Kegelapan ....
Lagi-lagi suasana gelap menghiasi setiap sudut ruangan. Cahaya temaram yang berpadu dengan lembabnya udara. Sudah menjadi pemandangan biasa, bagi gadis berparas cantik itu.
Sesekali bau anyir yang menggelitik indera penciuman dan angin yang bertiup lembut membuat tirai menari-nari dengan gemulai di bawah sinar rembulan yang menyusup dalam ruangan. Tak lupa hawa dingin ikut menyapa menggelitik indera peraba hingga menusuk tulang. Membuat siapa pun yang berada di sana sudah tidak tahan dengan suasana mencekam mulai tercipta.
Mungkin itu yang dirasakan oleh orang lain. Akan tetapi, tidak untuk gadis cantik itu.
Gadis berparas cantik dan menarik, namun terlihat dingin itu tampak tak terusik dengan suasana malam.
Tangannya dengan lincah memainkan sebuah kuas, membiarkan kuas itu menari-nari di atas sebuah kanvas mengikuti irama sebuah denting lagu yang terdengar nyaring, namun menakutkan, seperti sebuah melodi kematian.
Seperti berpacu dengan waktu. Polesan warna berwarna merah pekat dan beraroma anyir itu telah membentuk sebuah sketsa seorang pria.
Jika dilihat dengan seksama, sketsa yang ia lukis seperti seseorang yang sudah berubah menjadi bangkai dan teronggok di sebuah sudut ruangan tersebut.
Pria itu terlihat mengenaskan dan kondisinya sangat jauh dari kata baik. Dengan wajah yang pucat dan bibir yang mulai membiru, dan banyak goresan yang menghiasi tubuhnya. Luka itu masih terlihat menganga. Gadis itu mengalihkan atensinya meski hanya beberapa menit saja, kemudian seulas senyum mengerikan terbit di wajah cantiknya.
“Hei, kau lihat. Lukisan potret dirimu sudah jadi! Bagaimana hasilnya, sangat bagus bukan?" Gadis itu mengambil lukisannya, kemudian berjalan menghampiri jasad lelaki itu. “Kau lihat dia sangat mirip denganmu. Dan aroma darahmu membuat lukisanku ini semakin mengagungkan. Seandainya, kau tidak mengkhianatiku. Aku yakin, kau pasti akan senang melihatnya!"