Nayla anak semata wayang dari seorang Pegawai pemerintahan. Ibunya seorang desainer terkenal di kotanya. Apapun yang diinginkan Nayla selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, aku ingin memiliki saudara!" Rengek Nayla pada kedua orang tuanya. Memang selama ini, apapun yang diinginkannya selalu terpenuhi kecuali keinginan yang baru saja diungkapkannya.
Nayla ingin sekali memiliki adik, perempuan atau laki - laki sama saja tapi entah mengapa Ayah dan Ibu tidak menghiraukannya.
Minggu sore, Nayla berangkat ke Lapangan Basket. Di sana dia bermain dengan dua sahabatnya Tiana dan Titin. Jika dilihat dari postur tubuh, sangatlah mudah membedakan mereka walau dilihat dari belakang. Tubuh Nayla paling tinggi diantara mereka, rambut bergelombang sebahu. Tiana lebih rendah dari Nayla dan berambut keriting. Sedangkan Titin, si kecil berambut lurus dan panjang sepinggang. Tapi mereka bukan gadis feminim seperti anggapan orang banyak. Mereka saling melindungi satu sama lain. Titin dan Tiana sama - sama anak sulung dari dua bersaudara yang keduanya juga perempuan.
"Kalian beruntung sekali, punya orang tua yang mampu memberikan apapun yang kalian inginkan" Tiana membuka obrolan saat mereka istirahat di bawah ring usai latihan Basket.
"Bukankah selama ini apapun yang kamu inginkan, selalu terpenuhi?" Tanya Titin
"Iya, tapi tak seperti kalian. Tak semuanya terpenuhi karena penghasilan Ayahku sangat kecil. Hanya pemilik toko kecil yang tidak terlalu ramai pembeli" Tiana bercerita pada dua sahabat yang sebenarnya sudah mengetahui keadaannya.
"Sabar! Banyak orang tak seberuntung kita yang bisa sekolah, apalagi di sekolah favorit di kota ini" Titin mencoba menghibur Tiana. Sementara Nayla hanya menjadi pendengar sambil mencari jalan agar bisa membantu sahabatnya. Suasana hening seketika.
"Pulang yuk!" Tiba - tiba Nayla berdiri dan mengajak mereka pulang. Rasa kecewa melanda dua sahabatnya. Mereka seolah merasa bahwa Nayla tidak peduli pada pembicaraan Titin dan Tiana.
Mereka mengayuh sepeda menuju rumah masing - masing.
Malam hari, seperti biasa mereka berkumpul di rumah Tiana. Usai shalat Maghrib, Nayla menjemput Titin. Hal yang tidak biasa tapi Nayla melakukan ini hanya untuk merencanakan sesuatu.
"Tin, besok adalah hari Ulang Tahun Tiana!" Nayla membuka pembicaraan saat mengayuh sepeda karena tak banyak kendaraan lalu lalang.
"Lalu, apa rencana mu?" Menoleh sedikit dan tetap fokus ke depan.
"Kita berdua akan sumbangan untuk membelikan barang yang diinginkan Tiana sebagai kado Ulang tahun dari kita" Nayla menyampaikan usulnya.
"Ide yang bagus, karena Tiana tidak akan mau menerimanya jika kita memberikannya secara cuma - cuma tanpa ada moment tertentu."
"Bagaimana jika kita membelinya sekarang?" Nayla mengusulkan.
Tanpa menunggu jawaban Titin, mereka menghentikan sepedanya di depan toko jam. Memilih sebuah jam tangan bernuansa merah maroon warna kesukaan Tiana dan model yang cocok untuk remaja seusia mereka. Usai membayar di kasir, mereka kembali ke rumah Titin untuk menyimpan kado yang sudah di bungkus rapi dengan kertas kado senada dengan isinya oleh salah satu pelayan toko.
Di rumah Tiana, mereka berdua sama sekali tidak membahas Ulang tahun Tiana maupun kado yang sudah mereka persiapkan. Mereka hanya fokus mengerjakan tugas sekolah.
Keesokan harinya. Jam 3 sore, Tiana telah berada di lapangan basket sambil menggiring bola menuju ring. Padahal biasanya, mereka datang tepat pukul 15.30. Kali ini Tiana memang berangkat lebih awal karena kecewa, seisi rumah tidak ada yang mengingat hari lahirnya.
Sementara itu, di rumah Tiana. Titin dan Nayla tengah menyiapkan pesta kecil - kecilan untuk ulang tahun Tiana. Titin dan Nayla yang membiayai semua kebutuhan Ulang tahun sahabat mereka. Tak ada orang lain yang mereka undang, hanya keluarga Tiana dan dua sahabatnya yang akan ada di pesta kecil untuk Tiana.
Pukul empat, Titin dan Nayla bergegas ke lapangan basket. Mereka meninggalkan tugas meniup balon pada Tiara, adik Tiana.
Tiba di lapangan, Tiana duduk di bawah ring dengan menunduk dan tangan berada di lutut.
"Kamu kenapa?" Tanya Titin dan Nayla hampir bersamaan.
"A-aku kecewa dengan keluargaku. Sedikitpun mereka tidak mengingat hari lahirku" Jawab Tiana dengan wajah kecewanya
"Kalau kamu kecewa dengan keluargamu, untuk sementara waktu kamu pulang ke rumahku aja!" Ajak Nayla seolah sedang menghibur sahabatnya.
"Nih!" Mendekati Tiana dan memberikan Gaun panjang berwarna merah dan sepatu hitam dan jilbab hitam.
"Untuk apa?" Tiana terkejut melihat apa yang diberikan Nayla sangat cocok dengan seleranya.
"Ikut aku ke pesta sahabatku!" Indah berlalu menuju lemari pakaian dan menggunakan pakaian casualnya. Kaos lengan panjang berwarna biru dan celana jeans warna hitam dan sandal yang biasa digunakannya sehari - hari.
Tiana keheranan, pakaian yang digunakan Nayla berbanding terbalik dengannya. Namun Tiana tidak berani bertanya pada sahabatnya karena Nayla sudah memberikan pakaian mahal untuknya.
Nayla yang melihat itu langsung menegur Tiana. "Hey, kenapa bengong?"Tiana terbangun dari lamunannya.
"Ga ada do'a nolak rezeki!" Nayla tersenyum diikuti Tiana yang mengganti pakaiannya.
Mereka dah siap, Nayla mengambil motor matiknya dan membonceng Tiana ke rumahnya.
Di sana sudah ada Titin yang berpakaian sama senada dengan Nayla. Semua sudah usai dipersiapkan. Dekorasi, Catering, kue Ulang tahun dll. Mereka juga menutup pintu rumah dan mematikan lampu.
"Katanya mau ke pesta, kenapa bawa aku kesini?" Tiana keheranan saat Nayla menurunkannya di depan rumahnya sendiri.
"Ada sesuatu yang ingin aku pinjam dari Tiara" Nayla berbohong. "Masuk Yuk!" Nayla mengajak Tiana seolah dialah tuan rumah yang mempersilahkan tamunya masuk. Awalnya Tiana tidak mau masuk.
"Rumahmu gelap, apa mungkin tidak ada orang?" Nayla sengaja mengeraskan suaranya agar penghuni rumah mengetahui kedatangan Nayla dan Tiana.
Tiana akhirnya mau masuk rumah, dia mengetuk pintu rumah. Karena tidak ada jawaban, Tiana mencoba membuka pintu rumah dan perlahan ia membuka pintu rumah yang sengaja tidak dikunci.
"Ada apa ini? Mengapa rumah gelap? Ayah, ibu dan Tiara kemana?" Pikiran Tiana berkecamuk seolah telah terjadi perampokan di rumahnya. Tiana melangkahkan kakinya memanggil Ayah, ibu dan Tiara bergantian. Tiba - tiba Nayla menutup pintu bersamaan dengan Titin yang menghidupkan sakelar lampu diikuti teriakan Selamat Ulang Tahun dari seisi rumah.
"Aaaaaaaa!" Tiana berteriak, matanya terpejam dan kedua tangannya menutup telinga.
Mendengar ucapan "Selamat Ulang Tahuuuun!" Tiana perlahan membuka matanya.
Pesta kecil namun meriah itu nyata di depannya. Lagu Happy Birthday diputar oleh Ayahnya mengiringi acara tiup lilin. Sebelumnya, Nayla meminta Ayah Tiana mendoakan anaknya.
Acara tiup lilin dan potong kue usai, dilanjutkan dengan Pemberian kado dari Titin dan Nayla.
"Maafkan kami ya,nak!" Ayah dan Ibu meminta maaf sambil meneteskan air mata karena mereka tidak mampu merayakan ulang tahun anak - anak mereka.
"Jadi! Semua ini?" Tiana terkejut mendengar permintaan maaf kedua orang tuanya.
"Iya, kak! Semua ini Kak Titin dan kak Nayla yang membiayai, Kami hanya bantu - bantu mempersiapkan.
"Makasih ya!" Tiana menghampiri dan memeluk dua sahabatnya yang tersenyum manis melihat kebahagiaan sahabatnya.
"Hanya kado untukmu yang kami beli berdua, sisanya Nayla yang bayar kok!" Titin menjelaskan pada Tiana.
"Makasih ya!" Tiana kembali memeluk Nayla. "Terima kasih juga buat kamu yang sudah membantu mempersiapkan semuanya" Tiana menggenggam tangan Titin.
"Jangan di rusak ya dekorasinya, kita pakai untuk Ulang Tahun Tiara!" Nayla berencana akan merayakan Ulang Tahun Tiara adik Tiana yang hanya berbeda tanggal namun masih di bulan yang sama.
Tiara yang mendengar rencana itu langsung kegirangan dan memeluk ibunya.
Ibu dan Ayah Tiana menghampiri Nayla dan mengucapkan terima kasih.
~SELESAI~
Jangan lupa likenya ya reader. Thank you very much😘😍🥰