Fakri dan Nurul adalah dua sejoli yang sudah bersama-sama sejak kecil. Bukan berarti mereka pacaran. Mereka telah mengenal satu sama lain. Dimulai dari kepindahan Fakri di sebuah rumah di perumahan Perum Asri yang bersebelahan dengan rumah Nurul. Ditambah lagi dengan papa mereka yang bekerja bersama di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Dari TK mereka sudah kebiasaan bareng hingga SMA sekarang ini mereka tetap bareng dan juga sekelas bareng.
Kebiasaan Nurul yang sangat tidak disukai sama Fakri adalah malas mengikuti upacara. Sebagai seorang duta kepemimpinan se-SMA di Jakarta, wajar saja kalau Fakri enggak suka melihat orang apalagi sahabat dekatnya sendiri malas berpartisipasi mengikuti bela negara dengan cara salah satunya mengikuti upacara rutin setiap hari senin. Mereka selalu pergi bareng setiap harinya ke sekolah, kecuali hari senin. Setiap Fakri mengajak Nurul untuk datang lebih awal di hari senin, Nurul selalu menolak dan beralasan bahwa dia malas upacara. Nurul terlalu capek untuk mengikuti upacara dikarenakan fisiknya yang lemah. Fakri memaklumi itu tapi Fakri juga pernah bilang kalau, “ikuti aja dulu upacaranya, kalau udah gak kuat lagi langsung aja ke belakang barisan, temui anggota PMR.” tapi Nurul selalu berkata tidak.
Hari ini adalah hari minggu. Adalah kegiatan rutin bagi Fakri dan Nurul untuk berolahraga setiap paginya dengan jogging di sekitar taman perumahan. Fakri memulai larinya duluan lalu melihat Nurul yang terburu-buru memakai sepatunya dan berlari menyusul Fakri.
“Dasar cewek,” ucap Fakri.
“Namanya juga cewek,” sahut Nurul.
Fakri hanya membalas dengan desahan lalu tersenyum. Mereka pun berlari bersama. Setelah hampir satu jam mereka jogging, mereka berhenti dan duduk di bangku taman sambil meminum air putih.
“Loe bisa, Loe sanggup kalau lari pagi selama sejam tanpa berhenti, tapi kenapa untuk ngikutin upacara lo ga sanggup, Ung?” tanya Fakri kepada Uung, yaitu panggilan Fakri ke Nurul.
“Gue lebih milih lari dua jam tiga jam, daripada berdiri buat upacara,” jawab Nurul asal.
“Serius, Loe?” tanya Fakri lagi.
“Serius,” jawabnya singkat.
Mereka pun diam.
“Tapi Ung, sebagai penerus bangsa, kita harus ikut melaksanakan pembelaan terhadap negara dengan salah satunya mengikuti upacara rutin setiap hari senin. Lagian apa sih capeknya upacara? Loe cuma harus berdiri dengan khidmat selama sejam, sudah gitu doang,” ceramah Fakri.
“Justru itu, Gue males. Gue gak sanggup berdiri kaku selama sejam. Kan udah Gue bilang, mending lari sampe tiga jam ada juga manfaatnya buat kesehatan Gue,” ucap Nurul.
Seketika, Nurul ingat kalau dia sudah membuka sebuah obrolan panjang dengan Fakri.
“Kesehatan? Emang Loe lagi gak sehat? Loe sakit apa emang?” tanya Fakri mulai mengintrogasi.
“Sakit? Siapa yang sakit juga?” tanya Nurul agak sedikit gugup.
“Itu, tadi Loe bilang kesehatan-kesehatan gitu.”
“Loh, Emang salah kalau Gue bilang kesehatan? Emang benar kan olahraga jogging itu buat kita sehat dan menjaga kebugaran jasmani kita,” jelas Nurul.
"Gak salah sih, emang bener. Tapi tadi nada bicara Loe seperti mengandung makna tersirat gitu?” tanya Fakri sambil menatap mata Nurul.
Seketika Nurul cemas karena saat Nurul bohong, dia ga bisa natap mata lawan bicaranya. Fakri tau itu.
“Tau ah. Gue biasa aja, tuh,” balas Nurul sambil menghindari tatapan mata Fakri.
“Yaudah deh. Yuk, sarapan,” ajak Fakri.
“Bubur ayam, ya? Dan Loe yang bayarin, hehe ...” balas Nurul sambil tersenyum.
“Dasar nih, Bocah!” balas Fakri sambil tersenyum.
Mereka pun berjalan menuju tempat makan bubur ayam yang paling legendaris. Mereka lalu menghambiskan sarapan paginya sambil bercanda dan akhirnya pulang.
*****
Besok adalah tanggal 30 Desember, hari ulang tahun Fakri! Nurul sudah mempersiapkan surprise buat sahabat terbaiknya itu sejak sebulan yang lalu. Nurul gak mau ngucapi Fakri tengah malam karena dia membiarkan Fakri sedih mengapa sahabatnya tidak menjadi yang pertama mengucapkan selamat atas hari lahirnya. Padahal setiap Nurul ulang tahun, Fakri selalu menjadi yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nurul.
Keesokan paginya, Fakri seperti biasa menjemput Nurul buat pergi sekolah bareng. Fakri mengharapkan Nurul mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya tetapi tetap saja, Nurul sepertinya lupa dengan hari ulang tahunnya, pikirnya begitu. Di kelas, Fakri masih saja menunggu Nurul berbicara mengucapkan selamat ulang tahun. Nurul yang dikenalnya adalah Nurul yang aktif dan susah ditebak.
Tahun lalu, Nurul ngucapi Fakri dikelas dengan dekorasi yang penuh dengan balon dan pita. Di papan tulis tertulis “Selamat Ulang Tahun My BestBeloved Friend, Fakri Vilano Putra. Semoga Panjang Umur dan Sehat Selalu,” dan itu sukses buat Fakri tersentuh. Sejujurnya, Fakri sayang sama Nurul. Rasa sayang Fakri melebihi batas rasa sayang sesama sahabat. Fakri cinta sama Nurul, sejak pertama kali bertemu. Tapi Fakri merasa Nurul Cuma menganggapnya sebatas sahabat dekat, dan enggak lebih. Mau gak mau, Fakri juga harus seperti itu karena dia ga mau kehilangan Nurul apabila dia menyatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Nurul.
Sore harinya sebelum pulang sekolah, Nurul mengajak Fakri buat mampir di restoran favorit mereka. Mereka lalu masuk kedalam dan duduk di kursi favorit mereka, dekat jendela yang langsung menghadap ke pemandangan kota metropolitan ini.
“Fakri, Gue permisi dulu, ya, ke toilet,” ucap Nurul yang dibalas dengan anggukan kecil Fakri.
Nurul berjalan dengan tergesa-gesa ke toilet wanita yang ternyata disana sudah ada teman dekat mereka dan papa mamanya Fakri. Nurul lalu membawa kue ulang tahun sementara yang lainnya memegang balon dan kado sambil menggunakan topi ulang tahun.
“Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthdaay, happy birthday, Fakri.” Nyanyian mereka yang sukses membuat Fakri terdiam dan bengong dengan wajah idiotnya dan mulut menganga kecil.
“Selamat ulang tahun ya, Nak,” ucap papa, mamanya sambil mencium kening Fakri.
Fakri masih dengan wajah seperti itu sampai Nurul tersenyum menyadarkannya.
“Selamat ulang tahun,” ucap Nurul.
“Uhhh. Selalu saja begini,” ucap Fakri. Mereka pun lalu berpesta bersama merayakan hari ulang tahun Fakri.
Malamnya, Fakri menelpon Nurul.
“Halo,” ucap Fakri.
“Hai, kenapa, Ri? Tumben banget,” balas Nurul.
“Gak ada, Ung. Hm ... by the way, makasih yah, surprisenya. Lumayan berkelas,” ujar Fakri dengan nada menyindir gitu.
“Dasar. Masih mending juga dirayain. Haha ...” balas Nurul.
“Yayaya. Hm ... Loe belum ngasih kado nih ke, Gue,” tagih Fakri.
“Hehe, sorry Bos, tanggal tua nih. Nyusul aja, ya, kadonya,” tawar Nurul.
“Gimana, kalau Gue, minta Loe ngelakuin sesuatu,” tawar Fakri.
“Ngelakuin apaan? Jangan yang aneh-aneh, ya,” balas Nurul.
“Simpel ko, cuma ngikutin upacara hari senin doang,” balas Fakri.
“Duh, Ri, yang lain ajadeh! Aku gak bisa. Kan kamu tau itu," tolak Nurul.
“Ayolah, Ung, sekali ini aja. Gue janji kalau Loe capek, Loe boleh istrirahat langsung dan Gue janji akan selalu berdiri di sebelah Lor buat jaga-jaga,” balas Fakri meyakinkan Nurul.
Nurul berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui.
“Janji, Loe, akan selalu berdiri di sebelah Gue dan mengawasi Gue?” tanya Nurul lagi.
“Iya, Gue janji!” jawab Fakri.
“Okelah. Gue mau," balas Nurul.
“Gitu dong, Ung. Ini bakal jadi kado terindah dari Loe kalau Loe berhasil ngelakuinnya,” balas Fakri.
“Alah ... lebay deh, Loe. Yaudah deh, Gue tutup ya, ngantuk nih,” ujar Nurul sambil menguap.
“Oke. Bye. Selamat malam dan mimpi indah Nurul Annissa.”
“Bye. Selamat malam juga buat M. Fakri Vilano Putra.”
Hari senin pun tiba. Fakri menjemput Nurul lebih awal dan dilihatnya Nurul sudah rapi. Mereka pun pergi bersama. Mereka memasuki sekolah yang tampak sedang ada latihan gladi bersih bagi para petugas upacara.
“Ternyata gini, ya, suasana hari Senin,” ucap Nurul.
“Makanya, Ung, sering-sering ikut upacara, dong. hehe ....”
Nurul hanya tersenyum.
Upacara akan dimulai sebentar lagi. Nurul dan Fakri berjalan menuju barisan kelasnya, upacara pun dimulai. Lima menit upacara Nurul masih baik-baik saja. Setelah upacara berjalan dua puluh menit lebih, tepat saat amanat pembina upacara, Fakri melihat Nurul sudah berkeringat.
“Ung, Loe gak apa-apa?” tanya Fakri cemas.
“Enggak apa-apa, ko, Ri” jawab Nurul lemas.
“Serius, Ung?” tanya Fakri lagi.
“Iya, Ri ...” ucapnya sambil tersenyum dan menghadap ke depan dengan sikap khidmat.
Fakri sudah mulai cemas dengan keadaan Nurul. Begitu pun juga dengan Nurul. Dia juga merasa dirinya seperti melayang dan penglihatannya mulai kabur lalu lama kelamaan menjadi gelap. Nurul pingsan. Spontan Fakri langsung mengangkat Nurul dan membawanya ke ruang UKS. Fakri pun mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung dan dahinya agar dia cepat siuman. Setelah sepuluh menit pingsan, Nurul akhirnya sadar. Nurul membuka matanya dan tersenyum melihat Fakri.
“Ung, lo gak apa-apa? Maafin Gue, ya,” balas Fakri yang hanya dibalas dengan senyuman.
“Loe seharusnya bilang, kalau ludah gak kuat berdiri, Ung,” ucap Fakri lagi dengan perasaan yang cemas. Nurul pun hanya bisa tersenyum.
Setelah lums menit kemudian, petugas PMR yang lain keluar dari ruang UKS sehingga hanya ada Fakri dan Nurul didalam sana.
“Ari,” panggil Nurul kepada Fakri dengan nada lemah.
“Iya kenapa, Ung?” tanya Fakri.
“Maafin, Aku,” ucap Nurul sambil menahan air mata.
“Kenapa jadi Kamu yang minta maaf? Harusnya Aku yang minta maaf, Ung, sudah maksa kamu buat ngikutin upacara,” jelas Fakri.
“Maafin, Aku, gak bisa kasih kamu kado terindah, seperti yang kamu harapkan,” balas Nurul.
“Enggak, Ung, ini sudah cukup indah buat aku. Makasih, Ung."
Nurul hanya tersenyum.
“Fakri,” panggil Nurul lagi dengan lemah.
“iya, Ung?”
“Sebenarnya, aku penderita leukimia. Empat bulan lagi, Ri,” ucap Nurul lemah sambil berlinang air mata.
Seketika juga hati Fakri langsung hancur mendapat pengakuan seperti itu dari Nurul, sahabat terbaiknya sendiri. Fakri berfikir ini pasti hanya surprise tambahan dari Nurul untuk ulang tahunnya.
“Enggak, enggak mungkin. Nurul, kamu kalau mau bercanda dengan aku jangan ngomong kayak gini deh! Aku gak suka,” balas Fakri.
“Aku lagi ga bercanda, Ri. Aku serius,” ucap Nurul sambil menatap mata Fakri dalam-dalam sambil menahan tangis.
“Ya Tuhan ...” ucap Fakri sambil menangis memeluk Nurul. Mereka pn berlarut dalam kesedihan.
Fakri tidak bisa menerima kenyataan bahwa selama ini sahabatnya adalah penderita leukimia turunan dari kakeknya. Nurul sudah divonis leukimia dua bulan yang lalu. Semenjak tau dia adalah penderita leukimia, Nurul hampir selalu menangis setiap malamnya. Tetapi dia bersikap ceria kepada semua orang terutama Fakri. Nurul enggak mau melihat orang-orang disekitarnya dan Fakri tau kalau Nurul terkena penyakit leukimia. Nurul mau menghabiskan sisa waktunya dengan tenang dan bahagia, terutama bersama Fakri.
Tiga bulan berlalu. Nurul jadi sering gak masuk sekolah karena dia harus sering rawat inap di rumah sakit. Semenjak itu Fakri mulai merasa kehilangan Nurul. Hari-harinya yang biasa dilakukan bersama Nurul perlahan berganti menjadi sendirian. Fakri banyak diam di kelas. Dia selalu menunggu jam pelajaran selesai karena begitu pulang sekolah dia langsung bergegas menuju rumah sakit. Itulah yang setiap hari dilakukan Fakri.
“Hai," sapa Fakri sambil masuk kedalam ruang inap Nurul dengan membawa martabak keju coklat kesukaan Nurul.
“Hai,” balas Nurul sambil tersenyum.
“Bawa apaan, tuh?” tanya Nurul lagi.
“MKC nih” balasnya.
“Serius? Yeay!” ucap Nurul kegirangan sambil meraih kotak dari tangan Fakri.
Nurul langsung membukanya dan menghirup sejenak aromanya lalu memakannya.
“Bakal kangen dengan aroma ini,” terawang Nurul. Fakri hanya tersenyum miris mendengarnya.
“Gimana? Udah baikan?” tanya Fakri.
“Baikan gimana, tetap aja begini, malah lebih parah. Nih liat!” ujar Nurul sambil menunjukan rambut di kepalanya yang ditutupi dengan topi yang sudah mulai botak akibat dari kemoterapi yang dijalaninya.
Fakri pun terkejut melihatnya tapi tetap tenang walaupun perasaannya sedih melihat Nurul seperti ini. Fakri memperhatikan Nurul yang memakan martabaknya dengan lahap.
“Ung,” panggil Fakri.
“Kenapa, Ri?” tanya Nurul.
“Gak ada,” balas Fakri sambil tersenyum.
“Ih, gak jelas,” balas Nurul sambil tersenyum sinis.
“Hahaha. Gue cuma mau manggil nama Loe, aja.”
“Hm ... terserah,” balas Nurul sambil terus makan martabaknya.
Setelah kenyang, Nurul meminta minum air putih lalu duduk disebelah Fakri sambil berjalan tertatih-tatih.
“Ung, kira-kira pas gue udah bisa masuk IPDN, Loe masih ada gak, ya?” tanya Fakri sambil menerawang.
Nurul hanya berusaha tersenyum walaupun hatinya sakit mendengar pertanyaan dari Fakri.
“Semoga aja, Ri,” balas Nurul pelan.
“Ung,” panggil Fakri lagi.
“Kenapa, Ri?” jawab Nurul pelan.
“Nurul Annissa?” panggil Fakri lagi.
“hmmm?” balas Nurul.
“Gue mau ngomong jujur sama, Loe,” ujar Fakri.
Fakri pun mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Nurul dan memegang dagu Nurul lalu tersenyum. Fakri menatap mata Nurul dalam-dalam.
“Gue sayang sama Loe, sudah lama. Sejak kita kelas empat SD,” ungkap Fakri.
Spontan Nurul terkejut mendengarnya.
“Gue tau lo cuma nganggap kita sahabatan aja. Gue jujur sekarang karena Gue rasa gak punya waktu lagi buat nyatain ke Loe saat kita udah sukses nanti. Itu yang Gue takutin dan ternyata benar,” ujar Fakri sambil tersenyum sedih.
Nurul mulai berlinang air mata.
“Dan sekarang gue lega udah ngungkapin perasaan Gue ke, Loe,” ujar Fakri lagi sambil menatap mata Nurul dalam-dalam dan tersenyum.
“Makasih, Ri, sudah sayang sama Gue. Gue juga sebenarnya sayang sama Loe lebih dari batas sahabat. Sekarang, Loe, ngomong begini ke Gue buat gue nyesal, gue ga siap buat pergi. Gue masih pengen bareng sama Loe sampai kita sukses,” ujar Nurul sambil menangis.
Fakri pun mulai menangis. Mereka berdua kembali berlarut dalam kesedihan masing-masing. Fakri menyenderkan kepala Nurul ke bahunya dan mengusap rambutnya yang sedikit. Setelah cukup lama berlarut dalam kesedihan, mereka pun mulai bisa mengendalikan diri mereka masing-masing. Mereka saling tersenyum. Nurul menatap mata Fakri dalam-dalam begitu juga dengan Fakri. Mereka saling menatap lalu tersenyum sendiri.
“Fakri,” panggil Nurul.
“Iya, Nurul?” jawabnya.
“Janji sama, Aku!” pinta Nurul, “kamu harus masuk IPDN. Kamu harus tetap jadi Fakri yang aku kenal, bertanggung jawab, pantang menyerah, punya jiwa patriotisme yang tinggi. Jangan permalukan gelar kamu sebagai Duta Kepemimpinan. Kamu harus buktikan ke semua orang kalau kamu emang pantas mendapatkan gelar tersebut,” ucap Nurul sambil tersenyum.
“Iya, aku janji sama kamu. Ntar kalau aku udah di terima di IPDN dan kamunya udah gak ada, aku akan datang ke pusara kamu memakai baju IPDN-ku,” balas Fakri sambil duduk tegap.
Nurul pun hanya tertawa.
Selama sebulan kemudian, Fakri mengikuti tes seleksi masuk IPDN yang terdiri dari empat tahap, dan alhamdulillah Fakri lolos. Saat Fakri ingin menunjukan ke Nurul, Nurul telah menghembuskan nafas terakhirnya saat perjalanan Fakri ke rumah sakit tempat Nurul dirawat. Betapa hancurnya hati Fakri. Kalau saja dia bisa lebih ngebut lagi mengendarai mobilnya, mungkin dia masih bisa melihat Nurul untuk yang terakhir kalinya. Sekarang, dia melihat Nurul yang pertama kalinya dengan wajah tertutup dan terbujur kaku. Fakri pun mengikuti serangkaian proses Nurul menuju tempat terakhirnya dimulai dari solat jenazah sampai membawa Nurul mengantarkannya menuju pusara terakhirnya.
Setelah tiba disana lalu yasinan dan berdoa, pergilah orang-orang yang bertakziah itu pulang. Hingga tinggal orang tua Nurul dan Fakri disana. Papa Nurul menepuk pundak Fakri dan memeluknya. Begitu juga dengan mama Nurul yang memeluk Fakri dan memberi secarik surat bertuliskan “Untuk Fakri dari Nurul”. Mereka berpamitan ke Fakri dan pergi. Fakri pun membuka isi surat itu.
Dear Fakri,
My bestbeloved friend in the world and maybe heaven too
M. Fakri Vilano Putra. Selamat sudah menjadi anak IPDN. Maaf aku kecepatan perginya, hehe.
Jaga diri baik-baik ya, belajar yang benar. Tetap ngikutin upacara di sana yang bahkan mungkin upacaranya lebih rumit lagi dari SMA. Tetap jadi Fakri yang bertanggung jawab, berkarisma, yang selalu mengkaitkan hidupku dengan jiwa patriotisme dan bela negaramu yang entahlah apa saja itu, aku tidak tau. Hehehe.
Aku kepikiran, selama hampir dua belas tahun aku sekolah, hari itu adalah upacara pertama dan terakhirku. Terima kasih telah meyakinkanku untuk melakukannya. Semua, karena kamu, Fakri
Sampai jumpa lagi di kehidupan yang berikutnya
It’s always been you, Fakri
With love
Nurul Annissa
Fakri pun menangis membaca surat terakhir dari Nurul, sahabat terbaiknya. Fakri selalu berdoa agar Nurul baik-baik saja disana semoga dia menemukan tempat terbaik disisi-Nya. Fakri pun melihat pusara terakhir Nurul.
“Nurul Annissa, makasih Loe sudah mau menjadi sahabat terbaik gue selama hampir tujuh belas tahun ini. Gue ga nyangka Loe pergi begitu cepat. Gue juga berterima kasih sama Allah karena Gue sudah dipertemukan sama orang kaya Loe. Gue berharap semoga kita bisa bersama lagi di kehidupan selanjutnya,” ucap Fakri dengan terbata-bata karena menahan tangis sambil tersenyum.
SELESAI ....