Hawa dingin menyapa indera peraba hingga menusuk tulang, Di tengah kesunyian dan kegelapan malam bunyi kecipak air yang beradu dengan sol sepatu bahkan tidak mampu membunuh keheningan yang tercipta.
Dyona, wanita cantik bermata besar layaknya burung hantu itu terus berjalan melewati genangan air membuat sepatunya basah bahkan bermandikan lumpur. Bibir berbentuk hati berwarna merah ceri terus merapalkan doa agar tidak ada yang mengganggunya sepanjang perjalanan pulang.
Wajar saja, pasalnya rumah Dyona melewati gang-gang sempit yang sepi dan tidak padat penduduk. Belum lagi akhir-akhir ini marak terjadi pelecehan terhadap gadis-gadis yang pulang di atas jam 9 malam.
Ditambah minimnya penerangan menambah kesan horor area pemukiman ini.
Saat mulut sibuk berkomat-kamit merapalkan doa sayup-sayup terdengar langkah derap langkah kaki yang kian mendekat dan membunuh jarak dengan Dyona.
Rasa panik mulai merayapi hati Dyona. Dengan mengambil langkah seribu Dyona mempercepat langkah kakinya guna memperlebar jarak dirinya dengan derap langkah kaki yang entah milik siapa.
Namun, sayang seribu sayang langkah kakinya yang pendek tak bisa membuatnya terbebas dari kejaran orang asing yang membuntuti dirinya.
Dengan cepat sebelah tangannya ditarik kemudian dibawa ke gang-gang sempit yang sunyi dan minim penerangan. Tubuhnya dihempaskan ke tembok beton dengan kasar. Membuat Dyona meringis merasakan sakit di sekujur punggungnya dan ketakutan yang menggelayuti dirinya.
“Akhirnya kita mendapatkan mangsa baru, lihat dia sangat cantik, badannya pun begitu menggoda membangkitkan gairahku!" seru salah seorang di antara mereka.
Yang lainnya terkekeh, “Kau benar, kulitnya juga putih dan halus seperti porselen. Bagaimana jika tubuh seindah ini kita lukis dengan tanda cinta kita?"
“Aku setuju pasti gadis ini terasa sangat nikmat!"
Pandangan Dyona mengabur karena air mata yang mulai menganak sungai menuruni pipi gembilnya yang terlihat mulus, badannya terlihat gemetar dan ia mulai gentar, “Tidak, lepaskan aku. Aku mohon lepaskan aku, tolong!"
“Ssst ... kau tidak perlu berteriak cantik. Tidak akan ada yang menolongmu. Jadi, diam saja dan nikmati permainan kami, kami akan membawamu merasakan surga hingga ke langit tujuh."
Dyona tidak memedulikan mereka perkataan mereka. Ia terus berontak melakukan perlawanan dan berteriak meminta pertolongan. Sedang para pria mulai melakukan aksi tidak senonoh mereka pada gadis itu.
Hingga seseorang muncul entah dari mana datangnya, menarik para pria kurang ajar itu dan menghabisi mereka membabi buta.
Bugh ... bugh ... bugh!
Orang itu menendang, memukul bahkan mencekik leher mereka tanpa belas kasihan, membuat pasokan oksigen menipis, wajahnya mulai membiru, beberapa di antara mereka bahkan sampai meregang nyawa.
“Si ... siapa kau? Le ... le ... pashkan kami ... uhuk!" ucap pria itu terbata.
Namun orang itu mengabaikan permintaan mereka, ia terus mencekik lehernya, dengan raut wajah bengis dan bola mata yang tadinya berwarna hitam berubah warna menjadi merah, semerah darah.
“Jangan pernah menyentuh gadisku dengan tangan kotormu brengsek. Enyahlah kau ke neraka dasar hewan-hewan kotor!" desis orang itu.
Pria hidung belang yang masih hidup itu mulai dilanda ketakutan melihat seseorang yang mencekiknya dan kemudian berteriak, “Kau ... kau bukan manusia, kau monster ... kau monster!"
Seseorang yang tak diketahui namanya itu merasa muak, kemudian melempar pria hidung belang itu hingga terpental sangat jauh.
“Cih, menyusahkan!" desis orang itu tak suka. Warna bola matanya kembali normal. Dia mendekati Dyona yang sudah terduduk dengan tubuh gemetar dan pandangan kosong.
Bohong jika ia tidak merasa takut dengan perkelahian yang terasa tak masuk akal tadi. Siapa orang ini, mengapa begitu mengerikan?
“Aku tahu kau tidak baik-baik saja," ucap orang itu sambil menggendong Dyona dengan bridal style. “Ayo ku antar pulang!"
Sebuah sayap besar berwarna hitam yang tampak menakutkan namun juga tampak indah disaat yang bersamaan mengembang.
“Tidurlah, anggap saja ini mimpi burukmu," katanya sambil merapalkan mantera membuat gadis yang berada dalam gendongannya terlelap. Kini mereka sampai di sebuah rumah kecil tempat Dyona tinggal. Ia langsung masuk dan menidurkan Dyona di kamarnya. “Jangan takut. Mulai sekarang aku akan melindungimu. Panggil aku Kai saat kau membutuhkanku!"
Kai merapalkan manteranya kemudian menghilang.
“Kai," igau Dyona dalam tidurnya.