Alkisah disuatu negeri yang damai hiduplah seorang pemuda sebatangkara. Semua rakyat hidup dalam kedamaian dan kesejahtraan, termasuk pemuda yang hidup sebatangkara itu. Pemuda itu bernama Fox, sesuai namanya dia pemuda yang penuh semangat dan juga ceria. Sehari-hari dia bekerja sebagai kuli panggul di kerajaan yang damai ini. Dia selalu tersenyum kepada semua orang meski pundaknya melepuh karena mengangkat beban yang berlebih.
Fox mencintai negeri ini karena dipenuhi orang-orang yang baik. Terkadang Fox menerima beberapa makanan dari warga apabila memiliki makanan berlebih. Fox juga sangat menyukai hamparan gandum dan bunga lavender yang terbentang luas hingga tembok Kerajaan.
Negeri ini bernama Tunesia dan dipimpin raja yang bijaksana. Meski raja memerintah dengan bijaksana tetapi, ada beberapa hal yang tidak bisa di ubah seperti nasib dari Fox. Fox tidak pernah menyalahkan atas kehidupan yang diterimanya saat ini, dia justru bersyukur masih bisa hidup dan merasakan kedamaian di negeri ini.
Setiap sore Fox selalu mengunjungi hamparan gandum dan bunga lavender selepas bekerja. Fox merasa nyaman melihat helai demi helai bunga lavender terbang terbawa angin di tambah hamparan gandum yang melambai-lambai terkena angin.
Para petani gandum dan bunga lavender selalu hafal dengan kedatangan Fox setiap sorenya. Mereka terkadang mempersilahkan Fox ikut menanam dan makan bersama mereka. Kerajaan Tunesia terkenal akan rotinya dan parfum bunga lavendernya. Pekerjaan Fox setiap harinya mengangkut ratusan karung gandum dan bunga lavender.
Upah yang didapat Fox setiap harinya cukup untuk makan dirinya sendiri, serta membeli baju yang sudah sobek.
Fox memiliki tubuh yang kekar karena setiap harinya dia mengangkat ratusan karung, jadi tak heran tubuhnya begitu atletis. Setiap malam Fox tak lantas tidur, dia menanam bunga lavender di kebun belakang rumahnya yang tidak begitu besar. Untuk menyirami bunganya tersebut dia harus mengambil air dari sungai yang jaraknya lumayan jauh.
Rutinitas Fox tidak berubah selama bertahun-tahun hingga usianya menginjak 30 tahun. Fox tidak pernah berpikiran untuk menikah, karena dia merasa jika ada wanita yang menikahi dia, maka hidup istrinya kelak tidak akan pernah merasakan hidup enak.
Dipagi yang cerah terdengar rumor bahwa kerajaan Tunesia akan diserang oleh kerajaan lain yang terkenal akan kekuatan militernya. Besoknya terlihat banyak kesatria dan prajurit kerajaan Tunesia berbaris dan bersiap pergi. Fox merasa kagum akan semangat para prajurit yang tidak takut.
Fox berdiri di pinggir jalan dan memberikan hormat kepada mereka, karena merasa para prajurit sangat hebat. Setelah beberapa hari para prajurit yang berangkat tidak pernah kembali. Kerajaan Tunesia mempersiapkan pasukan yang tersisa untuk berjaga disepanjang tembok kerajaan.
Suara lonceng menggema keseluruh penjuru kerajaan Tunesia. Para warga ketakutan dan segera lari kearah tempat perlindungan tapi ada satu orang yang tidak berlari ke tempat perlindungan, dia adalah Fox.
Dengan keteguhan hati yang memenuhi dadanya, Fox berangkat menuju ke tempat gudang senjata. Disana Fox tidak memilih pedang ataupun senjata tajam lainnya. Fox memilih Tameng raksasa yang dulunya digunakan kesatria paladin kerajaan Tunesia. Bermodalkan keteguhan hatinya dan perisai yang besar Fox melangkah ke arah medan pertempuran.
Fox berjalan dengan langkah yang tenang menuju keluar tembok kerajaan Tunesia. Dilihatnya para kesatria yang berjaga didepan kerajaan Tunesia sudah kabur sebelumnya. Membuat hati Fox merasa kecewa dengan kesatria yang bertugas menjaga kerajaan. Raja Tunesia pun tidak pernah terlihat keluar kerajaan setelah kerajaan Tunesia dikepung oleh pasukan kerajaan Dwargo.
Ditengah Api yang berkobar membakar ladang gandum dan ladang bunga lavender. Terlihat hanya satu pria yang gagah menghadang ratusan ribu prajurit musuh.
Fox sedih melihat api yang mulai memakan gandum dan menerbangkan abu-abu bunga lavender. Tercium aroma wangi dari ladang bunga lavender yang terbakar. Angin panas menerpa setiap orang yang berada dalam kerajaan Tunesia. Tapi hanya Fox yang tak gentar berdiri didepan gerbang masuk kerajaan.
Tatapan tajam Fox mengisyaratkan amarah Fox karena, negri yang dicintainya telah hancur. Fox hanya menggunakan tameng besar saja tanpa menggunakan baju besi pelindung tubuh. Fox berpikir belum pantas memakai zirah para kesatria.
Fox memilih tameng bertujuan untuk melindungi orang-orang yang selama ini telah baik kepadanya dan Fox tidak ingin membunuh siapapun.
Ribuan prajurit Dwargo mulai maju mencoba masuk kerajaan Tunesia. Tapi Fox mendorong mereka semua agar tidak masuk dan memberi waktu semua warga kerajaan Tunesia bisa kabur. Dari pagi, prajurit kerajaan Dwargo mencoba masuk tetapi tubuh besar Fox beserta tamengnya tidak mengizinkannya.
Terlihat tubuh Fox penuh dengan luka tusukan dan sabetan pedang. Terlihat juga beberapa mata tombak menancap diperut dan punggung Fox, tetapi Fox masih berdiri meski kesadarannya sudah mulai hilang.
Akhirnya pasukan elit kerajaan Dwargo maju dan berhasil melukai Fox tepat di organ vitalnya tapi Fox masih bisa mendorong semua pasukan elit kerajaan Dwargo untuk mundur. Ditengah kesadarannya yang mulai hilang dan darah yang mulai mengalir. Fox masih membayangkan tawa dan senyum semua orang yang telah memberinya semangat untuk tetap hidup mesti sebatangkara.
Para prajurit Dwargo terkesima dengan keteguhan Fox dalam menghadang mereka untuk masuk kerajaan Tunesia. Didepan mereka berdiri Fox yang sudah tak bernyawa, masih berdiri menahan tamengnya.
Para prajurit kerajaan Dwargo memakamkan Fox dengan prosesi sebagai kesatria karena keteguhan hatinya yang tak gentar dan tak takut akan kematian. Kisah Keberanian Fox menjadi legenda dan panutan semua kesatria untuk tidak pernah takut akan kematian demi melindungi orang-orang yang dicintai.
Hanya sedikit orang yang bisa melihat saat-saat terkhir Fox. Wajahnya tersenyum tanpa beban saat Fox berada di ujung kematin.
---tamat---