Sebelum membaca cerpen ini, ambil posisi duduk ternyaman, untuk mendapatkan feel-nya, dengarkan dahulu musik dr trending saya yg saya pos di hari ini, kamis, 11 juli, 2024, pukul 03.33 pagi
Judul : Hug me
Singer : Jung Joon il
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
KLONTENG!!! KLONTENG!!! KLONTENG!!!
Dentang suara lonceng gereja, menyadarkanku, membawaku kembali ke dunia nyata, setelah sebelumnya aku satukan semua batin, pikiran dan tubuhku pada satu sembahku pada Tuhan-ku.
Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam ke-kusyukan itu, rasanya waktu selalu tak cukup ketika aku merasa butuh untuk mengadu. Bahkan ketika aku mengakui dosa-dosaku
"Tuhan, maafkan aku karena terus saja mencintai dan menginginkannya. Tak bisakah aku bawa dia dalam kehidupanku selanjutnya?" Permintaanku yang rasanya mustahil untuk terkabulkan.
……
Aku bangun dari sujud ku, lalu berjalan keluar, membawa semua perasaan aneh dan sedikit membuat nafasku terasa lebih penuh.
"Sayang!!!"
Panggilan seseorang dari tempat parkir, di salah satu sudut halaman gereja mengalihkan perhatianku. Senyumnya, wajah ayu dan menggemaskan yang ia suguhkan saat memanggilku, selalu berhasil menarik ujung-ujung bibirku, membuatku tersenyum lebar dan menarik keluar semua bahagia. Tak jarang, aku yang dilabel pria dingin ini, menjadi salah tingkah dibuatnya.
Silla namanya, gadis muslimah yang berhasil mengambil hampir keseluruhan hidupku. Pakaian tertutup sangat sopan, menutup hampir semua auratnya, membuatku merasa aman dan nyaman setiap berada di sisinya. Terlebih karena ia memiliki senyum menggemaskan ditambah gigi gingsul yang membuat jantungku menggila.
"Maaf aku lupa, kamu sudah lama menunggu?" Sahutku mendekati perempuan yang selalu membuatku kagum padanya.
"Lumayan." Senyum lembut kembali ia suguhkan. "Kamu juga selalu sabar kalau nungguin aku ngisi acara pengajian. Jadi ya adil dong kalau sekarang aku gantian yang nungguin kamu ibadah."
Rasa syukur selalu aku hadirkan, saat gadis berjilbab ayu yang berdiri beberapa jengkal di depanku ini, selalu menunjukkan sikap dan watak dewasanya. Tutur katanya selalu lembut berhasil membiusku dan membawaku semakin ingin masuk ke dalam hidupnya.
"Hari ini jadi ke WO?" Tanyaku menahan jantung yang hampir tak berasa, saking cepatnya ia berdetak.
"Jadi dong sayang, sekaligus fitting gaun ya?" Ucapnya sedikit manja, meraih lenganku mengisyaratkan permohonan.
"Oke, hari ini seluruhnya milikmu." Harus kujawab dengan senyum yang tak pernah bisa kutahan.
Aku hidupkan mesin mobil, dan melaju perlahan di jalanan kota yang sangat tenang. Bersama perempuan ini, selalu membuatku tak ingin waktu berjalan cepat. Jika saja boleh, rasanya ingin sekali aku mengajukan tambahan waktu. Disitulah letak serakahku, berapapun banyak yang aku dapatkan, berapapun lama aku bersamanya seharian, rasanya tak pernah aku merasa cukup.
Kegilaanku padanya, selalu membuatku merasakan rindu yang tak pernah bisa kutahan, membuatku terus mencari kehadirannya lagi, lagi dan lagi. Bukan hanya karena wajahnya yang ayu yang memikatku, tapi hatinya yang selalu bersih dan sabar, yang selalu bisa menenangkanku saat aku berubah menjadi pribadi lain.
Keteguhan hatinya, kedewasaan berpikirnya, dan yang terpenting adalah ketaatannya pada Tuhan-nya, semua itu yang terus membuatku tak berdaya saat berada jauh darinya.
"Bagaimana?" Ucap Silla lembut dengan wajah tersipu malu-malunya.
Tak bisa kupalingkan tatapku pada Silla. Aku pangkling!! Dari semua model gaun pengantin, dia benar-benar mencoba gaun yang aku pilih. Gaun pengantin berwarna putih bersih, dengan lengan panjang sederhana. Berbahan dasar kain satin terbaik, dibingkai dengan kain tile senada, ditambahkan dengan manik-manik berkilau berwarna senada pula. Dress yang menjuntai menutupi seluruh auratnya, dipadukan jilbab putih dan kain tile sebagai penutupnya, serta mahkota kecil diatas kepala Silla.
Tak terasa, mataku berkaca-kaca, rasanya tak percaya aku bisa menjadi pria beruntung. Akulah pria pertama yang melihat Silla mengenakan gaun pengantin. Hampir tak ada kata yang bisa terucap, rasa haru ini benar-benar membuat lidahku terasa lebih pendek, seakan ada tulang tumbuh disana, dan membuatku kesulitan menggerakkannya.
"Cantik kan? Huuuum??" Tuntutnya menyadarkanku bahwa Silla menunggu jawaban dariku.
Aku melangkah perlahan mendekatinya. Kuhapus titik air di ujung mataku. Kupaksa mengulum ludah, sekedar untuk membasahi kerongkonganku. Kupegang erat kedua tangannya, kubelai lembut jemarinya,air mataku kembali hadir dan kubiarkan saja membuat pandanganku semakin mengembun.
Silla meraih wajahku, dengan kedua tangan lembutnya, ia menguatkanku, menghapus air mata pria berkepala batu ini. Beberapa detik, kami larut dalam haru, entah apa yang dipikirkan pegawai dan pemilik bridal itu, aku tak peduli, aku hanya ingin menikmati kekagumanku pada wanita cantik luar biasa di hadapanku ini.
"Terimakasih." Hanya satu kata yang mampu terkirim dari mulutku.
.
.
.
Dua Minggu setelahnya….
"Matius!!! Cepetan!! Telat nanti!!" Teriak kakak perempuanku hampir meledakkan seisi rumah yang tak begitu besar milik orang tuaku.
"Iya." Sahutku singkat kembali memastikan penampilanku di depan cermin besar yang belum lama ini kupinjam dari kamar kakak perempuanku.
"Kamu yakin baik-baik saja?" Ucap lembut mbak Arini menghampiriku yang berdiri kaku di depan cermin.
Aku hanya mengangguk lesu. Mbak Arini memeluk tubuhku yang tentu saja lebih tinggi darinya. Ku sandarkan daguku ke pundaknya dengan sedikit membungkuk. Ku pejamkan mata beberapa detik, sejenak kupasrahkan kegundahan hatiku di pundak kakak perempuan yang selalu menjagaku, menguatkanku saat aku jatuh dan terpuruk.
Mbak Arini menepuk pundakku perlahan, lalu mengelusnya, samar-samar kudengar ia pun terisak. Kurekatkan rahang-rahangku sekuat mungkin, agar tak ada lagi embun yang akan keluar dari mataku.
"Dah, kita berangkat sekarang?" Ucap Mbah Arini dengan suaranya yang menjadi parau dan bergetar. Kubalas dengan anggukan kecil.
Abang iparku, yang tak lain adalah suami dari mbak Arini, bertanggungjawab pada kemudi mobil yang aku tumpangi bersama mbak Arini dan kedua ponakanku. Sepanjang perjalanan, tak ada mulut dewasa yang bersuara, hanya celotehan dua ponakanku menyanyikan lagu-lagu anak yang membuat mobil kami terasa menjadi damai.
Dua puluh menit sudah kami di jalan, sampai akhirnya Abang iparku memarkirkan mobilnya di halaman sebuah gedung.
KUA KECAMATAN KOTA A.
Begitu jelas label gedung itu terpampang disana. Nafasku terasa tercekik saat membacanya. Nafasku semakin sesak, diikuti detak jantung yang tak beraturan. Aku benar-benar gugup. Mbak Arini membantuku mengeringkan keringat dingin di dahiku, sedangkan mas Bram, kakak iparku mengawasi kedua anaknya.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Ucap penghulu.
"Sah!!"
"Sah!!"
"Sah!!"
Semakin kurapatkan rahangku, dan kubungkam mulutku dengan kepalan tanganku sendiri. Tatapan mataku semakin tak jelas, karena dipenuhi embun yang tak bisa kucegah.
Mbak Arini memeluk pundakku. Kulihat dia pun tak mampu mengatasi air matanya. Abang ipar pun menepuk punggungku, memberiku kekuatan agar tetap bisa bertahan.
Beginilah semua terjadi. Silla akhirnya menjadi istri dari seorang ulama. Pria mapan yang seiman dan menjadi pilihan orang tua Silla. Aku pun mengenalnya baik, Maulana adalah pria baik, yang bisa menjadi imam yang baik juga untuk Silla.
Kurelakan dua tahun kebersamaanku dengan Silla pada pria yang tepat. Pada pria yang kuyakini juga sangat mencintai Silla, dan akan membuat Silla selalu bahagia.
.
.
Dua bulan sebelumnya….
"Sayang, maafkan aku, aku sangat mencintaimu, tapi…" Isak Silla membuatku lemah.
"Aku tahu, memang kita harus berakhir seperti ini pada akhirnya. Kita sudah tahu sejak awal." Sahutku mengusap pelan kepalanya.
"Iya, tapi,,,"
"Tidak, Silla, aku mencintaimu, tapi aku tidak mau mengambilmu dari Tuhan-mu." Jawabku getir.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
😁😁😁,
Baiklah, perkenalkan nama saya Kyun jae hwa, biasa dipanggil Udin, teman dari Shinchan.
Membuat sesuatu jadi indah bukan keahlian saya, tapi mengusahakan yang terbaik adalah salah satu sifat buruk saya.
Cerpen bertema patah hati, saya persembahkan untuk meramaikan event receh GC RA(Ruang Author) bersama onel @HK dan seluruh timnya.
Sekian dari saya, quote terbaiknya " Jika orang lain bisa, kenapa harus saya."😂😂
🍄Semoga Semua Berbahagia🍄🌾