"Halo, Mas? Ini udah jam 11 malem gini, kamu kok belum pulang?"
"Sabar ya, Sayang. Ini sebentar lagi aku pulang. Kamu tunggu di depan kayak biasanya ya," jawab seorang lelaki dari seberang ponsel.
"Oke, Mas. Ini Aku lagi bikin sup, nanti kita makan bareng ya."
Perempuan itu lantas mematikan panggilan telepon itu. Ia mencicipi sup yang dibuat sekali lagi, memastikan bahwa rasa makanan itu enak saat ia hidangkan ke suaminya nanti.
Setelah menyelesaikan masakannya, ia bergegas mengambil sampah di dapur untuk dibuang di luar kostnya. Suasana lingkungan kostnya memang sepi karena berada di pinggiran kota, terlebih jika sudah larut malam begini.
Perempuan dengan rambut pendek sebahu itu membuang sampah di bak sampah. Di bawah sinar rembulan, ia duduk di pinggiran bak sampah, lalu menyalakan rokok dan menghisapnya perlahan. Mengikuti perintah suaminya untuk menunggunya di luar sepulang kerja seperti biasanya.
Di tengah hisapan rokok tersebut, tiba-tiba terlihat seseorang berlari dari kejauhan. Sosok yang ternyata lelaki tersebut mendekati perempuan itu dengan wajah panik.
"Mbak! Tolong! Tolong saya, Mbak!"
Perempuan itu begitu terkejut, ia bergegas membuang puntung rokok yang masih tersisa setengah.
"Mas kenapa? Kok kayak habis dikejar setan gitu?"
"Mbak, tolong saya Mbak, saya dikejar orang tadi disana. Tolong bantu saya sembunyi atau tolong telponin polisi Mbak!" Lelaki itu memohon sambil terus menengok ke belakang.
"Yaudah, ayo masuk ke kost saya dulu."
Mereka lantas bergegas masuk ke kost perempuan itu. Perempuan itu mempersilakan lelaki itu duduk di lantai ruang tamu kostnya.
"Mas, dari mana emang? Terus dikejar sama siapa?"
"Saya habis dari rumah temen saya, niatnya mau pulang naik ojek online, waktu saya mau pesen, kok tiba-tiba ada yang merhatiin saya dari jauh. Saya coba jalan menjauh dari dia, eh malah dia ngikutin, akhirnya saya lari lah sampai ke sini."
Perempuan itu hanya mengangguk. Ia lalu memberikan segelas air putih ke Lelaki itu.
"Ini Mas diminum dulu. Oh, iya, kalau boleh tau, nama masnya siapa? Saya Ratih." Ratih memberikan gelas itu lalu menjabat tangan lelaki tersebut.
"Saya Andre, Mbak."
Ratih hanya mengangguk, ia lalu menyalakan televisi untuk mengusir kesunyian. Mereka berdua duduk bersama dalam kecanggungan. Ratih masih menunggu suaminya pulang, sedangkan Andre masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya tadi.
"Mbak, maaf saya boleh pinjam charger handphone nggak ya? Batre handphone saya tinggal dikit ini soalnya," pinta Andre yang memecah keheningan mereka.
Ratih bergegas mengambilkan charger miliknya.
"Mbak, tinggal sendirian disini?" tanya Andre sambil melirik
Ratih mengernyitkan dahinya, jujur ia sedikit kaget dengan pertanyaan itu.
"Saya tinggal sama suami saya disini, kenapa ya Mas?"
"Oh, enggak Mbak, saya kira sendiri. Soalnya saya lihat kostnya kayak sepi aja gitu Mbak," jawab Andre sambil melihat sekeliling ruangan itu.
Ratih berdiri, ia lalu mundur menjauh dari Andre. Andre yang kaget melihat pergerakan Ratih ikut berdiri.
"Mas nggak mau macem-macem kan? Saya bisa teriak loh ini."
"Enggak Mbak, sumpah saya beneran nggak mau ngapa-ngapain."
"Atau jangan-jangan, Mas tadi bohong ya soal dikejar-kejar orang tadi?"
"Astaga, enggak Mbak beneran deh. Mbak bisa lihat ini KTP saya, saya enggak mau macem-macem kok sama Mbak," jawab Andre dengan suara bergetar.
Ratih yang mendengar jawaban dan melihat gelagat Andre menjadi sedikit lebih tenang. Setidaknya lelaki itu berani memperlihatkan KTPnya kepada orang yang bahkan baru saja ia temui. Ditambah suaranya yang bergetar saat ia menjelaskan, membuat Ratih percaya bahwa ia bukan seseorang yang punya niat jahat.
"Ini juga kalau batre handphone saya udah 20% saya pergi dari sini kok, Mbak. Ini saya cas dulu, takutnya batre saya habis lagi waktu perjalanan pulang nanti, rumah saya jauh soalnya." Andre menjelaskan dengan sedikit emosi.
Ratih menggangguk pelan, ia lalu duduk kembali, diikuti dengan Andre yang masih mengatur napasnya yang naik turun karena emosi.
Sama seperti sebelumnya, hanya ada suara televisi yang menemani mereka berdua. Di tengah lamunan mereka, acara televisi tiba-tiba berubah menjadi berita. Terlihat seorang pembawa berita membacakan berita tentang pemb*n*han di kota sebelah.
"Breaking News. Kembali lagi bersama seputar berita malam. Pemirsa, telah ditemukan sesosok mayat yang hanya menyisakan kepala di suatu kamar kost di kawasan pinggir Kota Araka. Saat ini polisi masih menelusuri jejak pelaku dan apa motif di balik pemb*n*han ini. Polisi hanya menemukan suatu catatan yang diduga berisikan rencana kota selanjutnya yang hendak disinggahi pelaku yaitu Kota Surasi. Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan berhati-hati. Sekian untuk breaking news malam ini. Saya, Angelina Sumia undur diri, sampai jumpa."
Lamunan Andre buyar tatkala mendengar berita itu. Ia mengalihkan fokusnya ke televisi karena mendengar nama kota tempat tinggalnya saat ini disebut. Ia juga mendengar dan melihat sesuatu yang tidak asing dari pernyataan pembawa berita tadi.
Matanya melirik ke kanan kiri. Lelaki itu melihat ke sekeliling ruangan. Ia seperti tidak asing dengan kertas catatan yang ditunjukkan pada berita di televisi tadi. Rasa-rasanya ia pernah melihat kertas itu di kost milik Ratih.
Ratih yang sedang sibuk bermain ponselnya melirik ke Andre. Ia terganggu dengan gelagat Andre yang mencurigakan.
"Nyari apa, Mas?"
"Eh, enggak Mbak enggak. Saya habis ini mau pulang Mbak, terimakasih buat bantuannya."
Saat Andre hendak mengecek ponselnya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar. Andre dan Ratih saling bertatapan. Ratih menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Memberi isyarat kepada Andre untuk diam.
Perempuan itu lalu membuka pintu perlahan. Ia tampak lega ketika melihat siapa yang ada di balik pintu.
"Astaga, Mas. Aku kira siapa loh." Ratih memeluk seseorang yang ia panggil mas itu.
"Kan aku udah bilang kalau mau pulang, Sayang." Lelaki itu mengelus kepala Ratih lalu mengecup keningnya.
Mereka berdua lalu masuk. Lelaki itu terkejut karena melihat sosok lelaki lain di ruangan itu. Ia menekuk kedua alisnya, lalu menatap Ratih dengan tatapan meminta jawaban atas hal ini.
"Ah, gini Mas. Ini Andre, dia tadi minta tolong ke aku, katanya habis dikejar orang enggak jelas gitu di luar. Makanya aku suruh ngumpet disini dulu, dia habis ini mau pulang kok," jelas Ratih.
"Oh, yaudah, aku kira kamu ngapain sama dia. Kenalin Mas, saya Jaka, suaminya Ratih." Lelaki bernama Jaka itu menyodorkan tangannya kepada Andre.
"Salam kenal, Mas. Saya Andre, maaf ya Mas malah ngerepotin gini, saya habis ini pulang kok, mau pesan ojek online dulu." Andre menjelaskan lalu mencabut ponselnya dari charger.
"Loh, kok buru-buru banget, Mas. Makan dulu aja, sopnya udah jadi kan, Sayang?" tanya Jaka kepada Ratih.
"Udah kok. Iya Mas Andre, mending makan dulu ya, nanti pulangnya biar ditemenin sama Mas Jaka aja."
"Waduh, saya jadi nggak enak nih." Andre menggaruk kepalanya sambil tertawa pelan.
Sejujurnya, Andre ingin segera pergi dari kost ini sejak adanya berita tadi. Ia merasa tidak nyaman karena merasa melihat kertas yang mirip dengan kertas di berita tadi. Namun, paksaan dari mereka membuatnya merasa tidak enak.
Dengan berat hati, ia menerima tawaran mereka. Andre berpikir, mungkin ia hanya terlalu banyak pikiran karena kejadian tadi, sehingga berpikir macam-macam terhadap mereka. Bisa saja mereka memang hanya orang biasa yang kebetulan punya kertas mirip dengan pelaku di berita tadi.
"Enggak apa-apa Mas, udah anggep aja rumah sendiri. Ratih, tolong ambilin mangkok ya."
Ratih menggangguk, ia lantas bergegas menyiapkan dua mangkok lalu mengambil nasi dan sup daging yang sudah dibuat.
"Mari dimakan supnya." Ratih memberikan kedua mangkok kepada masing-masing lelaki itu.
"Dimakan, Mas. Ini sup enak banget loh, istri saya ini juara banget emang kalau bikin sup daging." Jaka mengelus kepala Ratih dengan ekspresi senang.
Andre menggangguk pelan, ia menyantap hidangan di depannya. Diseruputnya kuah sup itu. Rasanya memang enak, kuah kaldu sup itu terasa begitu hangat dan kaya akan rempah.
"Enak kan, Mas?" tanya Jaka sambil tersenyum.
Andre menggangguk sambil terus menyeruput kuah itu. Ternyata benar, prasangkanya sedari tadi terbukti salah. Mereka hanyalah orang biasa yang ke. Mereka bahkan memberinya sup daging yang enak, sekalipun mereka bertiga belum mengenal satu sama lain dan baru saja bertemu.
Merasa cukup puas dengan kuah supnya. Andre lalu mengaduk sup itu, bersiap untuk menyantap nasi dan dagingnya. Ia menyendokkan sesendok penuh nasi dan daging ke dalam mulutnya. Nasi yang pulen dan daging yang padat bercampur menjadi satu, membuat mata Andre terpejam selama beberapa saat menikmati hidangan tersebut.
"Enak banget ya, Mas? Sampai merem melek gitu." Ratih tertawa kecil melihat tingkah Andre.
Andre mengangguk sambil mengunyah daging. Ia menyendok kembali ke dalam mangkok sup itu. Namun, apa yang dilihatnya saat ini membuatnya terdiam sesaat. Matanya melotot tidak percaya dengan apa yang ada di dalam sup itu.
Sepotong jari lengkap dengan kuku yang masih cukup panjang berada di dalam sendoknya saat ini. Pemandangan ini membuatnya mual sekaligus takut.
"AARRGH!!!" Andre melempar semangkok sup itu.
Lelaki itu lalu berdiri dan menunjuk ke Jaka dan Ratih.
"Kalian! Psikopat! Gila ya kalian!!!"
Jaka dan Ratih hanya tertawa kecil melihat tingkah Andre.
"Kenapa? Belum pernah makan sup daging manusia ya?"
"Anj*ng! Saya laporin ke polisi kalian!" Andre mencabut ponselnya dari charger dan bergegas menelepon polisi.
"Coba aja kalau bisa." Jaka berdiri lalu mengambil sebilah pisau daging dan mengasahnya.
Belum sempat Andre memencet tombol nomor, kepalanya mendadak terasa berat. Pandangannya kabur dan badannya lemas. Lelaki itu terduduk sambil memegangi kepalanya. Tak lama kemudian ia ambruk dan tergeletak di lantai ruangan itu.
Walau pandangannya kabur, tapi Andre masih bisa melihat sedikit pergerakan di depannya. Ia melihat Jaka memakai sarung tangan karet dan sebilah pisau daging berjalan menuju ke arahnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Andre mendengar secuil percakapan antara Jaka dan Ratih.
"Mas, pokoknya habis ini jangan lupa bawa kertas catatan kita. Jadi ribet kan kalau sampai ketinggalan kayak kemarin, sampai masuk berita gitu."
"Iya, tenang aja, yang penting kita beresin dulu dia. Aku udah enggak sabar buat makan sup bikinan kamu."
Tamat.