Entah apa yang sedang aku alami, rasanya jantungku berdebar kencang, ketika melihatnya.
Dia cowok yang sulit di dekati, dia suka pilih pilih teman, dan dia cowok yang cuek,...
Tapi aku menyukainya...
***
Dewi Lestari,....
Itulah namaku,...
Teman- temanku biasa memanggilku Tari.
Aku baru saja masuk kuliah semester pertama, di sebuah universitas, dan aku nge_ kost , yang letaknya tidak jauh dari kampus.
Ini mungkin adalah peristiwa pertama dalam hidupku, dimana jantungku berdebar keras saat melihat atau bertemu dengannya.
perasaan ini semakin hari semakin berkembang, rasanya seperti saat ini.., aku tidak bisa mengungkapkannya..., apakah ini yang di namakan cinta?
Aku anak tengah dari 3 bersaudara, kakak ku baru menikah bulan lalu ,dan adikku laki laki, masih duduk di bangku Smp.
Menjadi anak tengah, membuat aku memiliki karakter tertutup, dan tidak suka terlihat menonjol, apalagi menonjolkan diri. Mungkin memang bawaan lahir.
Di sekolah, sejak kecil aku suka duduk di bangku pojok paling belakang, karena aku tidak suka orang lain memperhatikanku, aku akan memilih diam ketika pelajaran, ketimbang bertanya atau menjawab pertanyaan, walaupun aku sudah ,atau belum paham, apa yang guru terangkan di depan kelas.
Di rumah, aku suka bersembunyi di belakang punggung kakak atau ibuku, aku memilih tidak keluar saat ada tamu, walaupun terkadang itu membuatku menderita, karena aku menahan, ketika ingin rasanya buang air kecil.
itulah aku dan segala kekuranganku.
Seperti saat ini, aku duduk di pojok kelas, sembari memegang bolpoint dan menulis di sebuah kertas kosong, mengungkapkan perasaan yang sedang aku rasakan.
jujur, aku menulisnya sesuai isi hati
Mungkin aku bodoh, atau memang sangat bodoh, setelah aku melampiaskan perasaanku dalam tulisan, aku melipatnya dan menaruhnya ke dalam amplop ,lalu menyelipkan surat itu ke dalam buku cowok yang aku sukai, dengan cara sembunyi sembunyi.
***
Sudah ke 20 kali, aku mengirim surat itu, rasanya tidak bosan sama sekali, bahkan lebih bersemangat dan kurasakan lega dalam hati.
Satu hari itu, adalah peristiwa yang tidak aku inginkan ku alami.
ketika aku melihat surat suratku berada di tong sampah.
Tadinya aku tidak yakin, tapi setelah aku memungut salah satu dari banyak amplop di tempat sampah, aku langsung mengenali tulisan dan kata kataku yang aku tulis untuk Angga, cowok yang aku sukai.
Rasa kecewa dan sedih, aku rasakan dalam hati, ini seperti sebuah penolakan untukku.
Sebetulnya ini salahku sendiri, jika memang Angga membuang surat yang aku kirim, karena aku sengaja tidak membubuhkan namaku di amplop surat tersebut.
Satu demi satu aku ambil surat surat ku yang sudah ada di tempat sampah. ku rasakan mataku sedikit buram, karena "Loh " ku ( air mata) sudah terkumpul dan sebentar lagi pasti akan mengalir.
Baru saja aku merasakan "jatuh cinta" pertama kali, tapi tidak di sangka, Tuhan sekaligus mengenalkanku dengan " patah hati"
sungguh miris.
Ada 20 surat yang sudah aku selipkan, satu persatu aku baca kembali, dan selanjutnya aku sobek. Hingga tak ku sadari, seseorang menyembunyikan dirinya di belakang pohon, dan mengawasi sejak tadi, apa yang sedang aku lakukan sejak tadi.
Aku tidak pedulikan orang itu, aku tidak malu lagi menumpahkan air mataku, karena aku sudah tidak sanggup memendam kesedihanku.
jikalau semua mahasiswa kampus menertawakanku, aku pun tidak akan pedulikan.
Rasanya sakit, sakit sekali,..mungkin lain kali aku tidak akan berani jatuh cinta lagi kalo ternyata patah hati sesakit ini.
" hiks..hiks..." Aku terisak begitu parah, hingga rasanya aku tidak tahan ingin menjerit, atau melempar batu ke laut lepas, agar rasa sesak ini hilang di telan ombak.
Saking menjiwainya rasa sakit di hati, aku tidak mendengar, bunyi langkah kaki yang mendekati ku, dan kini dia menyodorkan sebuah sapu tangan biru bergaris putih.
Aku menggelengkan kepalaku, aku bermaksud menolaknya.
Aku butuh tisu, bukan sapu tangan milik orang lain yang bertuliskan sebuah nama " Angga W" ,untuk menghilangkan ingusku dan air mataku.
Aku tidak mau repot mencucikannya ,sebelum ku kembalikan.
"Ternyata menangis membuat kita seperti anak kecil ya...,tidak tahu malu, dan beringus."
Ucap orang yang duduk di sampingku saat ini.
" Hiks...hiks..."
masih dengan isak tangis, aku menoleh padanya.
" hiks..hiks..hiks..."
isakankan tangisku bertambah cepat, rasa marah dan benci, serta senang bercampur jadi satu, setelah tahu, ternyata cowok yang aku taksir, kini duduk di sampingku.
Aku ingin marah, dan memukul dadanya yang bidang, tapi nyaliku ciut, aku tidak berani melakukannya.
Tangisku belum juga berhenti, bahkan ingin berkata saja sulit.
Tiba tiba , Tangan cowok di depanku terulur sembari memegang sapu tangan tadi, dan seketika menghapus air mata dan juga ingusku.
" Kapan kamu berhenti menangis, apa kamu ingin mata kamu bengkak?", ujar Angga lagi padaku.
Tapi semua itu malah membuat tangisku semakin menjadi.
" Sampai kapan tangismu berhenti...apa .....
bibirnya mendarat ke bibirku, mataku membelalak seketika, tidak percaya dengan apa yang sedang aku alami.
lama bibir itu menempel, hingga membuat jiwaku luluh, dan akhirnya tangisku berhenti.
"....seperti ini...." lanjutnya ,menyambung ucapannya.
Sesudahnya aku tertunduk malu,
" kenapa dia ternyata semanis ini" bathinku berteriak senang.
keadaan jadi hening, kami canggung satu sama lain.
" Ternyata surat surat itu kamu yang mengirimnya.."
ujarnya melanjutkan percakapan.
" Kamu tahu, surat surat itu membuat aku marah.."
Aku terkejut dengan ucapannya, pria ini memang ular berbisa, tadi berkata manis, tapi ternyata menggigit di belakang.
Aku terpancing emosi, dan akan melontarkan balasan kata kata pahitnya.
Tapi , seketika jari telunjuknya menutup mulutku..
" hushhhhh...." dia menyuruhku diam. kemudian melanjutkan ber ujar lagi.
" Sebelum kamu marah, kamu perlu tahu, bahwa surat surat kamu itu, membuat aku sulit berkonsentrasi........ makanya aku ingin marah..., kenapa tidak terus terang saja, bilang langsung padaku bahwa kamu menyukaiku..."
Aku tercengang mendengar ucapannya.
" Maksudnya...?" Aku tambah tidak paham dengan apa yang baru saja dia katakan.
" Kamu ingin tahu, kenapa kamu membuatku marah?"
karena keadaan, bingung dan penasaran ,aku menganguk, siap mendengarkan penjelasannya.
" karena sebetulnya aku juga menyukaimu dari dulu...."
***
( happy ending)
saya suka akhir yang bahagia...
semoga menghibur...