Jenieta dan kawan-kawan pergi liburan ke pantai dimana tempat wisata yang sama sekali belum banyak orang yang tau, mereka menemukan destinasi wisata ini dari internet, pantai dengan pasir putih dengan bongkahan-bongkahan batu karang di sepanjang mata memandang menambah kesan menakjubkan di mata Jenie dan kawan-kawan.
Teman Jenie ada empat orang dua laki-laki dan dua perempun, mereka mumutuskan memilih tempat ini karena pantai nya masih terlihat alami dan belum banyak pembangunan di tempat ini, Villa yang di sewa oleh Jenie dan kawan-kawan juga terbilang cukup murah dan sederhana namun terasa nyaman, dimana hanya ada dua kamar, yang satu untuk perempuan dan yang satunya untuk laki-laki di tambah dapur dan ruang tamu berukuran kecil, serta satu kamar mandi untuk di gunakan bersama.
Malam hari setelah puas bermain air, mereka makan malam dengan menu ikan laut yang mereka beli tadi siang, karena kelelahan dan perut yang tersa kekenyangan akhirnya Jenie memutuskan untuk tidur lebih dulu.
***
Pagi harinya, Jenie terbangun dia tidak mendapati teman-teman di sampingnya, lantas Jenie berjalan keluar, namun, tak ada seorangpun berada di Villa itu, Jenie terus berkeliling memanggil-manggil nama temannya satu persatu, namun, tak ada satupun yang menyahut. Villa ini nampak sepi, begitupun dengan Villa-Villa yang ada di sebelahnya, kemarin suasana di tempat ini nampak ramai, tapi, tidak dengan hari ini. Jenie terus berkeliling mencari teman-temannya tanpa sadar dia sampai di pasar, tempat pusat perbelanjaan oleh-oleh untuk di bawa pulang.
"Wah, ini kan pasar, banyak sekali makanan, aku ingin membeli sesuatu mungkin mereka sedang pergi ke pantai," gumam Jenie, dia tidak menyadari jika suasana di pasar inipun terasa begitu sepi, dia malah pokus dengan barang-barang yang ingin di belinya, mungkin karena ini masih pagi jadi belum ada pengunjung yang datang kemari pikir Jenie.
"Permisi! saya ingin membayar belanjaan yang saya beli pak," ujar Jenie pada seorang pria yang berdiri di dalam toko sambil membelakanginya, namun, pria itu terlihat aneh dia memakai pakaian serba hitam lengkap dengan tudung hitam yang menutupi kepalanya.
Pria itu berbalik, wajahnya penuh dengan bekas luka dan mata yang satunya di tutupi dengan kain berwarna hitam, pria itu menyeringai menampakan giginya. Jenie memekik ketakutan dia berjalan mundur.
'Ya tuhan, apa dia orang jahat?'
Pria itu berjalan kini seluruh tubunya nampak jelas dan yang lebih menakutkan pria itu menggeret kapak di tangan kirinya, mata Jenie membulat sempurna, ternyata dia adalah penjahat, Bruk...Jenie menjatuhkan keranjang yang telah terisi penuh dengan makanan yang akan di belinya, lantas diapun berlari dari sana, terlihat pria itupun berjalan dengan cepat mengejar Jenie.
Jenie terus berlari dan berlari dia melihat ceceran darah dimana-mana di sepanjang jalan yang dia lewati, dan ada beberapa mayat laki-laki dan perempuan yang tergeletak di pinggir jalan membuat ketakutan yang di rasakannya semakin meningkat. Jenie bersembunyi di balik semak belukar di pinggir jalan yang terlihat sunyi, dan alangkah terkejutnya Jenie disana terdapat mayat Kiara salah satu temannya, ingin rasanya Jenie menjerit namun, ia dengan segera menutup mulutnya karena pembantai itu tepat berada di depannya untung saja semak itu cukup tinggi hingga tubuh kecil Jenie tidak nampak olehnya.
'Jika Kiara saja sudah tiada, berarti teman-teman yang lainpun sudah tiada dan sekarang tinggal aku sendirian di sini bersama pembunuh itu,' Jenie minggigil ketakutan.
Dia harus lari dari tempat ini, dia harus kembali ke Villa karena kunci mobilnya ada di sana, Jenie mengintip dari celah semak, memastikan bahwa pembantai itu sudah pergi dari sana. Degupan jantung yang berpacu dengan kuat terasa sedikit menyakitkan di dalam rongga dadanya tapi, dia tidak perduli dia harus segera keluar dari tempat mengerikan ini.
Tubuh Kiara yang teronggok bersimbah darah di sampingnya harus terpaksa di tinggalkannya Jenie harus lari dari temapat ini. 'Maafkan aku Kiara aku harus meninggalkan mu disini, aku harus menyelamatkan diriku dari pembantai itu.' Jenie berjalan mengendap-ngendap setelah dirasa pembantai itu sudah tidak ada disana. Jenie berlari secepat mungkin menuju Villa tempatnya menginap, namun, sialnya di tengah perjalanan Jenie memekik cukup keras karena melihat pria itu tengah mengayunkan kapak ke tubuh seorang wanita yang langsung menghujam tepat di dada wanita itu.
Pria itu berpaling menatap Jenie dan kembali menyeringai, dia mencabut kapak yang ia gunakan untuk mengahabisi wanita tadi, kapak yang berlumuran darah itu kembali di geretnya menuju Jenie. Jenie berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan diri namun dia salah mengambil jalan dia malah masuk ke dalam hutan lebat, Jenie terus berlari tak tentu arah hingga dia tersandung akar pohon yang membuatnya jatuh terjembap.
Bruk...suara tubuh Jenie yang menimpa dedaunan kering begitu nyaring terdengar, Jenie terus berusaha menarik kakinya yang terjebak di antara akar-akar pohon yang membelit kakinya, namun, dia gagal karena akar itu begitu kuat. Pria itu mendekat dan terus mendekat seringai jahat yang tersungging di bibirnya membuat bulu kuduk Jenie berdiri mungkin inilah akhir hidupnya.
"Tuan tolong jangan bunuh saya, lepaskan saya tuan," Jenie memohon dengan derai airmata, hanya itu yang dapat di lakukannya karena dia sudah tidak bisa lari lagi, mungkin bila dia memohon pria itu akan mengasihaninya.
Bukannya merasa kasihan pria itu malah terlihat sangat puas dengan apa yang di lakukan Jenie, Jenie terus berusaha membebaskan diri dari jeratan akar pohon di kakainya namun, semua sia-sia, pria itu kini tepat di hadapannya, dia mengayunkan kapak tepat di atas kepala Jenie.
"Tidak.....!!!!!" teriak Jenie lantang.
"Jenie, Jenie kamu kenapa?" Jenie lantas membuka matanya dan mendapati Kiara lah yang tepat berada hadapannya.
"Kiara, kamu masih hidup," Jenie memeluk erat tubuh Kiara.
"Ya aku masih hidup lah, kamu pikir aku hantu gitu."
"Syukurlah, jadi semua itu hanya mimpi," Jenie menyeka keringat yang membajiri dahinya.
"Makanya kalau mau tidur itu baca do'a dulu, biar gak mimpi buruk," Kiara menggeleng pelan, "udah ayo bangun kita jalan-jalan ke pantai kita datang kesini untuk liburan bukan tidur seharian," ujar Kiara yang pergi lebih dulu keluar kamar.
Jenie beranjak bangun, mimpi mengerikan yang di alaminya semoga tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata, dia memandang sekeliling semua nampak normal tidak seperti dalam mimpinya Jenie tersenyum dan berlalu mengejar teman-temanya yang terlihat sudah pergi lebih dulu menuju pantai.
Tamat.