“Kriiiing....kriiiiiing....!!!” suara dering handphone disertai getar resah membangunkan Gina yang masih tidur terlelap.
“Halo, apa Na?” tanya Gina lekas seusai mengangkat panggilannya, “Eh sorry aku bangunin kamu ya, aku cuma mau ngasih kabar kamu ikut bareng kita buat ngerjai project itu!” jawab Nana yang tidak lain adalah rekan kerja Gina.” Haah... kok tiba-tiba sih? Aku pun belum packing segala macem, ribet ya kalian!”Gumam Gina menanggapi, “Udah deeh... si Rani gak bisa ikut, rumahnya abis kebobolan maling, jadi besok pagi jam 10 kami bakalan jemput ke rumahmu, jangan terlambat dan gak usah banyak tanya oke!” lanjut Nana menjawab, “Akhhhh...males kali pun, yaudah deh! Bye” jawab Gina sambil menggosok-gosokkan tangan ke rambutnya karena kesalnya.
Setelah menerima telpon dari temannya tersebut, Gina pun melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Selimut yang nyaman berbalut sutra berwarna merah muda dan bergaris berpadu membentuk pola indah seperti bunga, tumbuhan dan kupu-kupu seakan hidup dan menjaga tidur Gina agar tetap pulas. Suara burung hantu dan angin yang tersamar juga turut hadir seakan menambah sejuk malam tenang yang t’lah sedari tadi masuk ke kamar gadis 21 tahun yang sudah bekerja di salah satu perusahaan di kota Medan hampir 1 tahun ini.
“Hoaahm...! masih ngantuk banget, tapi malah harus packing baju lah, ini lah, buat silap aja pun. Lagian rumahnya Rani pake kemalingan segala lagi, jahat banget tuh maling...!” Gumam Gina yang baru bangun dari tidur nyenyaknya yang masih sungguh ketara dengan muka kusam dan penatnya. Gina pun lanjut ke kamar mandi dan langsung memilih barang-barang apa saja yang akan dibawanya, “Apa lagi ya, kayaknya udah semua tapi kayak ada yang lupa... Nah ini niih, hampir lupa”, kata Gina sambil memasukkan sebuah pocket camera kedalam tasnya.
Tak lama setelah Gina selesai bersiap-siap, rekan-rekan kerjanya pun datang dengan mengendarai sebuah minibus berwarna hitam yang sekarang sedang terparkir tepat didepan rumah yang disewa Gina. Kemudian Gina pun bergegas mengambil barang-barangnya dan memasukkannya kedalam bagasi mobil lalu lekas naik kedalam mobil. Mereka pun langsung melanjutkan perjalanan dengan segera agar cepat sampai ke tujuan, di dalam mobil Gina, Nana dan rekan kerja lainnya berbincang akrab agar perjalanan tak terasa membosankan.
“Eh perjalanan kita kesana berapa jam sih?” tanya Gina sambil memainkan handphone-nya, “kira-kira 7 jam laah, lumayan buat pantat pegel-pegel. Eh kemarin kata pak Bima kita disana tinggal di sebuah rumah yang disewakan sama pemiliknya, jadi disana kita bener-bener kerja keras tanpa ada yang ngurusi..itu desa lumayan terpencil loh..” jawab Juno sambil menjelaskan bayangan tempat yang akan mereka datangi, “ Wow...apa nama tempatnya semalem?” tanya Gina kembali, “ Kutacane looh!” jawab Nana menegaskan, “ Jadi ntar yang pertama kali kita jumpai adalah kepala desa disana yang udah kita hubungi minggu lalu, kemudian kita langsung jumpai pemilik rumah yang bakal kita sewa buat beberapa hari ini” lanjut Nana menjelaskan.
Kemudian setelah beberapa jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi telah melewati jalan raya yang panjang, perkebunan, bukit dan pegunungan hingga jalan yang berliku dan tak beraspal, akhirnya mereka sampai di sebuah desa yang bernama kota/kutacane.Ya memang lumayan aneh terdengar dengan awal nama kota dan kemudian kuta yang sebenarnya masyarakat biasa menyebutnya dengan Kutacane, desa yang asri dan rimbun, pepohonan sangat tinggi semampai layaknya gedung pencakar langit, sungai berairkan bening yang sangat menggugah setiap orang yang melihatnya untuk merasakan sejuknya air sungai tersebut, begitu pulalah rombongan Gina dan teman-temannya yang sangat terpana dengan sungai yang baru saja mereka lihat tidak jauh dari tempat mereka berhenti sekarang.
“Yaudah, sekarang kita cari kepala desanya, ketuk aja pintunya atau gimana nih?” tanya Nana sambil memasuki pekarangan kantor kepala desa disana. Sebelum mereka memasuki lebih jauh pekarangan kantor tersebut, ternyata mereka sudah disambut dengan ramahnya oleh pak Malan yang tak lain dan tidak bukan adalah kepala desa di desa tersebut. “ Rombongan yang dari medan ya dek, yang waktu itu nelpon bapak?” tanya pak Kepala desa pada mereka semua, “ayo, langsung saja masuk ke ruangan saya ... setelah itu biar saya antar ke rumah pemilik yang rumahnya akan adik-adik sewa nanti!” ajak Pak kepala desa dengan ramah.
Mereka pun ikut bersama pak Malan sang kepala desa dan kemudian mereka menyelesaikan administrasi dan lain-lain yang menyangkut kegiatan mereka di desa tersebut. Setelah selesai dari kantor kepala desa, mereka langsung menuju rumah pemilik sewa yang akan mereka tinggali untuk beberapa hari kedepan. Kemudian tak lama setelah pertemuan pertama mereka dengan sang pemilik rumah, mereka pun langsung diantar ke rumah sewa tersebut yang berada tidak jauh dari kantor kepala desa.
“Adik-adik... ini rumahnya mungkin agak kotor halamannya, tapi tinggal dibersihin sedikit ya sudah bersih. Dan soal biaya rumahnya saya ikhlaskan saja biar adik-adik nyaman di rumah ini, kan rumah ini juga nggak ada yang menempati” kata pemilik rumah sewa menjelaskan, “wah pak.. yang bener? Nggak apa apa nih gratis?” tanya Gina memastikan,” iya Gak apa apa... kan kalian punya keperluan lain yang mungkin membutuhkan uang itu, sudah ya..nanti kalo ada apa-apa panggil aja bapak, gak usah segan-segan!” pamit pak pemilik rumah, “ Ya pak.. sama-sama, terima kasih banyak ya pak, bapak baik banget” jawab Rani yang diikuti jawaban teman-temannya.
Mereka semua pun langsung masuk ke rumah tersebut dan sedikit berbenah sekaligus merapikan barang-barang yang mereka bawa. Beberapa dari mereka langsung tidur dan beberapa lagi asyik bermain dengan handphone mereka, namun Gina pamit keluar untuk melihat-lihat. Gina pun berjalan-jalan tidak terlalu jauh dari rumah tersebut dan ternyata ia mendengar suara kucuran air yang sangat segar dan kemudian membawanya ke sebuah sungai yang sangat indah, airnya putih bening dan sungguh sejuk terasa jika kaki kita menginjak airnya.
“Waah... sungainya seger bener ya, jadi pengen tiduran disini” gumam Gina yang sedang duduk diatas bebatuan besar di pinggir sungai sambil memotret beberapa pemandangan yang sungguh indah termasuk memandang langit yang saat itu sungguh cerah berwarna biru berawan putih.
“Kriiing...kring..!”
“Halo mak.. iya gina udah sampek di tempatnya,” jawab Gina di telpon yang ternyata adalah ibunya yang baru ia kabari setelah dalam perjalanan tadi. “Kamu jadi pergi kesana berapa orang, kok jauh banget sampek ke Aceh sana... apa nama tempatnya?” tanya ibu Gina berturut-turut sebab khawatir sedang menghampiri hati sang ibu terhadap anaknya tersebut, “ Kami 6 orang mak, iya jauh memang..tapi bagus kok tempatnya, gak nyesellah Gina dateng kesini. Nama desanya, desa Kuta cane di Aceh Tenggara mak.” jawab Gina menyambungkan, “Hah... kuta Cane? Dimananya? Sama kantor kepala desa jauh nggak?” tanya ibunya, “Deket.. kok mamak tau kantor kepala desa?” jawab Gina sambil memberikan pertanyaan baru, “ Masa kau nggak inget sih.. sebelum kita tinggal di Medan, kan rumah kita di Kutacane itu... beberapa tahun kita disitu sampek kau umur 8 tahun, lalu kita pindah.” jawab ibu Gina menjelaskan, “ Haaah... apa iya ya, aku lupa sih kalo itu disini... gak inget sedikitpun sama tempat ini”, jawab Gina. “ Yaudah, hati-hati ya kamu disana... jangan macem-macem disana, sering-sering berdoa ya!” jawab Ibu gina meakhiri percakapan, “ Okeee.. bye!” Putus Gina.
Gina pun terdiam sejurus sekaligus memastikan kebenaran yang dikatakan ibunya barusan, ia sama sekali tidak mengingat tempat tersebut sebelumnya. Namun tiba-tiba ia melihat dari kejauhan sesosok pria yang seumuran dengannya sedang berjalan menuju ke arahnya, Gina pun sontak kaget namun tetap terdiam mengacuhkan dan tak memperdulikannya. Dan ternyata pria tersebut memang mengarah ke tempat Gina duduk dan bahkan ia memulai percakpan dengan Gina sebagai ucapan tanya yang sederhana.
“Hei... kau orang sini? Jarang ada orang pake baju kek gitu ke sungai ini setauku!” tanya pria itu, “ Hah.. nggak, aku bukan orang sini, ini pun aku udah mau pergi... udah dulu ya “ Jawab Gina yang langsung pergi meninggal pria tersebut.
Kemudian Gina pun pergi menjauh dan meninggalkan sungai tersebut dan juga meninggalkan pria itu, namun kepergian Gina juga meninggalkan berpuluh pertanyaan di otak Gina, ya.. pria tersebut memang cuku menarik, walaupun penampilanya seperti orang kampung. Besoknya Gina pun kembali ke sungai tersebut, entah apa yang ingin ia temukan atau mungkin ia sebenarnya hanya berharap bertemu dengan pria yang kemarin, bermodalkan kamera pocketnya, Gina pun berjalan menyusuri sungai.
“Huuuft...ntah ngapain pun aku disini?” tanya Gina pada diri sendiri sembari berjalan menginjak bebatuan kecil di pinggir sungai, dan seketika batu yang cukup besar tergelincir ke dalam lubang2 di antara bebatuan besar dan membuat Gina terjatuh yang menyebabkan kaki mungilnya terluka.” Akhh... sakit akh, pake jatuh lagi! Hussft.... eh what is it?”, Tanya Gina. apa yang membuat gina bertanya disaat ia terjatuh? Bukankah seharusnya ia merasa kesakitan bukannya malah membuat pertanyaan. Ternyata ia menemukan sebuah kotak yang terbuat dari kayu berbentuk segiempat yang berukuran tidak terlalu besar dan cenderung kecil, lalu Gina mengambilnya dan membawanya ke pinggir sungai dekat kayu panjang yang dapat ia duduki.