Sudah berapa banyak uang yang aku habiskan untuk berbelanja hari ini? Sepertinya gaji dua bulan kerjaku melayang dalam satu hari. Terlalu serakah! Bagaimana aku bisa melakukan pemborosan parah seperti ini?
Sebentar lagi pusat perbelanjaan ini akan tutup, tapi aku masih menatapi diriku di kaca toilet dengan frustasi meratapi isi dompetku. Walaupun hari ini banyak pengunjung, aku rasa mereka juga sudah meninggalkan tempat ini. Saat aku masuk ke toilet, beberapa toko juga sudah menarik rolling door. Sebaiknya aku cepat keluar sebelum eskalator dan lift dimatikan.
Bergegas aku menenteng tas belanjaanku. Saat keluar dari toilet, lampu lorong sudah di matikan. Mau tak mau aku jadi harus menyalakan lampu flash dari ponselku.
Aku berjalan menuju lift yang untungnya masih bisa dipakai. Tidak ada orang sama sekali. Sangat sepi. Bagaimana orang bisa pergi dengan cepat? Kurasa aku hanya ditoilet 10 menit. Seharusnya ada satu dua orang yang masih tertinggal. Bahkan petugas keamanan dan kebersihan pusat perbelanjaan ini juga tidak nampak sama sekali.
"Ting!!!" Lift terbuka. Untunglah aku tak harus menunggu lama ditempat gelap ini. Dari lantai 5 ku tekan tombol lift menuju lantai dasar. Sangat lega ketika aku sudah masuk ke lift. Walau aku tak berfikir tentang hantu atau semacamnya tapi aku benci tempat gelap. Lift mulai turun perlahan. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding lift sambil menunggu sampai. Namun tiba-tiba...
"Ddrrreekk!!!"
"Ting!!!" Lift terbuka di lantai 4. Ada seorang pria bertubuh kekar dengan seragam teknisi berdiri di depan pintu lift. Ia menunduk tak melihat ke dalam lift. Diam dan tak kunjung naik ke dalam lift. Lorongnya sangat gelap seperti lorong dilantai 5 tadi. Apa mungkin dia staff teknisi pusat pembelanjaan ini?
"Anda mau naik?" Tanyaku ramah. Tapi dia tak menjawab. Dia hanya menggeleng ringan dan lemah.
"Saya akan tutup pintu liftnya." Ku tekan tombol close pintu lift. Dia tidak mau naik tapi menekan tombol. Mengganggu saja...
"Ddrrreekk!!!" Baru saja lift bergerak turun tiba-tiba saja berhenti lagi.
"Apa ini?" Lift ini berhenti di lantai 4 lagi. Apa liftnya rusak?
"Ting!!!" Pintu lift terbuka. Pria teknisi tadi berdiri ditempat yang sama. Aneh sekali, jelas-jelas tadi aku merasakan liftnya bergerak turun. Bagaimana bisa berada dilantai yang sama? Sekali lagi ku cek angka yang tertera pada monitor lift. Benar-benar lantai 4! Aku tidak salah lihat. Apa orang ini yang sengaja menekan tombol agar lift tidak turun? Tapi mana mungkin!
"Anda mau naik, pak?" Tanyaku. Kali ini ia mengangkat wajahnya yang pucat dan kaku. Usianya sekitar 50 tahunan keatas. Cukup tua. Lagi-lagi ia menggeleng.
"Tolong jangan pencet tombolnya jika anda tidak mau naik. Saya harus segera pulang." Pintaku dengan sopan. Aku mengatakannya karena kesal. Pintu lift kembali ku tutup dan lift kembali bergerak turun.
"Ddrrreekk!!!" Lagi? Aku menghela nafas dengan jengkel. Nomor yang tertera lagi-lagi lantai 4. Sebenarnya lift ini rusak atau kenapa? Aku tidak turun dari tadi! Aku yakin ini ulah teknisi tua tadi.
"Ting!!!" Pintu terbuka, benar dugaanku. Pria tua tadi masih disana. Dengan kesal aku menatapnya tajam.
"Tolong jangan main-main pak! Saya harus pulang! Anda teknisi tempat ini? Beritahu langsung jika lift ini dalam perbaikan atau rusak! Anda tau kan pengunjung harus di hormati!" Ocehku kesal. Kututup pintu lift dengan menekan tombol agak kasar. Ku lakukan sengaja agar pria tadi tahu aku sedang marah.
"Ddrrreekk!!!"
"Ting!!!" Habis sabarku. Orangtua ini membuatku kesal sekali! Akan ku laporankan pada staff manajemen tempat ini nanti!
Pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya, kali ini aku langsung ingin berteriak emosi, tapi saat ku lihat pria tua tadi tak ada di tempatnya. Hanya lorong kosong yang gelap. Aku keluar dari lift dan melihat sekitar. Tak ada siapapun. Tiba-tiba saja aku merasa bergidik ngeri. Ada angin dingin dari atas yang bertiup ke tengkuk leherku. Seketika itu aku berbalik dan mendongak, pria tua tadi merangkak diatas pintu lift dengan penuh darah dan luka sayatan di seluruh wajah dan lengannya. Tubuhku membeku beberapa detik. Kaku! Sekuat tenaga kutekan uratku dan berusaha bersuara.
"Aakkhh!!!!" Teriakku ketakutan. Aku bergegas berlari masuk kedalam lift. Dengan gemetar dan buru-buru aku menutup pintu lift. Aku berdoa, terus memohon agar lift tidak terbuka di lantai yang sama. Aku memejamkan mata erat-erat berdiri menghadap dinding disudut lift. Lama... Lift bergerak sangat lama. Setiap detik jantungku seperti akan meledak karena berdetak tak beraturan. Jangan! Tolong jangan berhenti di lantai 4! Jangan!
"Ddrrreekk!!!"
"Ting!!!" Kumohon. Semoga ini bukan lantai 4! Dengan mengumpulkan keberanian, kulirik sedikit kearah pintu lift yang terbuka.
"Loby lantai dasar!" Bagus! Aku segera berlari keluar dari lift menuju pintu keluar. Dengan terengah-engah aku berhasil berlari melewati pintu tanpa menengok ke belakang. Dua orang petugas keamanan yang berada di pos keamanan menatapku dengan keheranan. Lalu satu dari mereka menghampiriku.
"Anda baik-baik saja?" Tanyanya.
"Saya... " Tidak bisa bicara tentang hantu. Belum tentu petugas ini akan percaya padaku.
"Saya terjebak di lantai 4. Liftnya macet!" Jawabku. Petugas itu mengerutkan keningnya.
"Lantai 4? Lift?" Ucapnya penuh tanda tanya. Aku pun juga bertanya-tanya. Kenapa ekspresinya begitu?
"Maaf, apa anda yakin dengan yang anda katakan? Gedung kami tidak memiliki lantai 4 dan lift sedang tak difungsikan sementara waktu."
"APA?!" Aku tercengang seketika. Terdiam saling tatap dengan petugas itu.
"Mungkin anda kelelahan dan berhalusinasi. Atau mungkin anda dalam pengaruh alkohol." Kata petugas itu.
"Apa yang anda katakan nyata?" Tanyaku penasaran. Petugas itu mengangguk dengan mantab.
"Mari saya antar ke depan. Saya akan panggilkan taksi agar anda tidak salah karena halusinasi anda." Apa petugas ini meledekku? Jelas-jelas aku naik lift dan berhenti dilantai 4!
"Sudahlah... Saya bisa pergi sendiri. Terimakasih." Ucapku kesal sembari berjalan meninggalkan petugas itu.
Keesokan harinya aku sarapan bersama ayah dan adikku yang masih sekolah. Aku diam menikmati sarapanku seraya memikirkan apa yang kulihat di pusat perbelanjaan itu. Akalku masih sulit menerima apa yang ku lihat.
"Ayah, di liputan pagi ada temuan mayat di pusat perbelanjaan kota. Ayah tahu kasus itu?" Tanya adikku. Aku langsung mengalihkan fokus ku pada mereka. Kebetulan ayahku adalah seorang polisi di bagian penyidik.
"Oh, iya. Kebetulan korbannya seorang staff teknisi. Itu kasus pembunuhan." Jawab ayah.
"Staff teknisi?" Aku terbelalak kearah ayah yang asyik melahap sarapannya.
"Iya. Kasihan sekali, sudah tua. Di bunuh oleh staff lain. Mirisnya tubuhnya dibuang dibawah lift. Pantas liftnya menjadi tak berfungsi beberapa hari terakhir. Laporan hilangnya korban sudah masuk seminggu lalu. Jadi sudah agak lama baru ditemukan." Badanku membeku. Jadi yang semalam...
"Pusat perbelanjaan kota? Yang tidak ada lantai 4 nya?" Tanyaku memastikan.
"Kakak tau? Oh iya aku lupa, kakak belanja disana kemarin." Jadi benar? Yang kulihat semalam adalah korban pembunuhan yang di bicarakan ayah dan adikku? Pantas wajah dan lengannya penuh luka sayatan. Aku tak percaya tapi Ini sungguh nyata. Gila...
===^end^===
Note: sebagian gedung tidak memiliki lantai 4, karena di satu kepercayaan, angka 4 dipercaya berhubungan dengan kematian dan kesialan.
Terimakasih untuk yang mau mampir🙏