Senja itu, langit Jakarta berwarna jingga keemasan, menghiasi jalanan yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota. Di sebuah kafe kecil yang cozy, Raka duduk sambil menyesap kopinya. Dia baru selesai dari meeting panjang yang bikin otaknya keriting. Sambil menunggu pesanannya, Raka membuka buku tua yang selalu dia bawa kemanapun. Buku itu bukan sembarang buku, tapi buku harian dari abad ke-19 yang dia temukan di toko barang antik beberapa bulan lalu.
Raka terpesona dengan kisah dalam buku itu. Tentang seorang pria bernama Raditya yang jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Sri di zaman kolonial. Mereka berdua punya cerita cinta yang rumit dan tragis. Raka merasa ada sesuatu yang aneh setiap kali membaca buku itu, seolah-olah dia bisa merasakan emosi yang tertulis di dalamnya.
Sementara itu, di sudut kafe yang sama, Dinda lagi asik ngobrol dengan sahabatnya, Ayu. Dinda baru pindah ke Jakarta untuk kerja, dan Ayu mengajaknya ngopi sambil catch-up. Dinda tertarik sama kafe ini karena vibe-nya yang vintage dan tenang, cocok buat ngobrol panjang.
Saat Raka tenggelam dalam bacaannya, tiba-tiba dia mendengar suara tawa yang familiar. Dia mengangkat wajahnya dan melihat Dinda. Hati Raka berdebar-debar tanpa alasan yang jelas. Ada perasaan déjà vu yang kuat saat dia melihat wajah Dinda. Seolah-olah dia pernah bertemu gadis itu sebelumnya, tapi dia nggak bisa ingat kapan dan di mana.
Dinda juga merasa ada yang aneh. Saat dia menoleh dan melihat Raka, matanya tertuju pada buku tua di tangan Raka. Dia merasakan sensasi yang sama, seperti kenangan lama yang samar-samar muncul di benaknya.
Setelah beberapa saat saling pandang, Raka memberanikan diri untuk mendekati meja Dinda. "Hai, boleh gabung? Gue Raka," sapanya dengan senyum hangat.
Dinda tersenyum balik. "Hai, gue Dinda. Silakan aja," jawabnya.
Mereka mulai ngobrol, dan ternyata mereka punya banyak kesamaan. Dari hobi baca buku sampai suka kopi, dan bahkan selera musik yang sama. Obrolan mereka ngalir begitu aja, tanpa ada rasa canggung. Ayu pun pamit lebih dulu, ninggalin Dinda dan Raka yang masih asik ngobrol.
Semakin lama mereka ngobrol, Raka merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang menghubungkan mereka berdua. Akhirnya, dia menunjukkan buku harian itu pada Dinda. "Gue nemu buku ini beberapa bulan lalu. Kayaknya ada cerita yang nyambung sama kita."
Dinda menerima buku itu dengan hati-hati dan mulai membaca. Ketika dia sampai pada bagian yang menceritakan tentang Sri, matanya berkaca-kaca. "Ini aneh banget, Rak. Gue ngerasa kayak gue pernah hidup di masa itu."
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama membaca buku harian itu, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang kisah Raditya dan Sri. Semakin mereka membaca, semakin jelas bahwa ada koneksi antara mereka dan kisah dalam buku itu.
Dalam beberapa minggu berikutnya, Raka dan Dinda sering ketemuan untuk membahas buku itu. Mereka juga mulai merasakan ada perasaan khusus yang tumbuh di antara mereka. Suatu hari, mereka memutuskan untuk mengunjungi toko barang antik tempat Raka menemukan buku itu, berharap bisa menemukan petunjuk lebih lanjut.
Di toko itu, mereka bertemu dengan pemilik toko, seorang pria tua yang bijak. Ketika Raka menceritakan tentang buku itu, pria tua itu tersenyum misterius. "Buku itu memang istimewa. Ada banyak kisah cinta yang tersembunyi di dalamnya. Tapi satu hal yang pasti, cinta sejati selalu menemukan jalannya, bahkan melalui waktu dan ruang."
Raka dan Dinda saling berpandangan, merasa ada sesuatu yang lebih besar dari mereka yang sedang terjadi. Pria tua itu memberikan mereka sebuah medali kuno yang ditemukan bersama buku itu. Medali itu memiliki ukiran yang sama dengan tanda yang ada di buku harian.
Malam itu, Raka dan Dinda memutuskan untuk memakai medali itu. Ketika mereka bersentuhan, tiba-tiba mereka merasakan kilatan cahaya dan sensasi yang luar biasa. Mereka terlempar ke dalam memori masa lalu, kembali ke zaman kolonial.
Dalam kilatan memori itu, Raka melihat dirinya sebagai Raditya, seorang pemuda yang jatuh cinta dengan Sri, seorang gadis cantik dari desa. Mereka berdua berjuang melawan tekanan sosial dan politik yang memisahkan mereka. Kisah cinta mereka penuh dengan pengorbanan dan perjuangan, namun akhirnya harus berakhir tragis.
Ketika kilatan memori itu hilang, Raka dan Dinda kembali ke kenyataan. Mereka terengah-engah dan saling menatap dengan penuh rasa terkejut. "Kita adalah reinkarnasi dari Raditya dan Sri," kata Raka dengan suara gemetar.
Dinda mengangguk pelan. "Gue ngerasa semuanya masuk akal sekarang. Kenapa kita langsung klik, kenapa kita ngerasa ada yang menghubungkan kita."
Sejak saat itu, Raka dan Dinda memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Mereka berjanji untuk bersama dan menjalani kisah cinta mereka dengan penuh cinta dan dedikasi, memastikan bahwa kali ini, cinta mereka tidak akan berakhir tragis.
Kisah cinta Raka dan Dinda menjadi bukti bahwa cinta sejati memang bisa melintasi waktu dan ruang, menemukan jalannya kembali ke dalam hati yang tepat. Dan di bawah langit Jakarta yang berwarna jingga keemasan, mereka berdua berjalan bergandengan tangan, siap menghadapi masa depan bersama.