Hari ini, aku diam-diam memandanginya di dalam kelas. Arah jendela kelasku yang langsung menghadap ke arah lapangan, bisa ku manfaatkan sesuka hati. Terlebih lagi jika kelasnya dapat bagian mata pelajaran olahraga, aku akan memaksa untuk pindah ke arah dekat jendela. Sudah biasa aku seperti ini, teman temanku saja sampai bosan melihat tingkahku yang terlalu budak cinta.
Sambil diam-diam memperhatikannya dari dalam kelas, aku juga sambil mengeluarkan buku diari ku untuk mencatat kejadian hari ini. Setelahnya aku akan menulis namanya dengan samaran 'Henry' lalu kuberi gambar hati di sekitarnya. Jam pertama, jam kedua sampai jam kesembilan, bel sekolah sudah menandakan waktunya untuk pulang. Aku langsung saja bersiap-siap dan berdoa, meninggalkan teman temanku yang masih berada di dalam kelas. "Woy! Buru-buru banget, jangan keluar dulu!" Ucap sang ketua kelas yang berlari menuju pintu kelas, meneriaki ku dari arah belakang.
"Udahlah, biarin aja, kalo dia udah keluar duluan tandanya dia udah doa," Ucap salah satu temanku yang lainnya, mencoba untuk beranggapan positif. "Emang dia mau kemana sih? Dari kemarin selalu keluar duluan," Tanya ketua kelasku, yah.. mungkin ini sudah menjadi pertanyaan di benaknya sedari kemarin. "Ituloh, dia mau lihat Heksa anak 8K," Jawab temanku yang lainnya, 'Heksa' adalah nama asli dari nama samaran yang aku tulis di buku diari, yakni 'Henry'. Satu kelas memang sebenarnya sudah tau apa yang aku perhatikan selama ini, namun ketua kelasnya saja yang tertinggal info masa kini, masakah informasi tentang aku menyukai Heksa dia tidak tahu? Dasar katrok!
Ketika aku sudah berada diluar kelas, tepatnya di depan kelas 8K. Aku ragu ingin mendekati kelas 8K, kalau ketahuan, keliatan banget lagi nungguin seseorang! Haah... Aku dilema. Jadinya, aku berpura-pura menunggu jauh dari kelas 8K agar tidak kelihatan, sambil bersender di tembok pilar antara kelas 8I dan 8J. Sejujurnya, aku menghampiri kelas 8K untuk melihatnya saja. Tetapi jika sudah begini, suasananya jadi canggung banget.
Saat jam pelajaran terakhir kelasnya telah selesai, barulah aku berjalan perlahan mendekati tembok pilar antara kelas 8J dan 8K. Murid-murid 8K sudah bergerombolan keluar dari dalam kelas, tetapi saat ini, aku masih menunggu Heksa keluar. Awalnya aku berpikir jika dia piket kelas, mau tidak mau aku harus meninggalkan nya pulang terlebih dahulu. Hilih! Lagipula, siapa aku? Setelah beberapa menit menunggu, aku melihat ada tas berwarna hijau toska yang terlihat lebih terang dari semua warna yang ada. Ya, itulah tas nya, langsung saja aku menyamakan langkah kaki ku dengannya di jalur yang berbeda.
Saat sampai di depan gerbang menuju keluar sekolah, sepertinya disini aku harus berpisah dengannya hari ini. Tetapi, tidak apa-apa, setidaknya rasa rinduku untuk melihatnya sudah terbayarkan. Namun, baru saja aku melangkahkan satu kaki ku menuju keluar sekolah, ada tangan seseorang yang menepuk bahuku. Disaat itu juga detak jantungku tidak beraturan, instingku sudah mengatakan bahwa yang menepuk adalah Heksa.
Saat aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menepuk bahuku, sepertinya rasa terlalu percaya diriku harus diturunkan sedikit demi sedikit. Ekspetasi ku yang membayangkan wajahnya tersenyum ke arahku sambil mengajak untuk pulang bersama, tidak, itu tidak terjadi. Huaaaa... ternyata yang terjadi sebenarnya adalah orang lain yang menepuk bahuku!? Aku langsung menanggapi nya dengan ramah meskipun sedikit dari pengucapanku yang terbata-bata.
"Ya?" Aku menoleh kebelakang dengan ekspresi yang terkejut, namun begitu cepat, karena setelahnya aku merubah ekspresi ku menjadi tersenyum. "Nah, iya kamu! Diajak pulang bareng sama Heksa!" Ucapnya sambil menunjuk ke posisi Heksa saat ini, reflek aku mengikuti kemana arah tangannya menunjuk. HAH? teriakku yang hanya bisa ku suarakan dalam batin.
"H-hah?" Ucapku bingung dengan yang terjadi pada saat ini, rasa terlalu percaya diri yang tadinya aku turunkan menjadi NAIK KEMBALI! Pulang, bersama, Heksa? HAH. Aku melamun sebentar, mencoba menghubungkan kata-kata yang diucapkan tadi. Tanpa sadar jika Heksa sudah berada di depanku sekarang dan membuyarkan lamunanku, "bagaimana? mau tidak?" Dan tanpa sadar juga aku menjawab "mau..."
Setelah kemarin aku pulang bersama Heksa, ternyata rumah kami hanya terpaut jarak dua rumah. Sangat dekat! Dan bahkan aku baru tahu!? Bisa-bisanya! Oleh karena itu, selama satu semester ini, kami jadi sering berangkat dan pulang bareng. Banyak yang menggoda kami, tapi hush, hush! Buanglah semua godaan yang datang daripada teman kami semua! Tapi memang takdir, atau mungkinkah tidak? Heksa jadi sering main kerumahku untuk meminjam suatu barang, entah buku pelajaran ataupun buku tulis pelajaran.
"Ini, makasih ya bukunya!" Ucapnya sembari menyodorkan buku tulis milikku. "Sama-sama! Lain kali kalo butuh bantuan, jangan sungkan buat bilang ya, Heksa!" Jawabku seramah mungkin. "Wah, kalau begitu seterusnya aku tidak sungkan-sungkan lagi deh. Haha!" Candanya dengan tawa manis yang menghias wajahnya, haaa... sungguh menyejukkan hati...
Saat ini kami sedang membahas suatu pelajaran, tetapi di sela-sela pembahasan, Heksa mengatakan sesuatu yang membuatku sedih seperti tengah berdiri di hujan gerimis yang cenderung semakin membesar. "Sebelumnya ini tidak ada sangkut pautnya mengenai pelajaran, tetapi aku hanya ingin meminta pendapat mu saja.." Ucapnya, "aku menyukai seseorang, tetapi orang yang aku sukai menyukai orang lain..." Ya, itu katanya, bak menonton film drama Korea dengan cerita cinta segitiga. Aku hanya berdiam sebentar, mencoba mencerna apa yang Heksa katakan.
"Haloooo?" Tangannya melambai-lambai di depan wajahku. "Maka, lupakanlah dia," gumam ku sepenuhnya tidak sadar ketika mengatakan itu. "Lupakan, ya?" ulangnya mengatakan sepatah kata hal yang aku ucapkan tadi. "Ya... kamu tahu, tidak ada yang lebih menyakitkan saat orang yang kita sukai ternyata malah menyukai orang lain," ucapku seolah-olah memberi nasihat, padahal kata-kata itu kuhujamkan untuk diri sendiri.
Seiring berjalan nya waktu, dan saat Heksa mengatakan bahwa dirinya menyukai orang lain, dari saat itu juga hubungan kami menjadi renggang, entah aku yang terlalu berharap, ataupun ada gangguan yang lainnya. Keesokan harinya dan seterusnya, aku mulai berangkat sendiri lagi ke sekolah, begitupun juga pulangnya. Yang biasanya aku menghampiri nya ke kelas 8K, tapi sekarang tidak, teman-temanku sampai heran dengan apa yang sudah terjadi. Yang padahal mereka lihat sebelum-sebelumnya, Heksa dan aku terlihat akrab.
Sampai suatu hari, di sore yang dingin dan jalanan yang basah sehabis hujan, aku mendengar berita duka dari grup angkatan. Heksa meninggal sore ini, dan baru akan dikubur malam ini. Kabar duka itu aku dengar dari teman dekatnya, Yasir. Tubuhku langsung lemas tidak bertulang, bulir-bulir air mata yang mulai menetes dan terus menerus menetes. Malamnya, aku datang melayat di rumahnya dengan keadaan mata yang sembab.
Hatiku hancur, aku terpaku melihat sosok yang kukasihi itu terbujur kaku, tanpa suara, tanpa nafas. Tak akan ada lagi teman bercanda yang selalu membuat hatiku berdebar debar, teman yang setia menungguku untuk berangkat dan pulang sekolah bareng. Ketika para pelayat pulang satu persatu, rasanya tidak ada tenaga lagi untuk beranjak dari situ.
Dari keterangan yang aku dapatkan dari teman dekatnya, Yasir. Heksa meninggal karena penyakit kronis yang baru-baru ini menyerang kondisi kesehatan tubuhnya. Kondisi Heksa yang sebelumnya memprihatinkan, segera dilarikan ke rumah sakit oleh orang tuanya, namun saat beberapa jam ditangani, perawat-perawat yang keluar dengan membawa brankar dengan seseorang diatasnya yang sudah ditutup kain putih panjang sebadan, membuat orang tua Heksa menangis histeris. Takdir, telah berkata lain..
Seminggu setelah kepergian Heksa, di kantin sekolah, Yasir tiba-tiba berjalan kearahku dan memberitahukan sesuatu yang kembali membuat hatiku pilu.
"Sebenarnya, Heksa suka sama kamu," ucap Yasir saat itu. "Tau dari mana?" ucapku keheranan. Maksudku, baru seminggu setelah kepergian Heksa, tiba-tiba ada yang mengatakan hal seperti itu. "Ck! Ternyata Heksa mengatakan hal yang sebenarnya, bahwasanya kamu itu tidak peka!" ucapnya sedikit menaikkan nada bicaranya, mungkin dia kesal terhadap ku?
"Hei, kadang cinta itu tidak perlu diucapkan, tetapi dirasakan. Kamu tahu? Saat sebelum kepergian Heksa, dia curhat kepadaku, mengatakan bahwa kamu menyukai laki-laki lain," ucap Yasir. Aku yang mendengar hal itu setelahnya memekik, "kapan aku menyukai laki-laki lain!?"
"Heksa membaca buku diari mu." Bagai dihujam beribu-ribu rasa penyesalan terdalam, dan aku mulai berandai-andai. Namun, bagaimana bisa buku diari ku bisa dibaca... Diari itu mungkin tanpa sengaja dilihat oleh Heksa ketika Ia ingin meminjam buku tulis pelajaran milikku. Diari itu penuh dengan kata cinta dan puisi untuk seseorang yang bernama 'Henry'.
Aku berusaha menyatukan kembali potongan puzzle dalam ingatanku. Bagaimana dia memiliki sikap perhatian kepadaku, senyum tulus yang sering Ia tunjukkan di depanku. Ternyata itu semua karena Ia menyimpan rasa yang sama untukku. Kini, perasaan tersebut telah dibawa jauh oleh pemiliknya. Henry-ku telah pergi. Henry itu Heksa.
"Terkadang, cinta itu juga butuh pengakuan."