"Kue-kue ...." Kaki ini terus menyusuri jalan, mengharap mendapat rezeki dari Sang Maha Kuasa. Letih? Memang, tapi ini harus kulakukan, agar memiliki biaya untuk sekolah.
Aku, Aisyah Nuha Zahira. Seorang gadis, yang telah berusia lima belas tahun. Tinggal bersama kakek dan nenek yang renta. Nenek hampir dua tahun ini hanya terbaring lemah, karena penyakit gagal ginjal. Sedangkan kakek, hanyalah seorang nelayan dan petani garam. Penghasilannya tentu kurang untuk biaya cuci darah setiap minggunya, apalagi buat sekolah. Maka dari itu, aku membantunya dengan penuh kegigihan.
Aku ingin seperti mereka hidup bersama orangtuanya, tapi ... apalah daya tiap kali bertanya nenek hanya menjawab, "mereka sedang bekerja. Nanti pada waktunya, kalian pasti bertemu." Aku iri pada mereka yang bisa bergelayut manja dengan ayahnya, iri bisa merasakan peluk hangat ibunda. Namun, harus tetap bersyukur, masih banyak yang kurang beruntung dbandingkan aku.
Tak terasa hari semakin gelap. Perjalanan pulang ditemani desir angin sepoi-sepoi, seiring dengan tenggelamnya matahari. Berat rasanya langkah ini,
tapi aku harus bergegas masih ada pekerjaan yang menunggu. Baru sampai di persimpangan seseorang memanggilku.
" Ra, Zahra," teriaknya.
"Iya, Budhe," sahutku menoleh ke arah suara.
"Si Mbahmu masuk rumah sakit."
"Lho, kok bisa, emang Si Mbah kenapa Budhe?" tanyaku penuh rasa cemas.
"Ndak tau. Tadi katanya muntah darah, lemes gitu."
"Ya Allah ... terus harus gimana? Aku masih ada tanggungan buat kupas singkong di pabrik."
"Sudah, itu biar Budhe gantiin. Kamu sana nyusul diantar Rio. Sini wadah kuenya biar Budhe bawa!"
Aku hanya mengangguk dan menyerahkan bakulnya, bergegas naik dibonceng kak Rio. Seluruh tubuh rasanya gemetar, khawatir merasuki jiwa, pikiran melayang kemana-mana. Baru beberapa hari nenek keluar dari rumah sakit, kenapa sekarang harus dirawat kembali? Airmata 'tak dapat lagi ditahan, berderai membasahi lesung pipiku. Perjalanan 45 menit terasa sangat lama, padahal sudah dipacu dengan kecepatan tinggi.
Setelah 45 menit, akhirnya sampai di RS. Mitra Bangsa. Aku turun dari motor, berlari secepat mungkin menuju tempat administrasi, mencari tahu di ruang mana nenek dirawat. "ICU" itu ruangan dimana nenek terbaring tak berdaya. Ya Allah ... berarti kondisinya sangat lemah. Berlari menuju ICU, menyalip setiap orang yang berjalan di depanku, tak terhiraukan lagi apa yang mereka katakan yang penting cepat sampai.
"Kakek," sapaku saat tiba di depan ICU.
"Zahra," sahutnya dan menyambut dengan pelukan.
"Gimana keadaan nenek, Kek?"
Kakek terdiam sekejap, airmata luruh membasahi pipi. "Nenek telah tiada."
Deg ... tubuhku lemas mendengarnya, derai airmata tak lagi terbendung. Orang yang s'lalu memberi semangat 'tuk meraih mimpi, kini telah pergi. "Tidaak ...." Hilanglah separuh dari hidupku, kehilangan sosok seperti ibunda. Ya Allah ... kenapa ini begitu cepat.
Keesokan harinya, nenek telah di makamkan, terkubur gundukan tanah, bersama hilangnya separuh semangat. Tapi, aku sudah berjanji
dengannya, akan kuraih mimpi terbesar dan membanggakan nenek.
Setelah kelulusan SMP, aku putuskan sekolah di kota. Berniat menuntut ilmu, sembari bekerja, dan mencari orangtuaku. Berat, memang. Tinggal sendirian tiada sanak saudara di tengah kota besar ini.
Suatu malam, aku diteror seseorang yang mondar-mandir di depan kos, sesosok pria membawa pistol, dan sesekali menggedor pintu. Takut, itu yang terasa. Aku mengambil ponsel mencoba menghubungi Paklek, supaya dia kesini. Sembari menunggu, diri ini hanya bisa mengintipnya melalui jendela kamar.
Tiga puluh menit kemudian, polisi datang meringkus orang tersebut. Sempat terjadi kejar-kejaran, hingga akhirnya timah panas melesat di kaki pria itu. Setelah berhasil dibekuk, barulah aku berani keluar dari kos.
"Apa yang ingin anda lakukan terhadap saudari Zahra?"
"Sa–saya disuruh, Pak."
"Siapa yang menyuruh? Dan disuruh untuk apa?" tanya Pakpol dengan tatapan mata elangnya.
"Disuruh orangtuanya, Pak, untuk membunuhnya."
"Astaghfirullah hal'azim ...," ucap seluruh warga sembari mengelus dada.
Aku hanya bisa terdiam, membisu kaku, lunglai dan terjatuh karena lemas. Aku tidak percaya dengan ini semua. Ini semua pasti kebohongan, ini enggak bener. Tidak ada orangtua yang setega itu.
Keesokan harinya, aku pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan kasus semalam. Sesampainya di sana, ada dua insan yang mirip sekali dengan foto yang selama ini menjadi obat rindu. Ayah dan bunda, benarkah itu mereka?
"Mas, kenapa Mas tega nyuruh orang buat membunuh Zahra? Dia anakmu, Mas, anakmu!" pekik Paklek dengan menggebrak meja.
"Tenang, Pak. Tidak usah ribut!" titah salah satu Pakpol. "Apa benar, Bapak dan ibu yang menyuruh tersangka untuk membunuh Nak Zahra?" lanjutnya.
"Iya."
"Kenapa kalian tega melakukan itu? Bukankah dia putrimu?"
"Tidak. Kami tidak pernah menganggap dia sebagai anak. Kelahirannya hanya membawa petaka. Anak pembawa masalah!" gertak ayah sembari menggebrak meja.
Seulas senyum yang terlukis kini luntur dengan tetesan airmata. Bahagia dapat berjumpa, berubah menjadi cambuk yang menorehkan luka. Orang yang 'ku rindukan tidak menginginkan diri ini. Tidak! Ini hanya masalah waktu, akan kubuktikan, aku bisa membanggakan mereka.
"Kalau begitu kalian resmi kami tahan."
"Tidak!" teriakku seketika yang mampu menggema di seisi ruangan.
"Kenapa, Zahra?" tanya Paklek.
"Saya tidak akan pernah menghukum orangtuaku sendiri. Saya ingin mencabut tuntutan ini."
"Tidak bisa, Nak, ini sudah terlewat batas dan kekerasan pada anak."
"Tapi, saya tidak kenapa-napa. Jadi saya mohon, tutup kasus ini!" titahku sembari menahan sesak di dada.
"Baiklah. Jika saudara memaksa."
Kami pun keluar dari kantor polisi. Setelah agak jauh, ayah menarik tanganku. "Sini, Kamu!"
"Ingat! Kalau Kamu mau diakui anak oleh kami maka, Kau, harus punya uang banyak!"
"Ayah, aku 'kan anakmu ... kenapa Ayah seperti ini kepadaku?"
"Jangan banyak tanya! Kamu baru boleh memanggilku ayah, setelah Kamu sukses. Temui kita di rumah mewah no.09 di Jln. Anggrek!" titahnya berlalu pergi.
"Kamu juga, Ra, kenapa malah biarin mereka bebas?" tanya Paklek.
"Mereka orangtuaku, 'tak patut jika seorang anak menghukum orangtuanya. Aku akan meluluhkan hatin mereka dengan kelembutan, bukan kekerasan." terangku dengan senyum miris.
"Yasudah, itu terserah kamu. Ayo kita pulang!"
Enam tahun berlalu. Kini, aku sudah lulus kuliah dengan menyandang gelar dokter spesialis jantung, dan diterima kerja di rumah sakit ternama. Untuk mencapai semua ini, tidaklah mudah, banyak rintangan yang harus kuhadapi. Tapi, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Inilah mimpiku, menjadi sukses dengan kemandirian.
Kini, waktunya berjumpa dengan orangtua. Sesuai permintaan ayah, untuk menemuinya setelah banyak uang. Tidak sabar ingin jumpa, mendapat kasih sayang yang selama ini kudamba. Jln. Anggrek no.9, sampailah aku di depan rumah yang memang mewah bagai istana. Tapi, kenapa sepi? Di mana mereka? Kucoba mengetuk pintu berkali-kali, tetap saja tidak ada yang menyaut.
"Bu, Bu, kalau boleh tahu menghuni rumah ini ke mana, ya?" tanyaku pada seorang ibu yang kebetulan lewat.
"Loh, 'kan udah pada pindah, karena disita bank," jelasnya.
"Kira-kira pindah ke mana, Bu?" tanyaku mengintrogasi.
"Wah, saya kurang tahu, Mbak."
"Terima kasih, Bu."
Ke mana aku harus mencari? Kenapa ini terjadi? Setelah semua syarat kupenuhi, kenapa mereka pergi? Ya Allah, bantulah hamba.
Dua hari berselang, mereka belum ketemu. Pada akhirnya aku harus kembali bekerja. Hari ini hanya ada sedikit pasien. Ya, Alhamdulillah mereka pada sehat. Baru, saja ingin duduk tapi suster memberitahu, kalau ada satu pasien lagi yang mengalami sakit jantung.
Bergegas ke ruang UGD, tapi langkahku terhenti, melihat orang di depan UGD itu adalah bunda. Lalu, siapa yang sakit? Apa jangan-jangan ....
"Bunda," teriakku dan melangkah mendekatinya
"Zahra," balasnya
"Kenapa Bunda ada disini?"
"Ayahmu yang sakit, Ra." Airmatanya luruh.
"Bunda tenang, ya. Zahra akan bantu Ayah biar sembuh."
Aku memasuki ruangan, terlihat ayah terbaring dengan wajah pucat. Aku memeriksa keadaannya, memang memiliki riwayat jantung tapi, sakitnya tidak begitu serius. Lima belas menit akhirnya ayah sadar.
"Ayah," sapaku.
"Kamu."
"Iya, Aya, ini Zahra." ucapku sembari mencium tangannya.
"Zahra, maafin Ayah, tidak seharusnya ayah memperlakukan dirimu dengan kasar. Kamu boleh membenci Ayah."
"Tiada rasa benci dihatiku, Yah, yang ada kasih sayang. Aku sayang sama Ayah dan Bunda. Ayah, sesuai permintaan Ayah, aku sudah sukses. Apa boleh aku mendapat pengakuan dari Ayah dan Bunda?"
"Tentu, Anakku." Mereka memelukku erat.
'Ya Allah ... sungguh, ini nyaman sekali, ini yang kurindu selama 22 tahun, sekarang aku sudah mendapatkannya.'
Ayah, Bunda, mendapat kasih sayangmu itu mimpiku, membanggakanmu itu citaku, melihatmu tersenyum itu inginku, dan itu telah terwujud. Tiada lebih nyaman selain bersamamu. Terima kasih Tuhan, telah kau kabulkan semua mimpi-mimpku. Meraih mimpi yang paling indah.
SELESAI ....