Matahari musim semi bersinar terang di atas langit Beijing. Suara klakson mobil dan hiruk pikuk kota yang ramai seakan menjadi musik pengiring langkahku. Aku, Cinta, seorang gadis Indonesia yang memutuskan untuk menetap di China demi mengejar impian dan cinta.
Setelah menempuh pendidikan di Jakarta, aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Beijing. Awalnya, keputusanku ini ditentang oleh keluarga. Tapi tekadku bulat. Selain pendidikan, ada satu alasan kuat yang membuatku ingin tinggal di China: Tian, seorang pria yang kukenal melalui pertukaran pelajar beberapa tahun lalu.
Aku mengenal Tian saat dia berkunjung ke universitasku dalam program pertukaran pelajar. Sejak itu, kami sering berkomunikasi dan hubungan kami berkembang menjadi lebih dari sekedar teman. Tian adalah sosok yang hangat dan selalu membuatku merasa nyaman.
Hari itu, aku baru saja keluar dari kampus setelah menyelesaikan kelas terakhirku. Ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk.
"Hey, Cinta. Apa kabar? Bisa ketemu di kafe favorit kita malam ini?" - Tian.
Senyumku mengembang membaca pesan itu. Tian selalu tahu bagaimana membuat hariku lebih berwarna. Aku segera membalas pesannya.
"Tentu, jam berapa?"
Tak lama, ponselku kembali bergetar.
"Jam 7 malam. Aku tunggu ya."
Malam itu, aku bersiap-siap dengan hati yang berdebar. Kafe tempat kami sering bertemu adalah tempat yang penuh kenangan. Setiap sudutnya mengingatkanku pada obrolan panjang kami tentang mimpi dan harapan.
Aku tiba di kafe tepat waktu. Tian sudah menunggu di meja pojok dengan secangkir kopi di depannya. Senyumnya menyambutku, membuat rasa lelahku seketika hilang.
"Cinta, kamu makin cantik saja," katanya sambil menarik kursi untukku.
"Ah, Tian. Kamu bisa saja. Bagaimana harimu?" tanyaku sembari duduk.
Kami berbicara tentang banyak hal, dari kuliah hingga rencana masa depan. Namun, ada satu hal yang belum sempat kubahas dengan Tian: perasaanku yang semakin dalam padanya.
Saat malam semakin larut, Tian tiba-tiba menggenggam tanganku.
"Cinta, ada sesuatu yang ingin kubicarakan," katanya dengan wajah serius.
Jantungku berdegup kencang. Apakah ini saatnya dia mengungkapkan perasaannya?
"Apa itu, Tian?"
"Aku mendapatkan tawaran pekerjaan di Shanghai. Ini kesempatan besar buat karirku," katanya.
Hatiku seketika hancur. Shanghai, kota yang berjarak ratusan kilometer dari Beijing. Bagaimana nasib hubungan kami jika dia pergi?
"Tian, aku senang untukmu. Tapi, bagaimana dengan kita?" tanyaku dengan suara bergetar.
Tian menatap mataku dalam-dalam. "Itulah yang ingin kubicarakan. Aku ingin kamu ikut denganku ke Shanghai. Kita bisa memulai hidup baru di sana, bersama."
Air mata menggenang di mataku. "Tian, aku juga ingin begitu. Tapi aku masih punya satu tahun lagi kuliah di sini."
Tian menghela napas. "Aku tahu, Cinta. Aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan hubungan kita. Aku ingin kita selalu bersama."
Malam itu, aku pulang dengan perasaan campur aduk. Tawaran Tian adalah mimpi yang selama ini kuharapkan, tapi ada banyak hal yang harus kupikirkan.
Hari-hari berlalu, dan Tian terus menunjukkan dukungannya padaku. Kami sering berbicara tentang masa depan, merencanakan segala sesuatu dengan hati-hati. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk memberanikan diri.
"Tian, aku akan ikut denganmu ke Shanghai setelah lulus. Aku tidak ingin kehilanganmu," kataku pada suatu malam saat kami berjalan-jalan di taman kota.
Tian memelukku erat. "Cinta, terima kasih. Aku berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakanmu."
Setahun kemudian, aku lulus dengan predikat yang memuaskan. Tian dan aku segera mempersiapkan kepindahan kami ke Shanghai. Semua terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Shanghai menyambut kami dengan gemerlap cahaya kota yang tak pernah tidur. Kami menemukan apartemen kecil yang nyaman di pusat kota. Setiap hari, kami bekerja keras mengejar impian kami. Tian dengan karir barunya dan aku mulai bekerja di sebuah perusahaan internasional.
Meski sibuk, kami selalu menyempatkan waktu untuk bersama. Setiap akhir pekan, kami menjelajahi sudut-sudut kota, menemukan tempat-tempat baru yang indah. Kebersamaan kami semakin erat dan cinta kami semakin kuat.
Namun, kehidupan di kota besar juga menghadirkan tantangan. Ada kalanya kami merasa lelah dan stres dengan pekerjaan. Tapi setiap kali aku merasa down, Tian selalu ada untukku. Dia selalu tahu bagaimana menghiburku dan membuatku tersenyum lagi.
Suatu malam, setelah seharian bekerja, Tian mengajakku ke sebuah restoran mewah di tepi sungai. Pemandangan malam kota Shanghai begitu memukau dengan pantulan cahaya di permukaan air.
"Tian, ada apa? Kenapa tiba-tiba makan malam di tempat mewah begini?" tanyaku penasaran.
Tian tersenyum dan menggenggam tanganku. "Cinta, aku ingin merayakan sesuatu yang spesial."
"Apa itu?"
Dia mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya dan membuka tutupnya. Di dalamnya ada cincin berlian yang berkilauan.
"Cinta, maukah kamu menikah denganku?" tanyanya dengan penuh harap.
Air mata bahagia mengalir di pipiku. "Ya, Tian. Aku mau," jawabku dengan suara gemetar.
Tian memakaikan cincin itu di jariku dan memelukku erat. "Aku mencintaimu, Cinta. Terima kasih telah membuat hidupku begitu indah."
"Aku juga mencintaimu, Tian. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku."