Siang itu Burhan dan Deni main ke rumah Angga naik sepeda motor. Mereka adalah teman seperjuangan dalam hal berburu pohon pohon apapun itu di hutan untuk dibuat menjadi tanaman bonsai. Tak hanya di hutan dekat dengan kampung mereka. Sampai daerah yang jauh jauh pun mereka jabanin. Walau pohon beringin menjadi salah satu favorit mereka dalam berburu tanaman. Tapi Burhan enggan menanamnya dirumahnya. Cowok itu takut jika ada pohon beringin di rumahnya akan menjadi sarang hantu.
Burhan memang memiliki toko bunga dirumahnya. Berbagai macam jenis tanaman hias ada hanya bonsai beringin yang tidak apa. Beberapa hari kemarin ia di datangi seseorang untuk dicarikan batang atau akar beringin untuk di bonsai. Dan orang itu akan membayar mahal untuk setiap batangnya.
Mendengar info dari Deni kalau cowok itu pernah dengar dari temannya di kali dekat kampung teman Deni ada sebuah pohon beringin besar sekali. Burhan pun mengajak Deni untuk mencari pohon itu. Untung Deni mau asal mengajak Angga. Karena Angga pakarnya dalam tebang menebang pohon dan ia juga tidak takut dengan hantu. Karena dari kabar yang Deni dengar. Pohon itu terkenal angker, namun Denipun sama, tidak percaya hal hal yang berbau mistis. Jadi ia akan merahasiakan dari kedua temannya itu. Sampailah Deni dan Burhan di sebuah rumah yang hampir tak terlihat dari jalan karena halamannya di penuhi bonsai pohon beringin.
"Waduh mau ternak mbak kunti Lo Ga? Rumah lo sampai gak kelihatan gini ketutupan pohon beringin. Haha." ucap Deni setelah turun dari motornya bersama Burhan.
"Ah kayak rumah lo gak aja Den. Mau ngapain kalian siang siang bolong begini kemari?" Tanya Angga pada kedua temannya yang baru saja datang. Cowok itu sedang mengawati ranting dari pohon beringin bonsai yang belum lama ia tanam.
"Gue denger denger dari anak kampung sebelah. Kali di tempat mereka ada pohon beringin gede banget tau." ucap Deni setelah menstandarkan sepeda motornya di halaman rumah Angga.
"Terus?" balas Angga datar ia masih fokus dengan tanaman di depannya saat ini.
"Ya kayak biasa lah. Ambil akar sama batangnya. Lumayan buat nambah nambah koleksi bonsaian elo." Timpal Burhan.
"Ah bonsai gue udah banyak. Gue udah keteteran ngurusinnya segini banyak." Jawab Angga lagi sambil menunjuk kesemua tanaman bonsainya yang memang banyak hampir memenuhi halaman depan rumahnya.
"Ayolah, gak asik kalau cuma kita berdua." Sambung Burhan lagi.
"Halah bilang aja kalian berdua takut kan, minta temenin gue. Iya kan?"
"Hehe tau aja lo." imbuh Burhan.
"Ya udah kapan?" tanya Angga pada akhirnya.
"Besok gimana?"
"Gak bisa, besok gue sibuk. Mau bantu bokap gue bikin kolam ikan."
"Terus elo bisanya kapan?"
"Ntar sore aja. Kalau enggak mau, mending gak usah. Soalnya tinggal sore ini gue nganggur."
"Oke deh." sahut Deni setuju.
"Ih kok sore sih, ntar kalau pulangnya kemaleman gimana?" ucap Burhan tak setuju.
"Ngapa lo takut Han? Bukannya elo ya yang ngebet ngajakin gue tadi."
"Hehe iya tapi kan ntar malem jumat Den. Jumat kliwon lagi."
"Mau apa enggak nih?" Tanya Angga lagi.
"Ya udah iya deh iya." Akhirnya Burhan setuju. Kalau bukan karena akan ada yang membayar mahal untuk sebatang pohon beringin yang akan ia dapatkan nanti. Ia tak akan sudi malam jumat begini keluyuran di pinggir kali.
Deni dan Burhan pun pulang terlebih dulu ke rumah mereka masing masing. Mereka janjian jam empat sore di jembatan dekat kali yang Deni maksud. Azan ashar pun sudah berkumandang. Mereka sudah bersiap siap dirumah masing masing. Mereka membawa golok, linggis dan gunting tanaman. Angga sampai terlebih dulu dengan naik motor. Cukup lama dia menunggu. Kemudian dari kejauhan Deni dan Burhan datang sambil berboncengan. Karena memang mereka berdua itu CS banget jadi kemana mana ya boncengan.
"Ah kalian ini, katanya gak mau kemaleman pulangnya tapi jam segini baru dateng." Pekik Angga kesal.
"Maaf Ga, habis nih si Burhan pakek acara molor segala. Dibangunin susah banget lagi." balas Deni tak kalah kesal.
"Hehe maaf maaf."
"Ya udah ayo buruan. Golok sama guntingnya jadiin satu aja disini biar enak bawanya." Sambung Angga sambil menyodorkan karung yang ia bawa. Deni dan Burhan pun memasukan alat yang mereka bawa ke dalam karung itu.Burhan pun yang bertugas membawa karung, karena dialah penyebab mereka jadi kesorean begini.
"Ayo turun." ajak Deni. Mereka turun ke pinggir kali setelah meninggalkan motor mereka dipinggir jembatan. Tidak lupa mengunci setang motor mereka. Walau daerah itu terkenal aman. Tapi tetap saja untuk jaga jaga. Karena kalau mereka sampai teledor. Mungkin saja hari ini bisa apes. Mereka pun menyusuri sepanjang pinggiran kali. Tapi mereka belum menemukan pohon beringin yang Deni maksud.
"Mana Den, gak ada pohon beringinnya gitu. Aduh mana bentar lagi maghrib coy." Kata Angga seraya berhenti dan duduk di batu pinggir sungai.
"Pulang aja yuk, mungkin udah di tebang orang." Bujuk Burhan mulai takut karena hari mulai gelap.
"Ah nanggung tau, udah capek capek sampai sini masa gak dapet apa apa sih." balas Deni menolak. Ia mulai berjalan agak dalam masuk ke hutan.
"Eh mau kemana lo jangan jauh jauh dari kita." Panggil Angga, ia lalu beranjak mengikuti Deni masuk ke hutan.
"Woi tungguin gue." Burhan lalu berlari menyusul kedua temannya. Mereka sampai pada sebuah pohon beringin yang bekasnya sudah di tebang. Akar, batang, dan rantingnya sudah dijarah orang lain.
"Waduh kita terlambat, keduluan orang Han." Ucap Deni setelah menemukan pohon beringin yang tinggal tunggak.
"Nah itu disana masih ada." sambung Angga menunjuk sebuah pohon beringin yang sangat besar yang masih tegak berdiri.
"Tunggu, ada tiga pohon tau gak sih Bro. Noh lihat!" imbuhnya lagi sambil menunjuk ke arah pohon beringin lain yang sudah di tebang habis.
"Kok aneh ya, yang dua udah ditebang satu ini masih utuh." Timpal Burhan heran.
"Udah ah ayo buruan tebang, keburu kemaleman." Ajak Angga. Ia lalu menghampiri pohon beringin itu yang kebetulan berada tepat dipinggir kali. Bahkan sebagian akarnya sudah menggantung di kali.
"Gue manjat ke atas, tebang batangnya, lo berdua dibawah ambil akarnya." Suruh Angga pada kedua temannya. Mereka pun mengambil golok mereka masing masing, lalu Angga segera memanjat ke atas.
"Han, lo yang nyebur ke kali ya." Pinta Deni.
"Ah kok gue sih."
"Kan lo yang bisa renang, gue gak bisa." ucap Deni ngeles. Dia pun langsung menceburkan Burhan ke kali.
CEBURRRR
Burhan tenggelam sesaat lalu muncul lagi ke permukaan.
"Dasar KAMPRET lo ya Den. Awas lo ntar."
"Hahahaha." Deni malah ketawa cekikikan melihat temannya menderita.
"Heh kalian malah gojekan ayo buruan. Gak denger azan maghrib lo berdua."
"Hehe maaf Ga." sahut Deni dari bawah. Mereka mulai beraksi. Ketika Burhan mulai menebang akar yang berada di dalam air terdengar suara perempuan tertawa.
Hihihihi
"Eh Den gak usah ketawa mulu, ayo tebang!" ucap Burhan kesal pada Deni.
"Gue gak ketawa kok. Kirain elo." Burhan menggeleng wajahnya sudah pucat pasi.
"Elo ya Ga yang ketawa barusan?" tanya Deni lagi sambil mendongakan wajahnya melihat Angga di atas.
"Enggak tuh. Udah gasak gasak aja bro." sahut Angga, ia pun mulai menebang dahan pohon di dekatnya. Namun tiba tiba telinga kirinya ada yang menyentil.
"Aduh." pekiknya, tapi ia coba tidak perduli. Ia melanjutkan aksinya kali ini. Namun giliran lengannya yang dicubit sampai membiru.
"Awww." Pekiknya sangat keras kali ini sampai terdengar kedua Temannya di bawah.
"Hei kenapa Ga?"
"Gak pa pa." Tubuh Angga sudah merinding tak karuan. Ia meninggalkan goloknya masih menancap di dahan pohon. Lalu ia menuruni pohon beringin itu. Deni yang melihat itu langsung bertanya.
"Loh kenapa Ga kok turun?"
"Gak pa pa." jawaban yang sama, namun kali ini Angga berlari menjauhi mereka.
"Heh curut ngapa lari?" Panggil Deni lagi. Angga pun berhenti, berbalik dan berteriak.
"CABUT WOI POHON ITU ADA DEMITNYA!!!!"
"Waaaaaa!!!" Burhan dan Deni langsung berteriak dan berlari terbirit birit menjauhi pohon beringin itu sampai meninggalkan semua alat tempurnya disana.
HIHIHIHIHI
Ternyata pohon beringin itu berpenghuni. Sesosok kuntilanak tertawa cekikikan melihat ketiga pemuda itu yang lari tungang langgang.
TAMAT