Untuk dia yang telah pergi...
Disaat pertama dia melepaskan tangan ini dan pergi meninggalkan diriku tanpa lagi menoleh kebelakang, saat itu aku sadar aku telah benar-benar kehilangan dirinya.
Namun rasa sakit yang aku rasakan bukan karena harus kehilangan dirinya ataupun karena harus mengikhlaskan dirinya dengan orang yang lain, melainkan rasa sakit dan kecewa karena semua kepalsuan yang kurasakan
Tapi kenapa setelah apa yang terjadi, hati kecil ini masih berharap kepadanya, dan tidak dapat membenci dirinya.
Aku tidak tau untuk semua sebutan itu, mungkinkah itu yang dinamakan cinta buta? ataukah mungkin hati ini yang masih belum ikhlas menerima semua kepahitan ini?
Tapi yang aku tau, itu adalah sebuah kebodohan yang pernah aku ambil dalam hidup ini.
Karena bahkan sampai saat ini, aku masih berharap kalau suatu hari ia akan kembali.
Kembali mengingat secercah rasa, impian, dan mahligai yang pernah kita rajut bersama.
July namaku seraya terasa hangat disaat dia menyebut namaku disetiap waktu.
Masih teringat kehangatan pertama kali kita mengikat janji manis ini dari sebuah jari kelingking yang saling melingkar sampai indahnya sebuah lingkaran kecil yang bertahtakan intan permata itu memasuki jari manis ini diiringi sebuah kata-kata manis yang terucap sangat lembut berbisik dengan jelas.
"Will you marry me, July?" begitu hangat terdengar, yang aku balas dengan sebuah anggukkan kecil dan senyuman bahagia.
Dihari itu pula kecupan pertama yang begitu manis seperti madu mendarat lepas membasahi bibir ini, terasa hangat dan lembut menyatukan nafas kehidupan kita.
Namun kini mungkin semua itu hanyalah menjadi sebuah angan dan bunga tidur semata, melarutkan semua kenangan tentang dirimu dan hilang setiap kali aku membuka kelopak mata ini.
Hari itu ditengah malam di dalam derasnya hujan yang menyiram seluruh Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur.
Tepat dimalam pertama pernikahan kita, aku yang sedang menunggu dirimu mendapati sebuah panggilan yang hampir menyita separuh jiwaku.
Aku segera belari mencari taxi dan pergi ke lokasi Rumah sakit yang diberikan tanpa mempedulikan lagi pecahan gelas kaca yang tidak sengaja terjatuh dalam genggaman.
Sesampai di Rumah Sakit, aku telah melihat keluarga Syahlendra sudah berkumpul di ruang tunggu di depan pintu UGD dipenuhi kecemasan yang sama dengan apa yang kurasakan malam itu.
Akan tetapi tatapan sinis dari ibu mas Jay yang sangat dingin tertujuh padaku, dengan cepat ia menghampiri diriku, menghardik lengan ini dan menarik diriku pergi.
"Apa yang kau lakukan pada putraku?!"
"Dasar pembawa sial, tidak seharusnya putraku memilih dirimu dan menikahi dirimu!"
"Pergi kau dari sini jangan pernah aku melihat dirimu berada di rumah sakit ini!"
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putraku, maka aku tidak akan memaafkan dirimu!" tangannya yang tadi menarik lenganku berpindah menjambak rambutku yang terurai dan menarik diriku.
"Ampun, ma! Sakit!" lirihku menahan tangan ibu menarik rambutku, tetapi langkah kaki ini hanya bisa mengikuti dirinya membawaku pergi.
"Mama, mama! Kau pikir aku pernah mengakuimu!"
"Menyesal keluargaku pernah menampung pembawa sial seperti dirimu!" yang kemudian pergi setelah mendorong diriku yang kala itu jatuh tersungkur dihadapannya.
begitulah pandangan keluarga suamiku mengenai diriku setelah mengetahui asal usulku yang tidak jelas dan paling utama karena aku telah menyebabkan seluruh anggota keluarga angkatku yang merupakan kakak tertua dari ibu mas Jay meninggal dalam suatu kecelakaan.
Semenjak itu ibu mas Jay menganggap diriku adalah pembawa sial, begitu pula dengan seluruh anggota keluarga besar Syahlendra.
"Apa yang harus aku lakukan?" air mata ini tanpa terasa bergulir membasahi hati membuat luka pilu.
Betapa aku sangat berharap malam itu aku dapat berada disisimu, menemani dirimu.
Namun aku hanya dapat memeluk tubuh ini yang disirami guyuran air hujan sambil menatap setiap dinding dan jendela rumah sakit dari luar, menatap tempat suami yang begitu kucintai sedang berjuang dalam hidup dan mautnya.
"Apakah benar aku adalah pembawa sial?" hanya kata tanya ini yang terucap dalam hati ini, tidak tau harus bertanya kepada siapa atas apa yang telah terjadi.
Siapa yang menyangka dimalam pernikahan kita yang seharusnya begitu indah, berubah menjadi sebuah tragedi.
***
Sebulan berlalu begitu cepat, kabar terakhir yang kudengar dari pihak Rumah sakit, kalau dirimu telah sadar dan pulang ke rumah seminggu yang lalu.
"Tapi kenapa kau tidak kunjung pulang mas?!"
"Tidakkah kau tau aku menunggu dirimu disini?"
"Apakah aku harus mencari dirimu?"
"Tapi, bisakah?"
Aku mengusap bulih-bulih keringat yang membasahi keningku, aku terus melangkah walau dalam bimbang menuju Rumah Keluarga Syahlendra.
Dari ujung jalan aku melihat dirimu yang baru saja keluar dari mobil dengan menggunakan kursi roda dan dibantu oleh seorang wanita bergaun merah berkacamata hitam.
Aku ingat dia adalah wanita yang dijodohkan oleh Ibu mas Jay, wanita itu bernama Sylfana Malik Ahmar Dwintara.
"Apa ini?"
"Kenapa wanita itu kembali lagi?"
"Bukankah dia harusnya sudah pergi melanjutkan kuliah modelling ke negeri Paman Sam?" aku mencoba menghampiri mereka, terutama untuk bertemu mas Jay.
"Sylfa coba bantu mama bawa calon suamimu ini kedalam lebih dahulu." Ucap Ibu Kamelia Syahlendra, ibu dari mas Jay.
"Apa maksud Ibu?"
"Ca... calon suami?" tanyaku yang baru sampai dan berdiri di belakang mereka.
Begitu melihatku Ibu mas Jay segera buru-buru menghindar dan ingin membawa mas Jay menjauh dariku.
"Cepat, cepat bawa Jay kedalam!"
"Jangan sampai kalian berdua kena sial lagi." Ibu mengarahkan Sylfa untuk segera memasuki rumah besar berpagar hitam.
"Mas, mas Jay!" seraya aku segera memanggil mas Jay sebelum dia dibawa pergi.
Mas Jay menoleh melihatku, "dia, dia siapa?" tanya kecil Jay kepada ibunya.
"Udah, udah, itu bukan siapa-siapa, mening kamu cepat masuk dan istirahat!" ibu Jay berusaha menghalangi pandangan mata Jay.
"Loh, tapi dia panggil-panggil namaku, pastinya dia kenal aku, ma!"
Aku berusaha mendekati mas Jay, tapi sayangnya ibu menyuruh orang menghalangi dan mengusir aku pergi.
"Pak Mir! Pak Mir!"
"Aduh gimana sih ini, bukannya buruan usir ini gelandangan!"
"Maaf, nyonya, den, neng Sylfa, akan saya usir segera!" ucap satpam rumah.
"Jangan galak-galak, Pak Mir!"
"Kasihan soalnya perempuan," ucap Jay yang masih bersikap baik dan lembut seperti biasa dengan sedikit canda, namun ibu segera membawanya pergi dan Pak Mir juga mendengar ucapan nyonya besarnya untuk mengusirku pergi.
"Maaf, neng July,"
"Neng July 'kan tau kalau Nyonya Kamel gak suka kalau neng kesini,"
"Gimana yah, neng?"
"Mening neng July pulang saja,"
"Lagi pula aden Jay juga ga bakal inget neng lagi," ucap Pak Mir satpam di Rumah Keluarga Syahlendra, keceplosan.
"Apa maksud Pak Mir?!"
"Kenapa Pak Mir ngomong begitu?!"
"Mana mungkin Mas Jay tidak ingat saya Pak Mir!"
"Saya ini istrinya, Pak Mir! Saya ingin bertemu suami saya!" namun Pak Mir masih menghalangi, tetapi ia juga tidak ingin menyakiti karena ia juga telah mengenalku sudah lama.
"Iyah, Neng... Pak Mir ngerti!"
"Mang neng tidak tau kalau den Jay ilang ingatan?!"
"Kalau kata dokter apa itu ada sia, sia gitu, udahlah neng pulang saja!"
"Mas Jay Amnesia?!"
"Nah, itu! Neng saran Pak Mir, neng lupain saja atau pulang saja dulu," gerbang pagar hitam itupun ditutup oleh Pak Mir.
Akupun kembali pulang dengan berat hati kaki ini melangkah meninggalkan Rumah Keluarga Syahlendra, namun tiap hari aku selalu kembali mendatangi rumah itu lagi.
Sebulan berlalu tidak aku sangka hidup tanpamu begitu sesak dan terasa sunyi, empat puluh tiga ribu dua ratus menit berlalu begitu lama aku sangat merindukan dirimu sehingga rasanya tidak bisa bernapas.
Hari ini tanpa aku sadari kaki ini telah melangkah membawa diriku ke hadapanmu, akhirnya aku bisa memasuki halaman rumah itu tanpa ada yang menghalangi.
Tapi dari luar seperti ada sebuah acara di rumah ini, mungkin karena itu tidak ada yang memperhatikan aku memasuki rumah ini.
"Mas Jay!" seruku memanggil namamu sambil berlari mencari dirimu tanpa peduli dengan yang lainnya, rasanya aku ingin langsung memeluk erat dirimu.
Tetapi siapa yang menyangka, saat itu rupanya adalah hari dimana aku melihat dirinya sedang mengucapkan janji akad pernikahan dengan wanita yang selama ini dijodohkan oleh ibunya.
"Saya terima nikahnya Sylfana Malik Ahmar Dwintara binti Ahmar Ryan Dwintara dengan mas kawin seperangkat alat Sholat dan uang senilai seratus juta rupiah dibayar tunai."
Seusai Ijab kabul, semua orang yang ada disana, berikut dengan para saksi memanjatkan doa dan kemudian mengesahkan pernikahan mas Jay dan Sylfana.
"Tidak Sah!" nafasku serasa ingin berhenti, seluruh tubuh ini gemetar, mata dan wajah ini memerah meredam menahan derai air mata yang menetes perlahan.
"Pernikahan ini tidak sah!" ucapku sekali lagi.
"Maaf, kalau boleh tau anak ini siapa?" tanya sang penghulu.
"Saya istri sah pertama Mas Jay Syahlendra," semua orang terperangah kaget, begitu pula dengan Mas Jay.
Namun tiba-tiba datang beberapa orang penjaga suruhan Ibu Mas Jay datang untuk membawaku keluar, "sudah, kita lanjutkan lagi acaranya, ini semua salah paham," jelas ibu mas Jay ke semua tamu.
Saat itu aku ditarik paksa keluar, aku berusaha melawan namun salah seorang dari mereka memukul tungkak belakang leherku sehingga aku jatuh pingsan dan lalu mereka mengurung diriku di ruang bawah tanah.
Saat aku sadar, tubuhku sudah dalam posisi telungkup dengan tangan dan kaki terikat, mata dan mulut inipun juga telah ditutup.
Dalam pikirku teganya Mama Kamelia melakukan ini hanya untuk memisahkan aku dengan Mas Jay, "aku harus keluar dari tempat ini, tapi bagaimana?" aku sadar tubuh ini terikat, aku benar-benar tidak berdaya.
Tiba-tiba datang seseorang membuka pintu ruangan dimana aku disekap, derap langkah kaki itu terdengar semakin mendekat dan kini orang itu seakan berdiri didepanku.
Orang itu melepaskan penutup mulutku terlebih dahulu, "apakah dia Mama?" pikirku saat itu.
"Ma, tolong lepaskan July, ma!" pintaku.
Terdengar suara orang itu menarik nafas berat dan panjang, suara tarikan nafas itu seperti suara seorang pria.
Kemudian tangannya melepaskan pengikat hitam di mataku, saat aku melihatnya orang yang ada dihadapanku tidak lain adalah suamiku sendiri Mas Jay.
"Mas, ini kamu?" aku mengira Mas Jay datang menyelamatkan aku, "apa itu artinya Mas Jay sudah ingat siapa aku?" pikirku dalam hati.
"Mas, jadi mas sudah ingat aku?" tanyaku yang dibalasnya dengan senyuman.
"Justru aku ingin bertanya, siapa kamu ini?"
"Apakah kamu benar-benar adalah istri pertamaku?" tanya Mas Jay tanpa basa-basi.
"Mas Jay, aku benar-benar adalah istrimu,"
"Malam disaat mas kecelakaan, itu adalah malam pernikahan kita," jawabku memperjelas apa yang terjadi.
Tapi respon Mas Jay sangatlah aneh tidak seperti biasanya, ia menggaruk kepalanya dan lalu bangkit berdiri menatap langit-langit ruang bawah tanah.
"Kalau mas tidak percaya, aku punya buktinya!"
"Foto pernikahan kita selalu kubawa dalam dompetku," ujarku ingin membuktikan kebenaran ucapanku, karena melihat Mas Jay yang meragu.
Mas Jay langsung mengambil tas dompetku, dan memeriksanya mencari foto yang kusebutkan tadi.
"Ternyata benar, ini foto pernikahan..." ucap Mas Jay dalam hatinya begitu melihat foto itu.
Lagi-lagi Mas Jay mengambil nafas panjangnya dan melepaskan ikatan di tanganku, lalu ia mengeluarkan sebuah map kuning yang diselip di belakang pinggangnya, dan kemudian memberikan map kuning itu padaku.
"Tanda tangani map ini segera," perintah Mas Jay.
Ketika aku membukanya, ternyata map itu berisi surat perceraian.
"Apa ini, mas?!"
"Mas Jay mau menceraikan aku?!"
"Salah apa aku, mas?!" air mataku mulai menetes mempertanyakan alasan mengapa aku diceraikan.
"Tanda tangan saja, tidak usah kau banyak tanya lagi!"
Berat hatiku untuk menanda tangan surat perceraian ini, jari jemari ini terasa begetar sulit rasanya memegang sebuah tinta ditangan, apa lagi harus sampai menorehkannya pada kertas ini.
Hati ini terasa dicabik-cabik, tidak aku sangka begitu mudahnya perceraian ini terjadi.
"Cepat tanda tangani!" seraya mengancam Mas Jay memegang tangan ini agar tidak terus gemetar dan dapat menandatangani surat perceraian dengan baik.
"Tega kamu, mas!" ucapku sesak, tapi Mas Jay tidak mempedulikan ucapanku.
Setelah mendapatkan surat cerai itu, Mas Jay kembali mengikat tubuhku dan tanganku lalu menutupi kepalaku dengan karung goni.
"Maaf, sehabis ini kau tidak akan menderita lagi!"
"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi dan jalani hidupmu dengan baik-baik nanti!" bisiknya terakhir ditelinga, yang lalu memanggil beberapa pengawalnya tadi untuk membawaku pergi jauh.
"Bawa dia pergi keluar kota, jangan lukai dia dan jangan sampai ibuku tau mengenai hal ini!"
Itu adalah terakhir kalinya aku melihatnya, dan mendengar suaranya, tapi semenjak malam itu pula aku tersadar kalau semua yang kuperjuangkan selama ini adalah sia-sia belaka, karena sama saja seperti aku sedang memperjuangkan sebuah hubungan yang ditanami ribuan akar berduri, membuat nanar luka dalam hidupku.
Semua telah berakhir, dan hanya meninggalkan bekas luka dan sesak di dalam dada.
Biarkan waktu yang berlalu mengubur semua luka, walaupun aku tau luka yang aku rasakan tidak akan pernah sembuh...
~End~
========================================
Pengalaman Hidup mengajarkan bahwa kita tidak dapat mengendalikan kesetiaan seseorang, dan luka yang terburuk adalah sebuah pengkhianatan.
Sebuah pengkhianatan yang paling menyakitkan selalu datang dari orang yang kita percaya dan kita cintai.
Sebuah pengkhianatan akan menghancurkan hati dan menggelapkan jiwamu tenggelam dalam rasa sakit dan kepahitan terdalam yang selamanya membekas dilubuk hati dan memory kehidupan kita.
#Quotes of Life#
========================================
Bionarasi :
========================================
Hi... Everyone!
Perkenalan Saya Lil Moonlight,
Penulis pemula yang masih mengejar cita dengan menuliskan aksara dan berbagi cerita.
Sedikit kata, dalam setiap kekurangan dan keterbatasan, tidak akan membuat seseorang berhenti berkarya untuk menggapai sebuah asa dalam mengukir prestasi.
Saat ini penulis berdomisili di Jakarta, temukan jejakku di IG : @Lil.Moonlight7
#Aku mendedikasikan cerpen ini untuk Challenge Menulis Cerpen bersama dengan Ruang Author.
Salam Hangat dan semoga bermanfaat di hati pembaca, Terimakasih 💖🌷
Lil Moonlight.