Assalamu'alaikum. Perkenalkan nama saya Angel, iya teman-teman panggil dengan nama kesayangan White, karena menurut mereka kulitku sangat putih padahal kedua orang tuaku memiliki warna kulit khas Indonesia, sawo matang. Aku saat ini duduk di bangku kelas 12, di sebuah SMA swasta di Bandung. Hari ini saya mencoba untuk membuat sebuah cerita pendek dengan tema patah hati untuk mengikuti sebuah challenge yang diadakan di GC Ruang Author.
Cerita pendek yang Angel ceritakan saat ini bukan tentang patah hati karena sebuah pengkhianatan, namun terlebih pada perginya seorang kekasih karena takdir Tuhan yang tak pernah bisa kita tolak.
Happy Reading
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Matahari terik menusuk permukaan kulit, membuatku semakin menyipitkan mata dengan keluh kesah yang ribut bergelung dalam benak. Hari ini entah kenapa pusatnya bumi tengah menyinari semesta dengan begitu dahsyat. Seakan meminta semua insan di bumi untuk menyambutnya, awan pun seakan enggan untuk menghalanginya. Imitasi cahaya matahari terbentang menghiasi cakrawala ibukota, entah di angkasa bagian mana anganku dibalut pura-pura.
Kini aku menyusuri koridor dengan tergesa-gesa, bahkan beberapa kali mengabaikan sapaan orang-orang di sekitar. Koridor saat jam makan siang tiba tak jauh berbeda dari hari biasanya. Saat ini banyak sekali cerita akan rumit isi kepala dan abstraknya perasaan manusia yang samar-samar bisa didengar.
Hingga kini pada akhirnya, kedua kakinya membawa raga untuk sampai di depan kelas seseorang yang menjadi sebab dari semua hal yang ada di pikirannya.
Lantas aku memundurkan langkah ketika dari balik kaca kelas itu tak memunculkan tanda-tanda untuk segera berakhir. Dengan alis tertaut kebingungan, aku melirik alroji yang melingkar di pergelangan tangan dengan segala tanya kini muncul bermunculan di benak. Bukannya seharusnya kelas itu berakhir dari 20 menit yang lalu? Aku menarik nafas panjang lalu mengusap boleh keringat yang mengalir di pelipis akibat berlari untuk sampai ke sini.
Akhirnya, aku bisa bernapas lega saat tak mendapati kekasihku itu berdiri menunggu kehadiranmu seperti biasa. Lantas ku putar balik arah kakiku yang telah mengirim pesan untuk mengatakan kepada kekasihku untuk datang ke cafetaria untuk makan siang bersama setelah kelasnya selesai.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tetapi tak kunjung juga mendapat balasan dari sang kekasih. Beberapa kali ku tengok ke arah ambang pintu masuk cafetaria untuk melihat apakah sosok yang kutunggu sedari tadi datang atau tidak.
“Eh, Sat!!” Tiba-tiba saja aku rasakan tepukan baru dari seseorang di belakang kini menjadi fokus utama.
Rupanya dia teman sekelasku, langsung duduk di hadapanku namun tak kuhiraukan. Aku pun kembali mengecek ponsel yang tak kunjung mendapatkan notifikasi apapun.
“Kenapa kamu masih melakukan ini sih, Sat?” Interupsi dari Bima membuatku kembali memfokuskan perhatian sepenuhnya pada temanku yang masih mempertahankan raut wajahnya.
Aku terdiam beberapa saat, berusaha mencerna maksud dari pertanyaan tersebut sebelum akhirnya dia kembali bersuara.
“Maksudnya?” tanyaku, namun tiba-tiba Bima meraih kerahku dan meremasnya dengan kasar.
Mendapatkan serangan seperti itu aku berusaha untuk memberontak.
“Stop it, Sat!!” bentak Bima sembari menatap tajam diriku.
“WAKE UP DUDE!!” Teriakan menggelajar Bima mengisi seluruh penjuru cafetaria, kini aku dan dirinya menjadi pusat perhatian.
Lantas, Bima mulai melepaskan genggaman tangannya pada kerah bajuku.
“Jangan kaya orang bego, Sat.”
Suasana yang sebelumnya cukup tegang tersebut mendadak jatuh dalam kesunyian setelah Bima mengucapkan kalimat itu. Perlahan kepalaku tertunduk, hanya menatap ke arah lantai dalam diam. Bima meninggalkan diriku setelah membubarkan kerumunan yang mulai berbicara dengan heboh. Tak ada yang benar tahu perihal luka dan derita yang tengah aku rasakan.
Rumitnya isi kepala manusia seperti labirin yang tak pernah tergapai pintu keluarnya, terlalu banyak kebohongan mengukir cerita. Dan lebih parahnya lagi untuk apa sebenarnya di detik ini juga kini ku masih menunggu kehadiran sosok itu untuk datang.
Ah, pantas saja bina mendadak membuat keributan. Kesadaranku kembali sepenuhnya dan pada satu titik ini aku merasa lelah. Sangat lelah hingga rasanya ingin berhenti dan ikut menghilang. Benci akan diriku sendiri yang selalu tampak sadar mencari keberadaan ‘seseorang’ itu setiap harinya. Benar apa kata mereka, emang betul akan susah untuk mengubah kebiasaan. Dan kebiasaan baru di dalam hidupku kini hanya tentang sang kekasih, yang bukan perihal kebiasaan yang ingin ku ubah.
“Is it wrong for me to miss you?” renungku, kubiarkan pertanyaan tak terjawab itu hadiri pikiranku.
Cantik. Dia akan selalu terlihat cantik bagiku. Segala tentangnya bagiku begitu indah yang bahkan tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu frasa. Ini bukan hanya tentang parasnya, iya bahkan lebih dari itu.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Di atas trotoar dan di antara jalanan yang mulai lenggang, tiba-tiba sosok yang berjalan berdampingan dengannya menghentikan langkah, semula jari-jari yang saling bertaut mengisi ruang kosong satu sama lain tadinya kini terlepas.
“Kenapa dilepas?” tanyaku kebingungan.
Obsidian coklatnya menatap lekat ke arahku, beriringan dengan senyumnya yang merekah sempurna, menjelaskan sejarah kebahagiaannya detik ini. Sungguh cantik, mata yang membuatku jatuh hati sejak hari pertama bertemunya. Sepasang mata yang kini berpusat dunia bertumpu bagi seorang Satya Mahesa.
“Maaf, Sat, genggamannya terlalu erat. Aku takut kita lupa perihal akhir kisah Kita sebenarnya. Lagi pula kamu juga tahu betul bukan, sesuatu yang dipaksa untuk tetap tinggal, akhirnya nggak pernah baik. Mengecewakan.” Ada kekehan kecil di akhir kata lalu setelahnya terbit senyum getir menghiasi figur wajah sempurna itu.
“Kamu, sudah terbiasa ya hidup tanpa aku?” tanyanya kepadaku dengan tersenyum.
Manis sekali bukan. Kemudian dia membawa tangannya untuk suraiku dengan lembut, sekedar memberi sentuhan afeksi sebagai wujud rasa kasih.
Aku menghembuskan nafas perlahan, selalu mengangguk sekali. Seolah-olah mengakui kebohongan itu, aku memilih gaming setelahnya. Sampai pada akhirnya aku tersadar dia tidak ada lagi di dunia. Semua ini hanyalah ilusi dan pada momen-momen semacam itu, semuanya tidak baik-baik saja.
“Aku mau pulang, Satya.”
Tolong, jangan salah jalan menuju pulang. Pikirkanlah lagi sayangku. Tolong pulanglah ke pelukanku, jangan sekalipun terpikirkan olehmu untuk pulang ke pelukan Sang Pencipta. Itu saja yang selalu terlintas dalam benakku.
“Pulang ke rumah yang mana? Harusnya kamu nggak ninggalin aku. Jangan kemana-mana lagi, di sini saja sama aku.”
Tak kunjung mendapat jawaban, aku bisa rasakan dengan jelas adrenalin yang hampir di pundak tadinya kini lenyap. Menyisakan jemuran ombak yang menghantam dada dengan keras. Diantara gejolak hati yang mulai bergelung, kembali ku tuturkan angan untuk menahan ia agar tetap tinggal.
“Stay with me, please.” Kalau katanya mengikhlaskan adalah seiring waktu. Saat ini aku belum rela, entah mungkin suatu hari aku bisa merelakan.
“Kal, maaf.”
Tapi pada akhirnya semua itu akan bermuara pada satu tanda tanya tentang akhir dari segala angan yang walaupun alam raya tak kunjung memberikan pengharapan. Degung jantungku berdetak tak terkendali, aku bersama ribuan ketakutanku mencoba untuk tenang. Berusaha untuk mengalihkan dan menyapu pikiran buruk yang kini hadir.
“Please, let me go.”
Bagaimana mungkin aku bisa rela melepasmu disaat kamu tahu betul bahwa pusat duniaku itu kamu? Sebenarnya aku tidak tahu mengapa kemampuan berpikirku mendadak kosong saat berhadapan dengannya.
Aku hanya terbujur kaku dengan mulut terkunci. Pandangan kami pun terkunci, bersama-sama membiarkan menikmati untuk menikmati iris lawan bicara. Saling menatap dan saling mencari letak arti tatapan masing-masing.
“Kamu harus bahagia. Ada banyak bahagia-bahagia sederhana yang belum kamu rasain, Satya. Aku sayang kamu, maaf aku harus pergi ninggalin kamu. Biarin aku pergi dengan teman ya? Aku tahu kamu pasti akan baik-baik saja tanpa aku. Bahagia kamu bisa kamu cari, Sat dan orangnya itu nggak harus aku.” Dia mengambil alih jemariku untuk menyelimuti ruang kosong itu.
Dingin kurasa dari permukaan tangannya. Dingin seperti tidak ada kehidupan. Wajahnya yang pucat berusaha dia sembunyikan untuk memberi senyuman terbaiknya dikala pantulan sinar rembulan yang saling menyelinap masuk.
Ribuan kata mengapa mengudara, aku masih melarikan diri dari tatapannya. Mengapa kisah kita tak berjalan lama? Mengapa semesta begitu jahat dalam mempermainkan takdir? Tidaknya, untuk saat ini, alam mimpi terasa lebih indah dibandingkan realita yang beriringan dengan rasa sedih yang tak berujung. Nyatanya, sekuat apapun berjuang pada akhirnya akan kalah karena takdir yang sudah ditentukan.
Detik itu juga pikiranku berkelana memutar beberapa derajat menelusuri berbagai ruang kecil yang terekam samar-samar dalam otaknya. Memutar celah dari acak memori memori kenangan dalam hidupnya. Namun, entah sejak kapan aku merasa bahwa setiap hari dadaku semakin terasa sesak dan kehadiran sosok yang menemaninya dengan senyum manis yang terhias itu tengah berada dihadapannya justru membuat rasa sesak di dadaku semakin menjadi.
“Menurut kamu, kenapa manusia dikasih cobaan?” Pada akhirnya kata demi kata keluar begitu saja dari bibirnya.
“Ya, karena dia selalu ingat sama Tuhan. Biar manusia tahu apa artinya bersyukur dan selalu ingat buat lihat ke bawah,” jawabku tak begitu yakin.
“Kamu tahu betul bukan, sama ungkapan yang bilang kalau hidup itu bagaikan roda yang berputar?” tanyanya yang tak kujawab, kuanggap sebagai angin lalu.
“ Ada yang di atas dan kadang juga di bawah. Lucu juga ya, sebenarnya semua ini tentang waktu sembuhnya aja sih. Sedih itu wajar. Jangan dipendam terus, bagi aja rasa sakit itu dari berisiknya isi kepala kamu sekarang. Ada aku di sini, Kamu nggak sendirian.”
“What's on your mind, Satya?” tanyanya dengan lembut.
Kamu penyebabnya. Atas segala kata demi kata yang keluar dari bibirnya, aku hanya termenung hanyut dalam lamunan titik bisa aku pastikan saat ini dirinya lagi-lagi tengah bersandiwara.
Suasana hening yang datang sudah dapat diduga, lantas dalam keheningan itu aku memilih untuk tidak menatap mata yang kini penuh bening kristal terhias, bulir air mata yang tertahan dan entah kapan siap untuk menetas. Aku menghela nafas berat untuk kesekian kalinya, entah apa yang bersemayam di sana.
Aku kini tahu semuanya. Kenyataan tentang sangu kasih yang hidupnya bisa saja sewaktu-waktu akan pergi menuju sejatinya takdir, meninggalkan dirinya dalam ruang hampa.
“Kamu kenapa nggak pernah cerita apapun tentang keluh kesah kamu selama ini?” tanyaku parau.
“Kamu sudah tau, Sat?” tanya Tiara setengah berbisik, suaranya sesat dan mengecil di akhir kata. Perempuan itu sudah tidak dapat membendung lelehan air mata yang terus menetes.
“Aku cerita juga nggak akan bisa merubah takdir bahwa aku bakal tiada dalam waktu yang singkat ini, Satya.”
Satya merasa tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini melihat sosok sempurna yang paling kusayangi kini dengan bahu yang semula tegak kini lemah tak berdaya, segala angan yang tercipta kini lenyap. Satya hanya meminta sedikit bahagia. Mengapa semesta merenggut semuanya? Tiara mengalami cedera otak yang begitu parah akibat kecelakaan maut yang merenggut nyawa ayahnya saat itu. Itulah informasi yang aku ketahui saat menyadari akhir-akhir ini arah sering pergi ke rumah sakit untuk konsultasi yang aku tak tahu pasti alasannya.
Detik itu juga, aku menarik sosok rapuh itu masuk ke dalam pelukan. Bahunya yang bergetar hebat dengan tangisan pilu yang mengisi penjuru ruangan, semakin ku eratkan pelukannya bersamaan dengan doa senyap penuh harap untuk meminta sedikit waktu kepada Sang Penguasa.
Tak lama kemudian, pertahananku hancur dengan satu tetes air mata penuh pengharapan meluncur dengan ribuan ketakutan yang menunggu di ujung cerita. Pada akhirnya, aku tak bisa melawan sebab ingin bersikeras pun aku tak akan pernah bisa menentang realita.
Namanya Tiara Auriga, pemilik nama yang cantik itu akan selalu menjadi sosok mengukir cerita indah juga pahit dalam hidupku. Untuk sejuta alasan yang dirinya punya, rasanya kehadiran sosok itu dalam mimpiku tadi terasa begitu nyata. Tiara, sungguh aku tak keberatan jika satu-satunya cara untuk mengobati rasa rinduku adalah menemuiku di alam mimpi. Tolong datanglah lagi lain kali dengan perasaan saling memaafkan atas semua yang telah terjadi. Dalam angan yang kini tengah aku panjatkan perihal 2 tahun berlalu sejak kau pergi, aku sudah benar-benar merelakan kepergianmu.
Tak ada insan manusia yang menginginkan takdir buruk, baik itu kematian tentu akan datang pada waktu yang telah ditetapkan. Dan janganlah menyalahkan takdir, mungkin yang kita pikirkan itu memang sudah yang terbaik untuk hidup kita.