Dulu ada seorang gadis bernama Yumiko. Dia memiliki sebuah boneka kecil yang dia beri nama Mary-san. Dengan mainannya yang sangat menumpuk seperti gunung di rumahnya, dia sering bermain roleplay dengannya. Mary-san pernah menjadi petugas pemungut sampah, penjaga toko roti, perokok berandalan, dan juga seorang maid di rumah besar. Dia sangat suka bermain dengan Mary-san saat masih kecil. Bersama dengan Mary-san, dia bisa menuangkan seluruh ide kreatifnya sepuasnya. Dia selalu memeluk Mary-san kemanapun dia pergi bersama dengan keluarganya. Ibunya pernah mencoba untuk menyembunyikan Mary-san supaya dia tidak terlalu melekat dengan boneka itu. Dia menangis seharian. Ibunya menjadi kasihan dengannya, jadi Mary-san pun bertemu kembali dengan temannya dan menemaninya.
Mary-san pernah tertinggal di sekolahnya seharian karena temannya itu sakit parah dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Petugas kebersihan menemukannya di tengah malam dan merasa bahwa temannya pasti akan sangat ketakutan karena sendirian, jadi Mary-san pun bertemu dengan temannya dan menemaninya.
Mary-san pernah secara tidak sengaja terlempar ke tong sampah karena temannya di dorong dan dijadikan bahan lelucon. Mereka dimarahi di tengah malam oleh si dia. Si dia membuat mereka menyesal dan sangat menyesal, jadi Mary-san pun dapat kembali bertemu dengan temannya dan menemaninya.
Namun waktu benar-benar kejam. Dia sangat cepat saat seseorang bersama dengan kesayangannya, dan sangat lambat saat seseorang merindukan temannya. Temannya tumbuh besar, dan entah karena apa, dia ingin merubah kebiasaannya. 'Mimpi' adalah ilusi semata, yang membuat seseorang benar-benar menjadi karakter yang berbeda. Mary-san merindukannya, namun pintu besar itu tertutup rapat. Mary-san membuka jendela, namun temannya sudah pergi. Mary-san mencoba mendengarkan dunia luar, namun mereka justru terdengar seperti bahagia akan kepergiannya.
Mary-san menangis. Kenapa hanya dia saja yang akan menangisi kepergian temannya ?
Itu tidak apa, karena berarti dia sendirilah teman terbaiknya.
Hanya dia sendirilah yang akan menangisi kepergian temannya.
***
Yumiko terbangun dari tidurnya. Bukan karena bunyi alarm, melainkan karena cahaya matahari hari ini yang rasanya begitu terang. Sangat terang malahan. Dia menjadi sebal, dan karena itulah dia cepat-cepat berdiri, meregangkan tubuhnya, dan kemudian membuka gorden rumahnya. Aneh. Itu bukan cahaya matahari, melainkan lampu senter. Yumiko menyipitkan matanya sejenak karena sinar senter sialan itu yang menembus jendelanya, dan kemudian segera mencoba untuk menemukan siapa pelakunya. Dan ketemulah dia !! Seorang wanita perokok berandalan yang tersenyum ke arahnya dari luar taman rumahnya. Sebuah puntung rokok, ada di mulutnya. Yumiko merasa familiar dengan tampang dari wanita itu, namun dengan cepat ia berusaha untuk melupakan senyumnya yang mengerikan.
Rutinitas Yumiko pertama; dia selalu mengawali harinya dengan sarapan dan sikat gigi. Kemudian dirinya akan berganti pakaian. Hari ini hari libur, jadi dia hanya memakai kaos abu-abu kusut yang sederhana. Selanjutnya, dia akan menyapu lantainya, dan mengumpulkan sampah di rumahnya untuk dibuang ke tempat sampah umum. Yumiko pun keluar rumah untuk membuang sampah-sampah nya.
Memasuki gang kecil dekat rumahnya, dia menemukan tempat sampah umum yang sudah menjadi langganannya. Hari ini bisa dibilang begitu aneh. Padahal kemarin masih kosong, dan sekarang, seorang petugas pemungut sampah sudah ada di sana mengambil tumpukan-tumpukannya. Yumiko merasa familiar dengan seragam petugas pemungut sampah itu. Dia mencoba membuang pikiran tersebut dan ingin segera membuang sampah miliknya. Yumiko menghampiri petugas itu, namun kemudian pikiran liar yang lainnya muncul kembali di dalam kepalanya. Kalau wanita itu benar-benar seorang petugas pemungut sampah, dimana truk sampahnya ? Dia menghiraukan itu kembali dan tetap menghampiri. Leher wanita itu kemudian berputar ke arahnya secepat kilat, seraya cahaya senter diarahkan ke wajahnya.
“Oi !! Masalahmu apa sebenarnya- !!?”
“Lain kali jangan buang boneka sembarangan, 'Mary'ko-chan.”
“Huh ?”
Cahaya senter itu menghilang seketika, dan juga petugas itu, dan juga tumpukan-tumpukan sampah itu. Yumiko menoleh ke sampingnya dan hanya bisa dibuat bertanya, “Kemana sampah-sampah itu pergi ?” Dari ujung gang tempat awalnya dia masuk, terdengar suara truk besar baru saja berhenti. Dia menoleh ke belakang, dan menemukan bahwa itu adalah truk sampahnya yang barusan saja dia pertanyakan tadi. Aneh, dan dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan hal-hal bodoh ini lagi. Dia segera membuang plastik sampahnya ke tempat sampah umum itu, dan kemudian langsung lari kembali ke rumahnya.
Truk sampah itu berplat 'Mary'.
Yumiko membuka pintu rumahnya dengan terburu-buru, membuatnya berbunyi 'bam !' sangat keras. Seketika itu juga dia merasa malas untuk berinteraksi dengan dunia luar lagi untuk hari ini saja. Dia bergegas menuju ke kulkasnya dan membuka pintunya, hanya untuk menemukan bahwa isinya adalah angin, kosong.
“Hahhh !!?”
Yumiko terdengar sangat kesal. Padahal rasanya, dia mengambil satu bungkus ramen instan juga dari sana. Dia kemudian membuka pintu freezer nya. Angin dingin bertiup ke wajahnya. Lagi-lagi isinya hanya ada angin dingin, dan juga boneka duduk di dalamnya. Mary-san sedang membeku dan harus diselamatkan- Yumiko segera menutup pintu kulkasnya dan langsung pergi ke kamar untuk mengambil dompetnya.
Biarlah kalau tidak ada bahan makanan satupun. Toh dia bisa pergi ke toko roti terdekat. Pintu toko roti itu terbuka. Bel terdengar berbunyi menyambutnya. Kemudian yang menunggunya sebagai kasir adalah seorang wanita muda cantik. Sayangnya dia tersenyum terus hingga pipinya merah membengkak, dan sebuah senter diletakkan tepat di meja di depannya. Mau bagaimanapun, dia butuh snack untuk dimakan di hari libur, setidaknya untuk satu hari ini saja. Dia hanya bisa menghiraukannya dan mulai memilih-milih roti dan donat kesukaannya. Semuanya berjalan lancar. Setidaknya kasir itu masih bisa bereaksi dan menghitung total belanjaannya. Dia segera berjalan balik ke pintu keluar, di saat sebuah cahaya senter kemudian menyinari punggungnya. Yumiko hanya mendecak kesal, sebelum kemudian segera berlari keluar dari toko roti tersebut.
Di jalan pulang, Yumiko mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah dia sadari sebelumnya. Kota ini terasa begitu sepi daripada biasanya. Dia berhenti sejenak untuk mengambil ponselnya untuk melihat jam. Jam 8 pagi, dan tidak ada satu mobil yang berlalu-lalang sekalipun. Suara derap langkah kaki terdengar dari belakangnya. Dia menoleh ke belakang dan sedikit menyingkir untuk memberi gadis kecil itu jalan. Satu kesan pertama yang muncul di dalam kepalanya adalah 'Cosplayer ?', saat ia melihat baju maid khas anime yang digunakannya. Namun ada yang aneh. Walaupun gadis itu terlihat ketakutan dari caranya berlari, namun wajahnya tersenyum lebar. Kemudian, dia berbelok secara tiba-tiba.
“Kamu ini kenapa, bodoh !!?”
Tidak ada orang. Plastik roti dan isinya jatuh bertebaran, juga dompet hitam kecil yang terbuka. Yumiko menoleh ke belakang mengira kalau gadis maid aneh itu jatuh tersungkur dan terseret ke depan beberapa meter melewatinya. Tidak ada siapapun. Dia hanya seorang diri di kota yang luas ini, dan dia memang selalu sendiri di sini. Yumiko kemudian melayangkan pandangannya ke arah dompet hitam kecil yang terbuka itu. Disana ada sebuah kartu nama yang bertuliskan, 'Mary-chan'. Matanya terbuka lebar, dan bulu kuduknya berdiri karena ngeri. Dia langsung membuang dompet itu ke sampingnya, hanya untuk melihat bahwa kantong plastik dari toko roti itu bernama 'Mary Mary Bakery'.
Dia melihat kembali ke arah toko roti yang dia kunjungi barusan, dan namanya adalah Mary.
Sore, dan Yumiko hanya berdiam diri di dalam kamarnya sambil memakan roti pembeliannya dengan kedua tangannya tidak bisa berhenti bergetar karena ketakutan. Dia mencoba menyalakan TV nya sebelumnya, dan entah bagaimana channel di TV itu berkurang menjadi empat saja, masing-masing menampakkan wajah empat wanita yang dia temui sebelumnya. Mereka tersenyum ke arahnya, menatap dengan lembut hingga menggetarkan jiwanya. Baru ketika ia berpikir bahwa semua ini terasa begitu tidak masuk akal, ponselnya kemudian mengeluarkan notifikasi WhatsApp nya. Dia menoleh ke ponselnya, dan sekilas melihat bahwa pengirimnya adalah ibunya sendiri. Jarang-jarang ibunya mengirim pesan, jadi ia pun langsung penasaran dan membukanya.
'Mary-san ada di tong sampah. Kamu tidak ingin menyelamatkannya ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????'
Dari caranya melakukan chat saja sudah membuat Yumiko tahu bahwa ini bukanlah ibunya. Dia mematung membaca chat tersebut. Dia tidak pernah setakut ini sebelumnya, namun kali ini...... Yah, itu terjadi. Mungkin karena dia sendirian saat ini ? 'Saat ini' ? Dia selalu sendirian. Hanya Mary-san saja yang selalu ada di sampingnya, yang selalu menjadi temannya. Yang selalu memeluknya.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, bukan ? Tidak terasa 5 menit telah berlalu.
'Mary-san sangat merindukanmu, Yumiko-chan. Mary-san sangat merindukanmu, Yumiko-chan. Mary-san sangat merindukanmu, Yumiko-chan.'
'Mary-san saat ini ada di toko roti. Dia meminta nomor telepon mu ke kasirnya. Dia perempuan yang baik, bukan ?'
Nafasnya menjadi semakin cepat. Tangannya terus bergetar semakin hebat, seperti ada sebuah gempa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya saat ini.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, bukan ? Tidak terasa 15 menit telah berlalu, dan Mary-san kemudian muncul di notifikasinya.
'Halo. Aku merokok sekarang. Anak-anak di taman membicarakan tentang kamu.'
'Aku mengambil foto mereka. Mereka jahat, sangat jahat, begitu jahat, terlalu jahat, keterlaluan jahat, dan sangat sangat sangat sangat sangat jahat.'
'Aku menemanimu, Yumiko Mari-chan. Bukankah kamu menyimpan kenangan terindah kita di galeri ? Semuanya ? Tidak usah takut, lihat aku saja.'
Dia TIDAK PERNAH menyimpan foto Mary-san di dalam galeri ponselnya. Sama sekali tidak pernah. Secara perlahan, Yumiko beralih ke galeri. Keringat dingin membekukan wajahnya, saat semua yang dilihatnya adalah dirinya bersama dengan Mary-san. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Mereka berdua terlihat sangat cantik bersama. Senyum mereka berdua terlihat begitu manis saat bersama. Mereka berdua, tidak terlihat begitu kesepian saat bersama.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, bukan ? Kini 25 menit telah berlalu, dan telepon pun menghubunginya.
“Yumiko Mari-sama !! Aku sangat merindukanmu, sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat merindukanmu. Tunggu aku, ya !! Aku ada di jalan ray sekarang~”
Mary-san terdengar begitu bahagia saat bisa menghubungi temannya. Dia pasti sedang berlari di jalan sana. Dia pasti sedang menangis karena merindukan teman lamanya, namun juga tersenyum lebar karena tidak lama lagi, dia akan bisa bertemu dengan temannya dan menemaninya bersama.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, bukan ? Mary-san menghubunginya lewat WhatsApp kembali, kali ini beserta dengan foto di dalam sebuah truk sampah.
'Sakit, Yumiko-chan...... Aku mau cepat-cepat bertemu denganmu, tapi aku malah terjatuh !! Huwaaaaa !!'
'Untung ada perempuan baik yang satu ini !! Lihat, lihat ! Dia mirip seperti Mary-san, bukan ???????? Lucunya, dia juga namanya Mary-san, tahu !! Sebuah kebetulan !!!!!!!!'
Waktu terasa begitu cepat berlalu, bukan ? 45 menit telah terlewati, dan Mary-san kemudian mengirimkan sebuah video lewat kameranya saat dia mengutak-atik kantong plastik di truk sampah itu. Semua isinya adalah Mary-san dan Mary-san saja.
“Sugoi, sugoi, sugoi !! Yumiko-chan, kamu bisa lihat !!? 'Mary-chan' punya banyak Mary-san di sini. Tunggu aku di sana, yaaaaaa ! Kamu tidak akan sendirian lagi nanti !!”
Waktu terasa sangat cepat, bukan ? 50 menit telah berlalu, dan kini Mary-san beserta ibunya mengirimkan pesan kepadanya. Mary-san berupa pesan suara, sedangkan ibunya hanyalah chat biasa.
'Bajingan, bajingan, bajingan !!!! Kenapa harus macet, sih !!!? Mary-chan, apa kamu tidak bisa lindas saja mereka !!? Aku mau ketemu Yumiko Mari sekarang, bodoh !!! Oi, Yumiko !! Aku sudah nyuruh mamah kesayanganmu itu buat ke rumahmu, tau !! Tunggu aku dulu, oke !!?'
'Yumiko-chan, Mary-san sedang ada di kemacetan. Tenang saja, kamu tidak sendiri kok. Ibu ada di sini, dan ibu sudah memasang foto Mary-san di rumahmu. Kamu mau lihat-lihat ? Mungkin dia bisa membuatmu tidak sendirian lagi ??'
Waktu begitu cepat, huh ? Menyadari betapa cepatnya waktu berjalan, Yumiko membiarkan ponselnya jatuh ke atas kasurnya. Di depannya adalah TV dengan gambar Mary-san, di sekitar temboknya adalah wallpaper Mary-san, di sprey nya adalah motif berbentuk Mary-san.
“Yumiko-chan !! Kamu mau makan ramen instan !??”
Suara ibunya terdengar dari dapur bawah. Sejak kapan ibunya datang ke rumahnya ? Bagaimana cara ibunya datang ke rumahnya ? Dan bagaimana pula ibunya menyiapkan ramen instan untuknya ? Apakah waktu begitu cepat berlalu sehingga ia bahkan tidak menyadari kedatangan dari ibunya ??
Yumiko mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia memutuskan untuk memberanikan dirinya dan turun ke bawah. Semuanya telah diputuskan, dan ia pun membuka pintu kamarnya. Semuanya penuh dengan pajangan pigura dengan foto Mary-san. Tembok-tembok nya dihiasi hanya dengan wallpaper bermotif Mary-san. Lantainya pun dilapisi oleh karpet bermotif Mary-san. Bagaimana bisa ibunya menghiasi seisi rumahnya hanya dalam satu hari - tidak, beberapa jam saja ?
Yumiko berjalan menuruni tangganya secara perlahan sambil melihat ke lantai bawah. Lampunya di sana terlihat gelap, padahal ia selalu setiap hari menyalakannya.
“Yumiko-chan, kamu sedang turun ke bawah ?? Lampunya selalu kamu nyalakan, ya ? Itu boros listrik, tahu.... Untuk sementara, lampunya ibu matikan dulu, ya ?????”
Yumiko menjawab suara dari lantai bawah itu dengan 'ya', walaupun tidak ada suara dari mulutnya yang terdengar. Setiap langkah menurunnya, Yumiko dapat merasakan hawa dingin mengerikan semakin kental di sekitarnya. Tubuhnya menggigil, namun dia tetap menuruni tangga itu. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang harus dirinya benar-benar bereskan hari ini. Dan kemudian, sampailah dia di lantai bawah rumahnya sendiri duduk di hadapan meja makan, wanita separuh baya itu kemudian menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan lembut.
“M..... Mama....”
“Ah, Yumiko-chan, kamu akhirnya ada di sini. Lihatlah betapa kurusnya kamu. Kamu jarang makan kalau ada di sini, bukan ? Kamu selalu makan banyak kalau ada Mary-san dulu, kan ? (Chuckles) Kamu selalu kelihatan imut kalau kamu bersamanya, tau....”
“Ha.....”
Yumiko hanya menghela nafasnya. Dua mangkuk ramen instan sudah ada di atas meja makannya, satu di hadapan ibunya, dan satu lagi di depan sisi kosong yang sepertinya sedang menunggu seseorang untuk duduk di hadapannya. Menoleh kembali ke arah ibunya, Yumiko menemukan bahwa pandangan ibunya seperti 'berharap' agar dirinya duduk di sana. Walaupun tahu ada salah dengan wanita paruh baya itu, Yumiko tetap melakukan seperti apa yang diinginkannya. Yumiko duduk berhadapan dengan ibunya yang ada di depan. Walaupun jarak ada di antara keduanya karena meja panjang itu, dia masih merasa dekat dengan ibunya. Ramen instan adalah kesukaannya setelah pindah kota. Itu cepat, murah, dan punya berbagai rasa. Apalagi, lebih kerennya, adalah toppingnya yang bisa dimodifikasi sesuka hati. Dia bisa menuangkan kreativitasnya lewat situ. Namun kali ini, ia justru hanya menunduk dan memandanginya dengan tatapan kosong saja.
“Kamu tidak makan, Yumiko ? Kamu punya masalah di sini ??” ibunya bertanya.
“...... Iya.”
Selera makannya seolah tidak melakukan pekerjaannya, walaupun saat ini dia benar-benar lapar sekalipun. Entahlah, dia hanya tidak ingin makan saja. Tanpa alasan yang jelas.
“Katakan, Yumiko. Apa itu tentang pekerjaanmu ?”
Yumiko mengangkat kepalanya perlahan. Pilu terlihat di pelipisnya. Dia sebelumnya berani dan juga ketakutan, namun sekarang, dia benar-benar lemah. Dia, menangis.
“Aku dipecat. Padahal aku sudah ngelakuin apa aja yang si bajingan itu minta......”
“Jangan marah, Yumiko, dan jangan menyerah juga. Ini bukan akhir segalanya. Kamu pintar seni, ibu sangat yakin soal itu. Pekerjaan di sini banyak, tau. Paling tidak, kamu tidak lagi sendiri sekarang ini. Yumiko, apa kamu punya teman ??”
Pertanyaannya begitu lembut. Tidak mungkin ibunya yang ada di depannya saat ini adalah palsu. Dia hangat, sama seperti biasanya. Yumiko menundukkan kepalanya sekali lagi, merenungkan nasibnya sebagai seorang penyendiri, pemarah, dan juga pemalu akut. Tidak ada orang yang ingin menerima karakter seperti itu di kelompoknya, apalagi di pekerjaannya. Saat penyendiri, dia membosankan. Saat pemalu, dia lambat dan menyebalkan. Saat marah, dia selalu kelewatan. Mereka selalu memprotes dirinya karena sifat jeleknya itu. Sepertinya tidak akan ada yang pernah diam soal karakteristiknya, kecuali sebuah boneka yang ada bersama dengannya.
“Omong-omong soal teman, Yumiko-chan...... Mary-san menghubungi mama barusan.”
Matanya seketika membelalak lebar sekali lagi. Suasananya berubah secara drastis di detik itu juga. Ia perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat ibunya kembali. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar. Senyum lebar sialan itu lagi.
“Ini. Kamu baca sendiri, ya....” ucap ibunya sambil menyerahkan ponselnya pada Yumiko.
Tangannya bergetar dengan hebat sembari ia menerima ponsel ibunya itu. Dia kemudian membaca isi pesannya secara perlahan. Dia akhirnya menyadari sesuatu tentang Mary-san yang satu ini. Setiap kali, dia menemukan bahwa cara bicaranya terus berubah-ubah, seolah ada banyak dari mereka.
'Oi, aku sudah di depan rumahmu, tau. Aku senteri, ya ?'
Yumiko teringat kembali dengan apa yang dilihatnya di pagi hari waktu itu. Seorang perokok berandalan yang menyenteri jendela kamarnya dari bawah, tersenyum lebar ke arahnya, dengan sepuntung rokok menggantung di antara mulutnya. Mindblowing, itulah yang dipikirkannya. Mengerikan, adalah apa yang dirasakannya. Jiwanya seolah pergi dari dalam tubuhnya seketika itu juga, membuatnya menjatuhkan ponsel ibunya itu ke atas meja makan keramiknya yang keras dan kasar.
Dan cahaya senter menembus masuk lewat gordennya dari arah luar. Yumiko seketika menoleh ke arah jendela di belakangnya itu. Tidak mungkin dia akan membuka gordennya dan melihat wajah menyebalkan dan mengerikan yang sama itu lagi. Dia membiarkannya sebentar, dan kemudian cahaya senter itupun mati kembali.
Hening. Ibunya tidak lagi berkata-kata di meja makan sana. Suara notifikasi WhatsApp terdengar dari ponsel ibunya. Terdengar seperti spam. Yumiko berusaha untuk menghiraukan segalanya, namun kemudian, ponselnya sendirilah yang berbunyi kencang, dan bergetar dengan begitu hebat tidak seperti dering telepon yang pada umumnya. Seolah, ada sebuah gempa yang terjadi di dalamnya.
Terpaksa, dia pun mengangkat telepon tersebut.
“Aku di depan pintu, bodoh. Bukain.”
Dan telepon itu pun ditutup kembali dari sisi lain. Yumiko menurunkan ponselnya secara perlahan sambil menoleh kembali kepada ibunya. Senyum lebar mengerikan itu telah kembali menjadi sebuah senyuman hangat yang selalu ia kenal sebelumnya.
“Mary-san menunggu di luar sana, Yumiko-chan. Kamu tidak mau sendirian lagi, bukan ? Tentu kamu juga tidak mau membiarkan Mary-san sendirian juga, ya kan ? Kamu buka kan pintu itu. Tenang saja. Ibu.menemani.kamu.“
Jujur saja, Yumiko juga sudah muak dengan semua hal yang ada di dunia ini. Seolah dia tidak seharusnya dilahirkan di negara berkultur seperti ini, atau apalagi, dunia yang seperti ini. Sebuah dunia yang hanya menerima orang-orang tertentu saja, orang-orang yang bisa disukai dan bukan orang yang berusaha. Dia muak dengan kesendiriannya itu. Setiap kali dia berusaha mendekati seseorang, jarak di antara mereka justru semakin bertambah dan terus bertambah jauh. Bukan dia menghindari mereka, tetapi merekalah yang menghindarinya. Manusia bisa berjalan dan menghindar, namun boneka tidak. Hanya Mary-san yang selalu setia berada di pelukannya sejak kecil. Dia tidak pernah menjauh, karena dirinya yang sebagai manusia lah yang selalu menjauh. Boneka itu selalu ingin kembali kepadanya. Boneka itulah yang selalu merindukannya. Jika dipikir-pikir lagi, bukankah sebuah boneka jauh lebih manusiawi daripada manusia itu sendiri ??
Dan pintu rumahnya pun kembali terbuka. Sepi. Kosong. Hanya ada udara dingin yang berhembus tepat ke wajahnya. Kota ini jauh lebih bercahaya daripada waktu-waktu sebelumnya, jika dia ingat-ingat kembali. Bukan malam ini yang spesial, melainkan apa yang dialaminya sepanjang hari inilah yang spesial. Ini adalah malam kota Tokyo yang biasanya. Di luar sana bahkan ada orang-orang yang menoleh ke arahnya dan bertanya lewat gerakan badan 'kenapa ?'. Padahal dia sempat ingin berbalik ke Mary-san lagi, dan inilah yang didapatkannya ?? Itu membuatnya benar-benar bertanya.
“Oi, kamu bercanda, Mary- ??”
“Kamu mencari apa ? Kita berlima ada di belakangmu, Yumiko-chan.”
Berlima ?
***