Ketika waktu, mendatangkan cinta.
Aku putuskan, memilih dirimu.
Setitik rasa itu. Menetes dan semakin parah.
Bisa kurasa, getar jantungmu, mencintaiku. Apalagi aku.
Jadikanlah diriku, pilihan terakhir hatimu.
Butterfly terbanglah tinggi, setinggi anganku, untuk meraihmu.
Memeluk batinmu. Yang sama kacau karena merindu.
Alunan lagu Butterfly dari penyanyi Melly Goeslaw menjadi teman perjalananku kali ini. Setelah sebulan lamanya kucoba untuk melupakannya. Melupakan sosok yang pernah menjadi bagian penting dari hari-hariku.
Baru kusadari kini, bahwa ternyata ikhlas tak semudah melepas kata pergi. Setiap kali aku terkenang dirinya, selalu saja ada sesak yang tertinggal. Mungkinkah sejauh ini, aku belum sepenuhnya rela?
Malam itu, hujan turun amat deras. Aku bahkan terpaksa meneduh di sebuah kafe demi menghangatkan diri sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang. Baru beberapa langkah kakiku menjauh dari kafe, tiba-tiba ponselku berdering nyaring, tanda pesan masuk.
Kuambil gawaiku dari dalam tas dan membaca si pengirim pesan. Nama Hael Agnibarata terpampang jelas di layar. Senyumku seketika terukir ke atas tatkala membaca pesannya yang mengajakku bertemu.
"Tumben banget, ada apa ya?"
Tak mau membuatnya menunggu, segera kubalas dengan mengatakan bahwa aku akan datang. Kuputar lagi arahku menuju rumah menjadi ke sebuah restoran tak jauh dari tempatku berada. Kupesan ojek online agar cepat sampai ke sana.
Begitu turun, dari jendela kaca restoran itu dapat kulihat sosoknya yang memakai setelan kemeja biru, terus-terusan menatap arlojinya. Aku melangkah ke sana, dengan perasaan yang tak menentu.
Hael adalah rekan kerjaku di satu divisi yang sama. Sudah lama aku menyukai kepribadiannya yang lembut dan sopan. Bukan hanya tampan secara fisik, Hael juga cerdas secara akademik. Seringkali aku meminta bantuannya untuk menyelesaikan satu tugas penting. Dan ia tanpa pikir panjang, akan langsung membantuku. Mungkin, dari sanalah rasa cinta yang samar-samar itu tumbuh.
"Hai, El. Sorry ya kalau nunggu lama," sapaku sambil menepuk pundaknya pelan. Dia terperangah dengan kehadiranku yang tiba-tiba.
"Astaga, kaget aku, kirain siapa. Duduk dulu, Sha. Mau minum apa?" tanyanya sambil memberiku daftar menu. Aku menerima buku menu yang ia sodorkan namun urung untuk memesan.
Wajah Hael tampak gelisah, padahal biasanya, ia adalah orang yang paling tenang. Tapi dari gesture tubuhnya, aku yakin dia sedang memikirkan atau memendam sesuatu.
"El?"
Dia mendongak menatapku. "Hm? Iya, Sha? Kenapa?" katanya sambil tersenyum kaku. Senyum yang tak seperti biasanya.
"Kamu lagi ada masalah?" tebakku, tapi dia langsung menggeleng cepat.
"Eng-enggak, kok, Sha!" jawabnya gugup. Aku semakin yakin bahwa ia tengah memendam sesuatu.
"Bisa kita langsung ke intinya aja, El? Ada apa kamu minta aku datang ke sini?" tanyaku langsung.
Hael nampak berpikir sejenak sebelum berbicara. Kulihat ia memainkan jemarinya lalu kemudian ia mendongak menatapku.
"A-aku cuma mau bilang, kalau ..., " ia tak melanjutkan ucapannya. Entah karena apa. Bibirnya kembali terkatup. Membuatku gemas sendiri.
"Kalau apa, sih, El?" tanyaku gemas. Sungguh menyesali sikapnya yang bertele-tele padahal biasanya ia laki-laki yang terus terang.
"Shanaya ... Aku suka kamu!" katanya dalam satu tarikan napas.
Aku terkesiap. Detak jantungku seakan kehilangan iramanya. Bibirku kelu dan membisu, tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Namun di sisi lain, sudut hatiku terasa bertalu-talu gembira.
Apa maksudnya ini? Mungkinkah perasaan samar itu justru bersambut? Tapi mana mungkin? Aku sungguh tak dapat memercayainya. Aku bahkan yakin sekali diriku tiba-tiba menjadi orang yang bodoh.
Kurasakan tangannya menepuk punggung tanganku pelan. "Gimana menurutmu?" tanyanya tiba-tiba saat otakku masih mencerna ucapannya.
"Hah? Apanya yang gimana?"
Dia tertawa pelan sambil mengusap belakang kepalanya yang aku yakin tak gatal sama sekali.
"Maafin aku, ya, Sha. Gak minta izin kamu dulu sebelumnya. Tapi menurutmu, kalau aku bilang kayak tadi, kira-kira Risya bakal terkejut gak ya?" katanya tanpa ragu-ragu seperti tadi.
Kau tahu rasanya diajak melambung tinggi, lalu saat kau berada di atas awan, tiba-tiba kau dilepas turun hingga jatuh membentur kenyataan?
Sakit. Namun tak berdarah.
Aku jadi merutuki diriku sendiri. Mengutuk kepercayaan diriku yang terlalu tinggi. Betapa naifnya aku. Kukira ia menyatakan cintanya padaku, nyatanya aku hanyalah alat percobaannya. Lucu.
Tapi kenyataan seakan tak membiarkanku lari. Hael kembali mengusap punggung tanganku, tapi kali ini lebih lembut. Mau tak mau aku mendongak menatap matanya. Saat pandangan kami bertemu, mataku terasa perih. Namun sebisa mungkin kutahan bulir air mata itu agar tak lolos ke pipi.
Aku tersenyum. Agar ia mengira aku baik-baik saja.
"Are you okay, Sha?" tanyanya. Sepertinya ia lebih memahami aku melebihi diriku sendiri.
Aku mengangguk mantap, memaksakan senyuman terukir di bibir ternyata tak semudah memaksa senyum pura-pura ramah saat bertemu orang asing. Getirnya terasa hingga menusuk hatiku.
"Yaaa. Aku cuma merasa speechless. Ternyata kamu bisa romantis juga," kelakarku berusaha memecah kepedihan yang membayang di mataku.
"Iyakah?"
Lagi, aku mengangguk. "Risya. Risya pasti suka kejutan kamu ini, percaya deh sama aku," kataku meyakinkan. Semata agar ia merasa bahagia dan bangga. Ia tersenyum.
Namun, senyum itu bukan lagi untukku. Melainkan untuk wajah lain yang lebih ia cinta. Kutarik napas panjang, berharap dengan itu, sesak di dada akan sedikit berkurang.
"Syukur, deh. Oh ya, kamu mau pesan apa? Berhubung ini hari spesialku, biar aku traktir kamu," tawarnya namun dengan tegas kutolak. Saat aku tahu kenyataan bahwa ia mencintai perempuan lain, makanan semanis apapun tak akan bisa kutelan.
Aku bangkit berdiri. "Thanks, El. Tapi next time aja, deh. Aku masih ada kerjaan habis ini," alibiku agar bisa melarikan diri dari sana secepat mungkin.
Dia nampak bingung, namun sebelum ia sempat bertanya atau mencegahku. Aku lebih dulu melambaikan tangan. "Semoga kencanmu berjalan baik, ya," kataku untuk terakhir kalinya.
Keluar dari restoran itu, aku memilih berlari secepat mungkin. Berlari tanpa batas, berlari agar tangisku lepas. Sebab sekuat-kuatnya aku menahan lara. Aku tetaplah perempuan biasa yang hatinya rapuh nan mudah terluka.
Aku bertanya-tanya pada langit, mengapa kenyataan sekejam itu menikam hatiku tanpa ampun? Apakah seorang perempuan seperti Shanaya Alessandra tak pantas untuk dicintai?
Rinai hujan kembali jatuh, membasahi ragaku yang lelah memungut rasa. Tangisku bersatu dengan derasnya hujan. Kuyakini saja langit mengetahui segala pilu yang kurasa.
Langkahku makin berat oleh kecewa. Raguku mengusik kepala, antara arah mana yang harus kupilih? Melepaskan dan berpura-pura baik padahal hati tak setabah itu adalah pilihan yang sama sulitnya.
Pada langkah terakhir kakiku, kuputuskan untuk menjauh dan melupa. Akan kurelakan ia berbahagia dengan pilihannya. Biar kutelan sendiri sakit dan segenap perasaan itu bersama kepergianku.
Sebab, titik cinta paling ikhlas menurutku adalah ketika kau mencintainya tanpa alasan. Namun kau juga menghargai pilihannya untuk mencintai orang lain.
Pernah dengar istilah cinta tak harus memiliki?
Yang sebenarnya, cinta tak semestinya memiliki.
•••
Hai, aku adalah HK.
Aku hanya perempuan biasa yang menyukai hal-hal sederhana seperti kopi, buku, langit dan kamu. Perempuan yang kerap berharap akan cintanya seseorang namun selalu berakhir dalam luka tak berkesudahan.
Kata Pujangga, begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Sama seperti cintaku padamu yang tiada akhir. Eh.
Aku mendedikasikan cerpen ini untuk Challenge Menulis Cerpen bersama Ruang Author.
Selamat membaca, semoga kamu suka cerita dalam cerpen ini. Terima kasih.
Salam Cinta,
— HK