pasti. "Memang."
"Kau ...! Ternyata memang benar kamu!"
Sekoteng! Aku keasikkan terkekeh-kekeh sampai tidak memperhatikan jalan. Celaka, aku menabrak Pak Nezzar! Dia sudah ada di depan. Aku enggak menyangka ternyata Si Mr. Perfect bersama dengan bapak wakil kepala sekolah bagian ke-siswaan.
"Kamu, ikut Bapak ke ruang kepsek."
"Aaa ... auh! Sakit, Pak!"
"Perbuatanmu lebih menyakitkan!"
Sebal rasanya, ketua OSIS itu tertawa puas seolah-olah dia menang. Sarabba! Sebentar lagi aku yang sampai pada kemenanganku!
Namun, di sini ... kok jadi canggung? Gugup. Pasti gara-gara AC di ruang Pak Nezzar ini dingin banget. Mana hanya ada kita berdua. Aku berhadapan dengan Bapak Nebukad Nezzar yang duduk di kursi hitam belakang meja. Sedangkan aku di kursi mungil depan meja. Rasanya seolah aku dikucilkan di ruang ini. Ruang dengan mebel sederhana, hanya ada tanaman hias dalam pot di tiap pojok dan lemari kaca berisi banyak buku serta dokumen.
"Daniel Adrizel, kamu sadar dengan perbuatanmu 'kan?"
"Sadar seratus persen, Pak."
Ucapanku membuat Pak Nezzar menaikkan sebelah alis. "Lalu, kenapa kamu berbuat seperti ini?"
"Karena aku pengin."
Sekarang ekspresi Sang Guru Killer menjadi sedikit menyeramkan, bahkan berkata dengan suara yang tinggi, "Itu, Daniel, hanya sampai di situ! Bapak akan menghubungi orang tua kamu dan membicarakan hukuman apa yang pantas buatmu! Sekarang, keluar! Pergi ke gudang sekolah dan ambil peralatan bersih-bersih. Bereskan kekacauan yang kamu perbuat!"
"Apa pun, Pak, asal jangan hukuman yang membuat aku sampai tidak belajar!" Aku berdiri, mencoba meninggalkan ruang ketika jelas terukir ekspresi heran di wajah tegas orang tua di depan.
"Kamu ... semangat belajar tinggi. Nilai bagus. Berprestasi akademik. Namun ugal-ugalan! Akhlak adalah satu dari seluruh sifat kamu yang dinilai nol! Nol akan bernilai jika memiliki satu, ingat!"
"Aku tahu, Pak, panggil saja orang tuaku. Nanti Bapak mengerti. Keduanya kalau bisa," tegasku diiringi meninggalkan ruang, menyisakan Bapak Nebukad Nezzar yang makin dibuat bingung.
Bergegas aku berlari ke gudang untuk membersihkan kekacauanku. Itu terbuat dari cat tembok. Mungkin akan mudah luntur jika menggunakan thinner--cairan pelarut.
Aku harus cepat. Penjahat tertangkap, pasti aktivitas sekolah sudah berjalan dengan normal. Gelagat gugup Pak Penjaga Sekolah menyambutku, tapi segera aku berseru lembut, "Enggak apa-apa, aku bisa sendiri!"
Ember berisi air sabun dan sikat di genggaman tangan kiriku dan botol thinner satu liter di kananku. Cepat, harus cepat. Pelajaran mau dimulai! Melewati kantin yang kosong dan memutari lapangan parkir. Aku sampai pada benteng belakang bagian dalam.
Aku mendengar suara teriakan di sana sini. Para murid, entah siswa atau siswi, menertawakan dan menyoraki aku. Bir pletok! Peduli apa aku?! Yang terpenting adalah menyelesaikan ini sebelum pelajaran Matematika. Statistika dan trigonometri yang akan dibahas nanti!
Benar cat ini mudah luntur dengan thinner. Ah, karena belum sampai satu hari juga. Aku melakukan ini--menulis I miss her--ketika pagi buta. Jam lima dini hari. Agar tidak ketahuan, tentunya.
Aku menyikat tulisan putih di tembok bata merah ini sekuat tenaga hingga sampai pada tulisan Her. Mendadak terasa sesak. Denyut nyeri menghantam dada kiri. Perih, mixed feeling, mukaku memanas. Aku ingin menangis. Namun sekuat tenaga menggigit bibir bawah hingga terluka, berharap rasa sakit di bibir dan amis darah dapat mengenyahkan gejolak kian merongrong dalam dada. Menahan emosi, yang mulai meraung-raung dalam batin.
Semoga saja benar, Bapak Nebukad Nezzar akan memanggil orang tuaku. Mendatangkan ibu yang sudah tiga bulan pergi dengan orang asing dari negeri tetangga. Membuang Ayah sampai depresi, sehingga Ayah juga meninggalkan aku sendirian di rumah sejak kemarin sore.
Aku harap, panggilan Pak Nezzar akan mengembalikan mereka padaku ... seperti dulu.
"I Miss you, Mom!"