Sehabis hujan deras semalaman, ini adalah pagi yang cerah untuk anak SMAS(Sekolah Menengah Atas Swasta) Dirgantara. Pukul 6 pagi, murid murid sudah mulai berdatangan menuju sekolah, ada yang pakai motor, di antar dengan mobil, naik angkot, bahkan jalan kaki. Begitu pula dengan Rima Radeva, murid pindahan itu turun dari mobil ayahnya yang mengantarnya dan ia mulai berjalan menyusuri sekolah. Memperhatikan murid-murid yang datang, ada yang datang bersama teman-temannya, ada pula yang sendirian. Setelah sekian lama menyusuri lorong-lorong yang ada, akhirnya ia menemukan kelasnya, XI-MIPA. Dengan sedikit gugup Rima mendorong gagang pintu kebawah dan membuka pintu, kosong. Uh, Rima merasa teman-teman sekelasnya mungkin saja belum datang karena ini masih terlalu pagi, akhirnya Rima duduk di sembarang tempat, ia memilih untuk duduk di pojok depan, dekat jendela dan di depan meja guru. Menit demi menit, akhirnya satu per satu murid mulai masuk ke kelas itu, ada lelaki dengan rambut mangkok dan senyum yang lebar lalu menyapa Rima, "Haloo! selamat pagi!" sapanya. "Halo..?" Rima pun menyapa balik dengan sedikit bingung, laki-laki itu pun langsung duduk di kursi belakang. Lalu Rima menoleh ke belakang untuk memperhatikan papan namanya, "Aiden.." gumamnya sambil perlahan menoleh ke depan lagi. Boom! ternyata ada seorang perempuan yang telah memperhatikan Rima sedari tadi. "Eh!" kaget Rima dengan sedikit lompat dari kursinya. Perempuan itupun memperhatikan wajah Rima dari atas hingga bawah dan melihat papan nama Rima. "Oh Rima? anak baru yaa?" tanyanya dan tiba-tiba tersenyum bak badut jalanan. "Iya, aku Rima.." jawab Rima singkat. "Kenalin, aku Diva! aku ketua kelas disini, kalau butuh apa apa panggil aku aja yaa, aku duduk di belakang kamu" jelasnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Rima pun menerima uluran tangan itu dan mereka bersalaman. "Salam kenal Diva, terimakasih tawaran bantuannya. Mungkin aku bisa minta bantu kamu buat ajak aku keliling sekolah pas istirahat?" tanya Rima karena ia ingin mengenal sekolah ini lebih lanjut. "Oh tentu! itu mah udah pasti" jawab Diva dengan PD nya. "Btw, itu yang cowo duduk di belakang wakil aku, kalau aku gaada kamu boleh minta bantuan ke dia aja ya, jangan sungkan! namanya Ethan" jelas Diva sambil menunjuk seorang laki-laki yang sedang tidur dimeja dengan menggunakan bantal tangan. Rima pun menoleh dan melihat laki-laki itu dan mengernyitkan dahinya heran, "itu wakil ketua kelas? serius itu tidur di kelas?" tuturnya dalam hati. Lalu ia menoleh kembali ke depan untuk melihat Diva. "Ah okei, terimakasih bantuannya, Diva" kata Rima sambil tersenyum. "Masamaa!" jawab Diva dan dia berjalan ke belakang untuk duduk di tempat duduknya. Lalu Rima mulai memperhatikan sekitar, melihat orang-orang yang mungkin akan menjadi temannya kelak. Lalu Rima pun melihat ke arah luar jendela dan bengong sesaat melihat banyak murid-murid yang sedang bermain basket, olahraga pagi katanya. Saat enak-enaknya bengong, Rima merasakan pundaknya di tepuk beberapa kali, lalu ia menoleh. Ada seorang laki-laki yang terlihat atletis dengan badan yang bugar berdiri menatapnya dengan sedikit bingung, lalu ia bertanya dengan suara yang berat. "Uhh, lu duduk disini?" tanyanya. Rima pun menjawab seadanya "Iya, aku murid baru, tadi ngambil tempat duduk ngasal sih. Ini tempatmu ya?" tanya Rima untuk mengkonfirmasi, takutnya dia malah duduk di tempat orang kan. "Eh engga kok, itu tempat kosong, gue duduk di samping lu" jawabnya lalu dengan segera menaruh tasnya di kursi dan duduk. Lalu ia mengulurkan tangan kepada Rima untuk bersalaman. "Kenalin gue Bagas, ya bisa dibilang anak populer lah disini" katanya sambil sedikit tertawa. "Gue ketua ekskul basket di sekolah ini" jelasnya panjang lebar agar Rima mengenalnya. Rima mengangguk sembari Bagas menjelaskan tentang dirinya panjang lebar, lalu ia menerima uluran tangan Bagas. "Aku Rima, anak pindahan dari Jakarta. Salam kenal yaa" kata Rima sambil menerima uluran tangan Bagas dan mereka bersalaman. "Salam kenal juga, Rima" ucap Bagas sembari tersenyum. Setelah itu Bagas mulai menyibukkan dirinya dengan mengeluarkan buku-buku pelajaran dari tasnya. Rima pun memperhatikan Bagas yang sedang sibuk itu, karena ia penasaran tentang ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Bagas. "Bagas, di sekolah ini ada ekstra apa aja si? aku masih belum tau mau masuk ekskul apa" tanya Rima kepada Bagas yang sedang menyiapkan buku-buku pelajarannya dimeja. Lalu Bagas yang akhirnya selesai menyiapkan buku pelajarannya pun menoleh ke arah Rima dan menjawab pertanyaan Rima tersebut. "Oh ekskul? banyak sih. Kalau non-akademik gitu ada silat, karate, taekwondo, basket, anggar, futsal, sepak bola, sama renang. Kalau yang akademik, ada kelas inggris, kelas mtk, kelas sains, kelas geografi, lelas fisika, ama kelas astronomi, ee itu aja sih kalo gasalah" jelas Bagas panjang lebar tentang semua ekstrakurikuler yang ada di SMAS Dirgantara itu. Rima pun mengangguk, "Ohh gitu ya, makasih penjelasannya, Bagas." jawab Rima Tak lama kepada Bagas. Bel berbunyi (TETT TETT, WAKTUNYA MASUK KELAS). Murid-murid pun duduk di kursi mereka masing-masing menunggu guru pelajaran untuk masuk. Tek tek tek, terdengar bunyi sepatu yang menghantam lantai sekolah yang dingin. Rima pun sedikit gugup, jantungnya berdetak kencang. Ini adalah awal perjalanan Rima untuk mengenal teman-temannya. Akankah ia berhasil untuk mendapatkan teman baru? Atau malah dikucilkan karena anak baru?