Bagiku cinta adalah berkah sedangkan mencintai adalah anugrah . Mungkin aku yang memilih untuk mencintai walau ku tau cinta itu tak pernah terbalaskan .
*******
Namaku mutia aku adalah siswi SMA di salah satu kotaku . Terkadang aku merasa hidup ini tak adil bagiku tapi aku mencoba berfikir positif , mungkin ini adalah bentuk kasih sayang tuhan agar aku menjadi anak yang tangguh.
Saat itu adalah ujian kenaikan kelas karna ruangannya diacak jadi aku tak mengenal anak anak seruangan ku . Pada hari ketiga aku mendengar seorang laki laki memanggil namaku katanya temannya ingin bicara denganku pada awalnya aku tak menghiraukannya karna masih pada jam ujian tapi dia terus memanggilku mau tak mau aku menoleh .
" tia dia ingin bicara denganmu " ia berkata dengan lirih .
Aku bingung kenapa ia tau namaku sedangkan aku sendiri tak pernah bertemu dengannya . Kucondongkan tubuhku untuk melihat siapa yang ingin berbicara dengan ku . Pikirku ini gila apa laki laki yang disebut temannya itu tidak takut. bayangkan saja mejanya ada didepan meja guru yang tempatnya di dekat dinding sedangkan aku di bangku nomor dua deretan ketiga terbayang sendiri betapa jauhnya itu .
Uuuh dengusku kesal siapa orang sinting itu dumalku dalam hati .
" Hoi tia tolong beri aku contekan " katanya sambil memberikan kertas pada temannya tadi untuk diberikan pada ku .
" Apaaa..... ini memang kau sudah tidak waras" kataku lirih .
Ingin rasanya aku menonjok mukanya . Itu sama saja aku yang mengerjakan soalnya . Dalam kertas itu tertulis angka 1-30 dan itu adalah jumlah keseluruhan dari soal ujian. Sungguh saat ini aku tidak beruntung karna kesal aku menulis jawaban asal asalan kulempar kembali kertas itu yang tidak tentu benar jawabannya .
lalu kertas kedua datang .
"Jangan asal asalan beri aku jawaban yang benar"
Iiiiiih sungguh aku sangat marah dan itu terjadi selama seminggu di semua mapel. Pada hari terakhir ia mengirimkan kertas lagi padaku tapi kali ini bukan kertas polos seperti biasanya, kertas itu berwarna kuning dengan ukuran sangat kecil tertulis disana
tia aku mohon kali ini beri tahu aku jawaban yang benar inikan hari terakhir kita di satu ruangan hitung hitung sebagai kenang kenangan . Akan ku doakan semoga kamu meraih juara pertama ( tp dari belakang) .
Aku tak tau harus marah atau apa karna lucu saja dia berkata seperti itu padaku yang orang asing .
akhirnya ujian berakhir dan setiap hari free jadi kami bebas tidak ada kelas dan tugas . karna rasa penasaranku pada laki laki yang bahkan tak lagi ku ingat wajahnya. Aku pun bertanya pada teman ku yang kebetulan sekelas dengannya . Dari situ aku tau bahwa namanya adalah Arsya .
Hari kenaikan kelas pun tiba . Tidak ada teman sekelas dulu melainkan wajah baru dan suasana baru aku menikmatinya saja berkenalan dengan teman baru ternyata tidak seburuk perkiraanku.
Tp hari yang tenang tidaklah lama . Ketika perkenalan nama, aku mendengar nama yang tidak asing ya siapa lagi kalau bukan Arsya uhhh aku memang tak beruntung bisa sekelas dengannya apa lagi dia duduk di sebelahku . Ku putuskan untuk pindah ke meja depan walau harus berhadapan dengan guru tp mungkin tak seburuk di dekatnya , aku benci dia.
Setiap hari ku lalui dengan buruk tidak ada sehari saja tidak berurusan dengannya padahal sudah ku tendang dia hingga hampir jatuh kuejek dia tp dia selalu saja menggangguku rasanya tidak ada rasa benci padaku.
Tanpa terasa aku terbiasa dengan pertengkaran di antara kami walau dia sering membuatku emosi tapi ternyata ia memiliki sisi yang baik juga dan aku jatuh cinta dengannya .
Karna kedekatanku denganya membuatku dibenci teman sebangku ku yang diam diam menaksir dia. Siapa yang tak suka padanya
tampan, tinggi ,pintar.
Itulah yang membuat ku di benci teman sendiri .Suatu hari aku mendengar bahwa ia memiliki pacar yang bernama Mutia itu adalah kakak kelas kami . Memang terdengar lucu tapi namanya memang sama dengan namaku.
Aku di tuduh sebagai perebut pacar orang aku sungguh tak tahan lagi .
"Tia tolong kerjakan tugasku" pintanya.
Dengan marah ku katakan" Sebaiknya jangan minta bantuanku jangan lagi sebut dan dekat dekat denganku . Dan bilang pada TEMANMU ITU! untuk menjaga ucapannya karna dia aku dilabrak oleh pacarmu "
" Kau itu kenapa dan siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan Lia karna dia aku jadi dapat masalah ." ucapku lesu.
"Sudah biarkan jangan difikirkan kata mereka. Lagian dia juga tidak melarang ku untuk berteman dengan siapapun"
"Kenapa kau tidak malu untuk bicara denganku di depan umun kan biasanya kalian para lelaki memiliki gengsi yang tinggi jika berteman dengan wanita."
" kenapa harus malu toh kita cuma teman"
Ya sejak saat itu aku tak hiraukan kata mereka dan juga lebih sering berbagi cerita tentang hidup dan masalah pribadi. Karnanya aku sadar sekuat apapun hatiku untuk tegar menghadapi hidup tapi hatiku juga hati manusia yang merasakan sakit . Jujur aku iri dengan kebebasannya yang bisa lari dari masalah saat ia putus asa dan mengajukan protes terhadap masalahnya itu tp aku tidak bisa tidak sekalipun aku terpuruk .
Kupendam rasa cintaku setidaknya dia pernah menganggapku teman walau hanya sementara sebagai teman sekelas. Ku memilih untuk ada saat ia butuh dan mendoakan agar ia bahagia dengan wanita pilihannya . Hingga kenaikan kelas kami berpisah ruangan . Hanya dengan seklebat melihatnya saja sudah membuatku senang . Aku tau cintaku tak pernah terbalaskan untuk selamanya