"Kamu harus mati!"
Suara itu menggema tiba-tiba di ruangan. Aku tersentak karenanya. Kupindai pandanganku ke sekitar untuk mencari siapa yang berbisik penuh ancaman. Namun, tidak ada seorang pun di sekelilingku selain hutan gelap.
Kutegakkan tubuhku. Sudah cukup beristirahatnya. Kini aku harus berlari lagi jika mau selamat. Kupacu langkah kaki ini menyusuri tanah lembab dan rerumputan liar yang terkadang menggelitik kakiku.
"Aku tahu kamu melarikan diri."
Deg!
Lagi, suara yang sama seakan berbisik di dalam kepalaku. Sampai detik ini aku belum mengetahui siapa pemilik suara mengerikan ini. Jantungku berdebar sangat cepat seiring langkah kaki dipercepat.
Aku takut ditemukan olehnya. Aku terus berlari, berlari dan berlari meski napasku terengah-engah. Mereka tidak boleh menemukanku!
"Lebih baik kamu mati."
"Tidak ada yang mengharapkanmu."
"Kehidupanmu di dunia merupakan kesia-siaan."
"Jangan buang waktumu lagi. Aku ada di sini untuk menjemput kematianmu."
Hentikan! Hentikan! Hentikan! Aku tidak mau dengar semua itu lagi! Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis saat ini. Air mata meluncur deras di pipiku. Namun, langkah kakiku tidak pula berhenti berlari. Aku terus berlari dengan derai air mata. Tidak peduli meski napasku tercekat dan bibirku bergetar. Aku terus berlari walau pandanganku kini jadi buram karena air mata. Pepohonan lebat di depan mataku nampak kabur dan semakin gelap.
Entah sudah sejauh mana aku berlari ketika perlahan-lahan langkah lariku melambat. Aku kemudian berpegangan pada dahan pohon sambil bersandar lelah. Membiarkan paru-paruku bernapas dulu sembari aku memejamkan mata dengan mulut terbuka mengebuskan napas lelah.
"Mau kabur kemana?"
Aku tersentak seketika. Kulihat sekeliling, aneh, aku tidak menemukan seorang pun di sekitar. Hanya gelap dan rimbunnya pohon. Sejenak aku dapat merasakan embusan angin terasa begitu dingin di kulit. Aku berputar gelisah mencari pemilik suara misterius itu. Suara yang terdengar menggema di udara.
"Aku tahu tentang dirimu. Hanya aku yang tahu. Sungguh menyedihkan dirimu itu."
Lagi, suara sinis itu seakan sedang melihatku di sini.
Naluriku seketika merasakan keberadaan seseorang, aku menoleh seketika tepat ke arah ujung jurang itu. Mataku membola melihat siapa seseorang yang berdiri di tepi jurang. Dia seorang gadis. Memiliki fisik dan wajah sangat mirip denganku. Matanya, persis sepertiku. Dia menatap dengan pandangan kosong, rambut acak-acakan dan berdiri dengan lesu.
"Siapa kamu?" tanyaku gemetar.
Tepat setelah itu kengerian selanjutnya bagai menusuk pikiranku. Bibir pucat gadis itu tersenyum tiba-tiba. Aku tahu senyuman itu bukan senyuman keramahan. Melainkan senyuman mengerikan. Senyuman itu seolah berbicara kepadaku bahwa nyawaku berada di ujung tanduk.
"Aku, adalah," Tangan kanan gadis itu terangkat, telunjuknya mengarah lurus. "Kamu," tandasnya memelotot. Napasku tertahan seketika. Apa maksud dia itu?
"HAHAHA!!!!"
Tiba-tiba dia tertawa melihat wajah kebingunganku. Tawanya menggelegar, terdengar mengerikan di tengah hutan mencekam ini.
"Lihatlah dirimu sendiri."
Detik itu aku terpegun. Aku menyadari satu hal penting, suara ini sama dengan suara yang menghantuiku selama pelarian. Dan suara itu berasal dari gadis yang mirip denganku di sana. Aku mematung di tempat.
Seperti terhipnotis, kakiku bergerak sendiri mendekat ke arahnya. Ketika aku berdiri bersisian dengannya menghadap jurang gelap, aku tetap tak bisa mengendalikan tubuhku. "Kamu mau mati kan? Akan kuwujudkan," kata gadis itu.
'Ria!! Jangan pergi!!'
Suara siapa ini? Suara yang berbeda namun terdengar tidak asing. Aku mendengar suara itu berulang kali ketika kaki ini melangkah maju perlahan.
'Ria!! Kubilang jangan pergi!!'
'Apa kamu sudah membuang semua masa depan yang pernah kita bicarakan??!'
'Kumohon! Jangan berkhianat pada Tuhanmu! Jangan pergi ke sana!'
Kaki kiriku bergerak maju dengan kaku.
'Jika kamu pergi, selamanya kamu tidak akan bisa mewujudkan impianmu!'
'Aku tahu kamu kuat, oleh sebab itu kamu masih hidup sampai detik ini! Kumohon, bertahanlah!'
Air mataku meluncur lagi. Aku menangis tanpa suara. Mendengar teriakan-teriakan itu membuat dadaku sesak. Kakiku terus melangkah maju, tapi otak dan sebagian diriku tidak mau melompati jurang gelap itu.
AKU HARUS BAGAIMANA??!
Siapa pun, tolong aku!
"Ria! OH MY GOD!"
Satu pekikan bernada kaget itu terdengar. Kali ini kedengaran nyata di telingaku. Samar-samar aku melihat wajah cemas orang terkasih memeriksa keadaanku. Aku tak bisa menggerakan tubuh ini.
Aaah, bagaimana bisa aku meninggalkan orang terkasihku sendirian? Betapa kejamnya diriku kepadanya. Bagaimana mungkin aku membuatnya menangisi keputusan egoisku ini. Melihatnya, aku merasa sangat bersyukur dapat hidup bahagia, walau batinku terus tersiksa.
Hingga satu hal yang kudengar untuk terakhir kali;
'Apakah kamu ingin memiliki waktu lebih banyak dengan orang itu?'
Entah suara siapa itu. Kemudian aku menjawab lemah; "Ya..."
***
Kesadaranku kembali saat membuka mata. Lalu aku menyadari bahwa sekarang aku berbaring di ranjang dengan selang infus di lengan kanan. Ah, rupanya aku di rumah sakit, ya?
"Ria!!!" pekik seseorang kaget. Aku menoleh. Kutemukan orang terkasihku menghampiriku dari sofa. Raut wajahnya kelihatan sengsara. "Syukurlah kamu sadar... Ya Tuhan, terimakasih!" desahnya lega.
"Apa yang kamu pikirkan dengan bunuh diri itu hah? Kamu mau meninggalkan aku? Tega sekali!" Perlahan wajah itu merengut disusul air mata mengalir turun.
"Tidakkah kamu membagi bebanmu kepadaku? Aku ingin menjadi sandaran keluh kesahmu kapanpun itu. Maka, percayakan semuanya kepadaku, ya, hm?" ujar dia, dahinya mengerut dengan air muka sedih.
Dengan lemah aku menarik garis senyum. "Terimakasih sudah menjadi penolongku."
Rupanya, suara-suara gadis itu meraung di dalam penjara benakku. Sekarang, aku punya seseorang yang kupercayai.
Hidupku terasa sangat berat dijalani. Segala hal yang membuat sesak batin dan jiwa telah hampir menjerumuskan diriku pada kesia-siaan hidup. Setidaknya sebagian diriku tidak ingin mati dengan cara bunuh diri. Karena sebagian diriku ini menyadari bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan.
Mulai sekarang aku harus mensyukurinya apa pun yang terjadi. Senang, sedih, susah hati, bahagia, tangis, tawa, memang begitulah hidup manusia.
"Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah. Kamu berlari, kamu pengecut. Hadapi dunia ini dengan penuh bangga meski ada ribuan anak panah menghujam punggungmu."
***